I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 48



Kami menghabiskan malam itu dengan makan malam dan ngobrol santai. Tentang kegiatan beberapa hari kebelakang saat kami marahan. Sesekali dia masih menciumiku.


"Aku kangen, aku gak sanggup jauh dari kamu." Kata Revan. Jarang sekali kata kata romantis keluar dari mulutnya.


Cafe privat ini terasa begitu romantis. Dengan sofa hangat berhadapan yang satunya kami duduki. Entah karena suasana atau benar.... Dia... terlihat sedikit sendu.


Pulang dari cafe aku sudah kembali menggelayut dilengannya. Rasanya gak mau lepas. Haaaa ini curang. Aku udah janji buat marah sama dia lama. Kalau gini mana bisa marah. Perlakuannya manis begini. Dia itu pinter, tapi suka pura pura kulkas.


Kami kembali kerumahku. Mas Dipo langsung senyum senyum.


"Emang pawangnya Revan yaa." Katanya. Aku memukul lengannya. Revan langsung pamit pulang karena sudah malam.


"Ngomong ngomong besok gak usah ngampus. Dirumah aja, nanti sore aku jemput kita jalan." Kata Revan saat menunggu ojol diteras.


"Kalau jemputnya sore, ngapain aku gak ngampus dulu?" Kataku heran. Martabak yang kami beli tadi sudah dingin. Tapi tetap saja ada peminatnya. Siapa lagi kalau bukan Mas iparku yang hoby makan.


***


Esoknya dikampus heboh besar. Penangkapan beberapa mahasiswa dan pengeledahan loker pribadinya. Ditemukan narkoba siap edar!! Waaaa apa ini? Beberapa mobil polisi terparkir rapi. Ini bisa mencoreng nama baik kampus. Penggeledahan dilakukan terutama fakultas hukum. Apes....


Kami dikumpulkan di salah satu kelas. Revan masuk kekelasku bersama teman polisinya.


"Selamat pagi, seperti yang sudah anda dengar salah satu teman anda terlibat kasus penyalahgunaan narkoba...." Revan menjelaskan dengan singkat apa yang terjadi. Memohon kerjasamanya dengan kami. Teman kami bernama Erwin tidak ada di tempat, tapi barang bukti ditemukan dilokernya. Kami jadi kena imbas di tanya tanya. Mana nanyanya galak banget. Loker, badan, hp dan tas ikut di geledah.


Tomy mendekatiku.


"Haa guru olahragamu hebat bisa ikut pengeledahan." Katanya.


"Ehh ada yang ngajak ngomong nih setelah sekian lama." Jawabku. Kami tersenyum berdua. Dia memukul lenganku pelan. Ahhh teman memang begitu. Memaafkan dengan mudah kadang sangat indah.


Revan tidak mengeledahku. Dia konsen menanyai dan menggeledahan teman teman dekat Erwin, yang dikumpulkan dekat pintu keluar. Kami sempat berpandangan sekilas. Jadi ini kenapa kemarin memintaku bolos. Wajahnya kaku walaupun sudah kuajak senyum. Apa selalu gitu mukanya kalau mode kerja. Ihhh.... jadi serem serem gemes.


"Mbak Cantik gak nyapa Pak Revan?" Tanya temannya saat memeriksa tasku. Ternyata Boby yang kemarin kena timpuk Ine.


"Mukanya serem gitu." Jawabku sambil melihat Revan.


"Udah tak aja senyum aja gak ikut senyum." Lanjutku. Boby tertawa.


"Emang aslinya orangnya serem Mbak. Kalau murah senyum dan baik hati udah dari kemarin kemarin nikah. Gak nakutin cewek cewek." Kata Boby. Aku jadi tertawa. Benar juga, dia sudah terlambat nikah untuk usianya. Aku baru ingat kalau usianya jauh diatasku. Mas Dipo yang lebih muda dua tahun saja sudah menikah. Apa itu juga yang membuat dia memburu jawaban lamaran? Dia mau cepat nikah? Karena sudah tua???. Aku kok jadi merasa egois ya... hanya memikirkan diriku sendiri.


"Hape mana Mbak?" Tanya Boby.


"Wah, ternyata bisa diajak selfi yaa. Aku baru tahu." Kata Boby. Aku senyum, apa dia sekaku itu dikantor? Temannya sampai heran dia mau selfi. Padahal dia selalu murah senyum kok kalau sama aku. Yaa emang sih agak pendiam.


