I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 37



Kegiatan Revan bertambah. Dia mengantar jemputku hampir tiap hari. Ikut tidur di SPBU berhimpit dengan aku dibawah kolong meja kasir. Hanya saat saat tertentu saja dia nggak datang. Saat tugas atau Razia atau entah apa. Itupun selalu datang dini hari setelah selsai atau malamnya sebelum tugas. Aku sering mengusirnya agar tidur dirumah. Tapi bukan Revan kalau mental dengan usiranku.


"Pulang sana kerumahmu Mas. Tidur dikasurmu. Kamu pasti lelah seharian bekerja. Kenapa tiap malam tidur disini? Disini tidak nyaman sayang, badamu bisa pegal pegal berhimpit denganku." Kataku entah untuk yang berapa kali. Dia tersenyum manis.


"Aku suka berhimpit denganmu. Memelukmu dari belakang, mencium aroma tubuhmu." Katanya. Aku sampai geleng geleng kepala.


Dia juga sering kurang tidur karena membantuku saat datang bus pariwisata tengah malam. Mini market ini jadi tujuan mereka yang mencari kopi, atau makanan cepat saji. Aku keteteran juga kalau gak ada Revan. Tapi aku kan jadi gak enak sendiri kalau begini. Yang dapat gaji aku, yang kerja berdua.


Pernah dia datang saat dini hari. Mukanya terlihat lelah sekali. Matanya merah menahan kantuk. Dia ambruk dikolong meja kasir tanpa melepas sepatunya. Aku membantu melepaskannya. Ngomel yang omelannya sudah dihafal Revan diluar kepala.


"Kalau capek tidur dirumah. Disini sempit ihh, udah gitu gak nyaman......" tapi dia sepertinya tertidur pulas.


Aku meraba wajahnya. Kulit kecoklatan berpadu dengan jenggot yang lebat. Hidung mancung yang runcing. Bibir yang.... entahlah sampai saat ini aku merasa bibir Revan dan Riyan itu sama. Gemas juga lihat bibirnya. Aku menciumnya pelan. Dia diam. Kuulangi lagi sambil sedikit menghisap. Dia menanggapi ciumanku. Heiiii dia bangun ternyata. hihihihi.


"Maaf membangunkanmu." Kataku.


"Aku sudah bermimpi kau bangunkan seperti ini setiap pagi." Katanya dengan mata setengah tertutup. Aku tertawa.


"Jangan tertawa, aku serius sayang. Menikahlah denganku. Aku mohon. Walaupun aku belum bisa mengalihkan Riyan dari hatimu, tapi ijinkan aku mencobanya. Aku... tidak akan mengecewakanmu." Katanya lalu menguap.


"Tidurlah." Kataku sambil mengusap rambutnya pelan. Matanya kembali terpejam. Apa tadi sebuah lamaran? tapi lamaran tidak wajar dengan setengah mengantuk hahahah mungkin dia mengigau. Aku ikut berbaring di depannya. Dia belum sepenuhnya tertidur. Justru menciumi leherku. Aku mengeliat kegelian dengan jenggotnya. Tangannya tidak diam seperti biasa. Entah sampai kapan. yang jelas aku tertidur dalam cumbuannya.


Riyan yaa... aku masih merindukannya. Masih tidak ingin membahasnya dengan siapapun. Aku takut menangis sesenggukan. Dan Revan tahu itu. Tahu aku masih menyimpan cinta untuk Riyan. Ini menyakitkan untuknya. Tapi aku juga belum bisa melepaskan Riyan dari hatiku. Aku mirip play gril yang memainkan Revan. Sialan, aku jadi seperti tokoh jahat. Revan yang selalu ada sekarang. Aku gak mau kehilangan Revan, tapi masih merindukan Riyan. Ahhhh aku bingung sendiri. Aku ini plin plan ternyata. Entah plin plan entah berengsek. Seperti tidak ingin kehilangan keduanya dari hatiku.


Paginya kukira Revan lupa dengan ucapannya yang setengah mengigau itu. Saat kami mau berboncengan pulang dia memegang tanganku yang akan mengambil helem.


"Ucapanku tadi pagi tolong dipikirkan. Aku serius dan tidak mengigau." Katanya. Itu artinya dia melamarku?? Dia ingin menikahiku, walaupun dia tahu aku masih mencintai Riyan? Cinta macam apa yang dia berikan? Macam apa sampai mau menerimaku? Menemaniku disini setiap malam. Meninggalkan kasur empuk di rumahnya. Cinta macam apa Revan? Kenapa kamu begitu baik. Aku mengusap airmata dibalik punggungnya. Memeluknya lebih erat. Dia mengusap tanganku dipinggangnya.


