Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 46



Happy Reading...


Kai segera menemui dokter, mengikut di belakang suster. dokter terlihat masih melakukan pemeriksaam dan zahra masih belum sadar.


Hati kai serasa teriris melihat wanita yang mengandung darah dagingnya itu sedang tak berdaya di atas brankar. ia menyesal dengan semua yang terjadi, meskipun itu bukan kesalahannya. andai dulu ia tak mengalami kecelakaan mungkin keadaannya tidak seperti ini. mungkin takdir telah menggariskan hal di luar ekspektasinya.


"Permisi Dokter, bagaimana keadaan mereka?" kai ragu mengatakannya. ia tidak tau harus memanggil zahra dan bayinya dengan sebutan apa.


"Bayinya harus segera di lahirkan jadi harus segera di lakukan tindakan operasi." terang dokter.


"Tapi usia kandungannya belum waktunya untuk melahirkan." sanggah kai.


" Usia kandungannya sudah cukup untuk melahirkan bayinya. jika tidak, akan sangat membahayakan ibu dan bayinya." terang dokter meyakinkan.


Kai tertegun, ia tidak tau harus memutuskan apa. jika tidak di lakukan tindakan apapun akan membuat Zahra dan bayinya celaka. namun memutuskannya secara sepihak bukanlah hal yang bijak. tapi keputusan harus segera di ambil. secepatnya.


"Lakukan yang terbaik dokter." kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. meski bimbang tapi kai harus memutuskan ya.


"Baik!" ujar dokter. "Suster, siapkan semuanya." titahnya pada suster.


"permisi pak, anda harus menanda tangani ini." tanpa berfikir kai menanda tangani berkas yang di berikan oleh suster.


**


Di rumah Renita sedang gelisah memikirkan dua anaknya yang belum pulang.


Cuaca yang buruk membuatnya sangat khawatir. apalagi kehamilan zahra yang akhir-akhir ini mengalami kontraksi. Renita takut zahra akan melahirkan prematur.


Berkali-kali ia mencoba menelpon Cindy namun ponselnya gak aktif begitupun dengan zahra. hanya nada sambung yang terdengar dari gawai zahra.


tok.. tok.. tok..


Seorang pengurus rumah tangga mengetuk pintu kamar Renita. dan pembantu itu masuk setelah renita mempersilahkannya.


"Maaf bu, bu kania datang." lapor pengurus rumah tangga.


"Kania?" tanyanya heran. "Baiklah aku segera turun." dan pelayan itu pun pamit undur diri.


Renita keluar kamar dan menuruni tangga dari lantai dua ke lantai satu. ia melihat kania sudah berada di ruang tamu.


"Selamat datang, kania!" sambut renita


"Hai mbak nita apa kabar?" kania memeluk Renita setelah beberapa bulan mereka tidak bertemu.


"Aku baik, kamu sendiri bagaimana, apa kau datang sendiri? mana Daniel?" Renita menanyakan keberadaan bocah 10 tahun. anak dari Kania.


" Aku baik kak, edward sedang ada perjalanan bisnis jadi dia tidak ikut dan Daniel harus Olompiade sains, jadi aku tidak bisa membawanya." Kania nercerita.


"Bagaimana Butikmu? apa lancar?" tanya Renita.


"Sejauh ini masih sangat bagus. edward sangat mendukungku. dia selalu membantuku setiap ada masalah." Kania menceritakan kebahagiaan keluarganya.


"Dan Daniel bisa ku bayangkan betapa menyebalkannya anak itu. ha..ha..ha.." Renita membayangkan anak dari kania yang sangat dingin menurutnya.


"Ya kau sangat benar kak, dia itu benar- benar duplikat dari daddynya. dia tidak akan berbicara sepatah katapun pada orang yang tidak ia kenal. entahlah, dia menghabiskan waktunya hanya di depan komputer. kadang aku juga bingung, apa dia akan menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk merangkai robot atau mengoperasi belalang" Kania menghela nafas, ia merasa geli saat menceritakan putra semata wayangnya.


"Putramu sangat hebat kania" timpal Renita. "Lalu kenapa kau datang cepat, kau bilang masih 1 bulan lagi." tanya Renita.


" Aku sedang tidak ada perkerjaan yang mendesak. tapi aku hanya beberapa hari saja di sini. aku tidak sabar ingin tau wajah keponakanku. pasti dia sangat cantik seperti kak kinan." kania mengingat mendiang kakakny dengan sendu." Lalu bagaimana dengan cindy dan di mana Zahra, aku ingin bertemu dengannya" tanya kania selanjutnya.


