
Sampai rumah aku membalas pesannya.
'Gak boleh nakal, aku iseng karena kamu cemberut aja.' ketiku.
'Isengmu bikin aku terlihat gak profesional, tapi aku suka.' balasnya.
'Nanti jam berapa?' ketikku mengalihkan topik. Kayaknya dia gak suka dicium pas lagi kerja hihihihi.Tidak terbalas lama....
'Pulang kerja jam 4 atau jam 5.' balasnya setelah hpku jamuran.
Aku mandi jam 4, kemudian dandan cantik. Walaupun belum lipstikan. Sampai jam 5 belum ada tanda tanda dia datang. Senja pun datang. Magrib sudah berkumandang. Kencanku dengan Revan mundur dua jam karena kerjaannya. Orang rumah sudah berkumpul. Berdesakan melihat televisi diruang tengah. Ada acara makan makan ditelevisi selalu sukses menurunkan liyur kami. Hahaha. Biasanya Ibu buru buru menyuruh kami makan.
"Walaupun lauknya gak sama, tapi lumayan menambah selera makan." Kata Ibu.
Suara mobil Revan terdengar dihalaman. Aku sudah tersenyum kecut. Habis bibirku malam ini. Dia menyalami satu satu anggota keluargaku. Kemudian pamit mengajaku pergi.
"Itu lipstiknya mana?" Kata Kak Sasa menunjuk bibir sendiri.
"Nanti aja dipakai dijalan." Kataku. Ngapain pakai lipstik kalau habis ini diacak acak.
"Lah ini bocah gimana? Kencannya sekarang pakai lipstiknya nanti nanti." Kakakku heran. Mas Dipo melirik Revan. Yang dilirik senyum senyum gak jelas.
Dimobil dia anteng. Biasanya akan banyak alasan menghentikan mobil sembarangan. Kemudian membengkakan bibirku.
"Ini mau kemana?" Tanyaku. Hening.... dia gak niat jawab.
"Erwinnya ketemu?" Aku teringat teman sekelasku yang dikejar kejar Revan dan temannya.
"Belum, dia licin." Katanya singkat. Seperti biasa sangat tertutup masalah pekerjaan.
"Kamu masih mau kerja sore?" Tanyanya.
"Emang ada? Apa? Mamas punya info lowongan?" Aku antusias. Dompetku sudah menipis. Walaupun Ibu memberiku uang saku dan membayar semester ini, tapi aku lebih suka bayar semesteran pakai uangku sendiri.
"Ada, jadi admin kecil kecilan. Kalau mau kita kesana sekarang." Katanya. Aku mengangguk semangat.
Mobilnya justru berhenti dirumahnya. Ini orang mau ngerjain aku? Dia turun dan membukakan pintu mobil untuku.
"Katanya mau ngelamar kerja, tapi malah kesini." Kataku heran.
"Iya, kerjamu nanti disini." Jawab Revan santai.
"Kamu mau jadiin aku pembantu?" Tanyaku. Dia tertawa.
"Kalau pembantunya secantik kamu, aku kekepin terus dikamar." Katanya menggandengku masuk.
Aku bertemu Ayahnya. Ternyata mereka butuh orang yang mengurus pembukuan dan nota nota usaha mebel rumahan mereka.
"Orang yang biasa bantu bantu keluar Nduk, Bapak bingung kalau ngurus sendiri. Revan juga sibuk. Kasihan kalau masih ditambah kerjaan." Kata Ayahnya. Aku mengangguk setuju. Pekerjaannya hanya mencatat pesanan, waktu dedline, mencatat pengeluaran dan pemasukan. Yahh pokoknya pembukuan sederhana.
"Sementara ini biar dibantu Revan. Nanti kalau udah bisa jalan sendiri. Bapak cari angin sebentar." Katanya meninggalkan aku dan Revan berdua.
Dia mengajaku masuk kekamarnya. Akan dijelaskan disana katanya.
"Disini aja." Aku tahu itu modus.
"Aku udah buatin program yang mempermudah. Komputerku dikamar." Kata Revan meyakinkan. Aku nurut ikut kekamarnya.
"Dulu yang bantu juga keluar masuk kamarmu?" Tanyaku. Dia tertawa. Membuka pintu kamarnya. Ternyata komputernya laptop!!! Asemmmm aku dikerjain. Tentu saja belajar program dan penjelasannya mengandung konten dewasa. Pantas saja dia anteng dimobil tadi.
Kamar yang cukup berantakan. Kalau Riyan dulu kamarnya rapi dan estetik, kamar Revan cukup acak acakan dan apa adanya. Walaupun lebih besar dan lebih bagus dari kamarku tentunya.
Aku sudah benar benar gerah. Ada hasrat lain yang mendesak. Aku mau lebih dari ciuman. Revan menghentikan aktifitasnya. Berpindah duduk diranjangnya. Sebelumnya kami lesehan menghadap laptop yang menonton adagan dewasa kami. Aku justru duduk dipangkuannya. Menciumi bibirnya lagi. Dia menghentikan ciumannya.
