
Happy Reading...
Tap...
Tap...
Tap...
Terdengar langkah ringan dari sepasang heels yang sangat di kenalnya, Kinan pun menoleh dan membalikkan tubuhnya berhadapan dengan sofia.
Setelah sebulan lamanya Sofia tak pernah muncul lagi di kediaman Almeida, hanya sesekali menelpon Kai hanya untuk melepas rindu mendengar suara dari putra kesayangannya yang membuatnya mampu untuk menjadi seorang yang jahat hanya untuk mempertahankan sebuah rasa yang di sebut 'sayang'. pantaskah yang ia lakukan? tidak! sofia tak pernah menyayangi. ia hanya ingin memiliki.
Egois? tentu!
Jahat? sudah pasti!
Bertobat? mustahil!
"Apa kabar Sofia?" Kinan dengan senyum khasnya.
"Dari mana kau tahu aku di sini?" tanpa menjawab sapaan Kinan, Sofia justru balik bertanya.
Kinan mengedikkan bahu cuek. " Tempat persembunyian yang cukup nyaman, kau pintar memilih tempat Sofia." Kinan menelisik seisi ruamgan dan berjalan mengitarinya.
"Kau tidak tau apa-apa kinan. tempat ini sudah ada bahkan sejak sebelum kita lahir." Ucap Sofia datar. pandangannya menengadah seolah memberi tahu 'lihatlah tempat yang penuh kenangan ini'. suaranya lembut jauh dari sifat Sofia yang dulu.
Dengan cepat Kinan menoleh. memperlihatkan ekspresi penasaran.
"Kau orang asing Kinan. dan hanya akan menjadi orang asing disini." Sofia berkata lembut namun kata-katanya sungguh menohok.
Tak perlu di ingatkan bahwa Kinan memang orang asing di keluarganya. hanya anak panti yang di angkat jadi anak untuk beberapa tahun. lalu keadaan memaksanya untuk kembali menjadi bagian dari panti asuhan lagi. Kinan tak pernah lupa itu.
"Aku tahu Sofia, kau tak perlu mengingatkan aku terus. aku tak akan pernah lupa itu."
Sofia berjalan menggiring Kinan untuk menjelajah tempat tinggalnya yang baru. membiarkan Kinan mengedarkan pandangan matanya keseluruh ruangan.
"Kau sendirian disini, apa kau tak merasa bosan?" Tanya kinan menyelidik.
Sofia menerbitkan senyum penuh arti. "Aku tidak sendiri di sini. aku berada dengan orang-orang terkasihku."
"Aku ditemani mereka." Sofia menunjuk pada sebuah kursi Ayunan tua di sudut rumahnya.
Apa yang sebenarnya ingin di sampaikan sofia, apakah wanita ini sudah gila? mengingat itu membuat Kinan bergidik ngeri.
"Apa maksudmu Sofia?" bersamaan dengan itu, angin berhembus menggoyangkan tirai dan membuat ayunan yang ada disana juga ikut bergerak.
Kinan merasakan hawa dingin seiring dengan langkah sofia yang ringan menuju ke sebuah ruang yang pernah Kinan intai sebelumnya. baju panjangnya yang berwarna putih melambai di terpa angin membuat sofia seperti berjalan menggunakan sepatu roda lebih tepatnya wznita itu seperti terbang.
Kinan mengikuti langkah Sofia dengan perasaan campur aduk. antara rasa takut dan penasaran berbaur menjadi satu kesatuan yang membuat Kinan ragu untuk melanjutkan langkah.
Hawa dingin dan lembab menyapa kulit Kinan saat kakinya menginjak lantai marmer di ruang tersebut hingga membuatnya meremang.
Lukisan besar dari wajah yang begitu cantik menyapa pandangannya. untuk sesaat Kinan terhipnotis oleh senyum menawan foto tersebut. yang ia ingat, wajah itu sangat mirip dengan wanita yang mengadopsinya dulu.
Foto bayi perempuan yang begitu menggemaskan yang tak lain adalah sofia kecil berjejer di sana. dan ada juga foto ayah angkatnya yang saat muda. tak mungkin Kinan melupakan wajah itu.
"Kau mengenal orang-orang di foto itu Kinan?" tanya sofia menunjuk foto-foto yang terpajang di tembok bergantian.
