I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 96



Kami pulang kerumah Ibu.


"Eh, Revan udah kelihatan. Tak kirain kalian marahan." Kata Mbak Sasa. Aku dan Revan saling pandang kemudian tertawa.


"Ada yang ngambek gak jelas Mbak kemarin." Kata Revan membongkar. Kutabok punggungnya. Kemudian kuseret dia masuk kamar.


"Ember dehh kaya emak emak." Protesku. Dia tertawa menjatuhkan tubuh kami diranjang.


"Bobok yuk, aku harus simpen tenaga buat nanti malam." Kata Revan sambil memelukku. Gak lama dia langsung ngorok. Kasihan, aku malah meninggalkannya disaat saat sulit. Istri macam apa aku ini???


Aku tidak ingin menggangunya. Aku keluar kamar dengan hati hati. Masak sama ibu didapur.


"Dulu aku jarang sekali ya Bu didepan kompor gini." Kataku sambil nyengingis.


"Iya, sekarang rasakan. Kamu harus apel kompor tiap harikan." Kata Ibu sambil tertawa. Aku sekarang tahu perjuangannya menghidangkan masakan tiap hari. Perjuangannya menghadapi pekerjaan rumah yang selalu ada. Itu aku belum punya anak. Ibu mengurus kami bertiga sendirian dulu.


Anak yaa.... aku belum ada tanda tanda apapun. Ini sudah tiga bulan lebih dari pernikahan. Dua kakakku diberi kepercayaan cepat. Kakak ku yang pertama juga sudah hamil yang kedua. Aku apa kabar? Masih gini gini aja. Padahal Revan itu marathon bikinnya..... eh.....


Mas Dipo dan Ayah pulang. Suamiku langsung keluar kamar begitu mendengar suara mereka. Akur duduk bertiga. Merokok. Membuat Ibu mengeluarkan tatapan maut ke Ayah. Yang ditatap merasa ada perlindungan dari dua mantunya.


"Ayah cuma kasihan Bu sama Revan. Udah bawa tembakau masak dianggurin. Ayah bantu habisin biar gak dirokok Revan semua. Gak baik buat kesehatan kalau dirokok sendirian." Alasan Ayahku. Ibu tambah mendelik.


"Ow, kamu yang bawa Mas?" Kataku sambil tajam menatap Revan.


"Aku tadi beli permen Dek, gak ada kembalian. Trus dikasih rokok sama penjualnya." Alasan Revan tambah gak masuk akal. Ah.... sudahlah.... dia memang somplak kalau ketemu Ayah dan Mas Dipo. Aku sama Mbak Sasa langsung mengungsikan Damar jalan jalan sore.


"Dasar bapak bapak tidak punya pengertian. Ada balita ngerokok dalam rumah!" Kataku sebelum pergi.


Kami pulang kerumah Bapak saat matahari sudah berganti bulan. Entah sudah berapa tembakau dia hisap tadi. Bajunya sampai bau tembakau. Aku menolak ciumannya berkali kali. Termasuk saat sudah masuk kamar kami dirumah Bapak. Dia kembali memepetku saat pintu baru saja di tutup. Aku meronta.


"Mandi dulu, kalau bau kayak gini aku berasa dicium Pak De Pak De mesum." Kataku. Dia cengar cengir. Masuk kamar mandi.


"Dek, kalau mandiku gak bersih gimana? Mandiin yuk." Katanya muncul dibalik pintu kamar mandi. Aku langsung kabur keluar kamar sambil berteriak.


"OGAH!!" Telat sedikit aku pasti disekap dalam kamar mandi. Dasar mesum. Bapak melihat tingkahku tertawa.


"Dia merepotkan ya." Kata Bapak sambil menunjuk kamarku. Aku mengangguk berkali kali. Selanjutnya kami berduskusi pekerjaan yang beberapa hari ini kutinggal.


Kami masuk kamar setelah makan malam. Dia berangkat nanti jam sepuluh. Nonton TV sambil rebahan. Aku ikut nyender didadanya. Dia menciumi kepalaku dengan sayang.


"Maaf yaa Mas, aku malah memperkeruh keadaan. Aku udah ngamuk aja denger kamu dikamar sama Nada." Kataku. Dia tertawa.


"Aku malah seneng tuh. Artinya kamu cinta banget sama aku." Kata Revan.


"Ini serius gak disiapin baju atau apa gitu buat nanti pergi?" Tanyaku. Setahuku pergi keluar kota pasti ribet. Tapi dia kok nyantai ditanyain jawabnya juga gak ada.


"Aku kerja Dek, bukan piknik." Kata Revan.


"Kerja juga ada ganti bajunya, ada mandinya Mas." Kataku.


"Mandi gak penting. Aku mau mandi kalau deket kamu aja." Katanya. Tangannya sudah bikin aku mendesah.


"Aku minta jatah untuk beberapa hari kedepan." Bisiknya.


Aku lemas dan ngantuk sekali saat waktunya dia berangkat. Niatku mau melepas dia di depan pintu sambil melambai gak kesampaian. Pakai baju aja males. Dia berpakaian dan menciumi pundakku yang terekspos.


"Tidur nyenyak gak boleh bangun bangun. Aku gak bisa nidurin lagi." Katanya. Aku menarik tangannya.


