
Menu direstoran itu ternyata menu ndeso. Kami memesan nasi beras merah dengan ayam goreng kampung dan sayur daun pepaya. Menggiurkan.....
"Kita akan sering seperti ini kedepannya. Masa skorsku masih satu bulan lagi." Kata Revan disela sela makan kami.
"Haa skors tanpa gaji, tapi mengajak kencan terus. Bisa tekor nanti." Kataku. Dia tertawa.
"Nanti kamu yang bayarin." Katanya.
"Kamu pikir apa kerjaku sekarang? Aku kerja dipusat grosir baju, gajinya bisa dibilang bercanda sangking kecilnya. Untuk separuh trip saja tidak bisa." Kataku sambil tertawa. Dia ikut tertawa.
"Aku tahu kau hanya cari kesibukan kerja ditempat seperti itu. Cerdas juga." Kata Revan.
"Kalau gitu kita pakai uang Bapak untuk berkencan. Uang bapak banyak." Katanya lagi. Sekarang giliranku yang tertawa. Tentu saja kamu gunakan uang Bapak Mas. Bakhakan untuk membeli motor barumu yang mencapai puluhan juta itu. Batinku. Aku tahu benar berapa uang yang dia dapat sebagai perwira dan berapa uang yang dia dapat dengan anteng menjadi anak Bapak. Gajinya sebagai perwira bisa dibilang bercanda juga jika berbanding dengan uang hasil mebel. Ngomong ngomong kartu ATMnya masih kubawa. Gajinya sebagai perwira aku yang bawa.
Aku mengeluarkan dompet kartuku. Kutarik kartu ATM atas namanya. Dulu kugunakan untuk belanja sayur mingguan dan kebutuhan harian lainnya. Aku menyodorkan kartu itu dihadapannya.
"Aku lupa masih membawanya." Kataku.
"Lalu?" Tanya Revan dengan wajah berubah masam.
"Kamu bisa bawa dari sekarang. Sebentar lagi kitakan.... berpisah." Kataku. Sekarang tidak terlalu yakin mengucapkan kata terakhir. Aku seperti.... Melemah dihadapannya. Dia menghela nafas.
"Aku belum berhasil meyakinkanmu ternyata. Aku yang belum berhasil atau hatimu yang sudah berpaling. Entahlah.... Apa pesona seorang vocalis selalu berhasil menandingiku?" Tanya Revan geram. Aku diam. Tidak lagi berselera melanjutkan makan dan pembicaraan ini.
"Jawab Dek, aku benci pertanyaanku tidak terjawab." Kata Revan dengan nada meninggi.
"Aku harus jawab apa? Kamu mau aku jawab apa Mas? Bukan karena Diki kita berpisah. Kau tau benar alasanku meminta kita berpisah." Kataku berargumen.
"Sudah puluhan kali aku meminta maaf Dek. Puluhan kali. Kalau kamu mau aku melakukanya ratusan kali atau ribuan kali akan kulakukan. Tapi tetaplah jadi istriku." Kata Revan memohon lagi. Aku menggeleng.
"Bagaimana kalau kau mengulanginya lagi? Meninggalkanku berkalang duka sendirian. Aku tidak mau. Tidak. Rasanya sakit sekali. Menunggumu saat tubuhku seolah terbagi dua dan bayiku berada di NICU sendirian." Kataku. Dia diam. Memutar mutar cincin pernikahan kita dijarinya. Aku lupa kalau aku juga masih memakainya dijari manisku.
"Ayo pulang." Ajakku berdiri dari kursi. Dia mengikutiku dalam diam.
Waitres memanggil kami saat kami tiba diparkiran.
"Maaf Mbak, kartu ATMnya ketinggalan." Kata Waitres itu padaku. Revan tidak menyimpannya tadi. Dasar keras kepala!!
"Terimakasih Mas." Kataku sambil menerima ATM itu lagi. Tidak mau membikin keributan diparkiran.
Kami pulang saling diam. Walaupun tubuhku masih erat memeluknya. Dan jaket kami sama noraknya.
***
"Waaaahhh jaketnya.... silau aku Mbak dilihat dari sini." Alya nyeletuk. Membuat semua orang senyum senyum.
"Sukses Mas Revan? Udah mau coupelan gitu." Tanya salah satu pegawai.
"Doakan, tidak lama." Jawab Revan santai sambil berlalu masuk rumah. Bodoh... aku memikirkannya akan malu memakai jaket ini. Sekarang aku yang malu. Posisiku yang marah. Sekarang terlihat aku yang sudah memaafkannya dengan mau pakai jaket coupel. Dasar licik!!! Aku ikut masuk rumah dengan sebal. Melepas jaket norak yang bisa membuat orang salah paham. Kulempar jaket itu menjauh. Dia senyum senyum aku melakukannya.
