
Kuliahku baik, sekarang sudah semester 4, pekerjaanku juga baik. Walaupun pakaiannya terbuka, tapi dapat menutup dompetku dari ketidak tersediaan rupiah hahahaha. Aku berhasil membiayai kuliahku sendiri. Walaupun badanku remuk redam dengan dua kegiatan menyita waktu. Sekolah dan kerja mulai dari jam 7 malam sampai jam 12 malam. Tidur, dan sekolah lagi paginya. Kadang yang paling konyol sekolah sambil tidur. hahahaha. Yang itu beneran terjadi.
Mas Revan memang andalanku. Otak dan tenaganya selalu ada untuk membantuku. Dia seperti dewa penolong. Pemecah masalahku. Saat motorku macet dijalan jam berapapun dia datang. Dia selalu ada, walaupun kadang angin anginan hilang entah kemana. Saat aku kesulitan dengan tugas dia datang. Seperti siang ini dia rela datang membantu tugasku dan Tomy yang penuh penalaran.
"Kok bisa ya guru olahraga pinter ilmu hukum?" Tanya Tomy saat Mas Revan mengerjakan tugas kami dengan enteng di cafee dekat kampus.
"Karena gak semua perlu logikamu yang tipis." Jawab Mas Revan sinis. Mereka bertatapan maut. Aku menghela nafas. Aku heran dengan dua lelaki itu. Susah sekali membuat mereka akur. Akupun menggandeng tangan Mas Revan.
"Yuk cari yang seger seger. Aku lapar." Kataku mengalihkan pembicaraan. Agar gak terjadi peperangan yang membuatku pusing. Mas Revan seperti pamer tangannya digandeng olehku didepan Tomy. Tomy mencibir dengan mukanya, walaupun tidak berkata apapun. Ini orang maunya pada apaaaa??? tepok jidat.
"Kamu mau juga Tom? yuk cari makan siang bareng." Tawarku. Tomy menggeleng
"Aku mau pulang saja." Kata Tomy kemudian keluar cafe mengendarai motor bebeknya. Dia sudah punya motor bebek sekarang. Hasil kerja paruh waktu yang tiada henti. Bukan motor bagus hanya bebek seken bertahun lama. Itu juga pasti sangat membantu mobilitasnya.
Mas Revan menggoyang tangannya yang masih aku gandeng. Aku jadi sedikit terkejut.
"Segitunya ngelihatin Tomy. Naksir kamu sama cowok begituan??!!" Kata Mas Revan setengah sebal. Aku nyengir saja dan menuntunnya keluar caffe.
Aku dan Mas Revan kewarung bakso langganan.
"Kenapa seneng banget sih temenan sama Tomy." Mas Revan protes.
"Dia baik Mas, sohibku dari masuk kuliah." Kataku.
"Baik juga ada maunya. Kamu pikir dia tulus?" Kata Mas Revan masih sinis.
"Ah, enggak kita temenan tulus kok." Elakku gak percaya.
"Mana ada yang tulus antara laki laki dewasa dan perempuan cantik." Kata Mas Revan dengan nada meninggi. Aku cantik yaa???? Aku lihat mukanya sebal sekali. Gak jadi ge er deh, mukanya serem.
"Lha, Mas juga temenan sama aku. Mas juga laki laki lho. Berarti Mas gak tulus?" Tanyaku balik. Dia diam sejenak. Menatap mataku lebih lama. Kami bertatapan dalam diam.
"Kalau kamu mau tahu yang sesungguhnya iya. Aku emang gak tulus. Aku minta hatimu diserahkan padaku semuanya." Kata Mas Revan tegas. Aku bengong. Apa dia sedang nembak aku?
"Apa kamu gak pernah berfikir aku suka sama kamu?" Tanya Mas Revan memperjelas. Dia melihat lagi kemataku. Aku yakin kemampuannya membaca pikiran sedang bekerja. Dia tahu aku setengah syok dan bingung.
