Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 102



Happy Reading...


Kembali Kai membawa mobilnya membelah panasnya ibu kota dengan istrinya yang sedang dalam mode Senyap.


Zahra tidak mengeluarkan ocehannya semenjak mereka keluar dari kafe. nyali Kai semakin menciut saat ia hendak mengeluarkan suara bahkan baru membuka mulutnya. pandangan mata zahra yang tajam seolah menusuk jantungnya.


Bahkan tangan Kai di tepis sangat kasar saat ia ingin membelai perutnya yang bahkan Zahra sendiri tak tau maksudnya.


Namun kai tak putus Asa, ia tau bahkan sangat tau kenapa iatrinya menjadi begitu pemarah dan cerewet.


"Berhenti menggerayangiku Kai." Zahra memukul punggung tangan kai yang sedang mengelus perutnya.


Kai menghembus nafas kasar, ia tak marah di perlakukan seperti itu. karena memang ia sendiri yang salah karena tak memberitahu keadaan sebenarnya bahwa istrinya sedang berbadan dua.


"Coba katakan kenapa kau sangat marah hingga aku tak boleh menyentuhmu." Kai masih tak berputus asa mencoba mengajak wanita yang tiba-tiba jadi singa galak itu untuk bicara.


"Karena kau liar." Zahra menekankan kata-katanya membuat kai melotot karena mendengar kata liar. "Dan dia juga sudah memeluk dan menciummu dan kau diam saja." Kai mengulum senyum mendengar ucapan istrinya. "Dan kau sekarang malah tersenyum." Zahra mendelik tajam. Kai sudah tak tahan untuk tidak terbahak. cukup mengerti bahwa istrinya saat ini sedang cemburu. Baiklah nyonya.


"Diam dan jangan tertawa atau malam ini kau tidur di balkon." Bentak zahra kesal karena di tertawakan dan seketika Kai berhenti tertawa dan memaksa bibirnya untuk mengatup. kesejahteraan adik kecilnya di pertaruhkan saat ini. Sial.


Dan sisa perjalanan mereka pun di lanjutkan dengan saling diam. hanya Kai yang sesekali melirik istrinya yang sedang memejamkan mata.


Kai membenarkan anak rambut zahra yang menutupi sebagian wajahnya seraya membelai wajahnya dengan penuh kasih sayang.


Wanitaku, kau galak sekali. aku tau ini adalah awal dari siksaan yang akan aku terima selama kau mengandung. aku sudah siap sayang.


Zahra yang sebenarnya tidak benar-benar tertidur merasakan semua yang di lakukan kai sebenarnya. dia tersenyum dalam diamnya merasakan cinta yang luar biasa yang dilakukan kai terhadapnya.


***


"Mommy... Daddy... I'm coming.." lengkingan suara cempreng memekakkan telinga menggelegar di depan pintu di kediaman Almeida.


Tak satupun orang yang di panggil menampakkan batang hidungnya. suasana sepi pada pertengahan hari menjelang sore kala itu.


Sura derap langkah dari sepatu kets dari sang pemilik suara terdengar mengelilingi seantero ruang keluarga hingga halaman belakang.


"Ah kemana semua orang, kenapa sepi sekali." gadis itu bermonolog sambil terus berjalan ke arah taman belakang.


Dengan kaki jenjangnya yang terbalut jeans bolong-bolong di bagian paha dan lutut berwarna baby blue dan T-sirt warna putih yang hampir mempertontonkan pusarnya secara gratis dan jangan lupakan outher berbahan denim warna senada yang ia tenteng begitu saja, keysa melangkah pasti menuju suara dari para penghuni rumah yang sedang bersantai di taman belakang yang luas.


Rambutnya yang panjang dan berwarna kecoklatan yang berkilau bergerak beriringan seirama dengan langkahnya yang cepat dan sedikit berlari.


Wajah cantik yang selalu terbingkai senyum ceria membuat seorang keisya semakin mempesona.


