I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 115



"Om, ayo keamat(alfama*t)." Ajak Damar pada Revan usai dia mandi.


"Ajak Tante sekalian. Nanti Om beliin apapun yang Damar mau." kata Revan. Damar pun memanjat kasur dan menyeret nyeretku yang masih asik menulis. Akhirnya bertiga kami jalan kemini market favorit bocah itu.


"Setidaknya kau memiliki keponakan yang lucu. Juga keluarga yang hangat. Kau akan baik baik saja pasca.... Perceraian." Kata Revan getir saat Damar sibuk memilih jajanan.


"Kau juga akan baik baik saja. Pekerjaanmu menyita waktu. Kau akan melupakanku dengan cepat." Jawabku.


"Aku rasa tidak, tidak ada yang baik baik saja setelah kamu pergi. Aku....." Perkataan Revan terputus.


"Sudah daftarkan saja perceraian kita. Jangan bikin drama berlebih!!! Hidupku sudah penuh drama." Potongku. Dia diam. Damar sudah sampai kasir. Revan membayar kemudian menggandeng Damar keluar tanpa melihatku lagi. Kami pulang tanpa saling bicara.


Jam makan malam tiba. Aku kembali asik nulis dikamar. Ibu mengetuk kamarku memintaku makan. Revan dan yang lain sudah makan berhimpit diruang tangah. Aku ambil makanan dan masuk kamar.


"Aku makan dikamar." Kataku.


"Disini lho Put, masak suami datang dicuwekin. Malah ngurung diri dikamar terus." Mas Dipo komen.


"Ambil aja suamiku Mas. Atau carikan dia janda agar tidak menggangguku." Jawabku ketus sambil masuk kamar.


"Waahhh enak Mas, aku malah disuruh punya istri lagi. Sama janda lagi." Kata Revan. Ayah dan Masku cekikikan. Mereka makan sambil membicarakan janda ideal untuk jadi istri tambahan. Dasar gila!!!


Dia menginap disini. Bersiap tidur disampingku.


"Apa kau tidak tahu malu mau tidur disini!! Pulang sana!! Atau tidur diruang tengah!!! Siapa yang mau tidur denganmu!!" Kataku menohok. Dia justru tertawa.


"Seingatku kita masih suami istri Dek. Kenapa harus malu? Buka baju saja tidak malu. Seperti tadi malam. Siapa yang mau duluan? Aku siap lho kalau kamu mau lagi." Kata Revan ceria. Menggodaku dengan kedipan mata. Aku memelototinya walaupun mukaku memerah.


"Kenapa selalu tidak singkron? Mukamu selalu menampilkan dua ekspresi berbeda. Lucu dan sangat menghibur." Kata Revan.


"Pergi dari kamarku. Aku gak mau tidur sama kamu." Kataku pedas. Dia tidak peduli. Revan malah berbaring santai disampingku. Kemudian menguap memejamkan mata. Revan semakin percaya diri setelah keluargaku menerimanya kembali. Kenapa juga keluargaku menerima dengan cepat??


Revan bangun lagi. Mengacak celana jeansnya yang tergantung dibelakang pintu kamar. Menyerahkan hpku yang hampir dua hari disita.


"Aku lupa mengembalikannya." Kata Revan kemudian lanjut tidur. Haaa aku bahkan bisa melupakan benda kecil ini. Aku membuka Hapeku. Beberapa setatus bertengger dihapeku. Fotoku dalam berbagai kesempatan dengan embel embel tulisan memalukan.


'Di foto ayang'


'Jalan jalan sama ayang'


'Terima kasih untuk hari ini sayangku.' dengan emot kisss banyak. Aku tepok jidat berkali kali. Belum lagi sosmed publik diisi foto foto kami saat liburan. Dengan kata kata sok romantis mirip aku yang buat.


'Aku ternyata selalu milikmu. Walau amarah masih membeku, tapi cintamu masih mampu melumerkannya.' Beberapa komen masuk mencieh cieh. Entah dari aplikasi chat atau dari aplikasi publik. Aaaaa kurang ajar!!!! Dia membajak banyak sekali. Menggambarkan kalau kita baik baik saja. Pantas saja keluargaku langsung menerimanya. Aku menepuk punggungnya dengan keras. Tubuhnya bergetar menahan tawa.


Aku nambah syok saat membuka grub keluargaku berisi foto liburan kami.


'Mohon ijin kami bicara sebentar. Doakan akan ada hasil yang menggembirakan.' Tulis Revan.


