Daddy'S Love

Daddy'S Love
Masa lalu 2



Dukungan kalian, semangat Author


Happy reading...


Kinan masuk kedalam kamar, mengambil koper dan berkemas untuk pergi. ia telah memantapkan hati untuk pergi dari kehidupan Albert,


Wanita itu sudah lelah dengan sikap Albert yang over possesive. mungkin dengan pergi meninggalkannya bisa memberi sedikit pelajaran.


Kinan sudah bersiap untuk pergi, ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang. di mana putra kecilnya yang telah terlelap di buai mimpi.


"Jika kau ingin pergi, maka pergilah sendiri. jangan membawa putraku."


"Dia juga putraku, jika kau lupa!"


"Aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya. jadi, jangan membuatku tertawa dengan mengakuinya sendiri."


"Terserah! yang pasti aku tidak akan membiarkanmu membawa putraku. hiduplah tenang dengan kekasih masa lalumu itu. kau tidak membutuhkan anak itu untuk mengganggumu bukan."


Kinan menghela nafas, kakinya bergerak mendekati ranjang putranya. tangannya terulur mengusap kepala anak yang tengah terlelap itu dengan sayang dan mendaratkan kecupan di kening dan kedua pipi putranya.


"Mommy pergi sayang, tapi mommy akan kembali, secepatnya. dan jika mommy terlambat pulang, Aldi maafkan mommy ya nak, dan jangan membenci mommy."


Kinan menciumnya lagi sebelum benar-benar meninggalkan putra kecilnya. air matanya menetes dan dengan segera ia menghapusnya. dia tidak boleh lemah di depan Albert.


Kinan berdiri di depan Albert, menatap tepat di manik matanya.


"Aku pergi tidak untuk meninggalkan keluargaku. Aku pergi hanya untuk membebaskanmu dengan keegoisanmu. jadi, jangan pernah berfikir aku tidak mau memperjuangkan Aldi." kinan berkata dengan lantang tak menunjukkan kelemahannya, meskipun hatinya hancur.


"Aku memberimu kesempatan,jika kau berubah fikiran. satu langkah kau keluar dari pintu kau tidak perlu kembali." Albert berkata sambil membalikkan badan.


"Kau sudah sering memberi kesempatan Albert, dan aku mengambilnya. dan sekarang aku sudah cukup lelah, tuduhanmu cukup membuatku mengerti bahwa kau tidak benar benar mencintaiku." Kinan melangahkan kakinya meninggalkan Albert yang masih berdiri di tempatnya


"Keputusanmu meninggalkanku, ku anggap kau membenarkan tuduhan itu. aku harap kau tidak akan menyesalinya."


Kini mereka berhadapan dan pandangan mereka saling mengunci. sorot mata Kinan mengisyaratkan cinta dan kecewa dalam waktu bersamaan.


"Aku yakin dan tak akan pernah menyesal. kau cukup mengenalku kan sayang?" Kinan menatap manik mata Albert. mati-matian menahan air matanya yang hampir luruh.


Dengan senyum di wajahnya Kinan memegang pipi kiri Albert dengan tangan Kanannya. mengusapnya dengan lembut.


"Aku pergi Albert, aku tidak membawa hartamu secuilpun, dan jika kau merasa ada hakku di sana, aku harap kau merawat Aldi dengan benar. aku yakin kau pasti bisa merawatnya dengan baik. bukankah kau sangat menyayanginya, iya kan?"


"Ah ya, dan kau tidak perlu repot menceraikan aku, karna aku tidak punya rencana menikahi pria lain. karena aku sangat mencintaimu.dan kalaupun kau mau menikah lagi, lakukan yang menurutmu benar."


"Selamat tinggal Albert, seperti yang kau lihat aku hanya membawa sedikit barang-barangku. aku tidak membutuhkan apa-apa lagi karena aku sudah membawa bagian dari dirimu." Kinan mencium pipi dan bibir Albert sekilas. hanya sekilas sebagai ciuman terakir sebelum ia bena- benar keluar dari rumah itu.


Air matanya lolos begitu saja saat ia keluar dari pintu gerbang rumah mewah itu.


Flashback off.


Waktu menunjukkan pukul 21.00 Albert beranjak meninggalkan kantornya.


***


Di dalam kamar, Zahra nampak sedang gelisah meskipun hari sudah larut dan matanya belum ingin terpejam.


Gadis itu masih memikirkan pria yang ia yakini adalah ayahnya.


Jika yang tadi kulihat adalah ayah, itu artinya ayah berada di kota ini. aku harus bisa menemuinya, dan bicara padanya. aku harus menyerahkan surat dari ibu. tapi bagaimana caranya, aku bahkan tidak tau ia tinggal dimana.


Karena lelah berfikir, akhirnya gadis itu terlelap menjemput mimpi.


***