I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 55



Aku berlari menuju Revan yang sedang turun dari mobil. Aku bahagia sekali melihatnya. Aku kangen, aku mencintainya. Aku senang dia menjemputku. Aku langsung nemplok minta gendong. Revan langsung menangkap tubuhku dalam gendongannya. Memutar tubuhnya beberapa kali, kemudian menurunkanku. Menciumi seluruh wajahku dengan ciuman kecil.


"Kamu baik baik saja?" Tanya Revan. Aku mengangguk cepat.


"Kamu? Kamu baik baik saja Mas? Keadaannya kacau tadi, aku takut kamu terluka." Tanyaku balik pada Revan.


"Aku baik, semua aman sekarang." Kata Revan sambil mendekatkan wajah kami. Menggesek hidungnya dengan hidungku.


Pandangan Revan beralih pada Riyan dan Bagas yang ternyata sudah berdiri dibelakangku. Riyan bangun ternyata. Dia pasti bangun karena teriakanku memanggil Mamas hihihi. Revan melingkarkan tangannya diperutku. Dia posesif sekali.


"Terimakasih atas bantuannya. Aku memintamu menjemputnya, kenapa malah dibawa ketempat sejauh ini?" Tanya Revan.


"Kau pikir aku akan mengantarkannya pulang? Bisa mati aku digolok Ayahnya. Aku bukan menantu idaman mereka. Lagi pula darimana kamu tahu kita disini. Aku berencana menculiknya kalau kau tak mengacau." Kata Riyan.


"Kau pikir aku tidak bisa melacak keberadaan pacarku." Kata Revan sambil tersenyum. Revan kemudian mendekatkan bibirnya ketelingaku.


"Ayo pulang, ambil tasmu." Bisik Revan.


Aku berlari kedalam vila. Menyambar tas slempang dan jasku.Dalam sekejap aku sudah berada disamping Riyan dan Bagas yang berdiri berdampingan.


"Riyan, Bagas terimakasih untuk hari ini. Aku tertolong berkat kalian." Kataku sambil memegang pundak dua pria itu. Riyan mengambil tanganku dan menciumnya.


"Kapanpun kau butuh bantuan sayang." Kata Riyan sambil melihat mataku. Dia terlihat.... sedih.


Revan mendekat memukul keras dada Riyan dengan telapak tangannya. Bersama dengan beberapa kertas yang dia ambil dari dalam mobil. Riyan menangkap kertas kertas itu.


"Ini... tidak akan merubah apapun. Riyan Nur Permana." Kata Revan dengan suara bergetar. Menyebut nama lengkap Riyan. Kemudian menggandeng tanganku menuju mobil. Aku penasaran kertas apa itu. Aku masih menoleh kearah Riyan. Dia membaca baca sekilas kertas dari Revan. Revan sudah membuka pintu samping penumpang. Aku masuk baru setengah badan.


"Hey Bro!!! Ini berita gembira bukan!! Kita bisa bersaing untuk mendapatkan Putri dengan adil. Aku sudah menuntaskan kerinduannya pada bibirku!! Bibirnya masih sama manisnya!" Teriak Riyan. Membuat Revan langsung mendatanginya. Satu pukulan mengenai rahang Riyan. Aku menjerit. Berlari kearah mereka. Kupeluk Revan agar tidak melakukan lebih. Riyan terjengkang, tapi justru tertawa. Sepertinya bukan pukulan yang keras, tapi karena Riyan setengah mabuk jadi mudah terjengkang.


"Bagaimana kita bisa seperti ini eh? Ini lucu sekali." Katanya setengah tertawa setengah menangis. Revan dengan cepat menggandengku menuju mobil. Riyan masih berteriak entah apa. Merancu sambil menangis dan tertawa. Kenapa ini?


Mobil sudah berjalan menuruni perbukitan. Hening dalam mobil. Kukira dia marah karena aku ciuman dengan Riyan. Namun lama lama kulihat buliran air bening jatuh dari matanya. Aku sampai mengucek mataku. Tidak percaya seorang Revan menangis. Tanganya mencengkeram kemudi sampai memutih buku buku jarinya.


"Mamas kenapa?" Tanyaku heran. Tidak terjawab. Justru isakan terdengar. Dia benar benar menangis?


Dia menepikan mobilnya. Menutupi mukanya dengan tumpukan tangannya. Bersandar pada stir mobil. Aku mengelus punggungnya pelan. Lama posisi seperti ini dalam keheningan.... hanya isakan kecil dari Revan yang terdengar.


Revan mengangkat kepalanya. Air mata masih menggenang dipipinya.


