I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 26



Dokter berlalu begitu saja. Revan kemudian berbisik padaku.


"Aku ingin memukulnya?"


"Kenapa?" Tanyaku


"Dia memanggilku Bapak sedang memanggil mu Mbak. Aku tidak setua itu." Katanya. Aku tertawa dibuatnya


"Tapi wajah tidak bisa berbohong Mas"


"Aku baby face!" Klaim sepihaknya. Kami terus berdebat tentang usia sampai di tempat tukang rujak tadi. Mengambil motor yang tertinggal dan kami berpisah disana.


Begitu dia berlalu aku sadar kalau dia belum menjelaskan kecelakaan apa yang dialami. Diaa.. pandai sekali mengalihkan fokus. Tapi terserahlah. Kalau mau cerita dia juga cerita. Aku tidak ingin memaksa.


Hubungan kami memang dekat dekat tidak. Dia tidak menuntut untuk berchat sepanjang hari. Sering malah dia tidak ada kabar. Sepertinya aku memang bukan prioritasnya. Jadi jangan ge er dan berprasangka apapun dulu. Walaupun kadang aku merasa perhatiannya menganggap aku lebih dari teman. Aku tidak membencinya, tapi tidak juga mencintainya seperti Riyan. Tidak juga merindukannya. Meski kadang terlintas dipikiranku sedang apa dia? Kenapa dia begitu tertutup, tidak pernah update apapun. Sedangkan aku begitu cerewet mengeluh ini dan itu disosmed. Hahahahah perbedaan yang sangat mencolok.


***


Aku ada kelas pagi ini dan hebatnya aku terlambat. Aku lari sekuat tenaga dari parkiran menuju kelas. Hampir menubruk Tomy yang juga terlambat. Kami sampai dikelas bersama. Untung dosen baik hati membiarkan kami masuk. Aku duduk bersebelahan dengan Tomy sambil ngos ngosan.


Dosen menyuruh kami membuat tugas kelompok minimal dua orang. Aku langsung berpandangan dengan Tomy, sama sama sepakat membentuk kelompok dalam batin. Karena belum terlalu kenal dengan teman yang lain. Hahaha


"Ayo bikin tugas." Kata Tomy usai jam terakhir hari itu. Aku mengangguk


"Langsung saja setelah ini yaa." Kataku


"Dirumahmu?" Tanyanya


"Atau disini saja yang ada angkutan sampai sore, jadi aku gak perlu bingung pulangnya." Lanjutnya. Aku lihat langit mulai mendung menebal. Dia akan kehujanan pulangnya. Katanya rumahnya jauh dari jalur angkutan. Tomy biasa jalan kaki atau nebeng tetangga untuk sampai jalur angkutan umum.


"Kerumahmu aja gimana?" Tawarku


"Aku bawa motor kok. Ada jas hujan juga, jadi gak repot kalau hujan." Tawarku.


"Tapi rumahku jelek Put."


"Heleh sama aja yang penting ada rumahnya." Jawabku sambil menarik tangannya keparkiran.


Rumah yang begitu sederhana. Lantainya masih tanah, dindingnya semi permanen. Penghuninya ada 5 orang. Ayah Tomy yang sudah lumpuh, ibunya yang saat itu sedang bekerja, dan dua adik Tomy satu SMP satu SD. Aku melihat semuanya dengan rasa iba dan syukur. Karena bagaimanapun aku masih beruntung dari Tomy.


"Sepertinya aku harus kuliah sambil cari kerjaan Put. Kuliahku emang gratis ditambah uang saku yang lumayan, tapi uang sakunya habis untuk kebutuhan dirumah, aku gak punya uang untuk pegangan." Kata Tomy


"Kalau begitu ayo cari kerjaan sama sama." Ajaku


"Emang kamu butuh uang juga? Bukannya bapakmu PNS, kamu gak diberi uang saku?" Tanya Tomy


"Yaa di beri sih, tapi aku juga mau mandiri, tidak merepotkan mereka." Jawabku. Tomy manggut manggut.


