I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 74



Senin pagi tiba. Aku berangkat kerja seperti biasa. Bapak melihatku datang dengan sumringah. Dia berjalan kearahku.


"Revan bilang Bapak harus segera datang kerumahmu. Ah, bagaimana Bapak mau bilang. Bapak senang sekali." Kata Bapak sambil memelukku. Kami berpelukan cukup lama.


"Kenapa lama sekali Nduk. Kalian sudah sama sama sudah dewasa. Bapak sudah bosan tanya sama Revan kapan bisa melamarmu. Kapan Bapak bisa menjadikan kamu anak Bapak seutuhnya." Kata Bapak haru.


"Semua butuh proses Pak, pelan pelan saja asal terjadi." Kataku.


"Selamat Mbak Putri." Kata Pak joko yang ternyata sudah tahu duluan. Aku cuma senyum menanggapi. Kemudian menuju mejaku. Ternyata Bapak mengikutiku.


"Katakan apa yang harus kami bawa? Kamu mau dilamar pakai apa? Bagaimana tradisi lamaran dikeluargamu? Bapak sama Revan manut. Tapi kamu harus jujur nyeplos yaa. Kamu tahu sendiri kita dirumah ini laki laki semua. Gak ada yang bisa ngerti masalah gitu. Sini tulis semua yang harus kami bawa. Tulis semua yang dibutuhkan dan yang kamu minta. Gak boleh malu malu. Pokoknya patute piye Bapak manut." Kata Bapak semangat mengambilkan buku dan bolpoin. Aku jadi terharu terharu gimana gitu. Biasanya akan terjadi sedikit perdebatan kecil antar keluarga. Karena menyesuaikan tradisi masing masing. Kedua kakakku dulu juga begitu. Apalagi dengan keluarga Mas Dipo dulu. Cukup alot sekali. Tapi Bapak dengan pasrahnya mau manut saja tradisi dikeluargaku. Aku jadi bingung mau dilamar pakai apa....


Jam makan siang tiba. Aku sudah ambil dompet dan kunci motor. Tiba tiba ada kurir restoran ayam goreng datang. Sambil menurunkan banyak box makan siang. Aku kebingungan.


"Maaf, siapa yang pesan Mas?" Tanyaku sedikit gemetar. Aku teringat kiriman kado Bagas.


"Yang pesan atas nama Revan Aji. Minta dikirim ke Ajilis Mebel. Benar disini?" Tanya Mas kurir. Aku menarik nafas lega.


"Benar disini Mas." Kataku. Kutelfon Revan katanya suruh membagikan kesemua karyawan.


"Acara apa?" Tanyaku ditelfon.


"Syukuran kecil kecilan, karena lamaranku diterima tanpa syarat." Kata Revan membuat aku tertawa.


***


Sampai sore catatan lamaran masih kosong. Lha ini gimana mau isi. Dulu dua kakaku dilamar dengan cincin dan beberapa oleh oleh. Masa iya oleh olehnya aku isi disini mau apa? Kan yaa gimana gitu. Kaya minta oleh oleh atau maksa minta sesuatu. Hahahaha lucu. Bapak cemberut bukunya masih kosong.


"Ditulis Nduk, beneran Bapak gak tau mau bawa apa. Jangan mengharap Revan. Dia juga sama bodonya kalau begini." Kata Bapak. Aku cuma senyum senyum gak jelas. Bapak melihatku sejenak.


"Kamu jadi gak enak yaa. Maaf ya Nduk... andai Ibunya Revan masih ada, dia pasti semangat sekali menyiapkan lamaran Revan." Kata Bapak pilu. Aku menepuk punggung tangan Bapak.


"Aku juga penasaran sekali dengan Ibunya Mamas. Andai masih ada, pasti kami bisa jadi teman baik." Kataku sama Bapak. Bapak justru tertawa.


"Andai Lilis masih ada kamu akan terkagum kagum dengannya. Dia bukan tipe wanita feminim dalam penampilan, tapi dia menunjukkan sifat feminimnya dengan cara yang lain." Kata Bapak mengenang Ibu.


"Bapak rasa, Revan mewarisi kecerdasan ibunya. Kalau Bapak sih gak cerdas cerdas amat. Hahahahaha." Kata Bapak lagi. Aku jadi ikut tertawa. Sore itu Bapak banyak cerita tentang mediang Ibunya Revan. Jelas sekali ada cinta yang masih membaranya. Aku penasaran bagaimana kisah cinta mereka dulu.


***


Revan datang pulang kerja langsung ikut nimbrung. Wajahnya secerah matahari. Sama dengan cerianya Bapak tadi pagi. Beberapa ucapan terima kasih datang dari para karyawan. Revan hanya mengangguk menanggapi.


"Ngomongin apa?" Tanya Revan. Duduklah dia didepanku. Kami bertiga mengelilingi mejaku sore itu.


"Lamaran Van, kamu mau ngelamar anak orang pakai apa. Genduk gak enak kalau tak suruh nulis apa yang harus dibawa." Kata Bapak.


"Tulis aja apa yang dibawa keluarga Mas Dipo kemarin Dek. Tambahkan apa yang kamu mau. Begini. Bersikap menjadi adiku disini. Apa patutnya dibawa kerumahmu. Bantu aku sama Bapak." Kata Revan.


