
Happy Reading...
Di kantor, Kai di sibuk kan dengan pekerjaan yang menumpuk. setelah kepergiannya kemarin pekerjaan nya menjadi berkali-kali lebih banyak. tumpukan file-file yang menunggu untuk di jamah membuatnya lupa hingga waktu telah menunjukkan waktu makan siang
Kai segera menutup laptop dan melepas kaca mata bacanya. lalu ia pergi dari kantor nya menuju tempat yang telah di tunjuk Albert sebagai tempat pertemuannya dengan Ravi.
Kai mengendarai mobil nya membelah panasnya kota Jakarta yang siang itu sangat padat karena berbarengan dengan jam istirahat para pekerja.
Kai telah sampai ditempat yang dituju. sebuah restoran yang menyedikan masakan barat dan masakan khas indonesia. dan ia juga melihat Albert yang berjalan beberapa langkah di depannya beriringan dengan Aldi yang juga turut hadir di sana.
Kai sempat ingin mengurungkan niatnya untuk menghadiri pertemuan ini. namun mengingat ini juga merupakan pertemuan bisnis, maka ia tak boleh mengurungkannya.
Baiklah, anggap ini pertemuan dengan calon investor besar. Kai menyemangati dirinya.
Albert tersenyum menyambut kedatangan Kai dengan senyumnya, begitupun dengan Ravi.
Kai tercengang melihat wajah Ravi yang saat ini tak seperti biasanya, jika biasanya ia melihat seorang pria dengan misai yang lebat di rahang dan dagunya, kini pria itu telah mencukur rapi misainya dan meninggalkan sedikit bulu-bulu yang baru tumbuh beberapa Mili.
Wajah itu sangat mirip bagai pinang di belah dua.Kai seperti melihat Krisna yang hidup kembali dengan tampilan wajah yang baru dan penampilan yang baru.
"Maaf aku terlambat." sapa Kai canggung.
"Kami juga baru sampai." timpal Albert.
"Tidak apa-apa, kami maklum mengingat bahwa kau adalah orang yang sangat sibuk, Mr. Rakai." Sahut Ravi di ikuti tawa semua orang.
"well, apakah saya harus terus memanggil anda dengan tuan. Ravi, atau daddy?" Kai berusaha menutupi kecanggungannya
"Terlepas kau adalah putraku, kau adalah rekan kerjaku. so, apapun yang membuatmu nyaman, maka akupun akan senang." sambut Ravi menghangatkan suasana.
Dan makan siang itupun berlanjut dengan perbincangan hangat yang tercipta di antara pertemuan antara orang tua dan anak.
Dan selebihnya hanya ada sedikit masalah bisnis yang dibicarakan. hingga selama 60 menit berlalu, dan mereka harus mengakhiri perjamuan singkat mereka.
"Baiklah, sepertinya kita harus pergi sekarang. karena masih banyak yang harus kami kerjakan. kami permisi." Pamit Albert pada Kai dan Ravi yang di ikuti Aldi yang juga beranjak. Kai dan Ravi pun mengangguk mengiyakan.
Sepeninggal mereka berdua, Ravi dan Kai melanjutkan perbincangan antara mereka. tak ada kecanggungan karena sebelumnya mereka sudah sering terlibat dalam pembicaraan mengenai pekerjaan. dan sekarang mereka hanya perlu membiasakan diri untuk tidak bersikap formal.
"Apa kau keberatan jika daddy ingin mampir kekediamanmu son?" Tanya Ravi.
"Tentu, kami akan senang menyambut kalian. dan istriku pasti juga akan senang menyambut kedatangan kalian." jawab Kai jujur.
"Daddy sudah tidak sabar ingin berkenalan dengan mertuamu. siapa namanya?" Ravi tampak berfikir.
"Mommy kinan." Timpal Kai.
"Ya benar, Kinanti Aizahwa. wanita hebat itu." tegas Ravi.
Alis Kai bertaut "Apa daddy mengenal mommy Kinan sebelumnya."
"Tidak begitu mengenal, hanya tau saja. dan jika tidak salah, dia adalah saudara angkat Sofia. Krisna banyak bercerita tentang mereka."
"Kehidupan mereka terlalu rumit menurutku. dan yang membuatku semakin bingung, kenapa Daddy Krisna menjodohkan kami bahkan sebelum anak mommy kinan lahir. dan itu semakin membuatku menyesal." Ungkap Kai.
"Menyesal? menyesal kenapa?" Ravi dengan raut bingung.
"Menyesal karena Mommy Sofia yang membuatnya berpisah dari daddy Albert. lalu dengan sengaja mommy Sofia menyembunyikan kecelakaan mommy Kinan hingga kami menganggapnya sudah meninggal. Lalu aku, karena kebodohanku telah menghancurkan gadis yang seharus nya aku jaga. aku merenggut semua darinya. meninggalkannya sendiri menanggung beban. dan dengan tanpa merasa bersalah mommy Sofia terlibat di dalamnya. Secara tidak langsung aku dan Mommy Sofia lah yang membuat Zahra sangat menderita." ucap Kai menyesal. lalu tersenyum getir mengingat betapa Zahra, wanita muda bahkan terlalu belia harus menanggung beban hidup yang mungkin tak sanggup di tanggung oleh wanita yang lebih dewasa lainnya.
