
Pagi pagi sekali Revan kembali menelponku. Biasanya tak pernah sekalipun dia menelfon pagi. Apa lagi vidio call. Aku menggeser hpku. Wajahnya terlihat berantakan.
"Ini masih pagi Mas." Protesku sambil menguap. Dia senyum.
"Mana perinya? Kenapa tidak terlihat?" Haaaahhh dia berharap dapat bonus lagi yaa.
"Ada." Kataku sambil merapatkan guling didadaku. Dia tertawa. Hpnya sampai bergetar.
"Tau begitu aku vidio call tiap malam." Katanya.
"Jelek aahhh." Protesku.
"Udah aku mau mandi. Dadah." Kataku sambil melambaikan tanganku.
Beberapa temanku masih ditahan dikantor polisi. Walaupun katanya dimintai keterangan, tapi mereka menginap dikantor. Mengerikan sekali. Kampus lengang pagi itu. Aku ambil motor dikampus. Tancap gas balik kerumah Revan. Pekerjaanku menumpuk. Meski aku tidak yakin. Pasti diselsaikan Revan kemarin.
Banner konser Simpel berkibar di jalanan. Hari ini yaa.... malam minggu di stadion kota. Aku berencana mengajak Revan datang. Kita belum pernah lihat konser musik.
Aku tiba dirumah Revan saat para tukang juga mulai bekerja. Bapak tersenyum kearahku.
"Maaf Pak, kemarin Putri bolos, gak bilang lagi." Kataku gak enak.
"Gak papa Nduk, santai saja." Kata Bapak. Aku jadi tambah gak enak kalau juragannya model begini hahaha. Beliau sedang mengajari tiga tukang baru. Motor Revan sudah tidak ada. Dia sudah berangkat. Mobilnya teronggok digarasi. Dia memang lebih suka pakai motor... kecuali saat sedang bersamaku.
Aku meletakkan tas. Mencari laptop yang biasanya ada di meja sudut ruang tamu. Kulirik keranjang nota sudah kosong. Benar saja. Semua sudah dibereskan Revan. Aaaaa my super hero without mask.
Aku jadi gabutkan. Kubuka file pribadi Revan. Ada foto foto jaman dulu. Waktu dia masih pendidikan polisi. Hahaha mukanya culun sekali. Kemudian saat dia wisuda. Foto saat dia mendapatkan beberapa penghargaan. Sepertinya anak ini cukup cerdas.
Dan..... ada foto yang membuatku.... sedikit panas... beberapa foto Revan dengan gadis imud berponi. Sepertinya hubungan mereka sepesial. Aku menutup filenya. Aku yang salah ngobok ngobok file orang tanpa ijin.
Bapak mendekat. Masih mengawasi tiga tukang baru.
"Pekerjaan saya juga sudah diselsaikan Mamas ternyata. Padahal maksudnya datang mau lembur sampai nanti malam." Kataku. Bapak tertawa.
"Mamasmu bisa marah kalau kamu lembur sampai malam disini. Ini kan malam minggu." Kata Bapak.
"Aku nyapu dulu deh Pak." Kataku merasakan lantai rumah ini sudah tidak nyaman dikaki. Bapak malah tertawa.
"Baru bapak mau suruh kamu. Revan sama Bapak sudah berdebat tadi pagi. Gak ada yang mau nyapu. Hahaha." Bapak kembali tertawa. Sudah dipastikan itu. Dua orang bapak anak yang cuwek bebek dengan kebersihan rumah, dengan penampilan mereka, dan dengan apa yang mereka makan. Bisa dipastikan itu menjadi PR ku saat sudah menikah nanti.... eh.... Aku kok jadi ngelantur kejauhan.
Makan siang tiba.
"Mau makan bareng Bapak, Nduk?" Tawar Bapak padaku.
"Kemana Pak?" Tanyaku masih megangin keyboard laptop. Ngadmin onlen.
"Warungnya Ibunya Ine lah, yang dekat dari sini." Kata Bapak. Aku malas kesana. Menggeleng dengan mantap.
"Nanti saya cari sendiri Pak." Kataku. Beliau pun meninggalkanku. Makan rujak ice cream sepertinya enak. Aku tancap gas kerujak langganan. Tempat dulu aku mencubit luka tembak Revan. Aku membungkus beberapa untuk dibawa pulang. Siapa tahu ada karyawan lain yang mau.
Aku pulang sebelum jam istirahat berakhir. Tiga tukang baru treningan bapak sedang bergerombol. Mereka masih muda. Aku mendekati mereka.
"Mas, mau rujak eskrim? Ini aku bawain." Kataku sambil menyerahkan bungkusan.
"Makasih Mbak Cantik." Kata seseorang dari mereka. Aku tersenyum.
"Namaku Putri Mas, Mas Mas namanya siapa?" Tanyaku mengakrabkan diri.
"Saya Dalimin, dia Ojan, dia Budi." Tunjuk Mas Dalimin pada teman temannya. Aku mengguk mau berlalu.
