
Revan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tapi rasanya ac dimobil ini kurang dingin. Aku gelisah duduk dikursi belakang. Bersama dengan Ayah dan Ibu disamping sampingku. Revan dan Bapak duduk di kursi depan. Kami akan sidang bp4r atau apa entah namanya. Yang jelas kembali kekantor polisi yang..... menakutkan. Aku kembali menyetel ac di tengah.
"Nduk, kita bisa membeku kalau sedingin ini." Ibu protes.
"Panas Bu, aku kegerahan." Kataku.
"Ah biasa aja kok. Ini udah dingin banget malah." Ibu gak mau kalah. Revan memberikan air mineral yang selalu ada di jok depan.
"Minum. Tarik nafas." Katanya padaku. Aku menerimanya.
"Istrimu ini kenapa tow Van?" Kata Ibu
"Dia biasa begitu Bu, kalau mau masuk kantor polisi." Kata Revan. Membuat Ibu makin kepo. Memberondongku dengan pertanyaan ini dan itu. Kenapa sampai setakut itu kekantor polisi.
"Gak papa Bu, aku cuma tegang nanti mau diapain." Jawabku.
Sidang dimulai. Didepan sana ada bapak angkatnya Revan Pak Sidiq dan temannya. Disamping ada Bu Nirmala dan seorang lagi berseragam bhayangkari. Aku duduk berdampingan dengan Revan. Dibelakangku ada Ayah dan Ibu. Belakangnya lagi ada Bapak. Revan berkali kail menepuk tanganku dalam pangkuan.
"Tenang, tanganmu bisa membuat gempa dikantor ini." Bisik Revan mengejek. Dia terus menepukkan tanganya ringan ditanganku. Sidang dibuka. Kami ditanyai Pak Sidiq pertama kali. Ada 4 pasang yang mengikuti sidang ini termasuk aku.
Kami disuruh berdiri.
"Iptu Revan dan calon istrinya. Sudah berapa lama pacaran?" Tanya Pak Sidiq pada Revan. Aku yakin itu hanya formalitas. Tentu saja Revan sudah cerita semua sama Ayah Angkatnya.
"Siap, sudah hampir 5 tahun Pak." Jawab Revan mantap. Pak Sidiq manggut manggut.
"Sudah benar yakin?" Tanya Pak Sidiq lagi.
"Sudah Pak." Jawab Revan.
"Mbak Putri sudah yakin?" Tanya Pak Sidiq kepadaku.
"Sudah Pak." Jawabku.
"Mbak Putri sudah tahu gaji calon suami?" Tanya Pak Sidiq lagi.
"Sudah Pak." Jawabku.
"Sudah tahu tugasnya?" Tanya Pak Sidiq.
"Sudah Pak." Jawabku mantap.
"Apa?" Tanya Pak Sidiq lagi. Aku berpikir sejenak.
"Tugasnya ngejar ngejar bandar narkoba sampai lupa waktu Pak." Jawabku. Tawa terdengar diseisi ruangan, Pak Sidiq juga tertawa. Kemudian cukup lama Pak Sidiq diam memandang aku dan Revan bergantian.
"Anda pernah menjadi korban penculikan karena tugas calon Anda bukan? Ada trauma?" Tanya Pak Sidiq lagi. Aku lama terdiam. Tentu saja ada. Tapi apa harus dijawab begitu. Kalau tidak diterima aku gagal nikah dong.
"Dijawab." Kata Pak Sidiq lagi, karena melihat aku terdiam.
"Bagus, saya tidak mau ada alasan konyol keluar dari kepolisian karena pacar trauma." Kata Pak Sidiq tegas. Tawa terdengar. Aku kaget dan menoleh ke Revan. Dia pernah mengajukan resign? Yang kutoleh hanya anteng pandangan lurus kedepan.
"Bapak calon mempelai wanita. Wah Beliau adalah motifasi saya menjadi polisi." Kata Pak Sidiq. Pandangannya mengarah pada Ayah. Ayah pun berdiri bersama Ibu.
"Iya Pak." Jawab Ayah.
"Benar ya Revan ini calon mantu Anda?" Tanya Pak Sidiq.
"Benar Pak." Jawab Ayah.
"Sebentar lagi mantu anda seorang polisi. Nduwe bedil (punya pistol)." Kata Pak Sidiq menirukan nada Pak De Bass dulu saat lamaran. Kami cekikikan termasuk Pak Sidiq.
"Bapak Aji." Kata Pak Sidiq setelah tawanya reda.
"Iya Pak." Bapak Berdiri. Pak Sidiq terdiam cukup lama.
"Ayo kita antar Revan menikah. Ayo kita antar anak kita menuju hidup baru dengan wanita yang dia cintai." Kata Pak Sidiq haru.
"Siap Pak." Jawab Bapak juga dengan keharuan.
Selajutnya giliran mempelai lain di tanya. Tidak semendetail pertanyaanku dengan Revan tadi. Curang ihhh.... padahal aku disuruh menjawab ini dan itu.
Pak Sidiq juga memberikan wejangan pernikahan. Cara cara agar tetap harmonis walau sudah lama berkeluarga.
"Mendapatkan itu mudah. Yang sulit itu mempertahankan dan komitmen pada satu pilihan yang sama, karena manusia itu penuh dengan napsu dan kebosanan." Kata Beliau mengakhiri nasehatnya.
Kemudian salah satu Ibu Bhayangkari juga memberikan wejangan. Mencontohkan model baju, tatanan rambut, dan sepatu yang dikenakan oleh anggota Bhayangkari. Ternyata bajunya berbeda model. Antara seragam biasa dan seragam saat hamil. Jilbab pun ada aturannya. Wooow ini pengalaman baru untukku. Walaupun aku tidak yakin mampu berorganisasi dengan baik. Aku ikut eskul saja malas malasan dulu. Kalau gak wajib gak ikut hihihihi.
Kami pulang setelah sidang ditutup. Revan menggandeng tanganku berjalan lebih pelan dari orang tua kami.
"Aku tidak tahu kamu selalu merindukanku. Kapan? Kenapa tidak datang dan minta peluk?" Tanya Revan sambil senyum senyum.
"Aku juga tidak tahu kamu sempat mengajukan resign?" Tanyaku. Dia tersenyum. Benar benar lesung pipinya kesepian bertengger disana. Machonya berkurang 40%. Padahal dia pakai baju polisi lengkap. Sepertinya seleraku berubah dari pria pria rapi licin tanpa jenggot menjadi pria awut awutan berbewok tebal.
Aku melihat Ine dari kejauhan. Mukanya terlihat sendu. Aku melambaikan tangan, berusaha ramah. Dia malah buang muka dan pergi.
"Pemujamu patah hati Mas." kataku pada Revan.
"Harus. Dia harus menerima kenyataan Dek. Mungkin berat, tapi aku tidak pernah memberi dia harapan. Aku hanya menganggap dia sebagai adik. Adik perempuan yang kusayangi." Kata Revan.
Kami mampir makan siang sebentar dengan para orang tua. bercanda hangat dengan mereka. Bapak berkali kali bilang kalau beliau sangat bahagia.
"Saya yang akan menjaga Putri setelah mereka menikah. Saya senang akhirnya punya anak perempuan yang cantik. Dia juga bisa diandalkan dalam berbisnis." puji Bapak padaku. Ahh senangnya punya calon mertua yang begitu tulus menyayangiku.
***
NB: Jangan disamakan dengan nikah kantor yang asli yaaa Bestie. Ini hanya untuk kepentingan novel jadi didramatisir. Hihihihihi