I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 34



Dua minggu tidak ada kabar. Kebiasaannya menghilang masih sama. Berkali kali aku ingin menghubunginya. Tapi rasanya aku juga masih sebal. Ujian semester didepan mata. Aku fokus saja belajar. Mengalihkan rasa kangenku sama Revan. Haaahhh kangen apa? Siapa yang kangen sama dia???.....Sebel iya.


Ujian semester berakhir. Ini sudah dua bulan. Bahkan aku sudah dapat pekerjaan baru di minimarket SPBU yang buka 24 jam. Tomy yang mencarikannya. Aku dapat giliran malam mulai kerja jam 9 malam sampai pagi jam 5. Ini waktu terlama Revan menghilang. Aku....... kangen. Ya ya ya sekarang aku mengakui aku kangen. aku yakin aku kangen. Beberapa kali aku sampai termimpi mimpi dia. Walau tidurku hanya sepintas lalu di SPBU. Kerja di jam malam ternyata lebih menantang. Lebih melelahkan juga.


Tiga bulan berlalu. Sudah aku pancing dengan setatus setatusku disosmed. Setatus lebay sampai mendayu. Tidak terpancing. Justru teman temanku yang lain yang terpancing dan menanggapi. Revan hanya sesekali tampak melihat. Sekarang justru makin jarang melihat. Aku mulai panik. Aku gak mau dia pergi. Orang rumah juga terus bertanya kenapa dia tidak muncul. Ibu mewanti wanti agar Revan membantu persiapan pernikahan kakak yang semakin dekat. Harus dipastikan hadir!! Perintah Ibu Negara.


Akhirnya aku menyerah. Kukirimkan pesan sederhana. Mulai dari


'Apa kabar?'


'Lagi apa?'


'Selamat makan'


'Met bobok' Dan jenis pesan lain. Tidak dijawab. Hanya di baca. Sudah lebih sepuluh kali. Kesal juga aku dibuatnya. Kulkas yang menyebalkan dan ngangenin dalam waktu yang sama.


Beberapa kali kudatangi kantor polisi. Tapi tidak punya nyali masuk kedalam. Hanya mengintainya dari luar. Setan!!! Aku malah seperti orang bodoh. Batang hidungnya juga tidak terlihat. Harus apa? Apa benar harus masuk? Dia pasti ada dikantor kalau jam kerja kan?


Aku beranikan memasuki kantor polisi. Bodo amat tanggapannya, bodo amat dengan gengsi. Aku butuh kepastian. Kita ini apa? Mau apa habis ini? Apa dia mau aku minta maaf? atau bagaimana? Aku butuh kejelasan. Bukan di gantung mirip jemuran.


"Permisi... saya mau ketemu Mas Revan." Kataku pada penjaga yang duduk di depan.


"Revann siapa Bu? Pangkatnya apa? Bagian apa? Apa perlunya?" Tanya penjaga yang sepertinya lebih muda dari Revan. Dia pakai baju polisi lengkap. Sial aku lupa pangkatnya. Dia pernah menyebutnya sekali.


"Reserse bagian narkoba....." kataku terputus. Kulihat sosok yang kucari sedang berjalan dikoridor.


"Itu orangnya." Kataku menerobos masuk.


"Bu, Bu, tunggu! Tidak bisa seperti ini" kata si penjaga mengajarku.


"Mas Revan, Mas tunggu!!" Teriakku. Dia berhenti sejenak, namun tidak menoleh justru mempercepat langkahnya. Padahal aku yakin dia mendengar. Aku terus berteriak sambil mengejarnya. Si penjaga berhasil memegang lenganku. Kuayunkan kakiku sekuat tenaga menginjak kakinya. Dia mengaduh, cengkramannya ditanganku terlepas. Aku masih mengejar Revan yang berbelok dan masuk kesebuah ruangan dan menutupnya cepat.


Aku mencapai ruangan itu kurang dari semenit setelah Revan. Kubuka pintu yang tertutup. Ada beberapa orang berpakaian biasa dan satu orang berpakaian polisi lengkap sedang berdiri. Sepertinya mereka sedang rapat atau sejenisnya. Semua orang melihat kearahku.


"Maaf mengganggu, bisa bicara dengan Mas Revan?" Tanyaku kubuat sesantai mungkin. padahal hatiku jedak jeduk dan tanganku sudah berkeringat.


"Maaf Pak." kata petugas pintu sambil menarik lenganku.