"Mbak Putri admin disini yaa? Kalau butuh apa apa bilang sama Mbak Putri?" Tanya Dalimin. Aku menghadap mereka lagi.
"Bisa begitu, atau sama Pak Joko kalau saya gak ada." Kataku.
"Gak ada kemana mbak?" Tanya Dalimin.
"Wahh, udah cantik, baik, sexy, kerja, masih kuliah lagi. Udah punya pacar belum? Saya ngantri kalau belum." Tanya Dalimin. Aku sudah membuka mulut. Suara Revan menjawab duluan dibelakangku.
"Udah!!! Ini pacarnya. Anak juraganmu!!" Kata Revan ketus. Aku sampai terlonjak kaget. Matanya sudah membulat mengintimidasi. Aku langsung memeluk tangannya.
"Pak Joko, bilang sama semua orang baru disini. Kalau adminnya pacarku." Katanya pada Pak Joko yang mendekat. Kemudian Revan menggandeng tanganku menuju teras.
"Untung ra dibedil ndasmu Min Min. (Untung tidak ditembak kepalamu Min Min)" Kata Pak Joko sambil menepuk pundak Dalimin yang syok.
"Lama lama aku bisa ngurung kamu dalam kamar, biar gak ada yang lihat kamu selain aku." Kata Revan jengkel sambil duduk dikursiku. Aku duduk didepannya.
"Tumben pulang jam segini." Kataku mengalihkan perhatian. Mukanya menyeramkan.
"Gak punya kerjaan, kantorku pindah sementara. Malam minggu, aku pingin sekali sekali malam mingguan." Kata Revan
"Kebetulan, nonton konser yuk!" Ajakku.
"Simpel?" Tanya Revan. Aku mengangguk. Dia memegang tangan kiriku. Melihatnya sekilas, kemudian menciumnya.
"Apa yang belum selsai? Aku bantu biar cepet malam minggu." Katanya bersemangat. Kami pun bahu membahu menyelsaikan tugas Sabtu siang ini. Menggaji karyanwan Bapak.
Dia sudah mandi. Memakai kaos abu abu dan celana jeans. Dengan sneekers bergaris tiga yang warnanya senada dengan kaos. Waaaa lumayan, dia itu sebenarnya gagah, cuma kadang sembarangan penampilannya.
Revan memanasi mobilnya sambil masih melirik tajam kearah Dalimin. Masih dendam rupanya. Yang dilirik tampak takut takut menatapku. Juga pada Revan. Aku masih sibuk menggaji karyawan Bapak.
Kami pulang dulu kerumahku. Aku belum mandi dan belum berpamitan. Mas Dipo sedang santai diteras.
"Weee Mamas ganteng bener." Katanya sambil menjabat tangan Revan.
"Mandi sana." Bisik Revan padaku.
"Atau mau aku mandiin?" Lanjut Revan.
"Ogahhh!!" Jawabku.
"Aku denger lho ini. Dikira patung apa." Kata Mas Dipo. Kami nyengir.
"Bukan cuma yang ini. Yang 'aku mau yang tadi' kemarin malem juga denger. Buset deeehhhh bikin panas dingin. Aku lagi ngurusin muntahan Sasa, kamar sebelah lagi phone s*x." Kata Mas Dipo nyantai. Mukaku sudah semerah tomat.
"Mulutmu Mas jangan kedengeran Ayah." Kataku.
"Aman, mereka lagi malam mingguan." Kata Mas Dipo. Kakak datang dengan muka pucat.
"Mau aku beliin apa nanti? Pingin apa mbak?" Tanyaku. Dia hanya geleng geleng lemah.
"Masih muntah?" Tanyaku. Dia mengangguk.
"Tapi kalau martabak peceno** boleh. Yang coklat keju." Kata kakakku menyebutkan martabak sultan yang terkenal dengan topping melimpah. Dengan harga berkali lipat. Mas Dipo tepuk tangan senang.
"Woke, ini sih nyenengin bapaknya." Kataku. Kakakku menggeleng
"Ini yang minta ponakanmu lho." Katanya. Aku mengangguk.
"Ada yang lain?" Tanyaku. Dompetku tebal setelah bekerja dirumah Revan. Kalau hanya martabak sultan untuk keponakan, terlalu kecil nilainya. Uaaaaa.... sombong. Sayangnya Mbakku menggeleng.
"Nanti kalau mau apa lagi aku bilang." Katanya. Aku mengangguk dan berlalu mandi.
Revan ditemani Mas Dipo ngobrol diruang tengah.
"Mau kemana Van malam mingguan?" Tanya Mas Dipo.
"Adek ngajak nonton konser, Mas." Jawab Revan.
"Simpel??? Kamu yakin ngajakin Putri nonton mantan? Nanti ribut lagi.... galau lagi.... kemarin pulang dari pasar malem bahas mantan sedikit aja ribut. Sampai pulangnya aku di bawa ngebut, padahal aku lagi jadi calon manten yang imud. Untung bisa pulang dengan selamat." Kata Mas Dipo tanpa filter. Revan tertawa. Suara kran kamar mandi mengaburkan pembicaraan mereka.