
Ternyata tugas pentingnya membujukku. Dari pagi ada saja tingkahnya. Tiba tiba cuci piring lah, bantuin aku nyapu lah. Bapak sampai terheran heran melihat tingkah Revan.
"Gak kerja Van? Apa kamu demam kok sampai pegang sapu?" Kata Bapak sambil nyekikik. Revan diam seolah sedang serius nyapu. Aku yang pasang muka cemberut dari tadi, gak bisa nahan senyuman. Aku sudah beres masak. Dua kopi dan satu teh hijau tersaji dimeja makan.
"Kopi Pak." Tawarku pada Bapak. Beliau manggut manggut. Duduk anteng menunggu aku selsai menyajikan sarapan.
Dia cepat sekali nyapunya. Debunya masih anteng dibeberapa tempat. Tepok jidat dalam hati. Kalau ada orang yang bilang cewek nyapu gak bersih suaminya bewokan, aku gak percaya. Suamiku bewokan padahal nyapuku sudah bersih.
Kami sarapan bersama dalam diam.
"Bapak, nanti aku ada kumpulan Bhayangkari yaa." Kataku minta izin Bapak. Piring kami hampir kosong semua. Aku sengaja buka mulut saat akhir sarapan.
"Aku antar ya." Tawar Revan nyahut. Aku diam. Bapak bengong. Melihat aku dan Revan bergantian.
"Mau Bapak yang antar?" Tawar Bapak kemudian. Aku menggeleng.
"Nanti Bapak ada ketemu sama perwakilan PAUD. Kursi meja kecil kecil itu jadi lho." Kataku.
"Aku berangkat sendiri saja." lanjutku. Revan tidak terima. Meletakkan sendok dengan sedikit kasar.
"Aku antar! Nanti aku masuk siang kok. Ada tugas siang entah sampai malam atau pagi." Kata Revan sambil lurus menatapku. Aku diam, kupasang muka dingin dari tadi. Bapak bengong lagi, kemudian tertawa. Menyuapkan suapan terakhir dan berdiri. Menepuk pundak Revan beberapa kali.
"Selamat berjuang Van. Saran dari Bapak langsung dibicarakan. Semakin lama ngambeknya semakin menjadi. Sulit dibujuk nanti." Kata Bapak kemudian berlalu sambil membawa gelas kopinya.
"Sarapannya enak Nduk, masakanmu enak sekali sekarang. Biasanya kalau wanita ngambek masakannya amburadul. Tapi kamu tetep konsisten enak. Bapak suka." Kata Bapak kepadaku sambil nyekikik.
Hening..... Aku menghabiskan makanku dibawah tatapan Revan. Seolah akan menelanku hidup hidup.
"Sekarang aku boleh ngomong?" Dia membuka pembicaraan. Aku diam.
"Denger tadi kata Bapak kan. Kita harus bicara Dek. Kalau diem dieman gini gak selsai masalahnya." Kata Revan lagi dengan lembut. Aku berdiri membereskan sarapan dan mencuci piring kotor. Dia ikut nyusul ditempat cucian. Mengedus tengkukuku beberapa kali. Jenggotnya itu bikin geli geli mrinding. Kalau kesentuh sekalian gak papa ini kalau kegeser geser doang malah gelinya minta ampun. Segera kupercepat cuci piring ini agar terbebas dari himpitan tubuhnya diwastafel.
"Minggir!!!" Kataku. Aku selsai mencuci piring langsung kekamar mandi.
Dia tidak menyerah. Mengganjal pintu kamar mandi dengan tangannya. Aksi dorong mendorong terjadi. Aku tentu saja kalah kuat.
"Aku mau mandi dan mau pergi. Kamu dengerkan tadi!! Aku ada acara !!!!" Kataku ketus. Dia menggeleng.
"Jangan harap bisa pergi kemanapun sebelum bicara." Kata Revan kemudian menarik tubuhku keluar kamar mandi. Membanting aku dikasur kami dengan kasar. Mencium paksa bibirku. Aku meronta sebisaku. Tapi tubuhnya ini beton. Aku gak bisa bergerak. Lidahnya menerobos paksa kerongga mulutku. Aku ngosngosan. Dicium dia secara suka rela saja aku kehabisan nafas apa lagi setengah pemaksaan begini.
"Aku bertemu Nada saat SMA. Sudah kuceritakan dulu. Pacaran kami berlanjut sampai dia kuliah kedokteran. Dia sengaja mengambil kuliah di Semarang agar kami dekat. Kami.... yahhh berpacaran..... terhitung kebablasan ya iya. Aku sudah berfikir dia wanita terakhir dihidupku. Tidak masalah. Aku akan menikahinya setelah lulus pendidikan." Dia menghela nafas sebentar.
