
Beberapa kali Riyan menjemputku pulang sekolah. Kami mampir kestodio musik milik Simpel. Stodio musik yang sebenarnya garasi mobil. Rumah milik orang tua salah satu personel. Andi namanya, pembetot bass sekaligus backing vocal Simpel. Garasi rumah yang disulap cukup epic. Nuansa hitam kelabu dominan. Beberapa alat musik tertata didalamnya. Juga kursi dan bangku berserak bersama efek gitar dan kabel. Bukan stodio megah. Bahkan suara alat musik masih sayup terdengar dari luar garasi.
Aku jadi sedikit mengenal personel Simpel. Yang jelas mereka bukan pelajar biasa. Dompet mereka dipastikan tebal dari lahir. Bukan bermodal uang warna coklat sebagai uang saku. Dua dari lima anak Simpel sudah mahasiswa. Cleo, drumer dan Andi. Tiga yang lain masih anak SMA. Riyan dan Feri, kibord satu sekolah meskipun beda kelas. Feri kakak kelas Riyan. Satu lagi bernama Renan, melody. Siswa SMA terkenal dikota ini. Walaupun negri tapi terhitung faforit. Peminatnya kebanyakan anak anak berkantong tebal. Setahuku dia sudah kelas dua. Personil Simpel adalah cowok cowok yang asik. Mereka sangat solid dan rame.
"Ini cewek yang kemarin diSMK xxx kan?" tanya Cleo saat pertama aku dikenalkan. Aku mengangguk dan menyalami mereka satu satu.
"Dia dulu satu SMP denganku. Cewek cantik yang selalu juara kelas." Kata Riyan membuatku malu. Mereka manggut manggut.
"Hebat, belum kenal jauh tapi kurasa kamu hebat Put. Riyan tidak pernah bertahan setengah tahun dengan cewek, tapi kamu diingat bahkan sejak dia ingusan." kata Re sambil bercanda. Riyan melempar jaketnya kemuka Re. Semua orang tertawa.
Kami di stodio kadang beramai ramai. Kadang berdua berdiskusi puisi yang kubuat sebelumnya.
"Apa kata ganti untuk 'melayang'?" Tanyanya, karena kata 'melayang' tak sesuai dengan nada. Aku berfikir sejenak.
"Terbang, tak napak atau ringan mungkin." Jawabku. dia mencoba mengganti kata kata itu. Gumaman keluar dari mulutnya dengan nada. Tampan, dia tampan kalau sedang berfikir keras seperti ini.
***
Kami siang itu hanya berdua lagi. Riyan menjemputku dari sekolah. Personil yang lain tak nampak batang hidungnya.
"Kemana yang lain?" Tanyaku.
"Mungkin sebentar lagi. kami sudah janji latihan." Kata Riyan. Aku manggut manggut duduk dibangku panjang. Dia duduk disebelahku memangku gitar mulai menyanyi.
Entah karena terbawa suasana syahdu atau apa. Aku menyandarkan kepalaku dibahunya. Sambil terus membaca novel yang kupegang. Sejak kejadian dikebun teh, Riyan sama sekali tak melakukan hal kurang ajar lagi padaku. Hanya sesekali memegang tangan. Itupun jarang. Ini kontak fisik kami yang lain selain berpegangan tangan. Riyan membenarkan letak kepalaku sambil mengusap pelan. Kurasakan tangannya menyentuh rambutku. Merambat kepipiku mengsapnya dengan sayang. Kemudian kembali sibuk dengan gitarnya. Tanpa ada sepatah katapun terucap.
Posisi seperti itu berlangung cukup lama. Bagiku sangat nyaman. Bersandar di bahunya yang hangat. Meniknati aroma parfumnya yang serasa begitu dekat dihidungku. Menikmati petikan gitarnya sambil membaca novel dan tenggelam dalam kisahnya.
"Ehem, eh ada yang lagi mesum nih." Re mengagetkan. Aku langsung menjauh dari tubuh Riyan.
"Mesum apanya? Matamu gak lihat kami masih pakai baju lengkap?" Kata Riyan. Re tertawa bermunculan dibelakang Re personil yang lain. Latihan dimulai.
***
Pelan tapi pasti aku semakin dekat mengenal Riyan. Hidupnya tak seindah wajahnya.
"Aku gak tahu wajah ibuku. Gak ingat. Yang kutahu ibuku meninggal waktu aku kecil. Berpindah dari satu penitipan anak kepenitipan anak yang lain. Sore dijemput pembantu yang ganti ganti juga orangnya." Kata Riyan mengawali cerita dirinya. Aku manggut manggut mendengarkan.