Temanku cewek ada yang nangis ketakutan, beberapa polwan menenangkannya. Mengatakan kalau tidak salah tidak perlu takut dan kata kata penenang lainnya. Wajarlah kami takut. Satu kelas digeledah, pintu di tutup. Beberapa polisi menanyai walaupun dengan nada santai tapi mengintimidasi. Aku saja kalau tidak melihat wajah Revan pasti juga ketakutan.


Tiba tiba Revan datang kearahku. Memukul kepala Boby yang masih berdiri behadapan denganku. Boby masih memeriksa hpku. Tubuhnya bergetar seperti menahan tawa. Boby kaget, terlonjak saat berkas Revan mendarat tepat dikepalanya. Tidak sakit sepertinya, hanya beberapa lembar kertas.


"Sekali lagi aku akan membuat perhitungan! Kerja yang benar!" Kata Revan tajam pada Boby. Boby diam menunduk. Revan mengambil hpku dan mengembalikannya padaku seolah kami tidak kenal. Kemudian dia kembali kekelompok teman dekat Erwin. Aku melihat hpku. Aplikasi pesan masih terbuka. What??? Boby mengintip isi pesanku dengan Revan??? Aku ikut memandang Boby sinis. Dia nyengingis dan berbisik.


"Maaf Mbak Cantik. Habis aku kepo gimana pacarannya." Katanya sambil berlalu mengeledah yang lain.


Pemeriksaan selesai. Ruang kelas terbuka. Kami dihimbau langsung pulang sama Revan.


"Tapi sebelum pulang tolong keruang loker, tunjukkan isi loker kalian sama petugas yang disana." Katanya. Dia juga mengucapkan terimakasih atas kerjasamanya walaupun diucapkan dengan nada menyeramkan.


Kami keluar satu persatu. Teman teman dekat Erwin sudah duluan dikawal keruang loker. Aku sengaja menyibukkan diri agar keluar belakangan. Revan masih berdiri didekat pintu. Kami berpapasan saat aku keluar. Mukanya masih kaku walau aku sudah mengajaknya senyum. Aku jadi mirip orang gila senyum senyum sendiri. Apa susahnya membalas dengan senyuman? Tinggal tarik bibir kebelakang!! Dia itu manis kalau tersenyum tau.


Entah keberanian dari mana aku mendekat, mengecup pipinya kemudian berlalu. Dia kaget tapi tidak menghindar. Sorakan langsung terdengar. Terutama dari beberapa teman polisinya yang masih tinggal dikelas. "Mbak Cantik kamu luar biasa!!!" Teriak Boby. Mengikuti nada vokalis band saingan Simpel. Aku gak peduli. Kutoleh Revan, dia tersenyum... lahhh begitu lebih manis.


Ternyata Handi dan Tomy memperhatikan aku. Mereka berdua masih berdiri agak jauh diluar kelas. Bengong melihat aksiku nyium Revan.


"Apa hobymu mencium orang sembarangan?" Tanya Handi heran.


"Itu pacarnya." Kata Tomy.


"Apa???" Handi terkaget. Memandang kearah Revan sekilas.


"Seleramu buruk sekali Put." Bisik Handi pelan. Tomy tertawa.


"Minus dimatanya banyak Han, maklum." Kata Tomy. Membuat Kami cekikikan sambil menuju ruang loker.


Diruang loker ada Nenek Sihir menunggu. Mukanya langsung sinis saat melihatku. Dia mendekat kearahku yang lagi membuka loker.


"Aku harap gak ada barang yang kami cari dilokermu." Katanya sengit.


"Maaf mengecewakanmu, tapi aku gak butuh barang seperti itu." Kataku gak kalah nyolot. Dia memeriksa lokerku dengan teliti. Kemudian berlalu begitu saja. Dasar Nenek Sihir.


Setelah keruang loker, aku langsung pulang menuju parkiran motor. Hpku bergetar tanda pesan masuk. Dari Revan.


'Aku balas ciumamu nanti sore. Dandan yang cantik.' tulisnya. Haduuuhhh alamat uyel uyel lama nanti. Bisa bengkak bibirku. Salah sendiri sih cari gara gara sama Revan. Apesss... tepok jidat beneran.