I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 106



Aku dibawa keluar dari ruangan. Kulihat wajah Ibu, Ayah, Mas Dipo, Bude Marni, Bapak dan Diki. Mereka menyertaiku masuk lift menuju ruang perawatan. Hari sudah sore rupanya.


"Mana bayiku?" Tanyaku saat sampai ruang perawatan.


"Ada Bu diruang perawatan bayi, baru kami observasi. Sekarang Ibu istirahat dulu. Saya permisi. Semoga lekas sembuh." Kata Suster. Mereka pamit setelah memastikan tempat tidurku baik. Bapak menyetel ac dan tv didalam ruangan itu. Ibu mengelus kepalaku. Matanya sembab, tapi berusaha tegar.


"Mana Revan Bu?" Tanyaku.


"Nanti kesini. Sudah dihubungi kok. Mau minum sedikit?" Tanya Ibu. Aku megeleng. Bapak sibuk menelfon dengan hpnya sepertinya yang dihubungi berkali kali tidak merespon. Satpam datang dan mengusir keluargaku, karena terlalu banyak orang. Akhirnya tinggal Mas Dipo dan Ibu yang menungguiku. Satu persatu mereka pamit.


"Lekas sembuh Put, aku selalu mendoakanmu." Kata Diki berpamitan. Bapak menyalamiku dan membelai rambutku.


"Terimakasih sudah berjuang Nduk. Terimakasih banyak. Besok Bapak kesini lagi yaa." Kata Bapak kemudian pergi dengan Bude Marni yang kali itu terlihat cengeng karena terus menangis.


"Ayah juga pulang. Janji besok datang lagi. Istirahat ya..." Kata Ayah berpamitan.


Semakin lama bius luka diperutku menghilang. Tubuhku seperti terbagi dua diperut. Sakit sekali. Menyiksa. Perawat datang memeriksa kondisi tubuhku.


"Ibu harus belajar menggerakkan kaki, kemudian belajar miring yaaa. Pelan pelan saja." Kata Perawat. Aku mengangguk diam menahan sakit. Semakin tengah malam, semakin sakit ini terasa. Aku terjaga sepanjang malam. Ibu dan Mas Dipo sudah tertidur, dan aku pura pura baik baik saja. Aku terbisa menyalurkan rasa sakitku pada Revan. Tidak dengan orang lain. Aku mau Revan.... aku mau Revan. Aku menunggu Revan entah sampai jam berapa....


Pagi sudah datang. Aku sudah bisa miring walau pelan sekali.


"Sakit Nduk?" Tanya Ibu.


"Sakit lah Bu, dibelek perutnya." Kata Mas Dipo.


"Bu, hpku ada tidak?" Tanyaku pada Ibu. Ibu mengobrak abrik tasku sejenak.


"Ada Nak, ini." Kata Ibu sambil memberikan benda pipih itu. Sayangnya hpku off habis batre.


"Mas bawa Cas?" Tanyaku pada Mas Dipo.


"Ada, sini Mas yang caskan." Kata Mas Dipo mengambil hpku. Sayangnya casku hpku tidak sama dengan milik Mas Dipo.


"Aku hubungi Ayah Dek, biar dia bawa cas hpmu kalau kesini." Kata Mas Dipo.


Pintu ruangan terbuka. Aku kira Revan datang, tapi ternyata suster yang datang. Membawa baskomku untuk mandi.


"Selamat pagi. Wah, sudah bisa miring Bu? Bagus sekali. Saya mandikan yaa..." Kata suster dengan ramah. Mas Dipo dan Ibu keluar ruangan. Aku dimandikan suster diatas tempat tidur. Mengganti pembalutku juga. Walaupun dengan hati hati tapi perutku masih sakit sekali.


"Dimana bayi saya Sus?" Tanyaku.


"Nanti Ibu bisa lihat. Dia lahir belum cukup umur kan. Jadi harus masuk NICU." Kata Suster setelah beres memandikanku kemudian pamit pergi.


Aku disuapin sarapan sama Ibu walau sedikit. Sakit di perutku luar biasa. Sangat luar biasa.


"Mas, hubungi Revan. Aku mau dia disini." Pintaku pada Mas Dipo.


