Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 94



Gegara ini nih, author tiba-tiba aja ikutan pusing auto ngantuk 😣



semalem pasang mode flashback on revisi dari awal, nyari ntu tulisan yg bisa di rangkum kek gitu.


oh my god, bisa di imagine nih mata pegelnya kek apa.


para readers boleh koment apapun, insya Allah author iklas meski di hujat.


nah misalkan ada readers baru mau baca tulisan author yang receh ini, trus nemu komen itu duluan, auto kagak jadi baca dia. yakin gue!!!


Ya sudahlah, gak jelas emang..


lanjut gengs..


***


Happy Reading...


Aldi membeku di tempatnya, membiarkan apapun yang di lakukan kinan terhadapnya.


Pandangan mereka masih saling mengunci dengan tatapan penuh kasih dan kerinduan.


"Siapa kau?" tanya kinan setelah ia menurunkan tangannya.


"mom?" aldi mengernyit heran. bukankah tadi kinan menyebutkan namanya. "aku aldi, ada apa denganmu?" tanya aldi semakin bingung.


"Aldi." kinan tampak mengingat. "Kau memiliki nama yang sama dengan putraku." wanita itu tampak tersenyum membuat aldi semakin heran "Aku merindukannya. Tolong bawa aku ke tempatnya." dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Mom, aku aldi, anakmu. apa kau mengingat sesuatu?" aldi membawa kinan untuk duduk karena kinan kembali tampak kesakitan.


Kinan menekan kepalanya dengan kedua tangannya. ia kembali merasa kesakitan. "Berapa lama aku pingsan?"


"sekitar dua jam, apa yang mommy rasakan." aldi duduk bersimpuh dengan bertumpu pada lututnya agar dapat menjangkau pandangan kinan.


"Tapi putraku masih berumur 7 tahun" ucapnya terbata. "aaarght..." kinan semakin meringis kesakitan.


"mom.." aldi menatap bingung.


"Kai... dimana dia! " kinan berteriak histeris sedang aldi tak tau harus apa, ia di buat semakin bingung.


"Mom... tenanglah!" aldi berusaha menenangkan kinan yang masih histeris.


"apa kai baik-baik saja?" kinan menggenggam tangan aldi memandang penuh pertanyaan. dan aldi mengangguk ringan tanpa mengucapkan apapun. "syukurlah!" ucapnya lagi.


Kinan kembali terdian namun ia nampak sedang berfikir keras.


"Bisakah kau mengantarku pulang." kinan kembali menghiba.


"Pulang kemana? ini rumahmu mom. dan aku anakmu, aldi. kau ingat kan?" ucap aldi sangat putus asa.


"Tapi kanza di rumah sendirian, kanzaku membutuhkan ku." kinan berkata lirih.


Aldi menghela nafas kasar, ia tak mengerti apa yang di alami kinan.


"Baiklah nanti aku akan mengantar mommy ke tempat kanza, jadi sebaiknya sekarang mommy istirahat." kinan mengangguk pasrah. membiarkan aldi menuntunnya untuk beristirahat.


***


Seluruh keluarga berkumpul untuk menikmati makan malam, seperti biasanya celoteh dan tawa riuh si kecil rain mendominasi acara makan malam itu.


Albert yang berada di lursi paling ujung terlihat santai menikmati makan malam mereka. pun dengan kai, setelah kejadian terbukanya rahasia itu, kai masih mendiamkan sofia.


Zahra juga hanya diam memperhatikan dua orang yang ia sayang hanya diam tanpa mempedulikan keberadaan sofia disana. sehingga membuat wanita itu jadi salah tingkah.


"mom, apa kau menyukai makanannya?" zahra berbasa-basi untuk mencairkan suasana yang sedang menegang.


Dinginnya penyejuk di ruang itu semakin menambah aura dingin akibat sikap dari dua orang pria yang sedang melancarkan perang dingin terhadap satu orang wanita.


"Ya." ucap sofia kikuk, ia bahkan tak berani mengangkat kepala karena kai yang duduk berseberangan dengannya tengah memandangnya dengan tatapan penuh kebencian.


Cih dasar rubah kecil, kau pikir kau akan menang. lihat saja nanti aku pasti bisa membuat kai kembali padaku. ucap sofia dalam hati.


"Terima kasih." ucap sofia masih dalam mode pura-pura yang tak pernah di sangka siapapun kecuali albert.


Suasana kembali mendingin seiring dengan berhentinya ocehan zahra. dan ia pun tak berniat melanjutkan obrolan untuk menghangatkan suasana. karena itu percuma. semua orang di ruang itu masih betah dalam mode hening.