Sejak saat itu aku dan Tomy menjadi patner segala hal. Patner bikin tugas, patner dikampus, patner bolos, patner cari kerja sampingan. Mulai dari kerja di SPBU, tukang cuci piring, sampai pelayan rumah makan tenda kami jalani. Tidak seberapa, tidak banyak pula lowongan untuk anak kuliah. Kami melompat dari satu kerjaan ke kerjaan lainnya mencari yang cocok. Teman teman kami mengira aku dan Tomy pacaran. Sangking lengketnya kami kemana mana. Terserahlah, yang penting kami sama sama tahu gak ada cinta diantara kami.


Sampai suatu hari disemester 3 Habiba menghubungiku. Katanya dia punya kerjaan sampingan yang lumayan.


'Syarat utamanya jangan sampai ortu tahu' ketiknya. Aku pun janjian ketemuan dengan dia.


"Kamu mau aku jual diri?" Tanyaku ketika kami bertemu.


"Enggaklah, edan apa! Yaa cuma ini kerjaan butuh body bohay dan muka cakep. Kamu masuk syarat itu." Katanya. Ternyata kerjaannya seles promotion. Seles yang menawarkan produk apa saja yang mau menyewa mereka. Kadang rokok, restoran, bahkan alat kontrasepsi. Pakaiannya yaaaa.... begitulah. Terbuka disana sini. Tapi tidak telanjang hahahaha dan yang utama gajinya mengiurkan.


Aku tergiur juga. Benar syarat dari Habiba. Orangtua tak boleh tahu. Aku pun membikin alibi kalau aku masih bekerja diwarung tenda bersama Tomy. Sebenarnya Tomy tidak terlalu setuju dengan pekerjaan baruku, tapi dia tidak bisa melarang lebih jauh. Itu pertama kalinya kami pisah tempat kerja setelah setahun lengket kemanapun. Tomy masih kerja diwarung tenda, karena tak ada seles promotion untuk cowok.


Dari Habiba aku tahu kabar Septy. Sekarang ia pindah ke Jakarta mengikuti Re. Sepertinya hubungan Re dan Septy berjalan baik. Kata Habiba mungkin mereka akan menikah diwaktu dekat. Menggembirakan.


Lalu bagaimana kabar Simpel? Tetutama vocalisnya. Simpel band sukses sekarang. Buah dari kerja keras mereka selama bertahun tahun. Wara wiri ditelevisi. Entah untuk nyanyi atau acara talk show. Tak sulit mencari kabar mereka. Tiap hari muncul di tv. Dan muncul di acara gosip karena vocalisnya sering berganti pasangan. Riyan..... gak heran, dari dulu juga sudah dikelilingi wanita cantik. Dia makin tampan juga..... riyan........ aku bahkan masih merindukamu.


Dan pernah diacara talk show dia bercerita tentang aku.


"Aku dengar ada cewek yang disebut ceweknya Simpel, dia menemani Simpel saat menjadi band lokal. Bahkan beberapa lagu tercipta atas bantuan si cewek. Kemana dia sekarang?" Tanya pembawa acara. Semua anggota band memandang Riyan. Hening tercipta.


"Ayo jawab, siapapun yang membocorkannya sekarang jawab." Kata Riyan kesal. Anggota band dan orang orang distodio justru tertawa. Pembawa acara mendesak Riyan untuk menjawab.


"Dia.. tertinggal dimasa lalu. Hidup dengan baik sekarang. Aku..... menjadikan dia bintang biar aku jadi gelap malamnya. Agar sinarnya terang benderang. Aku akan menutupi dengan pekat dan gelapnya warnaku dibelakangnya." Kata Riyan dengan terbata, tapi begitu romantis untukku


"Apa dia masih begitu berarti?" Tanya pembawa acara lagi. Riyan menggeleng dan berkata


"No coment." Kemudian Simpel bernyanyi menutup acara itu. Menyanyikan lagu yang aku buat bersama Riyan dulu. Tapi sepertinya Riyan begitu emosional sampai suaranya tidak sebagus biasanya. Gosip tentang ceweknya simpel bertebaran selama beberapa hari. Kemudian lenyap diganti gosip yang lebih hangat.


Apa dia masih merindukaku? Apa rinduku ini berbalas? Apa masih ada jalan kami kembali? Aku melow sendiri memikirkannya. Hatiku campur aduk kalau itu berhubungan dengan Riyan. Tapi aku gak mau galau berkelanjutan. Bukankah hidupku masih penuh perjuangan? Segera ku semangati diri dan kuisi dengan kesibukan bila Riyan datang dalam pikiranku.