
Happy Reading...
Pagi ini, semua berjalan seperti hari-hari biasanya. tak ada yang istimewa kecualin si kecil rain yang seolah memiliki 1001 cara untuk membuat semua orang lelah karena harus menuruti keinginannya yang terkadang nyeleneh.
Seperti saat ini tiba-tiba pria kecil itu meminta hal yang tak masuk di akal. ia meminta untuk di antar ke bali untuk menemui wanita yang tak lain adalah kinan.
Dan dengan seribu alasan juga kai dan zahra membujuk agar ia tak lagi merengek dan berjanji akan mengantarnya suatu saat nanti.
"Sayang, sebenarnya siapa orang yang rain panggil sebagai nenek itu?" kai bertanya sambil berbisik. Rain bisa saja mendengarkan suara mereka dan kembali merengek.
"Entahlah, akunsendiri juga tidak tau. karena yang menemukannya waktu itu adalah aunty kania." Zahra mengedikkan bahu cuek. ia sudah tak terlalu kaget dengan permintaan rain bermacam-macam.
Kai hanya bergeming sambil menatap putra kecilnya yang sedang cemberut sehingga pipinya tampak mengembung.
"Sayang, apa kau sudah menemui mommy sofia?" kai mengabaikan permintaan rain, dan malah membahas masalah yang membuat kai kembali mengingat pertengkarannya beberapa waktu lalu.
"Belum. dan aku juga tak berniat melakukannya." kai beranjak meninggalkan zahra namun zahra mencegahnya.
"Kenapa?" kai mengernyit heran.
"Jangan seperti ini." zahra memandang wajah kai yang mulai jengah. "bicaralah padanya. bagaimanapun ia adalah ibumu. aku tak ingin hubungan kalian memburuk." kai mencelos mendengar penuturan zahra. bagaimana bisa zahra begitu enteng mengatakannya. sedangkan ia sendiri pernah di buat begitu menderita oleh sofia. terbuat dari apakah hati wanita ini.
"Biarkan saja seperti ini. itu konsekuensi dari perbuatannya. dan aku tak ingin kau membahasnya." zahra menghela nafas. sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk membujuk kai agar mau memaafkan sofia.
***
"Are you okey?" sofia menoleh saat suara anak kecil terdengar dari arah sampingnya.
Sofia bergeming tak berniat membalas ucapan dari mulut bocah kecil itu.
"Apa kau sedang bersedih? aku tau kau bersedih." rain kembali bertanya.
Sofia kembali menoleh. "*k*enapa anak ini cerewet sekali." batiny3a berkata.
"Mommy juga sering sepertimu, duduk sendirian. sebelum daddy rain datang." rain kembali berceloteh meski sofia tak membalas ucapannya.
"Apa kau tak ingin bertanya kenapa?" mulut kecil itu seolah tak mempunyai rasa lelah untuk terus bicara.
"Kenapa?" mulut sofia terlalu gatal untuk bertanya.
"Dia bilang tidak semua hal yang ingin kau inginkan harus kau miliki." sofia terperangah mendengar jawaban si kecil itu.
"apa kau menginginkan sesuatu yang tak bisa di berikan oleh ibumu. kau nakal sekali." dofia berangsur dari duduknya dan kini ia berhadapan dengan anak yang tak memiliki urat lelah di bibirnya.
"Kau salah nyonya. aku tidak nakal. aku hanya sering bertanya kapan daddy pulang itu saja." seolah tak terima dengan tuduhan yang di lontarkan sofia rain kembali melakukan pembelaan diri.
"lalu ibumu bilang apa?" sofia penasaran, ia terus memperhatikan rain yang seperti nampak berfikir.
"mommy bilang kalau daddy milik ibunya. dan kita tidak boleh mengambilnya jika ibunya tak mengizinkannya."
Deg! seperti palu godam yang menghantam jantungnya. jawaban rain sukses menamparnya . mengingatkannya pada perbuatannya yang meminta zahra untuk menjauhi kai.
"lalu mommy berkata, jika kita baik, maka kita akan mendapatkan semua yang kita inginkan. dan jika kita berlaku buruk maka semua akan meninggalkan kita." sebuah ungkapan yang bermakna sangat besar. dan itulah yang sofia alami saat ini.
Sofia pov.
Seperti yang kalian tahu, bahwa aku adalah wanita yang menginginkan semua hal. apapun yang aku inginkan harus aku dapatkan.
Jahat.
Ya aku jahat. aku jahat karena demi keinginanku aku sampai harus melukai orang lain. tapi kalian juga harus tau aku juga terluka. cukup parah dan sangat menyakitkan.
Egois.
Memang. tapi aku juga ingin bahagia. aku sudah lelah menjadi yang kedua. tak bisakah aku menjadi nomer satu untuk hal-hal tertentu.
Kejam.
Jika kalian bersedia, maka dengarlah kisahku. aku juga tak kalah menderita dari kalian yang telah ku buat menangis dan yang sekarang sangat membenciku.
inilah kisahku.
"Sofia... sofia.. lihatlah siapa yang datang." ayah dengan riangnya membawa gadis seumuran denganku. yang ia kenalkan sebagai anak angkatnya.