"Ah! aku hampir lupa jika kau tidak menanyakan mereka. mereka keluar sejak tadi siang, tapi belum pulang sampai sekarang. entahlah mungkin mereka terjebak hujan. tapi nomer mereka gak aktif. mbak jadi khawatir." Renita kembali cemas memikirkan kedua anak gadisnya.


"Ya tentu, tapi kau harus memberikan gaun terbaikmu di butik sebagai gantinya." balas Renita dan kedua wanita itu tergelak bersama.


Kania masuk kedalam kamar untuk beristirahat setelah Renita meminta pelayan untuk mengantarnya. dan wanita itu kembali sibuk pada gawainya berusaha untuk menghubungi cindy.


***


Saat ini kai sedang menunggu proses operasi pada zahra bersama cindy yang duduk di sampingnya. keduanya masih dirundung kecemasan. apalagi kai, pemuda itu hampir tidak bisa diam. sesekali ia meremas rambutnya. tampak sekali bahwa saat ini pemuda itu sedang cemas.


Di luar hujan masih sangat deras, suara petir menggelegar dan udara dingin menyeruak. Kai hampir saja melupakan gadis yang datang bersamanya. gadis itu juga nampak ketakutan.


"Siapa namamu? " tanya kai memecah keheningan. cindi hampir saja melompat karena kaget.


"Eh, saya cindy kak." jawabnya terbata.


"Apa kau sudah menghubungi orang rumah?" tanya kai selanjutnya.


"Belum kak, ponselku mati jadi aku gak bisa menghubungi mama." Cindy tampak sangat tegang. ia takut di persalahkan atas kejadian yang zahra alami.


"Kau bisa memakai punyaku cindy!" kai menawari.


"Iya kak, tapi aku lupa nomer mama!" tolak cindy menyesal.


"Ya sudahlah, kau bisa pulang saat hujannya reda dan aku akan menjaga zahra." putus Kai akhirnya.


"Ya, baiklah!" timpal cindy. "Tapi kak, siapa kau sebenarnya? kenapa kau begitu cemas dengan keadaan mbak zahra, apa kau mengenalnya? atau jangan-jangan? cinfy menjeda ucapannya. "kenapa kau bisa berada di sana saat itu? bukankah seharusnya kau di jakarta?" Rentetan pertanyaan yang di lontarkan gadis belasan tahun itu cukup membuat kai kebingungan untuk menjawab.


Dan bersamaan dengan itu, Dokter keluar dari ruang operasi. sehingga Kai tidak perlu menjawab interogasi gadis itu.


"Bagaimana dokter?" kai bertanya dengan raut muka cemasnya.


"Selamat pak, putra anda lahir dengan selamat dan sangat sehat. tapi keadaan ibunya sangat kritis. dia kehilangan banyak darah dan juga kehamilnnya di usia yang sangat muda memperburuk keadaannya. semoga dia bisa sadar secepatnya." Dokter menjelaskan keadaan zahra.


Bagai di hantam palu godam, dada kai mendadak sesak saat mengetahui keadaan Zahra.


"Silahkan lihat putra anda. dan sebentar lagi ibu Zahra akan di pindahkan ke ruangan UGD." Dokter kembali masuk kedalam ruang operasi dan di ikuti kai di belakangnya. sedangkan cindy kembali duduk ke tempat yang ia tempati beberapa waktu lalu. gadis itu menangis membayangkan amukan dari ibunya karena menjadi penyebab kecelakaan zahra.


Kai dengan ragu masuk mengikuti dokter, ia tidak mwnyangka berada di titik ini saat ini. menjadi orang pertama yang memeluk putranya. air matanya luruh saat ia menerima bayi merah dari tangan suster.


Kai semakin terisak saat memeluk tubuh mungil itu, yang menggeliat dalam rengkuhannya. kai bahagia, sangat bahagia namun mengingat keadaan Zahra , ia kembali cemas.


Kai memandang wajah bayi mungil itu dengan tatapan penuh cinta. pria itu mendekati ranjang Zahra, tiba-tiba ia mengecup keniang zahra .


"Terima kasih sayang, terima kasih telah menjaganya untukku, dan terima kasih telah memperjuangkannya. dan aku janji, aku akan memperjuangkan kalian, apapun yang terjadi kalian harus menjadi milikku." janji kai, karena ia tau betapa rumit dan sulitnya hubungan mereka. tidak akan mudah bagi mereka untuk menyatukan cinta karena terlalu banyak pertentangan.


***


...Jempolnya dong gengs, biar othor tau kalo kalian udah baca tulisan othor ini. masa othor udah tulis episode menegangkan tiap episod tapi para readers gak mau jempolin sih. othor sedih nih !!!...


Ritualnya gengs...


like comment and vote...


Giftnya dong buat Kai junior 😄😄😄


Lots of luv chanda 💕💕💕


^^^.^^^