
Happy Reading...
Matahari tampak malu-malu di ufuk timur. memberikan kehangatan pada seluruh alam. cahayanya yang terang menyilaukan mata sejauh memandang.
Debur ombak yang tenang bagai alunan musik mengalun indah mengiringi kicauan burung camar menyanyikan nyanyian pagi.
Semilir angin di pagi hari, menyapa wajah-wajah cantik semua insan yang masih betah bergelung di bawah selimut tebalnya.
Zahra menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang menegang sisa pergulatan panjang nan panas. lalu ia mengerjapkan pandangan menyesuaikan dengan cahaya pagi yang membuatnya menyipitkan netranya kembali.
Kembali ia membuka matanya, merasakan berat pada perutnya karena belitan tangan kokoh suaminya.
Tangannya terulur untuk mengusap punggung tangan kai yang semakin mengeratkan pelukannya.
Zahra sedikit memoringkan tubuhnya. pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah damai yang suami yang masih terbuai mimpi.
Matanya melotot sempurna saat ia merasakan sapaan lembut di bibirnya. hanya dengan kecupan singkat mampu membuat jantung zahra seperti berhenti untuk seperkian detik.
"Morning queen" sapa kai dengan mata terpejam.
Zahra tersenyum lantas ia mendaratkan ciuman singkat di rahang kai yang sedikit berbulu. "Morning."
"I love you." bisiknya. namun zahra tak menjawab. senyumnya telah menjawab semua pertanyaan dan keraguan di hati seorang Rakai Langit.
"Apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanya kai sambil mendusel mesra di ceruk leher zahra.
Zahra yang mengerti maksud dari ucapan kai pun sedikit menjauhkan wajahnya agar tak semakin terpancing yang membuat mereka harus berpeluh ria di pagi hari.
"Kita jalan-jalan, rain pasti suka ke pantai." jawab zahra terbata karena sudah masuk jebakan kai.
"Baiklah nyonya kita bersiap." Kai menyibak selimut yang menutup tubuh polos mereka berdua yang membuat Zahra secara reflek merapatkan kedua pahanya dan menyilangkan tangan di dada.
Kai terkekeh melihat betapa polos istrinya. "kenapa di tutup, aku sudah melihat semuanya." dengaan seringai nakal ia berkata.
"Mesumnya daddy rain." kai tergelak bersamaan tubuh zahra yang serasa melayang karena kai yang menggendongnya ala bridal. memutar-mutar tubuhnya seperti anak kecil yang di gendong ayahnya.
"Hentikan kai nanti aku jatuh" teriaknya karena kai masih melakukan hal yang sama hingga mereka sampai di dalam kamar mandi.
Perdebatan kecil nan mesra masih terjadi antara kai dan zahra. acara mandi yang seharusnya memakan waktu lima belas me it harus berlangsung tiga kali lipat karena pergulatan pantas kembali terjadi.
***
"Pagi Aisyah" sapa seorang wanita yang tinggal bersamanya dalam rumah sederhana yang metupakan fasilitas yang diberikan oleh pemilik toko yang ia kelola.
"Pagi kamini." jawab aisyah sambil menyeduh teh dan menyiapkan bahan masakan untuk mereka sarapan berdua.
"Bagaimana keadaanmu. apa masih pusing? kalu kau tidak sehat sebaiknya kau di rumah saja. biar aku dan paijo yang mengurus toko" tanya kamini khawatir karena aisyah yang mengalami pingsan cukup lama.
"Aku tidak apa-apa. aku hanya sedikit lelah. jangan khawatir." ucapnya sambil memasukkan beberapa macam sayuran ke dalam penggorengan setelah ia menumis bumbu di sana.
"Ya kau benar." timpal kamini seraya menyiapkan meja untuk mereka berdua sarapan.
Lalu mereka sarapan dengan tenang. tak ada pembahasan apapun di antara keduanya.
"Aku pergi dulu. aku ingin menyapa pantai pagi ini." ucap aisyah seraya membersihkan piring bekas makanannya dan menaruhnya di wastafel lalu ia mencuci tangan.
"Baiklah, hati-hati." kamini melanjutkan pekerjaan mencuci piring yang merupakan aktifitas harian mereka berdua.
"sampai ketemu." aisyah berlalu meninggalkan kamini yang berkutat dengan piring-piring kotornya.
***
Setelah selesai dengan sarapan, seluruh keluarga dengan riangnya berjalan ke arah pantai.
Belum terlalu siang untuk menikmati indahnya pantai pagi hari. semuanya antusias. kecuali sofia. wanita itu tampak gelisah.
"Tidak, itu pasti bukan dia."
"Dia sudah mati bertahun yang lalu, orang-orangku tak mungkin salah memberikan informasi."
"Tidak mungkin albert tak mengenalinya."
"Apakah ia sedang berpura-pura? bukankah ia mengetahui semuanya."
"Aku harus melakukan sesuatu. aku tak ingin kehilangannya. aku tidak sanggup. lebih baik aku mati dari pada kehilangannya lagi."
Begitu banyak pertanyaan dan ansumsi-ansumsi dalam benak kania.
Jangankan untuk bersenang-senang di luar, menikmati sejuknya angin. menyapa sapuan air laut yang membawa lembutnya pasir putih dan menghempaskan kembali ke tengah laut.
Sofia bahkan enggan keluar dari kamar. sendirian dan kesepian.
***
kalian bisa menerka mak lampir lihat apaan yah???
a. nenek sihir
b. Voldemort
c. Van Helsing
d. Frankeinstein
suka-suka kalianlah jawab apa. tp author buka rahasianya di 2 episode depan yah readers...
vote.. vote.. bagi yang masih punya simpenan bunga di kebon sayang atuh kalo gak di bagi 😁😁😁