"Aku tidak harus menjawabnya sekarang kan?" Tanyaku. Dia mengangguk.


"Jawab nanti kalau kamu sudah yakin. Aku bisa menunggu selama yang kau mau." Katanya. Airmataku banjir sudah.... apa aku pantas mendapatkan Revan yang begitu tulus ini??


"katakan 'iya' saja jangan menangis mirip aku orang jahat yang menculikmu pagi pagi Dek." katanya. Aku tertawa. Kucubit perutnya yang ototnya terasa kencang di tanganku. Dia mengaduh tapi tertawa. Pikiranku jadi traveling membayangkan sebagus apa perutnya jika tanpa baju. Aaaaaaa...... ini memalukan.


Suatu hari Revan mengantarku dengan mobil, karena dia akan melakukan penangkapan malam ini. Biasanya aku lebih suka diantar pakai motor. selain cepat sampai aku juga bisa merasakan otot perutnya dari luar kaos yang dia pakai. Teman temanku di SPBU langsung heboh.


"Wah Noto saingannya berat gais. Selain tampang juga dompet ternyata." Cletuk mereka di area pengisian. Tapi masih bisa terdengar dipintu minimarket.


"Aku butuh mobil nanti malam. Masa harus bolak balik. Lagian biar dia tahu diri. Kejauhan saingan sama aku." Katanya.


"Aku sama sekali gak suka sama dia. Sudah tahu aku pacarmu. Tapi masih aja nempel kalau ada kesempatan. Aku harus mengajarimu sedikit ilmu bela diri. Agar bisa menghadapi situasi terdesak." Lanjutnya yang masih waspada pada Noto. Aku tersenyum. Dia itu pencemburu dan pendendam ternyata.


"Ajari nanti kalau aku sudah jadi sarjana. Sekarang gak ada waktunya." Kataku.


"Kalau kamu sudah resmi jadi anggota bhayangkari?" Tanyanya matanya mrnyiratkan harapan besar. Aku menjawab dengan senyuman. Dia terlihat kecewa.


Hari ini katanya akan ada penangkapan yang panjang. Dia tidak janji datang dini hari nanti. Aku manggut manggut saja.


Esoknya Revan belum ada kabar. Aku berangkat sendiri dengan Mimin kesayangan. Yang sekarang lebih banyak nganggur dirumah. Paling hanya untuk kuliah. Noto melihat aku berangkat sendiri. Dia mendekat kearah minimarket.


"Sendirian Put. Biasanya selalu dikintilin monyet." Katanya. Aku tertawa. Bisa habis mulutnya kalau Revan tahu.


"Lagian apa sih kerjaan pacarmu itu? Tiap hari kesini, tidur sini, apa gak punya rumah? Luntang lantung kaya pengangguran." Katanya mengejek. Mulutnya lemes walaupun berjenis kelamin laki laki.


"Yang jelas pekerjaannya sangat bermanfaat. Sampai tidak sempat menghujat orang seperti kamu." Kataku sebel.


"Hahaha apa memangnya? Sebutkan profesinya. Dokter, Guru, Pilot, apa polisi." katanya meremehkan.


"Gak penting buat kamu tahu." Jawabku


"Bilang aja pengangguran Put Put. Kamu hidupin anaknya orang nanti." Katanya.


"Kalau aku sebut polisi, kamu percaya?" tanyaku. Dia tertawa.


"tidak, tampangnya lebih mirip maling dari pada polisi." Katanya masih terus tertawa. Aku diam. Percuma menanggapinya. Masuk minimarket dan bekerja.


Malam ini hujan deras. SPBU dan minimarket sepi. Hawa dingin juga menusuk tulang. Aku sudah pakai jaket saja masih kedinginan. Sudah tiga kali aku bolak balik toilet. Untungnya tidak jauh dari mini marketku. Aku kembali ingin pipis. Kulewati Noto yang sedang istirahat dengan temannya. Dia sempat meyiuliku. Kuabaikan saja.


Saat aku kembali, Noto ikut masuk ke mini market bersama temannya. Aku sedang melepas jaket yang kupakai


"Sendirian Put?" Tanyanya. Ada yang aneh dengan dua orang itu. Cara jalannya dan matanya.


"Iya" kataku singkat. Mereka terus menuju meja kasir. Aku sudah merasa ketakutan.