"Mau aku bantu catat?" Katanya sambil mengambil alih buku dan bolpoint.


Kami sore itu sibuk mencatat dan mengingat apa yang dibawa keluarganya Mas Dipo.


"Kamu cuma dibawakan cincin?" Tanya Revan


"Setahuku kamu boleh minta apapun." Kata Revan.


"Itu mas kawin bukan lamaran." Kataku.


"Oh, beda ya." Kata Revan manggut manggut.


"Hanya ini? Gak mau kambing atau sapi?" Katanya sambil senyum senyum.


"Kamu mau bikin darah tinggi Ibu naik bawa Sapi?" Kataku. Dia tertawa.


"Kapan? Kapan aku bisa kerumahmu?" Tanyanya. Aku bengong. Aku bahkan belum memberitahu orang tuaku. Tepok jidat. Oleh olehnya sudah dibahas, tapi yang mau didatangi belum tahu. Hahahaha lucu.


Revan mengantarku pulang dan membantuku menyampaikan bab lamaran itu pada keluargaku. Ibu dan Ayahku nampak sumringah. Mereka juga menantikan acara ini ternyata.


"Lha keluargamu maunya kapan Van?" Tanya ibu.


"Kami ikut keluarga sini. Tanggal berapa jam berapa. Kami ikut saja." Kata Revan.


"Berapa orang yang akan kamu bawa?" Tanya Ibu. Revan terdiam sejenak. Raut mukanya berubah sedikit pilu.


"Mungkin tidak banyak Bu, hubungan Bapak dan saudaranya tidak terlalu dekat semenjak Bapak nekat memakamkan Ibu. Banyak keluarga Bapak yang menjauhi kami. Sampai sekarang juga ada yang masih jauh. Apa.... terlalu memalukan kalau... saya datang hanya berdua dengan Bapak?" Tanya Revan pilu. Ibu diam sejenak.


"Gak masalah. Justru enak menyiapkan hidangannya. Hahahaha." Kata Ibu. Beliau mencoba menghibur Revan.


"Tapi kalau ada yang mau diajak bilang yaa. Biar kita enak nyiapinnya." Kata Ibu. Kami kemudian berdiskusi kapan tanggal yang tepat. Satu bulan lagi minggu kedua. Ditetapkan sebagai tanggal lamarannya. Dan saat lamaran nanti ditetapkan tanggal pernikahan sekalian. Aku berdebar. Apa secepat ini menjadi Nyonya Revan???


Tiba tiba terlintas Pak Sidiq dipikiranku.


"Mas, ajak Pak Sidiq juga. Beliau pasti senang kalau diajak melamar." Kataku. Revan manggut manggut.


"Iya, kamu benar Dek. Kenapa tidak terpikirkan olehku." Kata Revan kemudian.


***


Aku baru tahu kalau Revan dan Bapak dijauhi keluarganya sendiri karena memakamkan Ibunya. Jahat sekali.


"Apa keluarga Bapakmu masih dendam dengan ibumu? Jahat sekali, itu sudah lama." Kataku saat kami diteras rumah. Kami berbincang sambil menikmati udara malam diluar rumah. Ditemani kopi dan beberapa camilan kering.


"Bapak sebenarnya masih keturunan ningrat atau sejenisnya. Memperistri Ibu seorang penyanyi dangdut saja, Bapak harus rela angkat kaki dari rumah. Tidak ada yang merestui hubungan mereka. Berdua mereka merintis mebel Ajilis. Kemudian lahir aku ditengah tengah mereka. Hubungan Ibu dan keluarga Bapak sempat membaik setelah aku lahir, tapi kemudian Ibu lari dengan Nur. Meninggal tak lama setelahnya. Dimakamkan oleh Bapak dengan protes keras keluarga Bapak." Jelas Revan. Aku baru tahu itu.


"Lalu? Mereka memusuhi kamu dan Bapak hingga kini?" Tanyaku.


"Aib ibu sebagai penyanyi dangdut yang kabur dengan laki laki lali lain dianggap terlalu memalukan Dek. Bahkan oleh neneku sendiri. Lagi pula.... aku sudah lama terbiasa hidup tanpa mereka. Aku berencana mengajak keluarganya Ine. Mereka sudah seperti keluarga, tapi aku takut kamu tampar tamparan lagi sama Ine." Katanya sambil tertawa. Aku juga ikut tertawa malu. Kalau dipikir pikir kami terlalu konyol saat itu.


"Aku malu kalau mengingatnya. Sedikit menyesal juga kenapa sampai seperti itu." Kataku sambil agak nyekikik.


"Tapi kata katamu benar, Dek. Setiap wanita itu wajib dicintai. Sama besar dengan cinta yang mereka berikan." Kata Revan mengutip kalimatku saat bertengkar dengan Ine kemarin.


"Aku tidak tahu seberapa besar cintaku Dek, tapi... aku akan berusaha mencintaimu setulus Bapak ku mencintai ibuku." Kata Revan. Aku ingin memeluknya kalau tidak ingat ini di teras rumah.