I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 81



Aku di teror pesan Revan setiap menit. Dia uring urungan karena dilarang menemuiku sama Bapak, tepat seminggu sebelum acara ditempatku. Aku juga sudah diliburkan dari seminggu sebelum acara. Dilarang masuk kerja. Padahal terakhir ketemu minggu lalu, saat kami mengunjungi makam Riyan dan Ibu. Revan mirip pacar posesif yang tahu pacarnya selingkuh.


Tiga hari sebelum ijab qobul.....


'Dek'


'Dek'


'Dek' pesannya berderet deret kalau tidak segera kubalas. Hapeku bergetar, dia menelfon lagi.


"Sebentar Mamas aku masih disalon, gak bisa pegang hape terus." Kataku sebal.


"Disalon mana? Kirim lokasi." Jawab Revan cepat.


"Nanti dimarahin Bapak lho." Kataku mengingatkan.


"Bapak gak akan tahu kalau kamu gak kasih tahu. Aku matikan telfonnya. Kirim lokasinya!" Kata Revan ngeyel. Dia..... sama keras kepalanya dengan adiknya. Aku mengutak atik hpku sebentar. Mengirimkan lokasi salon ini. Salon rekomendasi Bu Nirmala. Bahkan perawatan ini voucher dari Beliau. Hihihi Ibu angkat yang murah hati.


***


Dia sudah menunggu didalam mobil saat aku keluar dari salon. Dengan sigap membukakan pintu mobil untukku. Aku yakin hari ini, gak mungkin lepas dengan mudah darinya.... huft.


Dia berhenti disebuah minimarket. Menyerahkan dompetnya. Memintaku membeli air mineral dan beberapa snack.


"Buat apa?" Tanyaku.


"Kita akan piknik dekat dekat." Kata Revan setengah gila.


"Mas, tiga hari lagi ada acara, gak aneh aneh deh." Aku protes. Dia diam. Kami adu pandang. Dengan kesal aku keluar mobil. Kulkas dilawan. Sudah dingin keras lagi.


Aku kembali dengan seplastik besar makanan. Dia senyum manis. Menunggu diluar mobil, berbincang dengan tukang parkir.


"Nurut gitu dong sama suami." Katanya pede.


"Calon!!" Kataku membenarkan lagi.


Kami berkendara cukup jauh. Dia memang lebih suka pergi kegunung dari pada pantai atau tempat wisata lain. Pemandangan khas dataran tinggi mulai terlihat. Aku membuka jendela mobil. Udara sejuk pegunungan sayang sekali dilewatkan. Andai pakai motor pasti lebih sejuk. Tapi kulkas disampingku ini lebih suka bepergian denganku pakai mobil. Alasanya ada aja. Biar aku gak capek lah, biar gak kehujanan lah. Alasannya yang paling tepat menurutku karena dia lebih mudah mencuri ciuman dan mengacak acak lipstiku.


"Sejukkan??? Kita perlu refreshing sebelum acara. Aku tidak percaya adat pingitan atau sejenisnya. Menyiksa saja." Kata Revan. Aku tersenyum. Dia menepikan mobilnya di spot view pegunungan bagus.


"Ayo hilang sebentar disini." Kata Revan menggandengku turun dari mobil. Kami menikmati kabut dan dinginnya udara di tepi jalan. Sambil duduk dipembatas jalan menikmati makanan ringan yang dibawa. Beberapa kali berfoto dan saling memfoto dengan hpnya. Karena ini hari kerja, maka jalanan ini cenderung sepi. Aaahhhhh benar benar cara melepas penat yang sederhana tapi indah.


Aku meraba tas kecilku yang kuletakkan dijog depan mobil sejak keluar salon. Aku mencari hp, tapi tidak ketemu. Aku panik. Dia mendekat mencuri satu ciuman di tengkukku.


"Mas!! Ini di pinggir jalan!!" Kataku sambil mendorong tubuhnya menjauh.


"Iya dipinggir jalan kalau ditengah kita bisa bikin macet." Kata Revan santai. Dia mengunci gerakanku diantara pintu mobil yang terbuka dan tubuhnya. Sekali lagi dia menciumku.


"Mamaass udah.... aku lagi cari hp ini. Mau bilang sama orang rumah, nanti mereka panik." Kataku. Sampai kucari di jog belakang tidak ketemu.


"Apa ketinggalan disalon yaa...." Tebaku. Dia anteng saja.


"Kalau hilang ya beli lagi." Katanya santai.


"Pinjam hpmu Mas. Aku mau ngabarin Ibu." Kataku. Dia tersenyum


"Ada syaratnya." Kata Revan malah memutari mobil dan duduk dibelakang kemudi.


"Ayo!!" Katanya menyuruhku masuk, karena aku hanya bengong mematung. Aku pun duduk disampingnya.


"Mana?" Tagihku menginginkan hpnya.


"Nanti." Jawab Revan singkat.


"Pelit ihh nanti aku keburu di cariin." Aku protes.


"Apa?" Tanyaku kepo.


"Nanti kamu juga tahu." Jawab Revan sok misterius.