"Udah Dek, udah dulu........ aku bisa gak tahan.... " Kata Revan kemudian menurunkan aku dari pangkuannya.
"Aku mau lebih." Kataku kembali menciumi pipinya. Turun kelehernya. Aku meraba perutnya yang berotot keras.
"Aku ambil minum." Katanya kabur.
Kembali lagi membawa dua gelas air minum.
"Kalau mau lebih nikah dulu. Aku gak mau ngerusak anak gadis orang." Katanya. Sekilas aku ingat Riyan mengatakan hal yang sama dulu.
"Eh, ada tamu. Dibawa kekamar lagi!!! Kok ya mau dikamar cowok." Katanya. Tuh kan udah ngajak perang.
"Aku yang ngajak. Dia gantiin Mirna sekarang." Kata Revan.
"Kalau butuh orang kenapa gak bilang? Aku bisa bantu." Katanya seolah gak terima aku bantuin. Revan tertawa.
"Kegiatanmu itu mirip mirip kegiatanku. Kalau bisa kepegang kamu, aku juga bisa pegang, gak butuh orang Ne." Kata Revan. Ine tersenyum kecut.
"Ya udah aku pulang dulu." Kata Ine berbalik menuju teras.
"Lah tadi ngapain kesini?" Revan kepo.
"Awalnya mau minta antar belanja. Sekalian makan malam. Gak jadi kamu ada urusan kayaknya." Katanya berlalu pergi. Revan anteng aja dia pergi.
"Jadi kamu biasa nganterin belanja!!?" Tanyaku. gak santai. Revan tersenyum.
"Cuma nganterin Ine blanja bulanan." Kata Revan.
"Owww, kayak pacaran aja ya!! Aku aja gak pernah tuh kamu anterin blanja bulanan!!" Kataku sebal. Revan mendudukkanku di sofa ruang tamu. Menjelaskan kalau hubungan Ine dan dirinya hanya sebatas teman. Mungkin sudah mirip kakak adik. Tidak ada yang perlu dicemburukan.
Aku tetep saja manyun. Gimana tidak. Jelas jelas Ine itu suka Revan. Aku merasa Revan terancam tiap kali deket Ine. Mulutnya aja sadis gitu.
"Udah yaa manyunnya. Kalau aku suka dia, aku udah pacarin dari dulu. Bukan mengejar bocah ingusan yang lagi PKL. Makan yuk.. mau makan apa?" Tanya Revan sambil mengelus rambutku.
"Terserah." Jawabku.
"Mau mie jawa dekat sini?" Tanya Revan.
"Gak mau mie." Jawabku ketus.
"Trus mau apa?"
"Terserah!!"
"Bakso? Atau mau ke mac** di dalam mall itu?"
"Gak mau."
"Trus mau makan apa?"
"Terserah."
"Sate atau mau steak di O***. Enak lho kemarin aku makan disana."
"Gak mau."
"Trus mau makan apa adek?"
"Terserah." Kataku. Revan tepok jidat.
"Pilih makanan sekarang atau balik kekamar!!" Ancamnya.
"Mie jawa pedes." Jawabku buru buru. Dia tetap mengigit bibirku sekilas.
Kami jalan kaki kewarung mie jawa. Melewati rumah Ine. ternyata benar mereka tetanggaan. Keluarga Ine ternyata buka warung makan, tapi disiang hari sepertinya. Beberapa tetangga menyapa Revan dengan ramah.
"Weeeee pacar baru Van?" Kata tetangganya yang gendong anak.
"Calon istri." Kata Revan santai. Jantungku berdesir saat dia mengatakan itu.
"Cepetan nikah, ini lho anakku udah dua, kamu masih gandengan sama calon istri. Hahahaha." ledek temannya. Revan cuma tersenyum kecut. Kami berlalu terus berjalan di area perkampungan ini. Kalau dipikir pikir rumah Revan sedikit mencolok dari yang lain. entah besarnya, entah bangunannya. Sepertinya dia cukup kaya dikampung ini.
Sampai diwarung disapa lagi sama pemilik warung.
"Eh, Mas Revan..... bawa cewek cantik lagi." Kata penjual sambil memperhatikan aku. Revan tersenyum dan memesan. Kami duduk lesehan sambil menunggu pesanan.
"Kamu sering kesini Mas?" tanyaku. Revan mengangguk.
"Disini enak gak harus jalan jauh dari rumah. Kadang malas kalau udah lapar, tapi masih naik motor cari makan." jawabnya. Revan cerita kalau dia jarang makan dirumah. Gak ada yang masak. Jadi pagi, siang, sore ya makan diluar. Hidup tanpa ibu sepertinya gak enak yaa.
"Karena itu aku suka berada dirumahmu. Ada Ibu yang cerewet, ada Kakak yang setengah kopling. Ada Ayah yang asik. Aku iri dengan keluargamu yang hangat." Katanya pilu. Aku menggenggam tangannya sambil tersenyum.