I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 112



"Kenapa tersenyum? Kau senang suamimu diskors?" Tanya Revan. Tangannya jahil mencubit pipiku.


"Aku senang karena kamu harus tampil rapi. Aku ingin melihatmu selalu tampil rapi." Kataku.


"Kalau begitu tetap jadilah istriku. Batalkan niatmu bercerai. Hukum aku dengan cara yang lain. Aku akan menunggu marahmu mereda sampai kapanpun asal kau masih mau menjadi istriku. Aku hancur tanpamu Dek." Kata Revan penuh pengharapan. Aku bungkam.


"Aku mohon. Aku minta maaf atas semua sikapku yang menyakitimu. Kalau kau tidak memaafkannya sekarang tidak apa. Aku akan menunggu. Aku mencintaimu Sayang." Lanjut Revan. Sudah mendekatkan mukanya mencium bibirku sekilas dengan sedikit paksaan.


Aku berdiri. Dia akan megulangi lagi kalau tidak diputus. Aku tidak mau terlena. Kemesraan malam ini saja cukup. Belum ada rencanaku untuk kembali jadi istrinya.


"Aku mau tidur. Ngantuk." Kataku beranjak masuk kamar. Aku merapikan bantal. Meletakkan dua guling ditengah. Aku tidur menghadap tembok. Memberi jarak sejauh mungkin dari bantal satunya yang kuletakkan diujung kasur.


Membatalkan perceraian yaa..... dengan resiko terulang lagi?? Bayangan kesendirian menunggu Revan dirumah sakit kembali berulang. Bahkan saat Riyan tertembak juga kembali beklebatan. Mayat, gudan tua, dan pel*uru bertebaran. Kemudian Satria yang melambai menuju cahaya indah. Rasa sakit pasca operasi Sesar yang kutahan. Satria yang berada dalam box dengan segala peralatan terpasang...... tubuhnya yang dingin.....


"AaaaaaĆ ......" Aku terduduk dan menjerit. Revan terkaget disampingku ikut duduk. Lampu kamar sudah meredup.


"Minum Dek." Kata Revan menyodorkan air putih. Rasa dingin membasahi tengorokanku. Kulihat jam ditanganku. Pukul dua pagi. Aku mimpi buruk.


Revan merengkuhku dalam pelukannya. Mengelus kepalaku yang masih terbungkus topi sovenir.


"Kamu mimpi buruk yaa?" Tanya Revan dengan lembut. Aku mengangguk.


"Apa ini sering terjadi?" Tanya Revan lagi.


"Lumayan sering, tapi tidak apa. Aku bisa melihat Satria lagi." Kataku getir. Revan terdiam. Mengeratkan pelukannya ditubuhku.


"Tidurlah lagi. Maafkan aku atas semua keburukan yang terjadi padamu." Katanya setelah beberapa lama hening. Revan meletakkan tubuhku hati hati berbaring lagi. Dua guling sebagai pembatas masih anteng ditengah. Revan kembali tidur membelakangiku.


Suara di kamar sebelah membuatku gagal memejamkan mata. Desa**han dan suara nafas yang memburu. Suara pertempuran yang sepertinya begitu panas.


"Sebentar lagi Baby sebentar lagi. Ayo bersama.... aaaahhhhh." Suara laki laki dan perempuan yang.... mencapai pelepasan. Tubuhku menghangat seketika. Padahal udara semakin dingin. Aku mengambil satu guling ditengah dan memeluknya menghadap tembok. Belum mataku terpejam suara lengu**huan kembali terdengar. Aku jadi gelisah. Mencoba memejamkan mata seerat mungkin.


"Sabar Baby istirahat dulu sebentar." Suara laki laki. Aku berbalik mau memeluk guling satunya lagi.


Mataku langsung bertemu dengan mata Revan yang terbuka lebar. Desa**han dan suara 3r0t1s kembali terdengar. Nafasku sudah pendek pendek seperti lari mengitari alun alun kota. Masih berpandangan dengan Revan. Dia tersenyum.


"Aku tidak akan mulai Sayang. Aku hanya akan mengikuti maumu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan." Bisik Revan dengan suara berat. Kusambar mulutnya yang ikut berisik itu. Dia menanggapinya dengan lebih panas. Kami membuat tandingan yang akan membuat kamar sebelah iri.... dia masih suamiku kan?? Kami belum bercerai. Aku merasa..... munafik.


***


"Apa ini sakit?" Tanya Revan saat sudah selesai membanjiri seprei dibawahku dengan cairannya. Tangannya meraba bekas Secarku.


"Sakit, kadang kadang masih sakit. Tidak berguna luka ini. Kenapa harus mengeluarkan Satria kalau akhirnya dia harus tidur sendiri dalam tanah. Lebih baik biarkan dia tetap diperutku. Kami takkan terpisahkan. Bisa tidur berdua di dalam tanah." Kataku. Revan menggeleng.


"Jangan bicara omong kosong. Kalau kau pergi maka akan kubakar dunia ini." Kata Revan kemudian menciumku dengan ganas. Memulai lagi yang tadi kami lakukan. Mencurahakan kerinduan yang selama ini terpendam.


