
Minggu berikutnya seperti biasa aku nginep dirumah Ibu. Kami datang disambut Damar. Sudah langsung minta gendong sama Om. Aku heran bocah kecil ini. Gak takut apa lihat orang gondrong dan berjenggot? Mereka main geli gelian dengan jenggot Revan. Aku ngerumpi cantik dengan Ibu dan Kakak. HPL Kakak pertamaku sebentar lagi ternyata. Kami berencana menjenguknya saat lahiran.
"Nanti Ibu berangkat duluan. Kalian nyusul sesudah anaknya lahir." Kata Ibu.
"Lha, ibu naik apa?" Tanyaku.
"Naik transpot umum dulu gak papa, pulangnya bareng kalian. Ibu mau nungguin cucu Ibu lahir." Katanya dengan wajah berbinar.
Aku kok jadi iri. Iri sama kakakku sendiri. Keluarga mereka lengkap dengan bocah bocah kecil. Aku gini gini aja... aku merasa jahat sekali.
"Kamu belum ada tanda tanda Dek?" Tanya Mbak Sasa. Aku menggeleng.
"Kenapa ya Mbak, ini sudah hampir satu tahun." Kataku sedih. Revan sudah pasang telinga, meski dia masih main sama Damar.
"Baru satu tahun gak papa nanti juga dikasih." Kata Ibu memenangkan.
"Doakan ya Bu." Kataku. Ibu manggut manggut.
***
Hari kelahiran tiba. Kakaku melahirkan bayi laki laki yang gembil. Aku melihat dari foto grub keluaraga. Aku mau gendong, aku mau. Kami berangkat dengan semangat. Revan dan Mas Dipo duduk di depan. Mereka akan bergantian mengemudi. Aku, Mbak Sasa dan Damar duduk dibelakang. Ayah dan Ibu sudah berangkat duluan kemarin.
Kota dengan sejuta seniman dan tempat wisata. Begitulah kota julukan tempat Mbak Tata tinggal dengan Mas Kris. Tidak lama dari tempatku. Hanya tiga jam. Kata 'hanya' yang mudah diucapkan tapi pegel dijalani. Mas Dipo menelfon Mas Kris.
"Kami udah sampai Ring Road. Cepet share lokasi. Sebentar lagi nyampe. Ini agak macet dikit." Kata Mas Dipo.
"Wooo iya bagus, Ring Road kan? Macetkan? Tenang satu jam lagi baru sampai." Suara cekikikan Mas Kris terdengar.
"Apa?? Satu jam?" Mas Dipo sepertinya syok. Kami juga. Udah pegel pegel ini.
"Iya gak lama satu jam. Aku kirim lokasi sekarang." Kata Mas Kris. Sambungan terpurus.
"Hadeeehhhh udah sampai daerahnya, tapi masih satu jam. Udah pegel ini. Lha gimana nasib Ocha? Bocah itu bolak balik satu bulan sekali." Kata Mbak Sasa.
"Kalau udah biasa ya gak terlalu capek Mbak, tapi yang namanya perjalanan seenggak capeknya ya pasti capek. Kita wajib menghargai mereka yang mudik. Karena butuh waktu, tenaga dan uang yang disiapkan khusus untuk bertemu orang orang yang dicintai." Kata Revan. Kakinya sibuk dari awal kita terkena macet tadi. Antara gas, rem dan kopling. Mobil kami masih mobil manual.
"Tumben bicaramu panjang Van." Kata Mas Dipo. Revan tertawa.
"Aku dulu juga jadi orang mudik Mas waktu sekolah di Semarang. Sedikit banyak tahu rasanya." Katanya. Kami manggut manggut. Baru menyadari perjuangan orang mudik.
Kami tiba bener bener satu jam dari tempat bertelpon tadi. Mas Kris menyambut kami didepan rumahnya. Bayi kecil bernama Arya sedang bobok. Imut sekali. Aku dan Revan takjub. Kami anteng menunggui bayi tidur itu. Mbak Tata tertawa melihat tingkah kami yang seperti heran melihat bayi merah.
Kumpul keluarga ditempat baru. Biasanya bascampnya cuma rumah Ibu. Sekarang bescampnya pindah agak jauh. Empat lelaki sudah ngumpul di teras. Mereka berasa boy band. Ngbrol bercanda seperti seumuran. Rokok dan kopi menemani. Padahal ada bapak mertua dengan tiga cucu disana. Tapi tidak ada jarak. Bahkan untuk membicarakan hal hal tabu sekalipun. Kami para wanita juga ngobrol didalam rumah. Sesekali nguping pembicaraan mereka.
