
Happy Reading...
Kai telah sampai di alamat yang di berikan oleh aldi melalui pesan dengan aplikasi warna hijau.
kai hanya melihat tulisan alamat saja namun tidak membuka pesan yang lainnya. ia tak tau kejutan apa yang akan ia terima nantinya dirumah itu.
kai telah sampai di depan pintu rumah megah itu. pintu dengan cat warna coklat dengan ukir yang sangat indah.
Kai ragu untuk mengetuk pintu di depannya. namun ia memberanikan diri untuk mengetuknya.
Dua kali ketukan tak ada yang membukakan penghalangnya dengan orang-orang di dalam rumah tersebut.
Kembali kai mengetuk pintu itu, tak juga ia mendengar uluran tangan yang akan menarik gagang pintu dari dalam.
Dan ia kembali mengetuk pintu, namun tangannya tergantung diudara karena pintu telah terbuka dan kai membulatkan matanya saat melihat sosok yang ada di hadapannya.
"Rain!" jeritnya terkejut.
Tak di sangaka bahwa akan menemui pria kecil itu di sini. pria yang telah melewati setengah hari bersamanya.
Kai menangis haru karena ia bertemu dengan putranya. putra yang di rindukannya selama ini.
"Dimana ibumu?" tanya kai pada si kecil rain. dan bayi itu menunjuk kearah dalam rumah.
Disana tampak gadis muda yang tengah memandang kearah luar jendela dan membelakangi kai.
Kai memberikan rain kepada gadis yang membuka pintu beberapa saat lalu yang tak lain adalah cindy.
Kai mendekati zahra memberanikan diri memeluk gadis itu dari belakang. menghirup aroma tubuh yang membuatnya langsung jatuh cinta sejak malam kelabu itu.
Mereka tampak terlibat pembicaraan yang serius. dan akhirnya zahra pergi meninggalkan kai. namun langkahnya terhenti saat kai mengucapkan kata-kata perpisahan.
"Bye..." ucap kai.
"See you" balas zahra.
"I'll wait for you" putus kai akhirnya.
***
Kai pov.
Aku telah sampai di sini, berpijak dimana kekasihku berada bernaung dibawah langit yang menaungi jiwa kekasihku. menghirup angin yang sama yang menghidupkanku agar aku dapat menemui belahan jiwaku.
Dan semuanya demi cinta yang tak mengharapkan balasan. Ah! kapan hari nan panjang dan melelahkan ini berujung, lalu mengijinkanku masuk kedalam cintaku.
Disinilah aku di depan rumah kekasihku, ku beranikan diri untuk mengetuk pintu. pintu dengan warna coklat berukir indah. yang membentengi aku dengan pujaanku.
Ku ketuk pintu dengan dua kali ketukan namun tak ada langkah yang mendekati pintu untuk membuka.
Kucoba mengetuknya lagi dengan lebih keras agar terdengar sampai ke dalam. berdo'a dalam hati semoga semua belum terlambat. pun aku telah siap dengan penolakannya. namun aku tidak akan berhenti hanya karena kata pergilah.
Ku angkat kembali tangan untuk kembali mengetuk karena tak juga ada tangan terulur untuk menarik gagang pintu dari dalam.
Namun tanganku hanya mengambang di udara karena sebelum tanganku sampai di daun pintu, pintu terbuka oleh senyum manis gadis belia yang sangat kukenal.
Tapi fokusku bukan pada gadis kecil bersenyum manis di depan mataku, namun pada sosok mungil yang berada dalam gendongannya.
Mataku membulat sempurna. tatkala aku melihatnya.
"Rain!" jeritku.
Tak kusangka pria kecil yang setengah hari berada dalam dekapku karena ketidak sengajaan kami di jalan adalah jantung hatiku.
Ya Tuhan, apa lagi ini, engaku telah membuatku begitu dekat dengan darahku dagingku. sedekat nadi namun aku tak menyadarinya. itu adalah kebodohanku.
"Da.. da.. da.." gumamnya.
Satu kata yang terpotong adalah sambutan yang di berikan oleh kesayanganku. oh putra kecilku, mungkin ia ingin memanggilku 'daddy'.
Ya pangeran, ini daddy yang selalu menantimu dalam kerinduan. kerinduan akan dekapmu dalam kasih sayangku. meriuhkan hariku yang sepi senyap dan dingin.
Tangisku pecah tatkala tangan mungilnya mengarah padaku. memintaku untuk segera membawanya kedalam pelukku.
Aku menangis terisak, tak kuindahkan lagi rasa malu yang akan merobek harga diriku. inilah saat yang kutunggu. membawa cintaku pergi bersamaku.
"Dimana ibumu?" tanyaku pada bayi kecilku. namun siapa sangka tangan kecilnya menunjuk kedalam rumah, kulihat ia sedang menatap ke arah luar jendela. membelakangi kami.