"Tiga tahun aku berpacaran. Percaya sekali sama dia. Tapi.... dia ternyata juga tidur dengan teman satu angkatanku di Akpol. Sahabatku sendiri. Aku mengintai mereka beberapa kali dihotel. Heboh besar diasrama, karena aku baku hantam dengan sahabat dekatku sendiri. Aku menyerangnya. Aku hampir dikeluarkan dari asrama kalau tidak ada Pak Sidiq yang membelaku." Kata Revan masih dengan sedikit kemarahan terselip.
"Aku mencoba memaafkannya, tapi tidak bisa. Aku terus mengungkit perselingkuhannya. Pertengkaran terus terjadi. Dia tidak tahan dan minta putus. Aku sadar penghianatan tidak bisa dimaafkan." Cerita Revan. Aku diam mendengarkan.
"Aku ditugas di Surabaya saat lulus dari Akpol. Dia masih di Semarang melanjutkan kuliahnya. Kami.... loss contact. Tapi kudengar dia berpacaran dengan selingkuhanya dulu." Revan diam.
"Lalu?" Tanyaku kepo. Dia mengetuk bibirnya.
"Aku sudah cerita banyak Dek. Batre di bibirku sudah low. Harus ada yang isi ulang batrenya deng......." Kata kata Revan terputus. Aku sudah melahap bibirnya. Dia menanggapinya dengan panas.
Dia tertawa senang, ceria sekali mukanya.
"Lanjut!!" Kataku sebal.
"Ya sudah, kita bertemu lagi dengan Nada dinikahan sepupumu. Ternyata dia menjadi dokter disini. Aku juga pindah tugas disini. Beberapa kali Nada minta balikan. Aku sudah ada kamu. Tidak bisa...." Kata Revan. Sekarang kenapa aku yang merasa jadi orang ketiga?
"Saat kita menikah, dia sengaja tidak kuundang atau kuberi tahu. Aku takut dia mengacau. Ine saja kuizinkan datang saat dia bilang melepaskanku dimalam....... dimalam..... sebelum resepsi di tempatku." Katanya terbata mengatakan pesta lajangnya dengan samar. Aku menghela nafas. Sepertinya keburukan Revan terbongkar perlahan setelah menikah.
"Tapi dia terus meneror waktu tahu aku sudah menikahimu. Tidak terima. Puncaknya kemarin dan kamu ada disana. Bagus!!! Hebat sekali!!!! Aku kena marah istriku yang cantik untuk pertama kalinya." Kata Revan. Tangannya dan bibirnya sudah mencumiku dan membikin geli.
Aku bangun sebelum dia melakukan lebih.
"Kamu gak merasa bersalah?" Tanyaku.
"Kamu merusak anak gadis orang dan tidak menikahinya. Kamu gak kasihan sama dia?" Tanyaku. Dia malah tertawa. Mukanya menyebalkan sekali.
"Kalau aku kasihan aku harus apa Dek? Menjadikan dia istri kedua? Kalau kamu mau, aku tidak masalah." Kata Revan sambil ikut bangun. Memindahkan aku kepangkuannya. Aku menolak dengan kasar. Emosiku sudah naik sampai ubun ubun.
"Kamu ingat dulu kamu yang menuduh aku tidak virgin? Ternyata kamu sendiri yang tidak perjaka dan menutupnya rapat rapat!!! Aku merasa tertipu. Kamu yang bekas, tapi menuduhku bekas!!! Bagus sekali!!!! Sekarang ada niatan menjadikan dia istri kedua!!! Mau punya dua istri!!! Enak yaaa... kamu masih cinta sama dia??? Kamu sama saja menjijikkan dengan Riyan. Player." Kataku cepat cepat pergi kekamar mandi dan menutup pintunya dengan kasar. Dia berteriak dari luar.
"Aku belum selsai bicara Dek!! Aku tidak bermaksud......" Kata Revan sambil mengetuk pintu. Kunyalakan kran air sederas mungkin. Suaranya tidak terdengar lagi dari dalam kamar mandi. Menyebalkan. Sebelum bicara menyebalkan. Setelah bicara tambah menyebalkan. Emang dasarnya MENYEBALKAN!!!!!
Nada ya..... Nada dan aku jelas beda kelas. Dia dokter, cantik. Tentu saja kaya. Orang tuanya mampu menyekolahkannya sampai jadi dokter. Aku??? Aku cuma remahan debu.... aku semakin over thinking. Bukankah Revan masih menyimpan foto foto Nada dilaptopnya? Bahkan sampai sekarang. Sampai aku sudah menikah dengannya. Bagaimana kalau dia memilih Nada? Bagaimana kalau dia meninggalkan aku??? Aku pusing. Nangis sudah sambil mandi.