
Happy Reading...
"Bisakah ceritanya di lanjutkan nanti, aku sudah tidak tahan!"
Suara rintihan di sertai erangan yang keluar dari mulut Zahra membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Bahkan Kai yang sedari tadi memangku nya pun tak menyadari jika wanitanya sedang meringis kesakitan. karena sedang terhanyut dalam momen membahagiakan setelah kembalinya Krisna di antara mereka.
Zahra meremas kuat kemeja Kai untuk mengurangi rasa sakitnya, dan nyatanya itu tak berpengaruh sedikit pun.
Seperti Dejavu, ingatan Kai terlempar pada kejadian lima tahun yang lalu saat ia juga tengah memangku Zahra yang sedang kesakitan.
Tak ingin kejadian buruk seperti waktu itu terjadi lagi yang mengakibatkan keadaan Zahra memburuk karena kehilangan banyak Darah, Kai dengan cepat membopong tubuh berperut buncit itu.
Kai semakin panik saat merasakan lengannya basah oleh cairan kental dan pekat.
"Sayang, kau tidak apa-apa kan?" tanya Kai panik.
"Cepatlah Kai, aku sudah tidak tahan!" Ucap di tengah rintihannya.
Segera Kai meletakkan Zahra di kursi samping kemudi dan ia segera duduk di belakang kemudi. tak mempedulikan lagi orang-orang yang masih tertegun tak menyadari keadaan. Kai mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari gerbang kediaman Almeida.
"Sayang, tadi Kai membawa putri kita kemana?" Kinan seperti tersadar berucap pada Albert.
"****!" Aldi berlari begitu saja meninggalkan semua orang dengan perasaan bingungnya di ikuti Albert dan Kinan di belakangnya.
Ravi dan Melati juga turut menyusul bersamaan dengan keluarganya. tinggallah di sana Dea yang sedang menjaga bayinya dan Kayla juga keluarganya.
"Aunty, kenapa semua orang panik. dan kemana Daddy membawa mommy?" tanya Rain polos pada Keisya.
"Sepertinya adikmu akan segera lahir sayang."
"Aku ingin melihat mommy, tolong antarkan aku." pinta Rain menghiba.
"Grandpa, take me to hospital please." Pintanya pada Krisna. sepertinya pria kecil itu belum menyadari jika kedua kakeknya adalah kembar.
"Sure!" Krisna mengiyakan.
"Come on dad, kita susul mereka." Keisya beringsut meninggalkan Krisna terlebih dahulu dengan menggandeng tangan mungil RAIN.
"Aku juga ingin ikut, tunggu! ayo sayang." Kayla mengajak suami serta putrinya.
Tinggalah disana Dea yang sedang menggendong putranya dan Sofia yang masih duduk sambil menunduk bersama Krisna kecil.
"Apa kau tak ingin melihat cucumu lahir?" Ucapan Krisna berhasil membuat Sofia menegakkan tubuhnya.
"Apakah boleh?" ucapnya ragu.
"Dea, apa tidak apa jika aku meninggalkanmu sendiri?" tanya Sofia sebelum kakinya melangkah.
"Pergilah mom, aku tidak apa?" ucap Dea tersenyum.
"Baiklah!" Sofia berjalan dengan menggandeng Krisna kecil di sebelahnya. dan kejadian tak terduga pun terjadi membuat Sofia mendongak tak percaya.
Krisna menggendong anak yang memiliki nama yang sama dengannya itu dengan tangan kirinya dsn menautkan jari tangan kanannya pada tangan kiri Sofia.
"Kris..na." Sofia tergagap. ia begitu terkejut dengan apa yang di lakukan mantan suaminya terhadapnya.
"Jika kau bersedia, aku ingin kita mengulang semuanya dari awal." ucapnya sambil tersenyum.
"Dan dia akan menjadi pengganti Kai saat dulu aku tak bisa menjaganya." ucapnya lagi sambil memandang wajah anak kecil yang sedang bergelayut di lehernya.
