
"Lah, balik lagi." kata Mbakku heran. Dia lagi gosip sore dengan Ibu Ibu muda tetanggaku. Sambil momong anak anak mereka yang hampir sebaya.
"Iya, mau mandi dulu secara beradab." Kataku. Revan nyekikik saja mendengarnya.
"Mas ini calonnya Putri?" Tanya tetanggaku.
"Iya dia adik iparku." Jawab Mbakku.
"Kerjanya apa?" Tanya tetanggaku lagi. Mbakku masih kebingungan menjawab.
"Saya polisi, permisi... saya masuk dulu." Kata Revan. Emak emak muda itu mengangguk.
"Tumben ngaku." Kataku begitu Revan sampai diruang tamu.
"Khusus untuk lingkungan dan keluargamu. Agar mereka gak salah paham." Katanya. Aku manggut manggut saja. Ambil handuk dan mandi.
Dia menungguku mandi ditemani Ayah. Mereka berbincang didepan TV sambil main kartu. Aku masuk kamar dandan. Ayah kepo apa yang terjadi dengan Nur. Revan cerita kalau mayatnya dikuburkan negara, karena tidak ada keluarga yang mengambil.
"Lalu bagaimana dengan bisnisnya?" Tanya Ayah. Revan menghela nafas panjang.
"Berlanjut." Kata Revan tidak bersemangat. Kemudian mengalihkan pembicaraan ketopik lain. What? Berlanjut? Siapa yang melanjutkan? Mau kutanya tapi yakin tidak terjawab. Mulutnya selalu rapat kalau tentang pekerjaan.
Kami meninggalkan rumah saat petang sudah mulai menjelang. Menunggu sebentar saat Magrib berkumandang. Agar aman dari omelan ibu negara.
"Mau kemana ini?" Kata Revan setelah masuk mobil.
"Terserah." Kalimat saktiku berkumandang. Aku masih sedikit kesal sama dia.
"Kita pergi agak jauh yaa..." kata Revan sambil mengenakan seat belt.
"Mau kemana? Ini sudah malam." Kataku. Dia tidak peduli. Cuma senyum senyum aja.
Dia mengajakku kepantai. Duduk menikmati angin dan deburan ombak. Dengan makan malam sea food yang lezat. Ada lilin yang dinyalakan diatas meja. Suasana restoran ini juga sangat hangat dan...... romantis. Ihh tumben kulkas bisa romantis.
"Ini nanti pulangnya kemalaman." Kataku.
"Aku udah izin tadi sama Ayah. Gak masalah." Jawabnya santai.
"Tumben ngajakin ketempat kayak gini." Kataku. Dia tersenyum.
"Buat ganti yang wisuda kemarin. Sama........" Kalimat Revan terlalu lama menggantung.
"Sama apa?" Tanyaku.
"Sama..... mau melepas penat sedikit. Pekerjaanku banyak." Katanya setelah berfikir agak lama. Malam ini dia terlihat berbeda. Lebih gugub dan canggung. Seperti tidak biasanya.
"Apa?" Tanya Revan saat aku mengamatinya.
"iya... maksudku tidak. Eh.... tentu saja kita ngomong. Masak mau diem dieman aja." Jawab Revan aneh. Aku tertawa. Baru kali ini dia terlihat kesulitan bicara. Biasanya aku yang selalu kesulitan berdebat dengan dia. Aku melanjutkan makanku. Tidak lagi membahas perbedaannya malam ini.
Selesai makan malam dia mengajakku jalan jalan dipinggir pantai. Resort dan restoran ini dekat sekali dengan pantai. Pantai didepan mereka seperti milik pribadi. Ditata dengan sedemikian rupa. Suasana tidak terlalu ramai. Karena ini Minggu malam. Banyak wisatawan yang sudah chek out.
Dia lebih banyak diam. Sudah pendiam sekarang tambah diam lagi. Aku mengelayut seperti biasa.
"Kamu tahu Mas, Damar sekarang sudah bisa marah....." Aku ceriwis menceritakan ini dan itu. Saat tanganku menarik telapak tangannya, aku merasakan benda kecil tergenggam. Aku mengambilnya.
"Apa ini?" Tanyaku. Sebuah kotak cincin.
"Itu? Ehh emmm.... aku lupa kalau aku harus melamarmu." Kata Revan gugub. Aku tersenyum. Ini sumber perbedaan sikapnya malam ini. Dia membuka kotaknya.
"Nona cantik, nona manjaku.... jadilah istriku. Temani aku dalam suka dan duka. Aku berjanji membahagiakanmu dengan segala keterbatasanku." Kata Revan sambil menyematkan cincin itu dijari manisku.