"Mas sudah menghubunginya dari kemarin Dek. Tidak terjawab. Mungkin ada tugas penting." Kata Mas Dipo.


"Sabarlah, nanti juga kesini kalau sudah selesai tugas. Kan ada Ibu dan Masmu juga." Kata Ibu menghibur.


"Tapi kata suster bayiku ada diruang NICU Bu, aku takut." Kataku sudah bercucuran air mata.


"Wajarlah Nduk, dia lahir belum cukup bulan. Nanti juga keluar ruang NICU. Trus kalian pulang bersama." Kata Ibu dengan suara tercekat. Apa bayiku baik baik saja??


Ayah datang. Membawa banyak sekali peralatan yang dibutuhkan. Aku langsung minta cas hpku. Kata suster aku harus belajar duduk, dan berjalan. Kemudian melihat anakku. Aku semangat belajar duduk walau sakitnya luar biasa.


Aku mencoba menghubungi Revan. Tidak diangkat. Pesan juga tidak dibaca walau dia online. Kemana dia? Aku sakit. Dan anak kami masuk NICU. Aku butuh Revan....


Aku mencoba berdiri. Ibu tidak kuat memapahku berdiri. Ayah dan Mas Dipo pulang. Diki datang menjenguk.


"Kebetulan Dik, bantu aku berdiri." Pintaku pada Diki.


"Kamu yakin?" Tanyanya setengah tidak percaya.


"Yakin, agar aku bisa lihat bayiku." Kataku. Akhirnya Diki yang memapahku mencoba berdiri. Rasanya otot kakiki tertarik sampai perut. Perutku oh perutku...... entah bagaimana aku mendiskripsikannya. Rasanya kata sakit saja tidak cukup. Tapi aku tidak tahu kata lain untuk mendiskripsikannya.


Sesuai janji suster aku diantar melihat putraku. Diki bersamaku. Dia yang mendorong kursi rodaku dan membantuku menaikinya. Putraku... Dia.... kecil. Sangat kecil. Aku belum boleh menyentuhnya. Berbagai selang terpasang ditubuhnya. Dia tidur.... aku teringat mimpiku. Anak kecil melambai. Tidak, tidak alat detektor itu menunjukkan dia hidup. Dia akan bertahan. Setegar Papahnya, seulet Mamahnya.


"Ayo sayang, kita berjuang bersama." Kataku sambil mengelus kotak tempat dia tidur.


"Dia akan kuat Put. Mamanya setegar ini. Kemarin saat lahir aku ikut kesini. Bapak yang mendoakannya." Kata Diki memberi semangat.


Diki mendorong kursi rodaku kembali keruang perawatan.


"Put, aku minta maaf ya... Semua ini terjadi gara gara aku maksa minta uang cash. Kita jadi berada ditempat dan waktu yang salah. Aku menyesal. Maafkan aku. Makasih juga udah menyelamatkanku karena memukul penjahat itu. Kamu keren dan pemberani." Kata Diki dijalan.


"Semua sudah takdir Dik. Gak perlu minta maaf." Kataku. Dia menepuk pundakku.


"Semangat. Aku akan selalu mendukungmu." Kata Diki sebelum kami memasuki kamarku lagi. Diki memapahku kembali keranjang. Menemani aku dan ibu sampai jam besuk siang itu habis. Berjanji kesini lagi nanti sore.


Aku kembali dimandikan suster. Selang pipis yang belum dilepas sangat mengganggu. Tapi kata suster aku harus bertahan. Kemungkinan besok sudah dilepas. Hahh.... sabar...sabar...


Revan belum datang. Bahkan sampai sore aku puluhan kali menghubunginya. Aku kesal sampai menangis. Diki saja sudah datang lagi, tapi suamiku seperti raib.


"Mungkin dia ada urusan Nduk." Kata Ibu menenangkan.


"Urusan apa Bu, urusan apa!!!! Anaknya masuk NICU, istrinya melahirkan. Terlihat batang hidungnya saja tidak. Urusan apa yang lebih penting dari kami berdua!!!" Suaraku sudah meninggi. Diki mengambilkan air.