"Aku ingin kau mengajariku semuanya, tentang mencintai dengan sebenarnya. dan tentang membahagiakan tanpa menyakiti." ucap Sofia dengan mata berkaca-kaca.
"Kita akan belajar bersama." ucapnya sambil berjalan dan menarik lembut tangan Sofia.
***
"Bagaimana Kai?" tanya Kinan dengan nafas tersengal setelah berlari.
"Dokter sedang mengoperasinya sekarang!" Kai dengan raut cemasnya.
"Operasi? kenapa harus di operasi? apa keadaannya buruk?" tanya Kinan tak kalah panik.
"Tidak mom, karena dulu sewaktu melahirkan Rain, Zahra mengalami pendarahan hebat, maka sekarang dokter menyarankan untuknya melahirkan Caesar." terang Kai.
Dan beberapa saat kemudian terdengar suara tangis melengking seorang bayi dari dalam ruang operasi.
"Apa itu suara bayiku?" tanya Kai antusias dan langsung berdiri dari posisinya semula yang sedang duduk.
Lampu yang terdapat di atas pintu masuk ruang operasi segera padam, menandakan bahwa operasi sudah selesai di lakukan. dan tampak dokter perempuan keluar dengan wajah lelahnya.
"Keluarga Pasien!" ucap Dokter yang berumur sekitar empat puluh tahunan itu.
"Bagaimana dokter?" Albert mendahului.
"Bayinya sehat, dan ib..."
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" Kai menyela sebelum Dokter menyelesaikan ucapannya.
"Istri anda juga baik-baik saja." Ucap Dokter tersenyum.
"Boleh kami melihatnya?" pinta Kinan.
"Silahkan, tapi hanya bayinya saja karen ibunya harus di pindahkan ke ruang perawatan." Dokter mengakhiri dan kembali masuk ke dalam ruangannya dan di ikuti Kai dan Kinan di belakangnya.
Kai mengambil bayi perempuan yang masih merah itu dari tangan suster. tak terasa setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Kai.
"Lihatlah mom, dia putriku, putri kami, penyempurna hidup kami!" Ucap Kai sambil terisak.
Kinan menepuk bahu Kai pelan. lalu ia mengambil bayi kecil itu dan menggendongnya.
Kai keluar dari ruang itu masih dengan menyisakan jejak air matanya di kedua pipinya.
"Kenapa Kai?" tanya mereka panik karena Kai masih terlihat menangis.
"Kenapa kamu Kai?" sebuah tepukan keras mendarat di bahu belakang Kai karena geram Kai tak segera menjawab, justru meneruskan acara melownya.
"Aku bahagia, putriku sangat cantik. aku senang Aldi!" Ucapnya membuat semua orang menghela nafas lega sambil menggelengkan kepala.
"Lebay deh." Keisya dan Aldi serempak menggeleng.
Kini Zahra sudah berada di ruang perawatan dan sudah sadar. dan sejarang ruang itu bukan lagi tampak kamar rumah sakit karena sudah di sulap seperti ruang keluarga.
Kini bayi kecil dengan jenis kelamin perempuan itu menjadi rebutan ketiga neneknya.
"Terima kasih sayang, kau membuat hidupku sempurna." ucap Kai setelah ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Zahra tanpa melepaskan pelukannya.
Zahra tersenyum dan balik memeluk erat pinggang Kai.
"Siapakah nama gadis cantik ini Kai?" tanya Krisna yang duduk bersebelahan dengan Sofia yang sedang menimang si bayi.
"Shine! namanya Shine. karena ia akan berkilau di manapun tempatnya berpijak."
"Wow! nama yang keren!" Kania memuji.
Seluruh keluarga terhanyut dalam aliran kebahagiaan. inilah pertama kalinya seluruh keluarga berkumpul bersama. di tambah dengan kelahiran baby Shine membuat kebahagiaan mereka semakin bertambah.
"Hoek.. Hoek.." Sontak semua wajah menoleh ke arah dimana sumber suara berasal.
***
Coba tebak suara apa tuh???