
Happy Reading...
Suasana kembali hening, namun hawa panas menjalar dengan tatapan dua orang yang saling memendam dendam. seperti bom waktu yang siap meledak.
"Aku sudah selesai, permisi." ucap kai sambil beranjak. ia tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan sofia yang pasti akan memancing emosinya.
"Tunggu kai!" kinan mencegah kai yang baru memundurkan kursi yang di dudukinya. "Aunty ingin membicarakan satu hal penting."
Kai kembali duduk di tempatnya. "Apa yang ingin aunty bicarakan." Ucap kai enteng namun sebenarnya hatinya berdegub kencang. ada kekhawatiran bahwa kinan akan memintanya berpisah dengan zahra.
Kinan menelan kunyahan terakhirnya lalu melanjutkan ucapannya setelah ia menegak sedikit air dari gelasnya.
"Apa yang bisa kau lakukan untuk menjamin kebahagiaan anak dan istrimu," ucap kinan tanpa beban namun penuh dengan penekanan. dan pandangan matanya tak lepas dari sofia yang juga menatap tak kalah tajam.
Kai tak langsung menjawab, dengan ekspresi biasa dan tak menampilkan ketakutan ia berujar. "tidak ada." tampak sofia menyunggingkan senyuman sebelum kai melanjutkan kata-katanya. "tapi aku hanya ingin kau mempercayaiku." ucap kai datar.
Ia yakin bahwa kinan pasti akan dapat menangkap makna dalam setiap kata yang di ucapkannya.
Kinan menaikan sedikit ujung bibirnya. "Baiklah, akan aunty coba". lalu kinan berdiri dan meninggalkan meja makan, dengan senyum penuh arti.
Sofia mengikuti langkah kinan dengan matanya dengan tersenyum miring penuh ejekan.
"Baiklah, putraku tak memberikan jaminan apapun, tapi aku bisa menjamin bahwa putrimu akan bahagia dengannya. dan tentunya jika kau tak banyak berulah." sofia tersenyum sinis.
Mudah baginya mengucapkan itu, tapi ia lupa bahwa kinan bukanlah orang yang mudah terintimidasi.
Kinan menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap sofia dengan tatapan tajamnya.
"Kau salah mengartikan ucapanku sofia, karena mulai sekarang kau juga tak akan berada dekat di antara mereka." ucap kinan tanpa ragu sambil bersendekap. kini ia tak ragu untuk menunjukkan keangkuhannya. ia kembali pada kinan yang tegas dan arogan.
Kinan bertekad untuk menebus waktu yang terlewatkan dengan membalas semua perlakuan jahat sofia kepada zahra.
Sofia tertawa mencemooh, "Kau terlalu percaya diri Kinan, kau hanya tidak tau bahwa putraku menikahi putrimu hanya karena Rain. dan itu tak akan cukup untuk membuat kai bertahan lama di sisi zahra." sofia tersenyum miring mengakhiri kalimatnya. ia merasa menang kali ini.
Hati kinan bagai teriris mendengar hinaannya. sofia lupa bahwa setiap yang di ucapkannya adalah seperti ia menggali kuburnya sendiri.
"Sudahlah mom, aku lelah berdebat denganmu. sebaiknya kau kembali sekarang." sanggah kai penuh penekanan. ia sudah berada di titik terjengah menghadapi ibunya.
"Jika menurutmu memang begitu maka kau boleh membawa putramu bersamamu" sarkas kinan pada sofia. "Dan aku juga tak akan mencegahmu untuk mengikutinya." kali ini albert yang mendapatkan tatapan tajamnya. "Dan aku juga tak akan mempersulitmu. tapi ingat, kau hanya memiliki satu kesempatan terakhir." kinan mengakhiri ucapannya dengan melihat ke arah Kai.
"Hah! kasihan sekali, kalau aku berada di posisimu tentu aku akan sangat malu." ucap kania mencemooh. sambil terus mengunyah suapan terakhirnya. dan menelannya.
"Jangan ikut campur urusan keluarga kami. kau hanya orang asing disini. kenapa tidak kau saja yang pergi dari sini." ucap sofia penuh amarah tapi kania menanggapinya dengan tawa mengejek.
"Baiklah kai, tugas aunty sudah selesai. hari ini aunty akan kembali ketempat dimana aunty di anggap begitu berharga." kania beranjak namun bukan untuk pergi meninggalkan meja makan. ia justru mendekat kearah sofia dan membisikkan kata-kata yang membuat sofia membulatkan matanya dengan sempurna.
"Aku pergi!" kania melenggang dengan santainya meninggalkan mereka yang masih bersitegang.
Entah apa yang di bisikkan kania, pastilah itu hal yang sangat sensitif hingga sofia terlihat sangat gusar.
Kinan mengurungkan langkahnya untuk meninggalkan meja makan, dan sekarang ia lebih memilih untuk meladeni sofia yang selalu ingin membuat masalah dengannya.
"Aku heran, kenapa kalian bisa lebih membela wanita-wanita yang..." ucapan sofia terhenti karena Albert mengangkat tangannya, meminta untuk berhenti meracau.
"Berkemaslah, hari ini kau akan kembali kerumahmu. kau tidak perlu berlama-lama disini. dan ingat jangan buat masalah kalau tidak.." Albert hampir lupa jika ada kai disana. untungnua kinan segera menghentikannya dengan memegang pundak albert dan memberi isyarat dengan menggelengkan kepala.
Tapi kai tidak begitu saja mempercayai apa yang di lihatnya. justru ia semakin mencurigai bahwa ada yang mereka sembunyikan darinya.
"Kenapa aku merasa kalian sedang menyembunyikan sesuatu." sarkas kai. "Dad! mom! aunty? apa yang kalian sembunyikan?" kai melihat kearah ketiga orang tuanya bergantian dengan pandangan penuh pertanyaan.
Kai yang tak mendapatkan jawaban dapri siapapun semakin membuatnya penasaran.
"Pergilah sofia!" usir albert penuh penekanan.
Sofia mengepalkan tangan menahan kesal. dan seperti biasanya bahwa ia akan memainkan perannya dengan sangat baik.
"Baiklah aku pergi, tapi aku tidak akan pergi sendiri. salah satu dari kalian harus ikut bersamaku." sofia melihat kai dan albert bergantian tapi sayang tak ada satupun dari mereka yang tertarik untuk mengiyakan permintaannya.
"Kalian tidak ingin pergi, maka aku juga tidak ingin pergi." pungkas sofia.
Albert sangat geram dengan sikap sofia dan akhirnya memilih untuk meninggalkannya sendiri.
Begitu juga dengan kai dan kinan, mereka lebih memilih untuk membiarkan sofia berbuat semaunya.
***
scroll lagi...