Aku menengadahkan tangan.
"Mana kunci kamarnya?" Tagihku padanya. Dia menyerahkan kunci itu beserta kunci motornya.
"Kenapa juga harus dikunci. Sampai kunci cadangan juga diambil?!!" Tanyaku kesal. Dia cuma senyum senyum. Aku membuka kamar kami. Tidak, kamar dia..... lagi lagi aku kangen. Sepreinya sama sejak aku tinggal terakhir. Bahkan baju dasterku terakhirku masih tergantung. Handukku dan semua peralatanku masih ditempat. Sama seperti waktu aku tinggalkan. Apa dia sengaja melakukannya?
"Apa tidak gatal memakai sprei dua bulan lebih tanpa diganti?" Tanyaku.
"Masih ada aroma tubuhmu. Aku bisa bertahan dengan itu. Aku tidak akan merubah apa yang kau tinggalkan. Agar aku merasa kamu masih disini Dek." Kata getir. Aku jadi ikut sedih.
Aku membuka lemari pakaian. Kuambil tas dipojok lemari. Aku mulai memindahkan baju bajuku. Tak lupa satu maps berisi surat suratku yang lain. Juga laptop dekil ku yang menemani aku kuliah dan menulis.
Revan terus menatapku dalam diam.
"Aku tidak bisa bekerja dibawah tatapamu yang mengintimidasi." Kataku saat sudah tidak tahan risih. Dia diam masih mematung menatapku.
"Kenapa tidak membantuku? Dari pada diam menatap seperti itu." Kataku lagi. Dia masih diam. Aku jadi penasaran dan mendekatinya.
"Heloooo aku berbicara denganmu." Kataku sambil melambaikan tangan didepan wajah Revan.
Tiba tiba dia menarik tanganku. Membantingku dikasur kami. Memaksakan ciumannya. Aku menolak dengan terus memalingkan wajah, tapi tertangkap juga. Dia mengejar bibirku. Menghisap kuat. Mencoba meneroboskan lidahnya. Lama saling tolak dan serang akhirnya aku menyerah. Dia menguasai bibirku lama. Seperti belum selesai mencurahkan kerinduan yang terpendam. Tangannya tidak diam. Melucuti semua bajuku dengan ganas dan kasar. Kami bergumul dikasur dengan pemaksaan. Dia berhasil menguasai tubuhku. Tanganku terkunci dibelakang tubuhku. Kakiku masih menapak lantai, tapi tubuhku terbaring diatas kasur. Tengkurap membelakanginya. Dia terus menyerang titik sensitifku yang dia hafal tanpa ampun. Menyatukan kami dalam kondisi punyaku yang sudah basah kuyup. Aku pasrah. Rasa ngilu kembali datang diperut bagian bawahku. Rasa teraduk aduk yang geli dan nikmat. Posisi seperti ini selalu bisa membuatku melayang lebih cepat. Dia... lebih lama dari sebelumnya aku kuwalahan hampir setengah sadar saat dia berhenti dan menghentak dalam. Banjir dibawah sana sudah pasti mengenai sprei ini. Entah berapa kali aku kli** maks. Dia mengangkat tubuhku dan menyelimutiku.
"Ini pemaksaan!" Kataku marah. Tapi badanku terlalu remuk untuk bergerak. Revan kembali meraba luka Secar diperutku. Mengusap usapnya pelan. Aku mengantuk. Dia mendekatkan dadanya dikepalaku.
"Kau bisa melaporkanku setelah tidur." Katanya. Bodohnya aku tertidur juga.
Aku bangun dia masih lelap disampingku. Masih berbagi satu selimut tanpa baju. Aku mencoba menggeser pelan, tapi refleknya masih bagus sekali. Matanya terbuka saat kugeser sedikit saja. Dia kembali menyergap bibirku. Aku membiarkannya tanpa tanggapan.
Plakkk.... satu tamparan keras mendarat dipipinya.
"Itu untuk pemaksaan hari ini!!!" Kataku sambil bangkit dari ranjang. Segera kupakai bajuku. Tapi ternyata tidak bisa. Dia melepasnya terlalu brutal bajuku sudah tidak layak pakai. Aku mengambil dilemari. Dia senyum senyum gak jelas.
"Kamar mandinya masih ada airnya lho Dek. Kamu yakin gak mandi dulu setelah...... em.. tubuhmu penuh... tidak masalah sih kalau gak mau mandi. Gau usah mandi terus aja gak papa aku suka." Kata Revan. Dia benar. Bahkan saat aku bangun tadi, masih ada yang masih meleleh disela sela kakiku. Sial!!! Seberapa banyak dia menghujaniku.