"Minum dulu. Tenanglah. Ada aku dan Ibu disini. Revan itu polisi Put. Kamu harus ngerti. Pekerjaannya menuntut waktu dan pikiran lebih. Yang terpenting itu kamu dan bayimu. Kamu harus sembuh." Kata Diki menguatkan.


Pak Sidiq dan Bu Nirmala datang menjenguk. Bu Nirmala memelukku erat.


"Hebat, kamu sudah jadi ibu Nak. Selamat." Kata Bu Nirmala.


"Revan belum kesini?" Tanya Pak Sidiq.


"Bukankah dia kerja Pak? Bolehkah aku minta Bapak meliburkannya sehari saja. Aku mau ditemani." Kataku pada Pak Sidiq. Beliau bungkam.


"Dia belum kesini dari awal kamu dirawat?" Tanya Pak Sidiq lagi. Aku menggeleng.


"Apa dia tugas diluar kota?" Tanyaku.


"Tidak, tidak ada tugas diluar kota. Bahkan aku menghentikan kasusnya saat dengar kamu dirawat Nak. Agar dia bisa menemanimu. Dia akan kesini. Bapak usahakan secepatnya." Kata Pak Sidiq gemas. Aku tahu ada yang tidak beres. Namun Pak Sidiq menutupinya. Revan tidak ditugaskan, tapi tidak juga datang menemuiku? Lalu kemana dia???


***


Dini hari aku dibangunkan suster. Katanya anakku kritis karena paru parunya yang sebenarnya belum siap. Ibu dan aku meringkuk berdua. Air mata sudah banjir dimata kami. Memanjatkan segala doa yang aku bisa. Aku mengabari Bapak.


"Tolong carikan Revan Pak, anak kami kritis." Isakku di telfon.


"Maafkan Bapak Nduk, seharian ini Bapak sudah mencarinya. Sampai Bapak mendatangi kantor polisi, tapi tidak ketemu. Orang kantornya bilang Revan nonstop memburu orang yang mencelakaimu. Bahkan tanpa perintah dari atasan. Pak sidiq sampai mengancam akan menembaknya ditempat." Kata Bapak.


"Jadi penjahat itu lebih penting dari kami?" Tanyaku entah pada siapa. Aku mematikan sambungan telpon. Kulempar hpku membentur dinding hancur berantakan. Mirip hatiku.... Dia sudah berjanji aku dan anakku prioritasnya. Nyatanya malah mengejar penjahat bahkan saat anaknya kritis. Suami macam apa yang aku nikahi???


Dengan terbata aku diantar menunggui anakku. Bapak datang.


"Bapak mohon maafkan Bapak. Maafkan Revan, ampuni dia. Bapak yang salah Nduk, Bapak yang salah mendidiknya." Kata Bapak. Ibu memandang Bapak dengan kesal. Seolah Bapak itu Revan. Aku diam seribu bahasa.


Dejavu dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Menunggui Riyan saat sedang sekarat. Klebatan mimpi tentang anaku yang berlari menjauh begitu nyata sekarang. Separuh dari hatiku seperti sudah siap. Tapi aku menolak. Peralatan medis didalam sana lengkap. Aku tidak mau kehilangan. Dia.... bahkan belum merasakan gendonganku..... aku belum melihat tawanya. Kami belum sempat saling tatap. Dia.... akan hidup. Harus hidup......


Sampai pagi aku bengong didepan ruang NICU. Tidak ada kabar baik. Setatusnya masih sama kritis.


"Ayo kembali kekamar Nduk, mungkin sebentar lagi selang pipisnya dilepas." Ibu merayuku. Dia tahu aku sangat terganggu dengan kantong urine ini. Bapak mendorong kursi rodaku kembali kekamar.


Aku dimandikan kembali. Kali ini dikamar mandi karena aku cukup kuat. Suster benar melepas cateterku. Aku bebas berjalan sekarang. Aku keluar kamar mandi dengan suster. Dokter anak sudah menungguku diruang perawatan. Ibu sudah menangis.


"Kenapa Dok, anak saya sudah melalui masa kritis?" Tanyaku. Dokter menyampaikan kalimat penghiburan. Aku limbung dipegangi Bapak dan suster. Dia pergi......... sikecilku pergi.....


"Ibu boleh menggendongnya sebentar." Kata dokter.