
Revan bangun tidur saat aku beres beres mau pulang. Bapak juga sudah pulang membawa list order yang lumayan.
"Kita harus cari tambahan tukang Pak, kalau gak, ini gak terkejar." Jawabku sambil menambahkan List pesanan. berderet dipapan tulis.
"Onlenan lumayan juga ternyata." Kata Bapak sambil mengamati papan list pesanan.
"Nanti Bapak cari tenaga lagi." Lanjut Bapak. Aku manggut manggut. Revan muncul dengan rambut basah. Wajahnya terlihat segar. Memakai kaos basket tanpa lengan dan celana kolor. Ikut nimbrung melihat daftar list pesanan. Diam tidak berkomentar.
Revan mengabil penghapus papan kapur itu. Mencoretkan penghapus dimukaku.
"Mamas iihhh...." aku protes. Sambil menghapus sisa serbuk kapur diwajahku. Bapak tertawa melihatku. Bukannya jera Revan justru memepet dan memegangi tanganku, mencoretkan berkali kali serbuk kapur itu kewajahku.
"Revaaaaaannnn!!!!" Aku berteriak keras. Dia berlari. Kami kejar kejaran di halaman. Tentu saja kakiku kalah panjang dengan orang itu. Jangkauannya lari lebih lebar. Aku ambil selang air yang biasa untuk cuci tangan. Kusemprot Dia dengan air. Dia basah kuyub di tengah halaman. Semua orang tertawa. Pak Joko, tukang senior yang sudah ikut Bapak lama nyeletuk.
"Revan kumat jahilnya. Udah lama gak lihat Revan jahil." Katanya.
"Dan sekarang punya musuh jahilnya." Kata Bapak. Mereka tertawa.
Revan belum puas. Dia justru berlari kearahku. Bermaksud memelukku dengan tubuhnya yang basah. Aku sampai lari kejalan keluar gerbang rumah Revan. Kulihat segrombolan ibu ibu sedang bergosip didepan warung Ibunya Ine. Aku tertangkap. Revan memelukku dari belakang, otomatis basahnya nular keaku. Aku meronta, tapi tangannya yang kekar justru mengangkatku kembali kehalaman rumahnya. Kami tertawa sambil basah kuyub.
***
Besoknya saat aku kerja, Revan ada dirumah.
"Mamas gak kerja?" Tanyaku sambil meletakkan tas. Memeriksa keranjang yang biasa tempat meletakkan nota nota baru. Dia duduk dihadapanku sambil geleng geleng.
"Tumben, biasanya week end aja masuk." Kataku.
"Jalan jalan yuk." Ajak Revan.
"Kemana?" Tanyaku sambil duduk dikursi, menghidupkan laptop.
"Kegunung atau pantai atau ..... kemanalah. Aku pusing pingin refreshing." Katanya beralih kebelakangku. Menciumi rambutku dengan gemas. Aku menghindar.
"Banyak orang Mas, malu." Kataku sambil celingukan kearah para pegawai dan Bapak.
"Mereka tahu kita pacaran. Biarkan saja." Katanya masih menciumi rambutku. Aku berdiri bermaksud menghindar. Tapi dia malah menciumi tengkuku. Sambil memeluku dari belakang. Aku meronta melepas tangannya yang mengelilingi perutku. Aku berjalan melihat papan pesanan. Kutulis lagi pesanan onlen dibawahnya.
"Ayo kok, malah kerja lagi." Katanya merajuk. Baru kali ini aku lihat dia merajuk. Mukanya lucu.
"Aku kerja Mamas, besok aja yaa. Atau nanti jalan jalan dekat sini habis aku selsai." Kataku. Bapak datang kearah kami.
"Revan jaga sikapmu. Jaga kehormatan Putri dihadapan pegawai. Jangan cium cium seperti itu." Kata Bapak. Aku kembali duduk menekuni laptop. Sambil mengacungkan jempol.
"Revan mau ajak Dia pergi Pak." Kata Revan mendekat lagi kearahku.
"Pergi kemana?" Tanya Bapak.
"Gunung, pantai, atau kemana. Kepalaku pusing." Kata Revan.
"Kamu ada masalah Nak?" Tanya Bapak. Aku ikut menunggu jawaban Revan. Dia diam agak lama. Seperti merenung. Kemudian menggeleng.
"Revan gak tau Pak, Revan gak tahu." Katanya. Aku memegang tangannya yang ada dimeja. Sepertinya dia benar benar pusing.
"Jam berapa Pak Bowo datang?" Tanya Bapak padaku.
"Jam 3 nanti Pak." Jawabku sambil memeriksa buku agenda.
"Yang lain kerjakan besok saja Put. Temani Mamasmu pergi." Kata Beliau lagi. Aku mengangguk. Bapak pergi dengan Mas Jono. Aku kerjakan yang bisa dikerjakan sambil menunggu klien. Revan duduk diam didepanku.