"Apa aku boleh mengajukan satu syarat lalu kita menikah?" Tanyaku.
"Apapun." Jawabnya sambil tersenyum.
"Aku ingin kamu keluar dari kepolisian. Hidup tenang sebagai warga sipil." Kataku. Dia tidak lagi tersenyum.
"Apa maksudmu?" Tanya Revan. Mukanya sudah tegang.
"Kamu tahu maksudku. Jalankan saja usaha Bapak. Tidak perlu menjadi polisi. Pekerjaanmu mengancam nyawa dan menyita waktu." Kataku. Dia diam. Diam cukup lama. Aku menggenggam tangannya.
"Ayo hidup tenang Mas. Aku tidak mengharapkan kaya atau jabatan tinggi. Aku hanya mau melihatmu cukup tidur, cukup makan, bekerja dengan tenang. Aku menerima lamaranmu. Ayo menikah. Tapi penuhi satu syaratku. Aku melihat sendiri bahaya dari pekerjaanmu. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku mau menua dengan kamu dalam rasa yang aman. Aku mohon." Kataku. Hening, hanya deburan ombak dan suara angin. Dia duduk dibangku menghadap pantai. Melepaskan tautan tangan kami. Aku ikut duduk.
"Tidak bisa. Aku tidak bisa berhenti. Ini hidupku Dek. Setiap pekerjaan ada resikonya. Bahkan melanjutkan bisnis bapak sekalipun. Kita tidak bisa memilih mati dalam keadaan bagaimana. Ada ketentuan Tuhan yang tak bisa diubah manusia. Pasrah saja. Jalani hidup ini sebaik baiknya. Itu cukup untuk menunjukkan rasa syukur kita." Kata Revan. Aku menghela nafas, sudah tahu pasti kalau perdebatan macam ini akan terjadi.
"Tapi kita bisa menjauhi bahaya Mas. Pekerjaanmu itu menantang bahaya. Aku tahu ada Nur Nur lain selain ayahnya Riyan." Kataku.
"Dengar, itu yang disebut resiko. Aku tahu mungkin kamu masih trauma. Pikirkan lagi. Aku tidak mau kamu menjawab sekarang. Pikirkan lagi.... oke. Aku akan sabar menunggu meski ini ada dilimit sabarku. Aku menunggumu 4 tahun untuk lulus kuliah, oke tidak masalah. Tapi hubungan ini juga sudah terlalu lama. Hanya ada dua pilihan. Dilanjutkan atau dibubarkan. Benarkan?" Kata Revan. Dia mengambil nafas sebentar.
"Kalau dilanjutkan terima aku apa adanya. Terima hidupku. Dan segala suka dukanya. Aku tidak mau berhenti." Katanya tegas. Aku sudah membuka mulut untuk mendebatnya.
"Tidak, jangan bicara atau kita akan bertengkar. Pikirkan. Pikirkan dulu. Aku akan menunggu..... ayo pulang." Katanya. Dia menggandeng tanganku meninggalkan pantai ini. Cengkeraman tangannya terasa erat.... sedikit menyakiti tanganku.
Dimobil sepanjang perjalanan pulang yang menyita waktu hampir dua jam, kami hanya terdiam. Sibuk memikirkan pikiran masing masing. Suka atau tidak hubungan ini berjarak. Karena tak ada satu diantara kami yang mengalah. Oke kita lihat. Siapa yang lebih kuat. Aku tahu dia mencintaiku. Dia juga tahu aku mencintainya, bahkan sudah tergantung padanya. Syaratku harus diterima. Aku tidak ingin melihatnya terluka.
"Tidurlah, aku langsung pulang. Pamitkan sama Ayah." Katanya saat sampai rumah. Aku mengangguk.
"Selamat malam." Kataku sambil keluar dari mobil. Dia menjalankan mobil dengan cepat begitu aku turun.
***
Hubungan ini mendingin dalam waktu yang lama. Kami hanya sesekali berkirim pesan. Itupun kalau kangen tidak tertahankan. Tidak ada lagi malam minggu atau kencan. Kami tidak pernah bertemu, kecuali berpapasan saat dirumahnya. Dia jadi dingin. Aku jarang melihatnya tersenyum. Tidak apa. Anggap saja ini proses penyatuan dua pikiran. Dia pasti tahu syaratku untuk kebaikannya. Usaha Bapak berkembang. Untungnya sudah lebih dari cukup untuk hidup. Aku tidak mengharapkan tahta dan jabatan. Cukup hidup tenang bersamanya.