
Aku terduduk. Sepi.... menutup wajahku dengan tumpukan tanganku. Air mata turun satu satu, walaupun aku tak ingin menangis. Aku sudah mencoba meredam isakan. Tapi tidak sanggup. Gelombang kesedihan ini semakin menderaku. Aku nangis sesenggukan diruangan itu.
Pintu kembali terbuka. Seorang polisi datang. Bukan Revan.
"Dimana Mamas?" Tanyaku padanya.
"Mamas?" Dia balik bertanya bingung.
"Maksudku Revan." Kataku. Dia tersenyum, hampir tertawa tapi menahan diri. Melirik kaca besar dibelakangnya.
"Aku mau Revan." Kataku. Dia bungkam.
"Tolong panggilkan Revan. Diam disini saja boleh. Aku takut." Kataku kembali terisak.
Polisi itu salah tingkah. Berkali kali menoleh kebelakang arah cermin. Dia mengelus kepalaku yang telungkup dimeja.
"Ree.... revan ada disini. Ada, tapi kamu disini dulu sama aku." Katanya lembut.
"Tolong jawab dulu pertanyaanku." Katanya lagi. Aku menghela nafas panjang beberapa kali. Kemudian menghapus air mataku.
"Katakan." Kataku mencoba tegar kembali.
Dia kembali menanyakan hal hal yang mirip dengan tadi. Aku capek, setres. Berulang kali jawabanku tetep sama. Mau apa lagi....
Aku sampai benar benar jengah menjawabnya. Ini selsainya kapaaaann....
"Siapa namamu?" Tanyaku pada polisi itu. Mengalihkan pembicaraan yang memuakkan.
"Tolong jawab saja pertanyaanku." Katanya.
"Aku sudah menjawabnya tadi. Kalau kau mau jawabanku lagi, aku akan jawab setelah tahu namamu." Kataku. Tiba tiba ide gila terpikir. Memancing Revan menghentikan introgasi memuakkan ini.
"Rangga, namaku Rangga." Katanya.
"Aaaaa kau Rangga yaaa...... boleh aku jadi Cinta? Aku berencana menukarkan pacarku yang menyebalkan. Kau mau?" Kataku. Rangga kaget dengan perkataanku. Dia menoleh kembali kecermin satu arah itu. Sekarang aku yakin Revan disana.
"Kau punya pacar Rangga?" Tanyaku sambil memegang tangannya dimeja. Dia reflek menariknya.
"Tolong jangan mempersulit keadaanku Nona." Kata Rangga ketakutan. Aku tertawa.
"Aku berencana menciummu kalau ini terus berlanjut." Kataku serius. Terdengar benturan dari ruang sebelah. Revan datang dengan beberapa barang.
"Cukup!!!" Katanya pada teman polisinya. Mukanya sudah sangat asam sekali. Haaa terpancing juga kan kulkasnya.
Dia mengajaku keluar dari ruangan itu. Kami duduk berhadapan dimejanya. Nenek sihir aku tahu nguping dibalik mejanya. Meja diruangan itu diduduki orang semua. Sepertinya ini formasi duduk mereka. Dia membuka botol air mineral dan menyerahkan padaku. Aku meminumnya sampai tandas.
"Aku mengadakan penangkapan beberapa hari yang lalu, tapi tersangka berhasil melarikan diri. Dia Bagas. Orang yang melanjutkan bisnis papinya Riyan. Aku menemukan ini." Kata Revan menyodorkan beberapa bingaki foto. Aku membukanya. Isinya foto fotoku di berbagai kesempatan. Termasuk saat wisuda. Ada orang yang menguntitku lagi? Mengerikan sekali!!
"Apa ini?" Tanyaku bergidik.
"Ini ada dikamar Bagas. Dia menguntitmu dengan teliti. Semacam pemuja rahasia." Kata Revan.
"Tapi dia bilang perasaannya tidak perlu ku ingat, tidak perlu ku balas." Kataku. Dia mencibir
"Tidak ada satu pun pria didunia ini yang mau bertepuk sebelah tangan." Kata Revan.
"Kamu dalam bahaya. Dia menguntit bahkan saat kamu diwisuda. Aku ada disana!" Katanya jengkel.
"Tomy cuma kaki tangan Riyan dulu. Setelah Riyan meninggal dia tidak terlibat apapun." Potong Revan.
"Lalu semua bunga dan benda receh yang kau anggap menghibur itu diduga dari Bagas. Aku sedang menyelidiki pengirimnya. Ditambah pernyataan cintanya saat di vila. Klop. Dia pemuja rahasiamu." Kata Revan.
"Aku ingin kamu membantuku." Kata Revan sambil menatap mataku lekat.
Dia ingin jika aku dapat kiriman lagi, aku harus memposting dikeseluruh akun sosmedku. Mengatakan kalau ingin sekali bertemu pemuja rahasia itu. Merasa tersanjung dan lain lain. Intinya memancing Bagas menghubungiku.