"Jangan pergi." Kataku setengah sadar. Aku mau dia disini memelukku. Dia menghujani tubuhku dengan ciuman. Aku mengeratkan pelukaanku di punggungnya. Rasanya aku benar benar gak mau dia pergi. Dia melepaskan pelukanku dengan paksa.


***


Mungkin itu yang disebut firasat seorang istri. Tiga hari Revan gak pulang....


Aku baru saja mengantar keluar rumah tukang pijit dan kerok Bapak. Beliau agak masuk angin. Mobil Pak Sidiq memasuki halaman. Beliau memberi tahu kalau Revan dirawat diRS kota xxx. Aku kebingungan Bapak masuk angin, Revan terluka.


"Bapak baik baik saja Nduk. Kamu lihat Revan saja. Nanti kabari Bapak." Kata Bapak.


Aku pun berangkat malam itu juga dengan Pak Sidiq. Empat jam dalam perjalanan yang menegangkan.


Apa yang terjadi Pak? Kenapa sampai tertembak?" Tanyaku pada Pak Sidiq. Teringat Riyan yang tertembak. Juga seramnya penyekapan Nur dulu. Tanganku sudah gemetaran saja.


"Yang aku tahu Revan tertembak dipundak sebelah kiri. Sekarang sedang dioperasi. Kita berdoa saja yang terbaik. Revan itu kuat. Kalau hanya tembus pluru ini sudah yang ketiga kalinya." Kata Pak Sidik dijalan.


"Semoga saja Pak, semoga dia baik baik saja." Kataku. Mencoba tegar, walau tangan dan kakiku mendingin.


Sampai dirumah sakit Revan sudah dipindahkan keruang perawatan. Dia sudah sadar dan tersenyum lemah saat kami datang. Perban membalut bahu kirinya. Mukanya... mengenaskan. Aku biasa melihat Revan yang tegar, kuat dan gagah. Sekarang dia terbaring lemah, pucat, bahkan dengan infus darah.


Tangan kanannya terangkat kusambut dengan genggaman erat tanganku. Kucium tangan itu berkali kali.


"Super heroku. Syukurlah aku bisa belihat senyummu. Apa yang kau lakukan Mas? Kau terlihat.... buruk." Kataku sudah tidak bisa membendung air mata. Revan tersenyum. Tangan kanannya mengusap airmataku.


"Dasar bodoh! Kenapa bisa tertembak dimana rompimu?" Kata Pak Sidik kesal. Revan kembali tersenyum.


"Dek, aku dimarahin...." Katanya lemah dan manja padaku. Pak Sidiq mendengus kesal. Revan meletakkan tangannya dipipiku.


"Aku kuat Dek, cuma sekarang butuh istirahat." Kata Revan.


Dokter mengatakan kondisinya baik. Pelurunya sudah diambil dan tidak mengenai organ vital. Hanya perlu pemulihan. Juga sedikit tambahan darah karena cukup banyak darah yang keluar.


Sepanjang malam aku terjaga. Menungguinya dengan kekhawatiran. Muka pucatnya membuatku takut. Pekerjaannya memang seperti itu. Menantang bahaya dan menantang maut. Aku sebenarnya tak sanggup melihatnya seperti ini. Meragukan kepasrahan yang kugembar gemborkan saat nikah kantor dulu.


"Dek minum." Kata Revan. Mengagetkan lamunanku sendiri. Aku mengambilkan minum disebelahnya.


"Ada lagi yang kau butuhkan Mas?" Tanyaku. Sambil memebenarkan selimut agar dadanya tidak kedinginan.


"Tetap disini. Aku mau ditungguin." Kata Revan sambil menggenggam tanganku. Aku tersenyum dan duduk disebelahnya lagi.


"Cih, perutku mual Van. Sejak kapan kau manja mirip bayi." Kata Pak Sidiq. Beliau tiduran di sofa bed yang tersedia.


"Sejak aku punya istri cantik Pak." Kata Revan.


Pak Sidiq pulang esok harinya. Beliau menyarankan Revan ditransfer saja kerumah sakit dalam kota.


"Disini saja sampai sembuh Pak. Udah ada yang nungguin juga kok." Kata Revan.


"Ya terserah kalian. Kalau mau disini juga gak papa. Kalau ada apa apa hubungi Bapak ya Put." Kata Pak Sidiq. Beliau kemudian pamit.


***


Tiga hari aku menungguinya di RS itu. Bukan hal yang mudah merawatnya. Manjanya melebihi bayi. Astagaaa..... ini itu semua harus sama aku. Ditinggal sebentar saja sudah menelfon, merengek. Untung peyembuhannya cepat. Dia diizinkan pulang dihari ketiga. Semua keluarga menanyakan keadaannya. Sama khawatirnya dengan aku.


Mas Dipo menjemput kami bersama Ibu, Ayah, dan Bapak.


"Ya Allah Van, Ibu senang kamu sembuh. Ibu khawatir banget waktu dengar kamu tertembak. Gimana ceritanya?" Kata Ibu ketika ketemu Revan.


"Cuma luka ringan Bu. Kesalahan saya saat bertugas." Jawab Revan singkat. Jangan harap dapat cerita berapi api dari kronolgi kejadiannya. Aku sudah bertanya apa yang terjadi puluhan kali. Tidak terjawab. Aku yakin tembakan itu hanya nasib baik. Nasib buruknya entah apa yang terjadi. Dia tidak akan mau cerita kalau itu terlalu membuatku khawatir.