Kuberikan rain kecil pada gadis yang membawanya kepadaku karena aku ingin menemui kekasihku, meski ku tau bahwa mungkin ia sangat membenciku.
Aku yakinkan diriku. kuberanikan diriku mendekat tapi hatiku berkata. "Kai, bersiaplah menghadapi penolakannya."
Kucoba memberanikan diri mendekatinya berada sejengkal di belakang tubuhnya yang masih membelakangiku.
Dia bergeming tetap berdiri mematung. tanpa menoleh sedikitpun padaku.
"Pergilah" tegasnya.
Satu kata yang semakin mengerdilkanku. meskipun aku telah siap dengan penolakannya seperti yang kutekankan pada diriku. tapi aku hancur saat mendengarnya.
"Aku lelah dalm kesendirianku, ikutlah bersamaku." pintaku lagi.
"Kalau lelah maka berhentilah jangan paksakan dirimu." tekannya.
Ya tuhan, semarah itukan dia padaku sebenci itukah ia, sampai ia tak mau melihat kearahku.
Atau mungkin dia belum bisa menerimaku sehingga ia tak mau memandang wajahku sesuai janjiku dulu.
Tapi aku mengingkari janjiku, janji yang ku ucapkan, aku berjanji tak akan menampakkan wajahku sebelum ia jatuh cinta padaku. tapi kini aku mengingkari janjiku. karena ku tak tahan di balut kesepian.
Ku beranikan mendekatkan diri padanya mengikis jarak di antara kami. dan memeluknya dari belakang.
Memeluk tubuh ramping yang semakin sintal dan pas dalam pelukku. menghirup dalam aroma tubuh yang langsung membuatku jatuh cinta sejak malam kelam itu. malam dimana aku menorehkan luka yang menyayat hatinya.
Aroma tubuh yang tak pernah hilang dari penciumanku yang setiap malam mencuri ketenanganku bagai hantu bergentayangan. aku menginginkan lagi dan lagi ia dalam pelukku.
Itulah hukuman yang pantas kuterima karena kekurang ajaranku. aku terpenjara oleh pesonanya. yang membuatku semakin gila karena memikirkannya.
"Maaf!" lirihku.
Berharap ia membuang kemarahannya, menerima uluran persahabatan yang kutawarkan dan menerima cinta yang ku janjikan.
"Aku sudah memaafkanmu" jawabnya tanpa ragu.
Tanpa kuduga kalimat itu meluncur dari bibirnya tanpa beban.
"Kau tidak bersalah.ini semua karena keadaan." jawabnya.
Tapi bukan itu jawaban yang ku inginkan.
"Aku memang mengutuk apa yang kau lakukan, tapi untuk menyalahkanmu itupun tak berguna." aku melonggarkan pelukanku karena mendengar kata-katanya.
Dia tak membenciku. batinku berkata.
"Jika aku terus-terusan membencimu, itu artinya aku tidak mensyukuri kehadirannya." ucapnya tanpa menoleh sedikitpun.
Aku tau maksudnya adalah Rain. bayi kecil kami. pemersatu jiwa dan raga kami.
"Lalu aku harus bagaimana." tanyaku tak mengerti.
"Tunggu aku, sampai aku mampu menerimamu dalam kehidupanku. setelah semua yang terjadi." dia menghentikan ucapannya yang membuatku semakin gelisah menunggu keputusannya.
"Namun jika kau lelah karena menungguku, maka pergilah yang jauh. jangan pernah menoleh."pintanya. yang mencabik jantungku. dia benar-benar menolakku.
"Baiklah, aku memberimu waktu sebanyak yang kau inginkan. aku akan tetap disini." janjiku padanya.
Kulihat ia menggerakkan kakinya, yang kupikir dia akan berbalik dam berharap pandangan kami bertemu.
Tap tidak, dia menjauh meninggalkanku. dia tidak menolakku tapi juga tak menerimaku. aku faham. mungkin itulah caranya menghukumku.
"Pergilah membawa persahabatan dan kembalilah demi cintaku." pesanku.
Dia menghentikan langkah tanpa menoleh sedikitpun. ku tau dia tersenyum.
Senyum yang ku artikan bahwa dia akan membawa harap. harapan untuk kita bisa bersama.
"Bye" ucapku. penuh makna.
"See you." balasnya.
"I'll wait for you." dan kulihat dia mengangguk samar.
Dia pergi meninggalkanku dan membiarkanku bermain-main dengan boneka hidup yang menggemaskan.
Ada kelegaan dalam hatiku meski masih terbesit ketakutan ia pergi tak akan pernah kembali.
***
👍👍👍 jangan ketinggalan
vote.. vote... vote...
lots of luv chanda 💕💕💕