Pagi hari tubuhku remuk. Aku yang hanya berniat sekali, ternyata tidak dilepaskan Revan dengan mudah. Dia seperti gak ada capeknya. Selalu berbanding terbalik denganku. Semakin aku remuk, semakin dia ceria.


Dia sudah bangun. Berpakaian lengkap dengan jaket kuning norak kami. Membuka pintu kamar. Hawa dingin langsung menyergap masuk kamar. Aku menaikkan selimut tebal menutupi kepalaku.


"Pagi Mas." Sapa Revan pada seseorang diteras.


"Malam yang panjang hemm.. asal mana Mas?" Tanya Revan.


"Asal S***." Menyebutkan asal kota kami.


"Sama dong Mas, saya juga tinggal disana. Rokok Mas. Bisa menjaga sedikit kehangatan. Kalau mau banyak ambil didalam." Kata Revan sambil tertawa. Lawan bicaranya ikut tertawa.


"Kemarin malam sepertinya barang bagus. Sudah lama pakai Mas?" Tanya Revan lagi. Tumben aktif ngajak bicara. Lawan bicaranya tertawa.


"Cuma sesekali buat senang senang Mas." Kata Mas sebelah.


"Aku sering ambil di Tomo dapat barang kurang bagus. Mas ambil dimana?" Tanya Revan lagi. Gila!!!, dia sedang mengintrogasi. Mas sebelah tertawa lagi.


"Aku ngeteng aja Mas, onlen biasanya. Ambil diSD xxx dibelakang plangkan nama. Nanti uangnya saya transfer. Saling percaya saja Mas. Dari teman ke teman. Polisi sekarang susah dikibulin. Apalagi diarea S***. Dua bandar tertangkap disana. Polisi narkobanya terkenal cukup ganas." Kata Mas Sebelah. Aku kok jadi ikut nyengingis dikamar. Polisi ganasnya sedang berhadapan dengamu. Batinku.


"Ow....iya toh. Aku malah baru tahu. Boleh minta nomer Mas? Nanti kalau butuh aku bisa pesan." Kata Revan. Mereka saling menyebut nomer dan saling berkenalan. Macan dapat buruan baru. Edan!!! Masih bisa bekerja saat seperti ini. Mereka kemudian akrab ngobrol ngalor ngidul. Sampai mas tadi pamit cari sarapan.


Dia masuk kamar kembali. Melihatku sudah bangun. Dia menghujani mukaku dengan ciuman. Aku mengelak sebisanya.


"Gak mau!!!" Kataku sambil berusaha mendorong tubuh betonnya menjauh.


"Kenapa?" Tanyanya protes.


"Kerja sana!" Kataku sewot. Dia tersenyum. "Sambil menyelam minum air sayang." Katanya kembali memaksakan ciuman lagi. Aku berusaha mengelak lagi.


"Aku lapar." Kataku.


"Bangun kalau begitu. Kita cari sarapan." Kata Revan kemudian medekatkan baju bajuku yang terserak.


***


Kami menghabiskan pagi dengan muter muter area home stay. Indah sekali dan dinginnya luar biasa. Kemudian cari sarapan dipasar dekat situ. Setelah kenyang, aku minta belanja baju. Sudah lengket celana da**lamku. Balik lagi ke home stay mandi. Dia mau menyergap lagi, tapi aku berkilah. Aku mandi dengan selamat.


Cabut dari home stay menuju Gardu Pandang yang direkomendasikan Emak centil kemarin. Trip yang melelahkan dan menyenangkan. Aku memeluk pinggangnya diatas motor Ninja hitam yang melaju kencang. Menuruni bukit dan mengitarinya. Mengganti sudut pandang kami dari Puncak Garuda. Suasana masih sepi. Deretan perbukitan dan kabut mengiringi trip kami. Aku semakin erat memeluknya.


"Kita belum pernah pacaran seperti ini yaa." Kata Revan diantara hembusan angin dan deru mesin motor.


"Iya, kamu sibuk kerja dan aku sibuk kuliah sambil part time." Jawabku.


Tiba di gardu pandang kami disambut pemandangan menakjubkan. Berjalan dijalan buatan yang dibuat berkelok kelok. Beberapa spot foto buatan juga tersedia. Aku jadi ingat hpku yang masih disita.


"Mana hpku? Aku mau foto." Kataku sambil menengadahkan tangan.


"Pakai hpku saja." Jawab Revan sambil mengeluarkan hpnya.


"Gak mau, aku mau hpku." Kataku merajuk.


"Hpmu habis batre Dek. Nanti kukurim fotonya kehpmu." Katanya sudah menyetel mode kamera. Kami berfoto norak dalam beberapa gaya. Masih dengan jaket norak juga. Hahahaha. Ini aib untuknya jika ketahuan teman teman polisinya. AKP Revan yang terkenal garang, kaku, dan dingin pakai jaket kembaran norak.


Puas digardu pandang kami lapar. Kami meninggalkan gardu pandang. Menuruni gunung dengan motor mencari makan. Menemukan restoran etnik dengan kayu kayu kuno berjejer. Aku langsung mupeng minta kesana. Dia menuruti dengan senang hati.