"Tentu saja Sofia, mana mungkin aku melupakan mami sama papi. dan foto bayi itu adalah dirimu bukan?" Jawab Kinan yakin. membuat Sofia tertawa.
"Baiklah kau benar soal papi. tapi kau salah jika itu adalah mami. perhatikan lebih baik lagi Kinan." Sofia membawa Kinan mendekat kearah lukisan besar di sisi kanannya.
Wajah itu memang sangat mirip dengan mami angkatnya, namun ada perbedaan di sana. entah apa itu. Kinan tak dapat mengatakannya.
"Kau menemukan perbedaannya?" Sofia kembali bertanya dan Kinan menggeleng pasti.
"Dia adalah mamiku." jawab sofia.
"Mama Maudy?" Kinan menyebut nama ibu angkatnya. namun Sofia menggeleng. membuat Kinan tak mengerti.
"Namanya Haidy. kakak kandung mama Maudy. dia ibu kandungku. dan wanita yang kita panggil mama itu adalah tanteku." jelas Sofia.
"Aku tak mengerti Sofia." Kinan semakin bingung.
"Mami meninggal saat aku berusia 12 tahun. lalu papi menikahi adik kandung mami yaitu tante maudy agar aku tak kekurangan kasih sayang ibu. ada rahasia besar yang tak di ketahui orang lain. kecuali keluarga dekat." Sofia seperti tengah mengenang.
Sorot matanya menyendu. sangat terlihat kesedihan disana.
"Kau tak pernah tau bagaimana rasanya kehilangan kinan. selama ini aku menjadi jahat karena aku terlalu takut untuk kehilangan lagi." Suar Sofia parau menahan sesak. Kinan hanya mendengarkan tanpa menjawab apapun.
"Nasibmu lebih baik dariku meski kau tinggal di panti asuhan. setidaknya kau tak melihat orang yang kau sayang meninggalkanmu."
"Kau tak pernah mengetahui siapa orang tua kandungmu itu lebih baik dari pada aku yang sangat kehilangan saat aku sangat membutuhkan ibuku."
"Selama ini kau hanya jauh dari putramu. kau masih memiliki kesempatan untuk melihatnya. tapi aku kehilangannya untuk selamanya."
"Kau terpisah dari putrimu. aku minta maaf untuk itu. tapi Tuhan sudah menghukumku. kedua putriku membenciku. sedangkan Kai, aku hanya berharap dia menyisakan sedikit kasih sayangnya untukku." Sofia tersenyum getir.
Kinan tak tau harus melakukan apa. yang di lakukan saat ini adalah memeluk Sofia. memberikan kekuatan pada jiwa yang rapuh itu.
"Itulah sebabnya aku tinggal disini. aku tak ingin jauh dari Kai dan juga kenangan tentang mami."
"Siapa yang selama ini tinggal dan merawat rumah ini." Kinan bertanya setelah Sofia sedikit tenang.
"Asisten rumah tangga yang selama ini tinggal di sini dan merawat rumah ini. sejak bertahun-tahun yang lalu papi menyuruh mereka merawat tempat ini. terlalu banyak kenangan indah disini." ucap Sofia penuh kenang. terlihat dari senyumnya yang mengembang.
"Lalu kenapa kalian justru pindah?"
"Ada kejadian yang membuat aku dan keluarga harus pindah dari sini. aku mengalami trauma berat sehingga mengharuskan kami pindah dari sini. kami menutup rapat semua hal yang berhubungan dengan tempat ini. itulah sebabnya kau tak pernah tau semua ini."
Kinan masih betah memandangi satu persatu foto di dinding itu. hingga pandangannya jatuh pada satu foto yang tak kalah cantik dengan Sofia.
"Siapa dia Sofia?" tunjuk Kinan pada Foto bayi perempuan berusia sekitar sembilan bulan dan merambut pirang dan ikal.
Sofia mendongak mengikuti arah yang di tunjuk oleh Kinan.
Sejenak Sofia mematung. sepertinya ia enggan untuk menjawab pertanyaan dari Kinan.
"Dia sslah satu alasan kenapa kami pindah dari sini."
"Namanya Sonia."
"Adikku."
***
Jeng... jeng... jeng...