I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 86



Latihan digedung tempat acara Revan. Aku kaget dengan tempatnya. Mewah sekali. Gedung didekor sangat megah. Singgasana manten didepan sana juga indah. Pesta akan diadakan secara standing party. Ini berkali kali lebih mewah dari acara ditempatku.


WO memberikan jarik dan high hells untuk aku latihan pedang pora. Agar lebih terbiasa nantinya. Berkali kali aku mengacau. Aku sama sekali tidak bisa baris berbaris. Apalagi pakai high hells dan jarik. Langkah ku keteteran dan tidak seimbang dengan Revan. Selain karena gugub juga sih.


"Tenang sayang, jangan begitu. Angkat kakimu. Letakkan beberapa detik ujung kakimu dilantai, kemudian melangkah. Gandeng tanganku, senyum, ikuti langkahku. Aku akan pelan pelan." Kata Revan.


"Ini kebih susah dari yang kubayangkan." Kataku. Revan tertawa.


"Kamu hanya grogi Dek. Belum apa apa sudah grogi. Padahal nanti aku pakai setelan seragam. Pasti lebih bergetar lagi tanganmu." Kata Revan.


"Karena aku gak terbiasa lihat kamu rapi Mas." Jawabku.


"Jadi selama ini aku acak acakan?" Tanya Revan.


"Emmmm.... hanya kurang rapi." Jawabku. Beberapa teman Revan yang bertugas membawa pedang senyum senyum mendengar percakapan kami. Akhirnya kami sukses setelah beberapa kali latihan.


Simpel datang dengan vocalis baru yang penampilannya lebih macho dari Riyan.


"Putri.... wooowww ini manggung perdana kami dengan vokalis baru. Kenalkan dia Diki." Kata Cleo padaku. Aku dan Diki berjabat tangan.


Tato melingakar ditangan kiri Diki. Hanya terlihat sebagian karena tertutup lengan kaosnya.


"Aku Diki, senang bertemu denganmu Put. Aku banyak sekali dengar cerita tentang kamu." Kata Diki belum melepaskan tangan kami.


"Wow, cerita apa ini? Apa mereka bergosip tentang aku?" Tanyaku. Diki tertawa.


"Tidak, tentu tidak. Cerita tentang gadis cantik ceweknya Simpel." Kata Diki. Tangannya masih erat memegang tanganku. Kami saling berpandangan. Sudah lama sekali istilah 'ceweknya simpel' tidak kudengar. Teringat beberapa adegan manis dengan Riyan dulu.


"Dia tidak gadis lagi sekarang Brow. Dia istriku. Aku Revan. Kakaknya Riyan." Kata Revan memutus kontak mataku dengan Diki, juga salaman kami.


Mereka berlatih beberapa lagu di panggung yang sudah disiapkan. Lagu yang kudengar pada rekaman sederhana dirumah Revan juga akan dinyanyikan. Aku terbengong mendengar Diki menyanyikannya. Suaranya lebih berat dari Riyan. Aku membayangkan Riyan menyanyikan. Ahhh sedih.....


Revan memberikan taplak meja padaku.


"Buat apa?" Tanyaku heran.


"Ngelap air mata, aku gak bawa tisue." Kata Revan cengengesan. Sepertinya gabung sama Mas Dipo dan Ayah tadi malam membuat dia jadi sedikit terpengaruh. Ku pukul lengannya. Dia menangkap tanganku.


"Ayo pulang tidur dulu. Nanti sore kita sudah harus stand bay di sini." Kata Revan menarikku keluar gedung.


Kami pulang kerumahnya. Ada tenda besar terpasang di teras. Sepertinya tadi malam ada acara disini. Beberapa orang membersihkan rumah.


"Acara apa Mas?" Tanyaku heran. Aku sama sekali tidak tahu.


"Cuma kumpul kumpul biasa. Ngumpulin junior, ngumpulin teman kantor, ya sama Ayah dan Mas Masmu kemarin juga." Kata Revan santai.


"Kok aku gak diajak? Aku kan mantennya?" Tanyaku merasa aneh.


"Lha kemarin kamu aku ajak pulang lho Dek. Kamu gak ingat?" Revan malah balik bertanya.


"Siapa coba yang gak mau?" Lanjut Revan.


