
Aku tertatih berdiri dari kursi roda. Suster memberikannya padaku. Dingin. Tubuh kecil itu begitu dingin. Dia tidur terpejam. Kulitnya tipis dan pucat. Dia kecil, dia imud. Aku memeluknya di dadaku. Kutimang dengan sayang. Pertemuan skin to skin kami yang pertama juga yang terakhir. Aku harus apa???? Bukankah seharusnya aku menyusuinya? Bukankah kami harusnya bersama? Aku membayangkan memandikannya. Tidur bersamanya dan celotehan dari mulutnya memanggilku Mama. Tapi dia dingin dan kecil. Dia terlalu dingin. Apa aku bisa menghangatkannya? Aku memeluknya lebih erat. Aku pasti bisa menghangatkannya. Dia akan hangat dan bergerak.
Semakin aku memeluknya erat semakin orang orang berusaha mengambilnya. Aku berteriak meronta. Mempertahankan dia didadaku.
"Dia milikku. Dia anakku. Aku akan memeluknya hingga kapan pun!" Aku berteriak.
"Kami akan mengurusnya Bu. Ibu yang kuat yaa." Kata suster. Ibuku memegangiku.
Dia diambil dariku...... aku dibawa kembali kekamarku.
Ibu dan Bapak berdebat tentang pemakaman. Suara mereka sama sama meninggi.
"Dia akan dimakamkan dekat dengan makam neneknya!" Kata Bapak.
"Tidak, kenapa harus disana? Jauh dari rumah saya. Dia akan dibawa pulang kerumah mamanya dan dimakamkan dekat dari rumah sana. Untuk apa dimakamkan kerumah Bapak kalau Papanya saja tidak peduli." Kata Ibu sarkas. Bapak terdiam. Hening sesaat.....
"Aku mau Satria dimakamkan dekat Omnya. Omnya akan menjaganya." Kataku. Menghentikan perdebatan mereka. Entah mengapa aku memilih tempat itu untuk pemakaman. Mungkin agar aku bisa mengunjungi Satria dan Riyan bersamaan.
Aku pulang dengan Satria. Walaupun perawatan lukaku masih belum sembuh. Ayah menandatangani surat pulang paksa. Haaa apa gunanya luka ini??
Satria.... nama yang terlintas begitu saja. Kami belum menyiapakan nama. Mitos yang berkembang katanya harus menyiapkan semuanya diatas usia tujuh bulan. Kami nurut melakukanya. Walaupun aku dan Revan menganggap itu terlalu konyol. Tapi sebelum tujuh bulan pun Satria pergi. Bahkan sebelum melihat dunia. Dia terlalu sibuk tidur..... tapi dia tetap Satriaku. Pria kecil tegar yang berani keluar dari rahimku yang nyaman. Bertahan dan berjuang menemaniku disini. Walaupun semuanya berakhir dengan air mata, tapi dia tetap pria pemberaniku. Satria dalam hidupku.
***
Satria dibawa pulang kerumah Revan sejenak. Hari sudah beranjak siang. Menunggu makam dekat Riyan disiapkan. Ine datang langsung memelukku.
"Kamu yang kuat yaa. Yang sabar." Kata Ine padaku. Diki datang setelah menjenguk dirumah sakit, tapi aku sudah pulang. Dia mendampingiku. Para pelayat datang menyampaikan duka cita.
Aku berdiri lagi ditempat ini. Mengantar Satria untuk tidur sendiri. Nisan kecil dengan namanya tersemat. Mbak Sasa menopang tubuhku.
"Dia kecil Mbak, dia terlalu kecil. Kenapa harus tidur sendiri?" Tanyaku pada Mbakku. Dia tidak menjawab. Sibuk meneteskan air mata dan memelukku. Orang orang sudah pergi. Tinggal Mbak Sasa dan Diki. Aku duduk merosot ditanah.
"Yan, kau tahu ponakanmu ini begitu tampan. Jaga dia karena aku tak mampu menjaganya. Jangan diajari nakal yaa. Tidak boleh." Kataku pada nisan diatas Satria.
"Ayo pulang." Ajak Mbak Sasa. Mereka memapahku berdiri. Nyeri diperutku masih terasa menyiksa.
Saat aku berbalik, aku melihat Revan. Berdiri dikejauhan menatap aku. Mata kami bertemu. Bajunya masih sama saat terakhir kami bertemu. Dia terlihat kacau dan lebih acak acakan. Aku diam. Seolah tidak melihatnya. Kami terus berjalan keluar makam. Aku masuk mobil Diki. Dia masih mematung disana.