"Mau es? Aku mau beli diwarung samping." Kataku. Dia menggeleng.
***
"Eh, Mbaknya admin baru yaaa?" Kata seorang Ibu yang lagi nongkrong diwarung Ibunya Ine.
"Iya Bu," Jawabku sambil senyum.
"Pacarnya Revan juga?" Tidak kujawab hanya tersenyum.
"Pacaranlah kalau gak, ngapain peluk pelukan dijalan kaya kemarin." Haduh malu....Batinku. Masih berusaha tersenyum.
"Ine apa kabar Bu? Patah hati dong dia." Celetuk Ibu dengan handuk dikepala.
"Ine baik baik aja kok. Tapi ya itu agak kecewa aja, yang nemanin susah siapa, yang nemu enak siapa. Hahahahaha." Kata ibunya Ine sinis menatapku, sambil memberikan pesananku. Dongkol juga kalau seperti ini.
Pulang pulang esku malah diembat Revan.
"Tadi katanya gak mau, sekarang main nyruput aja." Kataku tambah dongkol. Yang ditegur senyum senyum.
"Romantis begini, satu berdua." Katanya. Haaaa kosa kata apa itu.
"Kamu sama Ine itu sudah sampai mana hubungannya? Sampai aku dikira nemu enak." Kataku sebel. Revan malah tambah lebar senyumnya.
"Sini tak kasih tahu." Katanya memberi kode mendekatkan wajah. Aku menurutinya, mendekatkan wajahku kepadanya. Dia malah mencium pipiku. Aku kaget. Kulirik beberapa pekerja, mereka pura pura tidak tahu.
"Revaaan!!!! Tak bilangin Bapak lhoo." Kataku makin sebel. Kupukul kepalanya dengan pulpen yang aku pegang.
Kerja saat ada Revan itu susah sekali konsen. Digangguin terus. Beberapa kali aku teriak marah marah. Dia tidak peduli. Sampai klien datang dan kami nego harga. Rasa capeknya kaya udah dua hari kerja disini gak pulang pulang.
"Pak Joko kami pergi yaa. Nanti beresin seperti biasa. Rumah gak dikunci." Kata Revan. Sudah membukakan pintu mobil untuku.
"Beres Mas, nikmati waktunya." Kata Pak Joko sambil tagannya berdada kearah kami. Kemudian Revan menjalankan mobil seperti biasa.
Kami pergi kegunung dua jam perjalanan. Jauh jauh kami disambut hujan deras. Semesta tidak mendukung. Revan mencari hotel untuk tempat berteduh. Memilih dengan pemandangan yang indah. Di sini dia bisa menuntaskan uyel uyel manja dengan bebas. Hanya sebatas ciuman lama dan kecupan dileher. Dia kalau gak ngantuk masih bisa jaga tangan. Diwajahnya nampak dia ada masalah. Namun bibirnya terkunci rapat.
Aku berdiri dibalkon dengan pemandangan yang luar biasa. Walaupun hujan, deretan bukit didepan sana tetap bukan hal yang bisa dinikmati setiap hari. Revan datang memelukku dari belakang. Mengunci tubuhku dalam pelukannya yang hangat. Kembali mengecupi tengkukku dan menghisap daun telingaku. Kubiarkan saja semaunya. Mungkin dia juga kangen. Makanya dari kemarin usiiiiillll aja. Kami berpelukan diam dipose itu cukup lama.
"Apa yang kamu lakukan, kalau kamu tahu tentang kebenaran yang agak mengejutkan dan konyol? Tapi itu penting." Tanyanya. Belum melepaskan pelukan kami.
"Kebenaran apa?" Tanyaku. Hening. Dia tidak ingin aku tahu.
"Kalau memang penting dan harus diberitahu kenapa tidak. Kebenaran tetap kebenaran meskipun itu menyakitkan." Kataku akhirnya. Dia mengangguk.
"Walaupun tidak merubah apapun." Katanya lagi dengan nada getir. Sebenarnya apa masalahnya? Aku tanyakan beberapa kali tidak dijawab. Kami menikmati pemandangan indah itu sampai waktunya pulang. Dan sampai waktunya pulang pun mulutnya tetap terkunci.
Kami mampir makan malam disebuah tempat iconic. Berada diatas bukit dengan pemandangan lampu lampu dibawahnya. Seperti bintang berada diatas dan bawah tempat kami berdiri. Hujan juga sudah reda. Beberapa spot foto terpampang dengan berbagai properti. Kami berdua tidak terlalu suka foto. Jadi hanya duduk diam menikmati makanan dan pemandangan. Dan yang paling penting mukanya sudah tidak sekusut tadi.
"Aku mencintaimu Dek, aku mencintaimu. Apapun yang terjadi kedepannya aku mencintaimu. Ingat itu baik baik." Katanya sambil memegang tanganku. Aku tersenyum.
"Aku tahu." Balasku sambil erat menggenggam tangannya.