***


Dia memarkirkan mobil dipelataran hotel. Aku sudah menghela nafas panjang. Alamat pulang malam ini. Dia memesan satu kamar yang cukup mewah.


Dia menciumiku dengan nekat. Kali ini bajuku dan celanaku sudah berserakan. Hanya pakaian dalam saja yang masih melekat. Aku terbawa arus permainannya. Sudah lelah juga mengelak. Setiap sentuhan, ciuman, dan hisapannya pada tubuhku membuat aku menginginkan lebih dan lebih.


"Kamu wangi. Aku suka." Bisiknya. Sambil menciumi punggungku. Aku diam menggeliat karena geli dan enak. Gimana gak wangi habis perawatan dari atas sampai bawah sampai daerah intim juga. Sekarang tubuhku dipenuhi air liyurnya. Ajur perawatanku.


Tangannya merogohi celana dalamku. Aku mencegahnya, tapi terlambat. Tangannya sudah menyentuh alat intimku. Aku seperti tersetrum aliran listrik. Geli....


"Mmmaassssshhh" Kataku setengah mendesah.


"Nikmati." Kata Revan sambil lekat melihat wajahku. Jarinya menyentuh, menggesek, memelintir. Aku sudah tidak bisa mengendalikan mulutku. Dia menciumi mulutku sambil terus memainkan jarinya. Aku tidak tahan.


"Mmmmaassshhh." Des*ahanku lolos diantara ciumannya. Tangannya semakin aktif. Ada serangan listrik besar menyerangku. Membuat aku mengejang atau entah apa. Sepertinya aku pipis atau apa entah. Revan memasukan jarinya dibawah sana. Aku memekik kesakitan.


"Aw, sakit Mas." Kataku sambil mencengkeram tangannya.


Dia tersenyum dan menariknya lagi.


"Satu jari saja tidak masuk. Kamu sempit sekali ternyata hummmm." Katannya. Dia menciumku dengan gemas.


Revan kemudian menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal.


"Tidurlah." Kata Revan dengan mata sayu. Kemudian beranjak kekamar mandi. Bahkan dia masih memakai baju lengkap. Lama Revan disana. Aku meraba celana dalamku. Basah kuyup. Tangannya seperti tertinggal dibawah sana. Apa yang dia lakukan? Rasanya..... enak, geli dan puas. Dia.... memuaskanku hanya dengan dua jari? Lama lama mataku memberat. Aku tertidur.


***


Aku terbangun karena sesak nafas. Dadaku tertindih tangannya yang kekar. Aku menoleh kebelakang. Dia tertidur juga. Aku semakin menelusup masuk menyembunyikan wajahku didadanya. Dia mengecup rambutku sekilas kemudian kembali tertidur. Pose dibawah kolong kasir yang kurindukan.


***


Aku terbangun lagi karena ciuman bertubi tubi.


"Ayo pulang aku sudah menculikmu terlalu lama." Bisiknya. Aku mengerjabkan mata. Kamar ini sudah menjadi temaram. Lampu lampu kamar yang hangat sudah menyala.


"Astaga... ini jam berapa Mas? Mereka pasti mencariku!!! Motorku juga masih tertinggal disalon!!!" Aku panik langsung duduk. Selimut yang kupakai melorot. Aku lupa kalau tertidur hanya dengan pakaian dalam. Maluu.... Kurapatkan kembali selimut dibawah tatapan matanya. Ada yang sedikit aneh dibagian bawah sana. Aku masih merasa jarinya tertinggal.


"Aku mau pakai baju." Kataku. Dia menatap lekat pada tubuhku.


"Pakailah." Katanya santai, masih menatapku.


"Ya kamu jangan ngelihatin!!" Nadaku meninggi.


"Aku udah lihat Dek," katanya sambil senyum senyum. Kupukul dadanya. Tanganku ditangkap tangannya. Kami kembali berciuman. Aku kembali ambruk karena kecupannya diseluruh muka dan leherku. Tangannya memelusup dipunggungku. Melepas pengait pakaian dalamku.


"Maaasss!" Kataku mencengkeram tangannya.


"Habis ini kita pulang." Bisiknya. Aku mendesah saat bibirnya mencapai punc*ak dadaku.


***


Aku bersemangat menghabiskan nasi goreng dipiringku. Lapar sekali. Hotel ini cukup bagus dengan restoran yang terbuka dimalam hari. Makanannya juga enak. Entahlah, mungkin karena aku yang lapar. Kenapa selapar ini sampai seperti habis lari marathon?? Aku heran sendiri.


"Mau pesan lagi?" Tanya Revan. Melihat isi piringku licin tidak bersisa. Aku menggeleng.


"Kita udah kemalaman pulang. Nanti sampai rumah pasti kena marah. Kamu udah ngizinin ke Ibu kan?" Tanyaku. Biasanya dia membereskan masalah masalahku dibelakangku. Dia menggeleng.


"Aku hanya suruh Boby mengembalikan motormu kerumah. Aku mematikan hpku dari tadi....... Juga hpmu." Kata Revan sambil mengeluarkan hpku dari saku jaketnya. Mataku langsung melotot. Dia yang menyembunyikan hpku!!!! Kurang ajar!!!!