"Sayang gak ada Bass yaa." Kata Ayah.
"Gak ada yang bawa minuman ya Yah, kita gak bisa nyekokin Revan sama Dipo Hahahaha." Suara Mas Kris.
"Sayang juga pestanya Revan cuma sekali. Pesta melepas masa lajang, kalau melepas perjaka udah dari dulu dulu." Mas Kris lagi. Mereka tertawa ngakak. Yang didalam rumah sudah pada membelalakkan mata.
"Revan udah gak perjaka waktu sama kamu?" Bisik Mbak Sasa. Aku mengangguk.
"Astaga..... aku kira dia mantu yang paling anteng." Komentar Ibu. Mbak Tata manggut manggut setuju. Sepertinya bisik bisik kami didalam rumah terdengar sampai teras juga.
"Revan menang banyak, dipepet pepet penyanyi sexy terus." Kata Mas Kris sengaja mengeraskan suaranya. Sengaja agar para wanita didalam rumah mendengar. Mbak mbakku dan Ibu kaget. Mereka pasti tidak menyangka Revan yang anteng seperti itu.
"Yaa sama aja dong Mas, kamu juga nyawer penyanyi dimasukin dibelahan dada. Gede lagi sawernya. Hahahaha ayo kita mati sama sama setelah melewati pintu rumahmu Mas." Kata Revan. Mereka tertawa lagi. Giliran Mbak Tata mendelik.
"Haaa dia kelompok Hello Kitty ternyata. Kelompok pria takut istri." Mas Kris gak mau kalah.
"Lha sama kaya kamu Mas." Mas Dipo nyahut. Mereka ketawa bareng.
"Harus jadi Hello Kitty dirumah. Senakal apapun diluar. Itu syarat utama jadi mantuku. Karena anak dan istriku itu berharga." Kata Ayah tumben bener.
"Berarti diluar mangku penyanyi ga papa ya Yah." Kata Mas Dipo. Tawa kembali terdengar. Ibu negara mendelik mendengar ayah pernah pangkuan sama penyanyi.
"Dasar bocah tua nakal!!" Desisnya. Malam pesta lajang itu sepertinya semua pria dikeluargaku nakal.
"Iya gak papa cuma mangku. Dari pada kamu cuma duduk sambil ngeces. Kepala sama matamu ngikut kemana arah su*su penyanyinya bergoyang." Ayah membalas Dipo.mereka kembali cekikikan. Kami para istri ngelus dada. Geng Hello Kitty diluar sana masih terus cekikikan dengan tema yang mereka sukai.
Malam terus beranjak. Kami yang didalam rumah sudah bersiap tidur menggelar kasur tipis di ruang tamu.
"Biar mereka tidur di tikar. Kita barengan tidur di kasur ini." Kata Ibu. Aku dan Mbak Sasa manggut mangut. Damar sudah anteng bobok ditengah. Mbak Tata sudah kekamar bersma Ocha dan bayi imudnya.
Aku susah tidur kalau ada Revan. Kebiasaan nyungsep didadanya. Padahal kalau dia tugas malam ya bisa aja tidur tanpa nyungsep. Ibu sudah tidur. Mbak Sasa juga. Saat para geng Hello Kitty itu masuk, aku pura pura tidur. Mas Kriss melemparkan bantal tambahan ke Revan. Revan mengacak acak rencana kami. Dia mengangkat tubuhku kepojok ruangan beralaskan tikar. Kemudian tidur sambil mendekatkan dadanya kemukaku. Dia pakai bantal yang tadi dilempar Mas Kris. Aku berbantal lengannya.
"Tidur." Bisiknya. Sambil memberiku ciuman sekilas. Dia tahu aku belum tidur. Ayah mengambil tempat ku disamping ibu. Mas Dipo mepet mepet Mbak Sasa walaupun dia harus tidur mepet tembok yang dingin. Jadilah itu formasi tidur kami malam itu.
Aku menggigit dagu Revan. Dia membuka matanya.
"Jangan macam macam atau mau aku lucuti disini!!" Ancamnya. Aku anteng nyungsep didadanya.