Aku adalah putri tunggal yang kesepian. orang tuaku selalu sibuk dengan urusan mereka semdiri. ayah dengan bisnisnya dan ibu dengan kehidupan sosialnya.
Mereka hanya tau aku hidup. yang penting aku bernafas. tanpa mereka tau jika aku butuh teman. aku butuh sandaran. mereka memberiku semua yang aku inginkan tapi tidak dengan yang aku butuhkan.
"siapa dia dad?" tanyaku pada ayah ibuku. dan kulihat gadis kecil itu sangat cantik hingga membuatku iri.
"Namanya kinan. dia akan tinggal di sini untuk menemanimu. bukankah kau bilang ingin mempunyai teman?" ibu yang menjawab. ia begitu antusias. pun aku juga senang karena aku tak akan sendiri lagi.
Mulai detik itu kami berteman dan bersahabat. kami berbagi semua hal. kami melakuan semua hal bersama. sekolah, bermain dan berkawan. aku bahagia dengan kehadirannya. aku tak kesepian lagi.
Namun lama-lama aku merasa aku tersisih. aku tersingirkan. orang tuaku lebih dominan terhadap kinan. lambat laun mereka lebih menyayanginya dan memujanya.
Entahlah apa yang salah dengan diriku. mereka selalu membanding-bandingkan. mereka bilang ia gadis baik yang tak pernah menuntut apapun. akulah yang salah karena terbiasa dengan kemewahan.
Siapa yang semula memberiku kemewahan ini? bukankah mereka? mereka yang tak memiliki waktu untukku. dan mereka sendiri yang membawa gadis panti asuhan itu tanpa aku minta.
Mereka menggaungkan kebaikannya sebagai anak yang penurut. akulah yang salah karena terbiasa di turuti dan di manja.
Siapa yang memulai? mereka memanjakanku tapi tidak mengajarkanku.
Kinan dengan segala kesederhanaannya mmpu mencuri semuanya. ayah ibuku tampak sangat bangga dan bahagia dengan segala prestasinya.
Akulah yang salah karena terbiasa dengan buaian kemewahan. aku menjadi gadis yang tak memikirkan prestasi meski nilai akademikku tidak secemerlang dirinya tapi aku juga bukan yang terburuk.
Teman-temanku yang semula selalu ada untukku kini mereka lebih memperhatikannya. wajah malaikatnya mampu menghopnotis semua orang.
Kami sudah mulai dewasa. dia dengan segala kemandiriannya membuat semua orang begitu bangga terhadapnya.
Bagaimana denganku? jangan tanyakan lagi. aku memiliki semuanya. aku tidak perlu memikirkan apapun. perlu di garis bawahi aku memiliki segala yang di butuhkan untuk hidup.
Tapi aku lupa. hidup tidak melulu tentang makan dan minum. tidur di malam hari dan bagun di pagi hari. melewati siang dan terganti dengan malam dan kembali terlelap. begitulah seterusnya.
Aku mulai bosan dengan kehidupanku. aku marah aku protes aku tak terima. keberadaan kinan membuatku tersingkir. dan aku dengan segala keegoisanku memintanya untuk mengembalikan semuanya. orang tuaku dan kasih sayang mereka kembali ku miliki. tapi tidak dengan kebanggaannya atas diri si anak panti.
Lalu dengan kebesaran hati dan kebaikannya ia pergi dari rumah dan hidup mandiri. dan aku merasa sendiri lagi.
Tapi kami besar bersama. aku menyayanginya namun egoku terlalu besar untuk dapat mengalah padanya dan mengakui bahwa ia lebih baik dari aku dan mengalahkan aku dalam segala hal.
Kembali aku harus bersaing dengannya. bersaing untuk mendapatkan cinta dari seorang pria dan aku kembali kalah. dia terlalu sempurna untuk aku saingi. aku benci mengakui itu.
Cukup! aku bosan hidup dalam kekalahan. dan itulah kesalahan terbesarku.
***
Sofia tersenyum miris. mentertawakan dirinya saat ini yang ternyata kalah oleh keadaan. dan nyatanya yang rain katakan benar adanya. tidak ada satu hal baik pun yang ia dapatkan. kini semua seolah berbalik menyerangnya.
Tidak dapat ia pungkiri bahwa selama ini ia telah berlaku egois. berusaha memiliki apapun yang yang ia inginkan. tapi ia lupa jika tidak semua hal yang kita inginkan pasti menjadi milik kita. semuanya akan pergi jika kita terlalu erat memegangnya. seperti pasir, sebanyak apa kau menginginkannya, semakin sedikit kau mendapatkannya. karena bagaimanapun kedua tanganmu tak akan mampu menampungnya. semakin erat kau menggenggamnya, semakin sedikit yang tertinggal di dalamnya. pasir-pasir itu akan semakin menyurut seiring dengan semakin eratnya genggamanmu.
***
miris ya? lalu siapa yang sebenarnya salah?
jika ada pesan yang tersampaikan atas derita sofia dan kalian setuju. berikan like untuk cerita ini.
dan berikan cinta kalian buat author dengan like coment and vote..
Maaf hari ini upnya ngaret banget karena author dapat kartu kuning. maap ye...