"Aku juga lebih tua tiga tahun darimu. Karena tiga kali tinggal kelas di SD." Katanya lagi. Kali ini aku ngakak. Dia mencubit pipiku.
"Apa yang kau lakukan sampai tinggal kelas tiga kali?" Tanyaku.
Masa kanak kanak yang kacau tanpa cinta walau bergelimang harta. Apapun yang dia minta tinggal sebut. Pasti terkabulkan beberapa hari kedepan, namun begitu sepi. Karena barang barang mewah sekalipun tidak bisa menggantikan perhatian tulus seseorang padanya.
Ayahnya membawa perempuan lain untuk tinggal dirumah saat dia memasuki SMP. Riyan dan Mami Lia hidup seatap tanpa saling mengganggu.
"Tapi Mamiku masih mau mengambilkanku rapot. Sedikit repot juga saat aku demam. Aku senang diperhatikan." Kata Riyan.
Aku memegang tangannya saat ia mengakhiri kisahnya.
"Aku hanya bercerita, tidak mau dikasihani." Katanya menepis tanganku. Stodio saat itu lagi lagi hanya ada kami berdua.
"Aku gak kasihan sama kamu. Aku cuma berterimakasih karena kisahmu akan jadi cerpen yang indah nanti." Hiburku. padahal air mata sudah mengembun dimataku. Kutahan untuk tidak menetes didepannya. Aku merasa bersyukur meski hidup dalam keluarga pas pasan. Ada Ayah, Ibu, dan dua Kakak perempuan yang menjagaku. Menyayangiku dengan sepenuh hati.
"Heh, jadi ide cerpenmu yaa...." Dia tersenyum miring. Berdiri dari duduknya meletakkan gitar listrik yang dia bawa pada dudukan gitar.
"Sudah sore, ayo pulang." Katanya sambil merentangkan tangan. Aku menyambut tangannya. Dia menarik tanganku membantuku berdiri.
"Kamu gak pernah olah raga ya? atau jarang minum susu? Tinggimu gak berubah dari SMP." Katanya saat kami berdiri berhadapan. Benar juga, dia terlihat lebih jangkung. Walaupun sebenarnya aku tidak terlalu pendek untuk ukuran anak perempuan.
"Aku ini ideal, kamu yang kepanjangan." Jawabku seenaknya. Dia tertawa..... seperti biasa tawanya manis sekali. Kenapa dia makin hari makin tanpan? Dia menatap mataku sambil tersenyum.
"Jangan lupa bernafas. Aku gak mau ya ketampanaku membuatmu pingsan karena lupa nafas." Katanya mengajek sambil senyum maut lagi. Aku kepergok mengamati wajahnya........ MALU......... kupukul dadanya dengan tanganku.
"Dasar sok ganteng!!!! Emang siapa yang lupa bernafas?!!! Emang kamu ganteng banget gitu sampai aku lupa nafas gegara lihat waj......." kalimatku menggantung diudara. Tanganku ditangkap dengan dua tangannya. Sapuan bibir lembut membungkam mulutku. Hanya sekilas. Mungkin sedetik. Hanya bibir nempel bibir, tapi rasanya duniaku berputar melambat....Dia berjalan menjauh membuka pintu.
"Aku harap kamu gak pingsan di tempat atau berencana jadi patung Put. Ini sudah sore." Katanya santai didepan pintu. Aku tergagap seolah baru saja terhempas dari ketinggian. Dia berjalan lagi menuju motor besarnya. Aku ikut keluar dari stodio Simpel sambil mengatur nafas.
Dijalan aku ingin memukul kepalanya. Atau meremas pundaknya. Setidaknya memaki maki dengan kata kata kasar. Tapi nyatanya tubuhku erat memeluk pinggangnya. Kepalaku bersandar di punggungnya dengan nyaman. Helem yang biasanya kupakai tertinggal di stodio. Enak juga pose seperti ini. Bersandar dipunggung tanpa helem.
Seperti biasa dia mengantarku didepan gang.
"Helemnya ketinggalan." Kataku saat turun. Dia mengngguk.
"Gak papa. Kalau perlu gak pakai helem terus aja. Aku suka dipeluk seperti itu." Katanya.
"Tapi rambutmu jadi berantakan." Katanya lagi sambil merapikan rambutku. Meremas ujung rambutku yang mengeriting.
"Sampai jumpa lagi." Kataku dan berbalik meninggalkannya. Dia mengangguk sambil tersenyum.
Aku berjalan menuju rumahku sambil senyum senyum meraba bibirku. Bibirnya tadi kenyal dan lembut. Seperti ini rasanya ciuman?? Aaaaaa ini ciuman pertamaku.