"Biarkan." Kata si petugas bersragam polisi lengkap yang berdiri diantara teman teman Revan. Namanya Sidiq jelas tertera dibajunya. Berpangkat tinggi sepertinya. Rambutnya sudah beruban, tubuhnya sedikit tambun.


"Mbak cantik cari siapa?" Tanyanya padaku.


"Mas Revan Pak, boleh saya bicara sebentar?" Tanyaku. Yang punya nama duduk menyamping dari ku diam anteng. Seolah aku tidak ada. Setan!!!


"Waaahhh semua anakku bernama Revan Mbak Cantik. Yang mana yang kamu maksud?" Tanya Pak Sidiq. Aku menunjuk orang yang kumaksud. Dia menoleh, cie cie langsung nyeletuk dari mereka. MALU MAK!!!!


"Ada urusan apa cari Revan?" Tanya Pak Sidiq.


"Urusan pribadi pak." Jawabku.


"Urusan pribadi apa? Apa ada hubungannya dengan cinta?" Semua orang sudah mesem mesem. Aku dikerjain!!!! bener bener dikerjain. Aku diam. Si Revan sudah menoleh menyembunyikan mukanya dari pandanganku. Aku yakin dia juga tersenyum.


"Dengar Mbak Cantik. Disini semua pertanyaan harus dijawab. Atau mau saya tindak penganiyayaan terhadap anak saya." Katanya sambil menunjuk kaki penjaga pintu. Sepatunya yang mengkilap ada noda putih bekas kuinjak.


"Atau perbuatan tidak menyenangkan. Penerobosan masuk tanpa ijin." Lanjutnya. Aku baru sadar aku berada dikantor polisi.


"Apa mbak mencintai Revan?" Tanyanya.


Pertanyaan macam apa itu!!!. Aku protes dalam diam.


"Jawab!!!" Bentaknya karena aku bungkam. Aku terkejut dan reflek menjawab.


"Ii..... iyaa" bodoh!!! Makiku dalam hati. Maaaluuu. Suwit suwit sudah terdengar.


"Iya apa? Jelaskan!!" Bentaknya lagi.


"Iya saya mencintai Revan." Kataku lirih. Revan semakin dalam memalingkan wajahnya dari pandanganku. Tubuhnya bergetar menahan tawa.


"Tidak dengar!!" Bentak Pak Sidiq lebih keras.


"Iya Pak saya mencintai Revan!!" Kataku berteriak. Persetan dengan rasa malu!! Bodo amat!!! Tawa, siulan dan tepuk tangan menggema. Revan sudah tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa lepas. Aku merindukan tawanya. Beberapa orang yang melintas dan mendengar ikut bertepuk tangan. Bapak Sidiq ikut tepuk tangan sambil tersenyum jenaka.


"Antar dia kemeja Revan." Katanya pada penjaga pintu.


"Tunggu sebentar disana Mbak. Revan akan segera datang." Lanjutnya. Aku mengangguk. Aku mau kabur saja, tapi sudah terlanjur basah begini. Ya sudah mandi sekalian....


Aku keluar ruangan baru empat langkah mungkin, si Bapak memanggil lagi.


"Mbak, tunggu!" Katanya. Aku berbalik. Dia mendekat. Mengusir si penjaga pintu dengan pandangan.


"Dengar Mbak Putri, aku tahu Revan sedang bermasalah denganmu hingga merusak konsentrasinya. Dia aset kami yang bagus. Polisi cerdas dengan intuisi yang tajam. Bahkan diusia muda dia sudah mendapat banyak penghargaan. Secara pribadi aku menganggap Revan seperti anaku sendiri. Aku menyayanginya. Kalau kau terus membuat masalah dan merusak konsentrasinya bekerja, aku akan memindahkannya sampai kau tak mampu melihatnya. Dia akan dengan mudah mendapat gantimu. Mengerti?" Ancamnya serius dan menyeramkan. Aku mengangguk.


"Pergilah!" Aku kembali mengangguk. Kulihat ujung sepatu seneekers Revan dibalik pintu. Dia menguping.


Aku diantar penjaga tadi kemeja Revan. Satu ruangan ada 6 meja. Mejanya bersih walaupun beberapa dokumen tertumpuk asal diatasnya. Ada mug kopi yang diberi inisial. Ada foto yang dihadapkan ketembok. Aku meraihnya penasaran. Fotoku candid saat menata jam tangan beberapa tahun lalu. Gila!!! Dia memotretku saat aku PKL?