"Kapan kau akan kembali ke london?" pertanyaan albert sungguh di tangkap seperti sebuah depakan di telinga sofia.


"Apa?" sofia tak percaya jika saat ini ia sedang di usir secara halus.


"Aku tanya kapan kau pergi dari sini." kembali suara albert memecah keheningan.


Hati sofia mencelos mendengar albert mengusirnya. "Kau yakin mengusirku albert?" sofia menegaskan kembali apa yang baru saja ia dengar.


"Kai, kenapa kau diam saja?" sofia kembali menggunakan jurus merayu merengek dan mengintimidasi yang sebenarnya sudah tak mempan lagi bagi kai.


"Lalu aku harus apa? tuan rumah sudah memberi titah." ucap kai datar sambil menelan kunyahan terakhir makan malamnya.


Sofia menganga tak percaya, benarkah pria yang duduk di hadapannya adalah Raka yang ia rawat dengan kasih sayang dulu?


"Kai, kau sungguh keterlaluan. kau mengusir mommy dari rumahmu?" nada sofia meninggi bersamaan dengan tubuhnya yang ikut berdiri.


"Kembali duduk dan pelankan suaramu." ucap albert dingin.


Sofia kembali duduk dengan wajah tak suka ia melirik ke arah Rain yang juga tengah menatap bingung pada para tetuanya.


"Aku membeli rumah ini bukan untukku. tapi untuk ratuku. jadi akupun tak berhak bersuara disini." ucap kai dengan memandang zahra dengan pandangan penuh cinta.


Kai menggenggam tangan zahra dan menciummya seolah mengatakan pada dunia bahwa yang berhak atas dirinya dan semua yang di milikinya adalah zahra.


Sofia mendengus kesal hingga ia harus membuang muka dari pada menyaksikan pemandangan yang membuatnya semakin gusar. dan zahra yang di perlakukan begitu manis di hadapan sofia menjadi semakin salah tingkah. dengan wajah yang memerah ia menundukkan wajahnya.


Sedangkan Rain, jangan di tanya. seperti biasa ia akan memasang wajah bosan melihat kemesraan orang tuanya dan memutar bola matanya malas.


Merasa tak ada yang menghargainya, sofia pun beranjak pergi namun belum juga ia melangkahkan kakinya, suara bariton Albert menghentikannya.


"Duduklah!" sofia kembali duduk di tempatnya dengan wajah yang bingung.


Dan pandangannya kini beralih pada kai yang menatapnya tak kalah tajam.


"Sayang, bisakah kau membawa prince masuk?" menatap ke arah zahra dengan penuh kelembutan. "Ada yang harus kami bicarakan." kai menatap kembali ke arah sofia yang juga sedang menatapnya.


"Sure." ucap zahra dengan senyum di wajahnya. "Come on, honey." zahra menggenggam tangan kecil itu dan menariknya pelan. meninggalkan tiga orang yang sedang bersitegang.


Suasana hening sesaat dan terasa mencekam untuk sofia. tak ada suara dari mulut siapapun kecuali denting jam yang seolah menghitung mundur waktu penghakiman seorang nara pidana.


"Sekarang katakan, rahasia apa lagi yang mommy simpan dari kami. karena tak mungkin mommy tak menyimpan apapun setelah rahasia besar yang mommy sembunyikan." ucapan kai yang datar namun sangat menohok hati sofia yang memang penuh kebohongn.


"Ra-rahasia apa maksudmu kai" ucapan sofia yang semakin kikuk. membuat kai dan albert semakin yakin bahwa saat ini sofia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Hanya mommy yang tau." sepotong kalimat yang kai ucapkan semakin memojokkan sofia. dengan wajah yang memucat sofia memberanikan diri melihat ke arah kai dan albert bergantian.


Melihat Albert yang begitu tenang, sofia yakin pasti albert telah telah merencanakan jebakan terhadapnya.


"kinan..." sofia ragu untuk melanjutkan. sudah dapat dipastikan nasib yang akan menimpanya jika kai dan albert tau mengenai rahasia tentang kematian kinan.


"Ada apa dengan kinan!" bentak albert yang membuat nyali sofia semakin mengerdil.


"Kinan meninggal karena, me.. me..."


***


Mengko ae lah...


sabar gengs... mood author juga lagi mengerdil, seperti nyali sofia.


Jangan menghakimi author gengs... seperti daddy albert yang tak lagi cinta sama sofia.


Berikan cinta terbaik kalian buat author, like coment and vote...