"Mbak, ayo pulang kerumah Ibu." Kataku. Mbak Sasa mengangguk kemudian memelukku dengan erat.
***
Hari ini aku kontrol jahitan. Mas Dipo mengantarku.
"Dandan yang cantik Put, nanti biar dikira aku punya istri muda." Kelakarnya. Aku diam saja. Aku lebih pendiam sekarang.
"Sarapan dulu." Kata Ibu menyodorkan sepiring nasi dengan lauk protein tinggi yang masih mengepul. Aku makan dalam diam.
Apa rasanya? Lukanya masih ada, tapi bayinya sudah tidak ada. Banyak. Rasanya menyiksa sekaligus menyakitkan. Lebih sakit dari luka itu sendiri. Tidak berguna luka ini. Kenapa mengambil Satria kalau kami harus berpisah. Harusnya biarkan dia diperutku. Kita tidak akan terpisah dengan begitu. Aku bisa menemaninya tidur. Dia tidak tidur sendiri didalam tanah.
Usai kontrol kami menuju parkiran mobil. Revan sudah menunggu didepan mobil Mas Dipo. Aku mengacuhkannya dan masuk dalam mobil. Mas Dipo berbicara sebentar dengan Revan. Nampak Mas Dipo memarahi Revan sambil menunjuk nunjuk. Aku biarkan saja. Tapi kemudian mereka bertukar kunci mobil. Tidak! Aku tidak mau. Aku mau turun, tapi Revan sudah sampai di kemudi. Dia mengunci mobil. Menjalankannya pelan. Gerakanku tidak bisa gesit karena luka diperutku.
"Kamu ganti nomer Dek? Kudengar hpmu hancur." Kata Revan dengan lembut. Hatiku berdesir sakit dan nyeri mendengar suaranya. Silahkan bicara sendiri sepuasmu. Batinku. Dia melirikku sekilas.
"Pulang yuk." Ajaknya.
Mobil Mas Dipo terus berjalan entah kemana. Yang jelas ini bukan jalan pulang.
"Aku mau pulang kerumah Ibu." Kataku akhirnya. Aku sesak berbagi udara dengannya.
"Apa lukanya masih sakit?" Tanya Revan dengan nada tercekat.
"Sudah jangan bicara omong kosong!! Pulangkan aku!!!" Kataku berteriak. Sakit.... perutku sakit..... hatiku juga..... aku memegangi perutku. Dia panik.
"Kita kerumah sakit ya..." kata Revan lagi. Aku tidak peduli. Menangislah aku sesenggukan sambil meringkuk memegangi perutku. Dia menghentikan mobil. Berusaha merengkuhku dalam pelukkannya. Aku menepis tangannya. Kutampar pipinya. Dia diam dan masih berusaha memelukku lagi. Kutampar lagi. Aku tidak sudi berbagi udara dengannya. Aku keluar dari mobil dengan tertatih.
Aku tiba dirumah dengan taksi online. Aku menangis tersedu. Mobil Mas Dipo mengikutiku sampai rumah. Ibu panik dan menyalahkan Mas Dipo.
"Ibu gak mau dengar apapun alasanmu Po. Kamu sudah ikut menyakiti adikmu!!!" Kata Ibu sambil memelukku. Mas Dipo terlihat bersalah dan kebingungan.
Revan datang kerumah. Meminta kami diberi waktu untuk bicara. Tidak ada yang mengizinkan. Masuk rumah saja tidak diizinkan.
"Dia anakku. Kau menyepelekan anakku. Jangan harap bisa melihatnya!" Kata Ibu kesal. Aku meringkuk didalam kamar. Melihat Revan membuatku hancur. Dinding tegar yang mulai kubangun hancur lagi. Aku akan menceraikannya..... biar dia bisa pergi mengejar penjahat dari planet pluto sekalipun.
Revan terus memohon agar diberi waktu bicara sekali saja.
"Semuanya sedang tidak baik baik saja Van. Jangan memaksa bicara. Biarkan kami menata hati. Biarkan Putri tenang dulu." Kata Ayah menengahi.
"Pulang kerumahmu. Beri Putri waktu disini." Usir Ayah pada Revan.
***
Sebulan berlalu....
Beberapa kali dia datang. Orang rumahku masih sama. Memberikan perlindungan padaku. Aku bersyukur punya keluarga yang mendukungku.