Aku..... entahlah.... aku terbiasa dengan Mas Revan, manja dengan segala bentuk perhatiannya. Dia seperti tiang kokoh yang mampu aku sandari dan aku bebani dengan segala masalaku. Aku.... gak mau Mas Revan pergi. Tapi aku juga tidak mencintainya. Tidak merindukannya.
Dia diam sudah sibuk dengan bakso dihadapannya. Aku menggeser tanganku, bermaksud memegang tangannya. Dia menggenggam tanganku lebih dulu. Refleknya bagus sekali ternyata.
"Tapi aku punya rahasia yang belum bisa kukatakan sama kamu." Lanjut Mas Revan. Nampak seperti berfikir sejenak. Tangan kami masih bertautan dia menggoyang goyangkannya pelan. Dia menghela nafas.
"Aku gak tahu gimana mulainya karena sudah terlalu lama." Lanjut Mas Revan.
"Apa?" Tanyaku penasaran sekali.
"Aku sebenarnya udah mau bilang dari kita ditempat rujakan dua tahun yang lalu.... tapiii gara gara kejadian jahitan robek gak jadi." Kata Mas Revan menerawang sambil senyum kecil.
"Itu luka apa sih Mas, kamu bahkan gak ngomong lho sampai sekarang." Kataku tambah kepo. Ini orang memang susah buka mulut. Bukan tipe emberan yang kegigit nyamuk aja update disosmed. hihihihi.
"Itu luka tembak. Karena itu dokter diklinik menyuruhku beristirahat. Aku baru pulang dari rumah sakit saat menemui kamu." Katanya. Aku membulatkan mataku.
Aku terkejut. Apa dia mafia seperti ayahnya Riyan? Apa dia penjahat? Perampok? Aku jadi merinding sendiri. Kenapa dia tertembak? Aku sudah mau buka mulut mau tanya kenapa dia tertembak. Malah didului sama Mas Revan.
"Aku juga bukan sarjana pendidikan seperti yang kamu tahu. Aku..... lulusan sarjana khusus. Bergelar S.tr.K. Tapi aku mengerti soal hukum cukup banyak." Kata Mas Revan cepat.
"Pekerjaanku juga bukan guru. Pekerjaanku..... menuntutku untuk teliti dan menyita lebih banyak waktu. Karena itu maaf aku sering menghilang tanpa kabar. Itu juga yang membuat hubungan kita jalan di tempat sampai bertahun tahun. Aku menyesalinya Put. Harusnya aku mengatakan ini lebih cepat." Kata Mas Revan panjang lebar. Baru kali ini aku lihat dia bicara panjang lebar. Biasanya hanya sepatah dua patah. Dia orang yang menonjolkan tindakan, bukan kata kata. Walaupun sekali bicara orang langsung tahu kalau dia cerdas.
"Tapi percayalah aku suka kamu dari awal kita bertemu diswalayan......" Kata katanya terputus. Hpnya bergetar tanda panggilan masuk.
"Permisi aku harus mengangkatnya, ini penting." Kata Mas Revan. Lagi lagi seperti panggilan mendadak. Dia buru buru meninggalkanku lagi.
"Kita sambung lain waktu. Pekerjaanku menunggu. Aku janji bicara lagi sama kamu. Aku harap kita bertemu lagi kau sudah bisa mencintaiku juga." Katanya tegas, padat dan lugas. Namun senyum manisnya masih tersemat. Sepertinya dia semakin manis.
Aku menghabiskan bakso sendirian sambil senyum senyum gak jelas. Untung tadi kita kesini bawa motor sendiri sendiri. Pacaran yaaa.... sama Mas Revan.... Dia bukan Riyan, tapi dia baik. Anggap saja kompromi. Tidak mencintai, tapi saling menyayangi juga bisa hidup berdampingan. Dia jelas menyayangiku. Bukankah disayangi itu enak? Kita lihat saja kedepannya. aku belum tahu.
Apa tadi gelarnya? aku sudah membuka hp memilih tombol pencarian. Diam sejenak.... Lupa... aku lupa dengan gelar pendidikan yang sempat dia sebut. Terlalu asing ditelingaku. Dia bahkan belum mengatakan profesinya. Halah......