
Happy Reading...
"Aku tidak tau di mana dia sofia!" terdengar teriakan Albert dari ruang kerjanya saat kai menginjakkan kaki di depan ruang kerja Albert.
Kai memang berniat menemui Albert untuk meyakinkan bahwa yang dikatakan Aldi tidaklah benar.
Kai tidak percaya begitu saja dengan apa yang didengarnya karena yang ia tau bahwa sofia sangat menyayanginya. dan akan melakukan apapun demi kebahagiaannya. setidaknya itu yang kai tau selama ini.
Kai tidak melanjutkan langkahnya, ia lebih memilih untuk menguping perdebatan kedua orang tuanya.
"Meskipun aku tau dimana gadis itu berada, aku tidak akan memberi tau mu." ucapnya selanjutnya.
Dari sepenggal kalimat yang kai dengar, ia menyimpulkan bahwa yang di katakan keysia beberapa hari yang lalu ada hubungannya dengan zahra.
"Berhentilah bersikap konyol sofia, kau bukan saja telah membuatku mengusir kinan tapi kau juga telah membuat putriku membenciku." albert meluapkan kekesalannya.
Tapi bukan sofia namanya jika wanita itu bisa tunduk pada Albert.
"Dan sekarang untuk apa kau menanyakan keberadaannya.?" Albert menatap tajam pada sofia.
"Aku hanya ingin dia menjauh dari kai." bohong sofia dengan sempurna. wanita itu menyembunyikan alasan yang sebenarnya kenapa ia menolak kehadiran zahra.
"Apa kau gila hah!" bentak Albert.
"Sebetulnya kau tau betul alasanku ingin membuatnya jauh dari kai. aku .." sofia mwnghentikan ucapannya saat suara pintu terbuka dengan sangat keras.
"Kai!" suara sofia tercekat. Albert memejamkan matanya. ia sebenarnya tak ingin kai mengetahui bahwa kepergian zahra karena ulah mereka berdua.
"Jadi benar yang Aldi bilang, bahwa kalian yang membuat zahra pergi." suara kai bergetar.
"Kau tidak tau aku hampir gila memikirkan mereka, dan sekarang aku akan benar-benar akan gila setelah tau kaulah dalang di balik kepergian mereka." teriak kai frustasi.
"Kau tau, mereka sangat berarti untukku. lebih dari hidupku! aku menginginkan mereka lebih dari apapun." teriaknya lebih kencang. kai benar-benar tak dapat mengontrol emosinya.
"Tidak, bukan itu sebenarnya. kau salah faham." sofia berusaha menjelaskan dan menyentuh tangan kai. namun kai menghempaskan tangan sofia perlahan. ia sangat kecewa terhadap sofia.
"kau tak perlu repot menjelaskannya mom, aku sudah mendengar semuanya. semua yang daddy ucapkan padamu." pandangan kai menghunus manik mata albert. pria tua itu bungkam. ia mengerti bahwa kai sangat kecewa atas sikap mereka.
"Tidak semua yang kau dengarkan itu benar sayang, semua yang daddymu katakan itu tidak benar." sofia terisak betapa hancurnya wanita itu.
"Benarkah?" pertanyaan itu di lontarkan untuk sofia namun tatapan mata kai mencari kebenaran pada air wajah albert. tak nampak kebihongan disana.
"Sayang, dengarkan mommy." sofia menghiba, ia takut kai membencinya.
"Sudahlah! aku sudah cukup mendengarnya." putus kai. ia segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruang itu dengan perasaan kecewa.
Sofia terkulai, lututnya terasa tak berotot wanita aroagant itu ambruk duduk bersimpuh. ia tak siap menerima kebencian dari putranya.
Tanpa berkata apapun, albert pun pergi meninggalkan sofia. wanita itu sudah menerima apa yang harus ia terima.
Kebencian dan kekecewaan dari kai sudah sangat menyakitinya. itulah hukuman yang pantas untuknya.
Kai yang tengah marah memilih pergi dari rumahnya. ia pergi untuk menenangkan diri. sangat sulit mempercayai bahwa yang selama ini membuat ia percaya telah menghianatinya.
Kai marah, sangat marah. seperti biasanya, saat amarah menguasainya pemuda itu akan ugal-ugalan di jalanan.
***
Pagi ini langit london begitu cerah. awan putih seperti gumpalan kapas menggantung dengan indahnya.
Namun sosok mungil yang tengah berguling-guling itu nampaknya hari ini sedang tak bersemangat.
Pria kecil itu kehilangan keceriaannya. Rain lebih banyak merengek dan terjaga. tidak seperti biasanya, yang selalu tertawa riang.
Meski usianya baru memasuki usia 7 bulan bayi kecil itu kelihatan tidak seperti anak di usianya. Rain tumbuh lebih cepat dari usia yang sebenarnya.
Baby rain sedang tidak baik-baik saja, pria kecil itu terus saja menangis. sedangkan zahra harus pergi ke kampus.
Zahra pergi dengan di antar oleh supir yang merangkap sebagai body guardnya.
Rain yang terus menangis tanpa sebab membuat pengasuhnya sangat khawatir. ia berusaha untuk menghubungi zahra, namun panggilannya tidak di jawab oleh zahra.
Dengan memberanikan diri akhirnya pengasuh rain membawa rain ke rumah sakit tanpa supir dan tanpa pengawalan. yang tentu saja itu akan membuatnya kehilangan pekerjaan jika kania sampai tau.
"Rain, diamlah nanny mohon." lirihnya yang hampir menanfis karena tak mampu membuat rain tenang.
"Apa kamu sakit atau kamu ingin sesuatu?" tanyanya menghibur, meski ia tau si kecil rain tak akan menjawab pertanyaannya. entahlah apa yang di inginkan bayi itu.
Rain terus saja memberontak dalam gendongan sang pengasuh. wanita itu putus asa dan kelelahan karena rain yang terus bergerak tak mau diam.
Menaruhnya dalam box mungkin sedikit membuatnya tenang. tapi tidak, rain terus saja menggerak-gerakkan kepakanya hingga, Dugh... dahinya terbentur tepian box.
Suster yang panik karena rain yang semakin kencang menangis tak memikirkan lagi rasa takut keluar rumah sendirian. ia lebih takut karena dahi rain yang memar.
Wanita itu pontang panting membawa rain ke rumah sakit sampai lupa bahwa saat itu tak ada yang menjaga keselamatan mereka.
Dengan sedikit berlari ia keluar rumah, secepatnya ia harus kerumah sakit tapi sial tak ada satupun taksi yang lewat.
Rain yang semakin kejer dan ketakutan membuat baby sister semakin panik. wanita itu terus berjalan sambil tangannya melambai menghentikan mobil yang lewat. berharap ada mobil yang bersedia memberikannya tumpangan untuk sampai ke rumah sakit.
Dan, ciiiit....
Suara decitan mobil disampingnya memaksanya berhenti. tubuh suster mematung beku di tempatnya, bingung, takut melihat seseorang tinggi besar dan tegap menghampirinya.
"Siapa kau!" tanya suster memberanikan diri...
***
Gantung thooor....
ngajak gelud ya thoorr πππ
Ritualnya gengs like comment and vote
lots of luv, chandaπππ