"Dia adikku. Dia adikku yang kulihat dalam perut Ibu beberapa bulan sebelum Ibu meninggal." Kata Revan. Aku melongo, tubuhku serasa merinding semua.


"Maksudmu..... Riyan?" Tanyaku tidak percaya. Dia mengangguk. Aku menutup mulutku yang menganga.


"Aku mulai curiga dengan pembicaraan Ayahmu Dan Pak De Bass. Katanya istri Nur tewas dihotel yang sama dengan tempat tewas ibuku."


"Tapi kasus itu sudah terlalu lama, sulit dicari filenya. Kemudian aku dapat ide mengambil sempele rambut Riyan saat ribut direuni. Aku menyerahkan sempel rambut Riyan dan rambutku untuk tes DNA. Sambil menunggu hasil tes, aku pergi kecatatan sipil. Mencari dokumen tentang Riyan." Kata Revan kemudian menghela nafas. Revan menemukan akta Riyan hanya tercantum nama Ibu. Nama itu sama dengan nama ibu kandungnya.


"Hasil tes keluar. Menyatakan kalau kami saudara. Salinan bukti bukti itu yang kuberikan pada Riyan tadi." Kata Revan sambil terisak.


"Dia adikku yang bahkan aku nanti nanti dulu. Agar aku tidak kesepian bermain sendiri. Dia satu ibu denganku..... Kami satu ibu!!!Tapi bahkan jalan hidup memisahkan kami sampai bersebrangan seperti ini. Aku.....tidak bisa mengajaknya main futsal atau modif motor..... Aku..... memburu adikku sendiri." Kata Revan sesenggukan. Air mata tumpah lagi dipipinya. Aku membelai punggungnya lagi.


"Aku bahkan merindukannya walaupun belum pernah bertemu. Dulu Ibu bilang dia adik yang akan bisa menjagaku. Kami akan saling menjaga. Sebagai saudara!!" Kata Revan sambil memukul tangannya kekemudi. Aku sudah ikut sesengukan bersamanya. Air mataku deras mengalir. Dia mengusap air mataku dengan tangannya.


"Bahkan aku harus bersaing dengannya untuk memperebutkan hatimu. Kami harus bersaing lagi karena cinta." Katanya sedih. Aku merengkuhnya dalam pelukan. Kami saling bertangisan dalam pelukan yang erat.


Hening.... lama kami bertangisan. Membagi beban dihatinya. Ini ternyata masalahnya, yang tidak dia katakan dulu.


"Tapi itu tidak merubah apapun." Katanya melepas pelukan kami. Revan mengusap air matanya yang masih tersisa. Kemudian mengusap air mataku.


"Dia yang memilih jalan hidupnya sendiri. Aku juga memilih jalan hidupku sendiri. Aku akan terus memburunya." Kata Revan. Aku merinding lagi. Dia memegang daguku.


"Aku juga akan tetap bersaing dengan Riyan untuk memperebutkan hatimu." Katanya sambil mengusap bibirku dengan keras menggunakan ibu jarinya. Seakan ingin menghapus ciuman Riyan tadi. Kemudian menciumku dengan rakus. Hanya memberiku jeda menarik nafas sebentar. Hingga udara gunung yang dingin berubah panas bagiku.


Adegan itu terhenti karena telfonku berbunyi. Telfon dari Ayah.


"Halo Yah." Kataku sambil menata nafas.


"Kamu ikut demo? Ayah lihat diberita kampusmu ikut demo rusuh." Kata beliau cemas.


"Kau baik baik saja Nak?" lanjut beliau.


"Aku baik Yah, aku baik. Aku gak ikut demo kok." Kataku ngibul lagi.


"Apa gunanya ikut demo? Aku bukan orang bodoh. Aku lebih suka kerja daripada demo tidak berguna. Ayah tenang saja aku ada dirumah Mamas sekarang. kerja." Kataku. Revan nyekikik disampingku.


"Sejak kapan kamu pandai memutar fakta?" Tanya Revan saat panggilanku berakhir.


"Sejak aku tahu tidak semua bisa aku ceritakan." Jawabku santai.


"Kehilangan cara bercerita pada orang lain adalah salah satu wujud kedewasaan." Kataku lagi sok bijak.


Dia tersenyum. Aaaa... senyumnya itu, seperti aku melihat pelangi setelah hujan. Indah sekali. Aku mencium tangannya.


"Tetap tersenyum seperti itu Mas, aku suka senyumu. Aku mencintaimu." Kataku. Dia sedikit melongo dengan pernyataan cintaku. Aku kembali mencium bibirnya sekilas.


"Ayo pulang." Ajakku pada Revan.