"Kau masih memiliki banyak waktu untuk menebusnya. buatlah dia bahagia." Ucap Ravi menguatkan.
"Justru dialah yng membuatku begitu bahagia sekarang." senyum Kai mengembang saat mengucapkannya.
"Kau begitu mencintainya." Ravi menelisik wajah pria tampan di depannya yang sedang tersenyum sebelum menjawab pertanyaannya.
"Bukan hanya mencintainya. tapi aku sudah menggilainya sejak malam pertemuan kami." wajah Kai nampak berbinar mengatakannya.
"Wow! berarti dia adalah wanita yang istimewa, sehingga membuat seorang pengusaha muda yang hebat ini sampai bertekuk lutut."
KAI tersenyum lebar "itulah sebabnya kau harus mengenalnya dad, menantumu sungguh luar biasa."
"Jika seperti itu, maka aku tidak akan datang sendirian. ibumu juga harus ikut. dan saudaramu tentunya."
"Kami pasti akan senang." Kai mengakhiri perbincangan mereka.
Dan sore itu Kai pulang dari kantor lebih sore dari biasanya. karena tiba-tiba saja Zahra merengek memintanya untuk pulang lebih awal.
*
*
*
Zahra menyambut Kedatangan Kai dengan senyum manisnya. wajah cantiknya terlihat berkali-kali lebih cantik semenjak kehamilannya yang kedua.
Kai menyadari itu namun sayangnya sang pemilik wajah masih belum menyadari perubahan pada dirinya dan tubuhnya.
Zahra menganggap emosinya yang naik turun tak tentu itu adalah efek dari tingkah laku Rain yang sering membuatnya emosional.
"Kau merindukanku, honey?" Kai menyambut tubuh zahra yang berjalan cepat ke arahnya.
Melihat tingkah Zahra yang seperti itu merupakan hal yang sangat biasa dan merupakan tontonan gratis bagi para penghuni rumah besar itu.
Ada yang tersenyum senang karena kemesraan mereka, ada yang terkagum dari para pelayan menyaksikan keharmonisan majikannya. dan ada juga yang mengejek sebal melihat tingkah laku mesum mereka yang tak tau tempat.
"Apa yang ada di pikiranmu saat ini Rain?" Aldi mencoba memancing Rain yang selalu bisa membuat kedua orang tuanya kalah dalam perdebatan dan akhirnya memilih untuk tak melanjutkan kemesraan di depan umum.
"Pastinya daddy akan di buat susah sebentar lagi uncle!" ucap Rain tanpa mengalihkan dari pandangan matanya yang sedang merangkai Robot terbarunya.
"Oh benarkah, kira-kira apa yang akan di minta oleh ibumu Rain?" Kania yang tak pernah kalah pun ikut menimpali.
"Aku harap aku tidak akan terlibat di dalamnya." kali ini Dea pun tak ingin ketinggalan. dia terus menimang-nimang bayi kecilnya yang sedang menggeliat hingga wajahnya memerah.
"Jika seperti itu, nenek juga harus segera menjauh dari sini Rain." Kinan sepertinya juga ingin ikut andil di dalamnya.
"Apalagi kakek, kakek sangat lelah tapi juga masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.kalau begitu kakek pergi ke ruang kerja saja." Albert
rupanya juga terhanyut dalam permainan yang di ciptakan Aldi beberapa saat lalu.
Zahra yang sudah mengerti sedang jadi obyek olokan akhirnya menyerah untuk tetap diam.
"Kalian kenapa? aku tak akan membuatnya susah. aku hanya akan memintanya untuk menemaniku makan prata kobis." ucap Zahra dengan entengnya.
Kai yang sedari tadi hanya memasang wajah tersenyum nya, mendadak menarik kembali bibirnya dan menelan Saliva nya dengan susah payah. wajahnya yang sedikit pucat menandakan bahwa permintaan Zahra pasti akan benar-benar membuatnya susah.
"Benarkan?" Rain
"Sudah kuduga." Aldi.
"Kasihan sekali." Kania
"Nikmatilah!." Dea
"Bersabarlah!" Kinan
"Selamat berjuang" Albert.
Mendengar semua kata-kata yang terlontar dari semua mulut yang ada di ruang keluarga itu, Zahra mengerutkan dahi "Memangnya kenapa?" Zahra memandang wajah mereka bergantian seolah sedang mengabsen seluruh orang dengan jawaban masing -masing.
Dan Kai yang menjadi target hanya mampu memberikan cengiran pasrah.
Mereka tak tau jika ada sepotong hati merasa tercabik-cabik karena candaan kecil yang mereka ciptakan.
Hati Sofia seperti di remas melihat kebahagiaan dan keharmonisan putranya.sayangnya dia sama sekali tak terlibat di dalamnya.
***
Jeng .. jeng.. jeng...
Hari ini author sedang tidak ingin menggantung.cukup jemuran aja yang di gantung,
ya kan?...ya kan?...ya kan?...
Ritual nya gengs...