"Kami akan membiarkan dia bicara padamu kalau kamu sudah mengizinkannya. Kalau kamu belum mau bicara, kami akan tetap melarangnya datang." Kata Ayah. Keluargaku mengangguk setuju.
Aku beli hp lagi dengan nomer yang berbeda. Mulai menata hidup yang kalang kabut berantakan. Hidup berkalang duka, tanpa kegiatan membuatku makin terpuruk. Mbakku menyarankan aku kembali bekerja. Karena tidak mungkin kembali dimebel Bapak, aku mencari info loker. Tidak banyak untuk sarjana hukum tanpa sekolah advokat lagi. Nilaiku juga gak bagus bagus amat. Aku baru sadar karirku jeblok. Sd sampai SMK nilai terbaik, sarjanaku limit asal lulus. Ironi....... Kuturunkan level ke SMK. Ada beberapa lowongan. Bagus!! Aku tidak perduli gajinya.... yang penting aku punya kesibukan. Aku mulai membuat surat lamaran.
Bu Nirmala datang kerumah secara berkala. Mengajakku belanja, kesalon, membelikanku cake coklat yang lezat.
"Semangat Nak, pokoknya Ibu tidak akan membiarkamu bersedih sendirian. Ada Ibu. Ingat itu." Kata Beliau.
"Kau belum mau bertemu Revan?" Tanya Bu Nirmala saat kami makan dimall. Aku menggeleng.
"Dia memang keterlaluan. Tapi kata Sidiq dia juga dapat masalah. Ah.... terserah... dia yang mulai masalahnya. Ibu mendukungmu. Tapi bercerai juga harus dibicarakan Sayang. Bicara dulu. Beri dia waktu untuk menjelaskan dan bicara." Kata Bu Nirmala. Aku hanya tersenyum kecut. Aku hanya mengutarakan cerai pada Revan, tapi Bu Nirmala mengetahuinya. Dia... utusan Revan untuk membujuk dan mengawasiku. Aku yakin.
Diki beberapa kali datang kerumah. Adaaa aja ulahnya yang membuat aku tertawa. Membelikanku arum manis jumbo lah, kerumah bawa rombongan topeng monyet lah, dan masih banyak lagi. Kali ini dia bawa penjual tahu bulat semobil boksnya. Membagi bagikan tahu bulat untuk bocah bocah kecil disini. Dasar gila!!
"Aku bisa gila kalau kamu datang sering kesini." Kataku.
"Kenapa?" Tanya Diki heran.
"Karena kamu selalu bikin aku tertawa mirip orang gila." Kataku. Diki tertawa.
"Karena aku ingin melihatmu selalu tertawa. Kamu cantik kalau tertawa." Kata Diki dengan muka serius.
"Hah, menggombali seorang wanita yang akan jadi janda." Kataku miris.
"Kau serius akan menceraikan Revan?" Tanya Diki terkejut. Aku menghela nafas panjang.
"Aku tidak sanggup Dik, diabaikan saat sedang membutuhkan. Kalau dia bertugas itu bisa aku maafkan..... Ini tidak, atasannya bahkan sudah menghentikan kasus. Dia sendiri yang nekat. Tidak peduli pada aku dan Satria yang terluka." Kataku. Diki memegang tanganku menguatkan. Kami jadi teman dekat.
Orang rumah biasa saja menyambut Diki. Menerima ramah, tapi tidak akrab juga seperti Revan dulu.
"Ngapain dia kesini?" Tanya Ibu saat aku selesai mengantarkan Diki pulang.
"Main lah Bu, ngajakin ngobrol aja." Kataku.
"Jangan terlalu dekat, biar bagaimanapun kamu itu masih istrinya Revan. Kamu tidak bisa seperti itu. Selsaikan dulu urusanmu dengan Revan. Setelah itu kamu bebas ngapain aja." Kata Ibu sepertinya sudah tidak marah sama Revan. Ayah juga manggut manggut.
"Apapun keputusanmu kami dukung Nduk. Tapi saran Ayah dengarkan dulu Revan. Bicara dulu berdua. Setelah benar benar tidak cocok kamu boleh melakukan apa saja." Kata Ayah. Aku diam. Masuk kamar dan tidur. Walaupun sepertinya orang tuaku belum selesai bicara.
***
...Capek Bestie. Aku habis naik Titipo dua hari ini. Dua hari bolak balik dua kota beda provinsi. Awakku koyo ketibanan cicak..... Sak blandare. (tubuhku seperti tertimpa cicak...... bersamaan dengan tiang cicak itu nemplok)....