'Apa Putri marah besar padamu Van? Dia baik baik saja?' Tanya Ayah digrub keluarga. Revan mengirimkan foto saat aku tertidur dengan hanya berbalut selimut!!! Edan!!! Dia gila!!!!.


'Gila!!! Marahan tapi tidur bersama!!' Mas Dipo.


'Waduh!!! Untung grub ini isinya orang dewasa semua.' Mbak Tata. Masih banyak lagi yang komen. Hampir semua komen. Aku meremas hpku sangking malunya. Entah bagaimana rupaku.


Aku menghajar Revan. Tabok, cubit, jambak. Semua yang bisa kulakukan pada tubuhnya. Dia menerima semua perlakuanku sambil nyekikik.


"Apa sayang, mau lagi? Sabar dong jangan pukul pukul aku. Tunggu sebentar lagi yaaa." Katanya sengaja dikeraskan sampai kamar sebelah dengar. Aku mencubit perutnya.


"Aaahhh, sayang jangan begitu." Kata Revan semakin keras. Aku mengcak acak rambutku frustasi. Dia terinspirasi dari kejadian dihome stay. Bisa salah sangka lagi keluargaku. Akhirnya aku tidur miring membelakanginya. Dia menyibak rambutku yang jatuh dipipi. Mencium pipiku dengan gemas. Membalikkan badanku memelukku dengan sayang. Kami berpelukan dalam pose tidur biasanya.


"Tidur Cantik. Simpan tenagamu untuk besok. Kau akan butuh banyak tenaga berperang dengan hatimu dan aku. Aku bukan lawan yang mudah kau remehkan." Bisik Revan ditelingaku. Aku merinding, namun tidak menjawab. Aku tidur cepat dengan pose seperti itu.


***


Pagi datang. Mas Dipo sudah mirip kereta api mrepetnya gara gara suara Revan yang sengaja dikeraskan.


"Haduhhhh Putri ganas yaa... masak Revan sampai kualahan. Semalam berapa kali Van, dengkul aman dengkul?" Tanya Mas Dipo. Revan cuma nyengir nyengir. Aku malunya... padahal gak ngapa ngapain. Aku sarapan dalam diam. Buru buru sebelum Mas Dipo mulai lagi.


"Gak ngantor Van?" Tanya Ayah karena dia masih santai pakai celana kolor.


"Masih diskors Yah....


Revan cerita singkat alasannya diskors dan pindah bagian. Ayah manggut manggut Mas Dipo juga. Ayah menepuk punggung Revan.


"Keren kamu!! Cara tanggung jawab yang berbeda, tapi Ayah suka." Kata Ayah. What the fuc*!!! Sekarang dia dapat pujian??? Menyebalkan!!!


Revan akan mengantarku bekerja dengan mobilnya.


"Gak!!! Aku mau berangkat sendiri. Pulang sana!! Aku gak mau dekat dekat kamu!!" Kataku galak. Dia senyum senyum.


"Dek, kamu diantar Revan dulu. Motorku mau tak pakai buat belanja sama Ibu." Kata Mbak Sasa.


"Naik ojek saja belanjanya. Aku ganti ongkosnya." Kataku gak menyerah. Revan merampas kunci motor ditanganku dan melemparnya kearah Mbak Sasa.


"Terimakasih Mbak." Kata Revan. Sumpah aku ingin membunuh polisi didepanku ini.


Didalam mobil dia menang banyak. Memberiku morning kiss yang lama dengan sedikit paksaan.


"Aku sayang kamu Dek. Apapun akan kulakukan untuk terus bersamamu. Tetaplah bersamaku." Bisiknya saat sudah puas. Kudiamkan saja sepanjang perjalanan. Dia terus membuka topik pembicaraan. Aku tidak perduli.


"Nanti aku jemput ya Cantik. Kerja apa kamu ini. Resign saja.... kerjaan mebel menunggumu." Kata Revan sebelum aku turun. Kudiamkan saja. Aku ndongkol setengah mati sama dia.


Aku kerja seperti biasa dengan celotehan teman teman baruku.


"Cie cie yang mbolos satu hari buat pacaran." Kata Sofi begitu aku sampai kios.


"Akhirnya jadian dengan Mas yang ngantar pulang yaa. Bukan Mas Diki yang ngasih makanan. Ihhh Mbak Putri bikin aku iri lho foto liburannya." Kata Dinda. Aku cuma senyum kecut menanggapi. Mereka masih saja membahas liburanku. Bodolah terserah aku menanggapi dengan seadanya.