"Itu memalukan dan juga..... menakutkan. Kau mau menjadikanku umpan? Dia tahu aku pacaran denganmu." Kataku ngeri. Diusia yang sekarang aku sedikit malu memposting benda benda receh untuk dipamerkan. Disaat sebagian temanku sudah posting anaknya lagi.
"Dia juga tahu hubungan kita merenggang tiga bulan terakhir. Karena kiriman benda benda menjijikkan itu lebih intens." Kata Revan dengan selipan nada cemburu dan kesal. Dia kemudian menunjukkan daftar kiriman lengkap dengan hari, jam dan tanggal. Nntah makan siang, donat, benda, atau bunga. Aku membacanya. Benar juga. Aku bahkan tidak menyadarinya.
"Bagaimana kalau dia menculikku setelah itu?" Tanyaku bergidik.
"Aku akan melindungimu. Kau masih percaya padaku bukan?" Tanya Revan.
"Tapi aku takut. Aku tidak mau berhubungan dengan orang orang seperti dia." Kataku.
"Takut atau tidak, mau atau tidak kau tetap dalam bahaya." Katanya sambil lekat menatap mataku.
"Dia bisa datang kapan saja. Menculikmu kapan saja. Entah apa yang terjadi dengan penculikanmu. Yang jelas tidak ada yang bernasib baik dalam penculikan." Katanya tajam. Aku bergidik. Dia menghela nafas panjang.
"Dek.... Dek kau menyuruhku berhenti dari kepolisian, tapi kau terlibat terus menerus dengan para penjahat. Lalu bagaimana aku melindungimu kalau aku hanya tukang kayu?" Katanya. Aku diam. Boby malah nyekikik di belakangku.
"Keluar kalau masih mau tertawa!!" Hardik Revan pada Boby. Boby bungkam. Mencoba menahan tawanya.
"Tapi.... terlalu memalukan posting benda kiriman dari pemuja rahasia. Di usiaku yang teman temanku sudah memposting foto anaknya." Kataku. Dia sudah jengkel sekali. Mukanya menakutkan.
"Kau juga bisa posting foto anakmu sekarang kalau menerima lamaranku dulu dulu!" Katanya setengah berteriak. Boby tertawa lagi. Revan melemapar botol air kearah Boby.
"Keluar!!!" Bentak Revan. Boby keluar dengan masih nyekikik. Orang orang diruangan itu juga senyum senyum semua, tapi langsung pura pura sibuk saat tatapan maut Revan meyisir mereka satu satu.
"Kamu terlalu menakutkan Mas." Kataku.
"Kau tidak mau aku terlibat bahaya, tapi dirimu sendiri dalam bahaya. Aku menerimamu dalam segala kondisi. Melindungimu dari segala bahaya. Menerima baik dan kurangmu. Kenapa kau tak bisa melakukannya denganku? Tidak ada yang tau aku mati besok sebagai tukang kayu atau aku mati nanti saat sudah memiliki cucu banyak denganmu sebagai polisi. Tidak ada yang tau." Kata Revan tidak peduli dengan kata kataku. Dia mengatakan apa yang ada dihatinya tanpa filter.
"Bantu aku. Dan pikirkan ulang semuanya. Karena aku sudah ada dibatas sabarku." Kata Revan lagi kemudian berdiri.
"Ayo aku antar pulang."
Dia mengembalikan semua barang barang pribadiku dan berjalan cepat menuju parkiran. Aku kebingungan mengimbangi langkah kakinya yang panjang dan terburu buru.
Sepanjang perjalanan dalam mobil, dia diam. Aku memikirkan kata katanya. Aku.... merasa egois. Aku menggelayut di pundaknya. Biasanya Ia akan menurunkan tangannya dari kemudi, tapi sekarang tidak. Dia menghindari. Walaupun aku melihat tatapan rindu dimatanya.
"Mau makan apa?" Tanya Revan. Ini sudah terlewat dari jam makan siang.
"Aku mau makan yang manis manis. Coklat atau eskrim. Aku pusing." Kataku.
"Makan nasi dulu, desertnya kamu yang pilih." Katanya membelokan mobil di restoran.
"Sementara ini biarkan dia tau hubungan kita tidak baik baik saja. Aku juga akan seperti ini sampai kau jawab 'iya tanpa syarat'" katanya sebelum turun dari mobil.
***
Selamat jalan..... terimakasih untuk jasa jasamu. Tidak ada yang sanggup menggantikan tempatmu. Selamat tinggal. Kurangkaikan untaian doa terbaik untukmu. Selamat berpisah, kau sudah mendidiku untuk tegar. walau rasanya sesakit ini, tapi aku akan tegar berdiri. Terimakasih...... Untuk Dia yang berjasa dalam seumur hidupku.