Sayup terdengar suara tawa ceria dari arah belakang mension tepatnya di samping kolam renang yang bersisian dengan sebuah taman bermain pribadi dimana Rain sering menghabiskan waktu.


Tampak disana Albert yang sedang memangku Rain sedang bercengkerama. dan juga kania dan kinan yang sedang berbincang. sedangkan aldi dan dea yang baru pulang dari rumah sakit pun berada disana. sungguh pemandangan yang membuat iri orang yang melihatnya. namun dimanakah sofia saat ini? jangan lupakan, dimanapun dia berada pasti akan terjadi keributan.


"Keysia, putri ayah." Albert menyambut putri kecilnya yang lebih sering bertingkah bar bar dari pada bersikap manis.


Keysia memeluk erat dan bergelayut manja pada Albert namun pandangan matanya terpaku pada sosok cantik yang sedang duduk bersama kania dan tengah menatap kearahnya.


Keisya memandang kinan tanpa berkedip seolah menyuarakan pertanyaan siapa dia.


"Siap dia dad?" pertanyaan itu di tujukan untuk Albert namun pandangan matanya masih tak beralih dari kinan yang sedang tersenyum kepadanya penuh arti.


"Siapa lagi jika bukan Nyonya besar pemilik kekayaan keluarga Almeida." Sofia berucap sinis seolah ia menjadi orang yang teraniaya disana.


Sedangkan Kinan yang di sindir tak merasa gusar sedikitpun. ia masih seperti biasanya, tersenyum simpul.


Dan Kania, wanita yang juga tak kalah bar-bar di saat tertentu itu hanya berdecih dan tersenyum miring.


Aldi yang sudah hafal betul sifat ibu tirinya hanya menggeleng dan tak terkejut sedikitpun. kecuali Dea yang memang belum begitu mengenal watak sofia membulatkan matanya sembari membuka mulutnya membentuk huruf O.


"Cukup Sofia!" Albert sudah jengah dengan kelakuan sofia yang mengakibatkan kepalanya berdenyut nyeri.


"Memang benar kan? tak ada yang salah dengan ucapanku." Albert menghembus nafas pasrah terlalu lelah menghadapi kelakuan sofia yang tak pernah berubah. tetap semaunya.


"Dad, apa maksud ucapan mommy?" Keysia menatap bingung pada kedua orang tuanya secara bergantian. meminta jawaban.


"Dek sini!" panggil Aldi sambil menepuk tempat duduk kosong di tempatnya. dan keisya menuruti tanpa banyak bicara. karena Aldilah yang paling dekat dengannya di bandingkan Kai yang memang memiliki sifat manja.


"Apa kabar kak!" keisya memeluk Aldi dan dea bergantian sebelum ia menjatuhkan pantatnya di tempat duduk sebelah Aldi.


"Kakak baik, tapi kakak sedikit takut jika ada keisya di sini." Keysia mendelik tajam membuat Aldi tergelak lalu meringis karena mendapat hadiah cubitan di pinggangnya dari istri dan adiknya yang sama-sama bar-bar.


Suasana yang sempat memanas karena ucapan sofia kini berangsur menghangat karena keceriaan yang Keysia hadirkan di sana. dan itu cukup membuat sofia semakin kesal karena hanya dirinya yang tak terlibat dalam obrolan keluarga.


Dan bersamaan dengan itu Kai datang bersama Zahra yang masih dengan kondisi cemberut.


"Sayang.. sayang.." panggil Kai namun zahra tak bergeming. justru ia semakin mempercepat jalannya.


"Cih, dasar!"


"Menyebalkan."


Ucap Aldi dan Rain komlpak.


"So sweet" ucap Kania berulah jadi kompor karena melihat Sofia yang memandang benci kemesraan mereka berdua.


Kania merasa menang karena melihat muka Sofia yang memerah karena emosi. dan itu semakin membuatnya bersemangat untuk selalu mengejek sofia.


***