"Ya udah, udah terlanjur. Yok bobok aja. Aku ngantuk. Janji gak nakal." Kata Revan mengandeng aku kekamar. Dia benar benar tertidur tanpa acara uyel uyel dalam bentuk apapun. Sepertinya memang ngantuk berat.


***


Aku sudah dirias sejak sore. Kebaya merah panjang menyeret tanah sudah pas melekat ditubuhku. Jarik juga sudah kupakai. Aku didandani dengan riasan Solo Putri dengan paes hitam tergambar dijidatku. Juga beberapa cunduk menthul diatas sanggulku yang berbalut rangkaian bunga melati. Tukang rias disini juga beda dari dirumahku. Walaupun dirumahku juga kurasa cukup bagus, tapi disini lebih bagus lagi. Mereka mendandaniku dengan flawles. Aku jadi manglingi kalau orang jawa bilang.


Ruang rias cewek dan cowok terpisah. Aku dirias bersama beberapa pager ayu yang kutahu tetangga Revan semua. Juga para ibu among tamu. Aku diberi ruang kusus ditempat itu. Ditutup dengan penyekat ruangan, tapi masih bisa kudengar obrolan ibu ibu among tamu.


"Tadi malam tidur jam berapa Bu?" Suara seorang Ibu.


"Jam dua belas. Orang sound di rumahnya Revan kenceng banget." Jawab yang lain.


"Suamiku tak jemput Bu, walah penyanyinya gak ditaruh diatas panggung." Kata yang lain lagi.


"Trus?" Jawaban beberapa ibu serentak.


"Ya nyanyi diteras dikrubungi cowok cowok temannya Revan."


"Walah!!!" Mereka membuat paduan suara.


"Revan sampai dipepet pepet sama penyanyinya. Orang penyanyinya model yang rok minian sama ketat ketat gitu. Banyak lagi."


"Pulang pulang suamiku tak jewer telinganya." WHAT THE FUC* batinku dalam hati. Ternyata Revan mengadakan sejenis pesta lajang khusus pria tadi malam. Dengan penyanyi dangdut sexy sexy banyak. Hummmmm awas saja yaa!! Pantas saja aku gak diajak!!!


Revan membuat keributan. Mau menerobos masuk ruang rias wanita.​


"Mas gak boleh masuk sini Mas, ini khusus wanita." Kata salah satu crew WO yang mendandani para among tamu.


"Aku mau bicara penting sama istriku. Sebentar saja ini penting." Suara Revan. Langkah kaki terdengar. Dia muncul dibalik penyekat. Tukang rias yang mendandaniku berhenti sejenak.


"Bisa saya bicara sebentar?" Tanya Revan Sambil terus memandangiku.


"Boleh Mas, tapi sebentar yaa Mbaknya belum siap." Kata tukang rias pergi meninggalkan kami. Revan menundukkan badannya. Wajahnya tepat didepan wajahku. Mengunci gerakanku dengan kedua tangan kokohnya.


"Kamu cantik sekali Dek." Bisiknya.


Dia datang untuk ngacak ngacak lipstiku. Aku menolak.​ mendorong dadanya menjauh dari bibirku.


"Mas, nanti rusak makeupku!" Bisikku.


"Satu ciuman dan aku akan segera pergi." Bisik Revan nego. Aku mengalah agar tidak terjadi keributan. Dia itu nekat Kalau masalah seperti ini. Ciuman panjang berlangsung.


"Rugi kalau kamu cantik begini tidak aku cicipi dulu. Aku cemburu kalau orang lain melihat kecantikanmu lebih dulu." Bisiknya. Tepok jidat dalam hati. Dia sudah rapi dengan setelan jas hitam sragamnya lengkap dengan sarung tangan putih. Topi juga sudah ia bawa. Dia sepertinya sudah siap 100%. Aku masih tidak terbiasa melihatnya bersragam lengkap seperti ini. Seperti bukan Revan. Bibirnya belepotan lipstik dan sedikit bedakku menempel. Yakin tukang riasku ngamuk. Dia mengusap mukanya dengan tisue sebelum meninggalkanku. Tukang rias datang marah marah


"Ya ampun Masnya!!!!" Tukang rias syok sejenak. Aku gak bisa mengelak. Udah jelas kami habis berciuman.


"Maap ya Mbak dia nekat banget." Kataku gak enak sendiri. Mbak tukang rias hanya menghela nafas. Memperbaiki kembali apa yang diacak acak Revan. Aku telat setengah jam dari jadwal acara.