Daddy'S Love

Daddy'S Love
part. 71



Happy Reading...


***


"Mommy sofia..." aku terhenti. hampir saja aku melupakan janjiku.


Janji untuk menutup rapat-rapat perbincanganku dengan seorang wanita. ibu dari pria yang saat ini ada di hadapanku.


Untung saja suara riuh mereka di belakang kami menginterupsi kebersamaan kami mengurai benang rindu yang telah lama kusut.


Aku melirik ketiga orang di belakangku, aunty kania, kakakku dan juga, dia. siapa lagi kalau bukan pria kecil yang selalu berceloteh setiap saat, dan yang selalu mengomentari apapun keadaanku. Rain, putra kecil kami yang menggemaskan.


Aku menunduk malu karena kedapatan berada dalam pelukan pria yang ia klaim sebagai ayahnya. dan bisa kupastikan setelah ini rain kecilku akan meledekku habis-habisan.


"Apa kalian sudah selesai?" tepat seperti dugaanku. aku semakin tidak memiliki keberanian untuk mengangkat wajah.


Aku malu terhadap diriku, anakku dan orang-orang di sekitarku. ingin rasanya aku menghilang untuk menghalau rasa malu yang semakin menjadi karena tatapan mata mereka yang mengejekku. oh shit! aku mengumpat dalam hati.


"Kau bicara apa rain? kami tidak melakukukan apa-apa!" seruku membela diri. pastinya saat ini wajahku terlihat seperti udang rebus. kulirik pria di sebelahku yang beberapa saat lalu mengharu kini hanya tersenyum simpul. menyebalkan.


"Baiklah, kalian tidak melakukan apapun hanya berpelukan dan itu sangat memalukan." lihatlah betapa anak ini menyebalkan. dan mereka seolah mendukung apa yang di kataka rain.


Aku semakin tidak punya muka. ingin sekali aku berbalik dan berlari, tapi apa yang terjadi? saat aku berbalik bukannya aku bisa pergi tapi aku malah terbentur dada bidangnya.


Kai justru membawaku kedalam pelukannya lagi dan itu semakin menguatkan dugaan rain bahwa kami sedang berbohong.


Kulihat ketidak sukaan di wajah rain tapi mungkin itu hanya rasa kesalnya saja. entahlah.


"Baiklah rain, biarkan mereka melakukan apapun yang mereka mau. kau ingin jalan-jalan kan?" akhirnya kak aldi menengahi.


"oke, let's go" seru rain girang.


lantas aunty kania dan kak aldi membawa rain pergi agar kami dapat berbicara.


Dan sekarang hanya tinggal aku dan kai. entah apa yang harus kami bicarakan. aku tidak tau bagaimana memulainya. tapi sejujurnya ada kelegaan dalam hatiku.


Kai membawa ku duduk di kursi taman yang beberapa saat lalu mereka tempati.


"Ada yang ingin aku bicarakan." dia menarik tanganku pelan. tapi aku sudah bisa menduga apa yang ingin ia bicarakan.


Aku mengikuti gerakannya dan duduk di kursi taman bersisian. aku menunduk malu. dan aku bisa merasakan bahwa dia tengah memandangku saat ini.


hembusan angin menemani kebersamaan pagi ini. langit cerah secerah suasana hati kami.


Jangan tanyakan keadaan hatiku, yang pasti saat ini aku bahagia. sangat bahagia.


Kai menggenggam tanganku dan kurasakan hangat saat ia mencium punggung tanganku.


"Aku tau betapa sulitnya membangun hubungan ini, tapi aku hanya ingin kau percaya dan tak meragukannya." aku masih menunduk mendengar ucapannya. masih canggung untuk memandangnya.


"Aku ingin kau tau bahwa aku bukan kakakmu. kita tidak sekandung." dia mengucapkan tanpa ragu. aku memejamkan mata rapat.


Akhirnya kata-kata yang aku tunggu sejak 3 tahun yang lalu aku dengar saat ini. tapi aku sama sekali tidak terkejut karena aku sudah tau semuanya.


"Aku tau kai." lirihku namun kuyakin dia dapat mendengar dengan jelas.


"Aku sudah tau semuanya." ucapku lagi dengan mengangkat kepala agar dapat melihat wajahnya. yang kulihat adalah keterkejutannya.


"Sejak kapan?" potongnya cepat. kulihat wajahnya memerah. mungkin dia marah atau kecewa. aku menggantungnya selama bertahun-tahun meski tau status kami seperti apa.


"Zahra!" suaranya meninggi. dia berdiri membelakangiku. mungkin untuk menata emosinya.


"Maaf." lirihku. setidaknya hanya kata itu yang dapat aku temukan. aku tidak tau harus berkata apa lagi.


"Maaf kai aku terpaksa." aku ragu mengatakannya.


"terpaksa karena apa atau siapa?" aku terpojok. dia mengintimidasiku dengan tatapannya.


"Dia.." aku masih ragu. "ibumu." akhirnya aku mengucapkannya. sejujurnya aku juga lelah. tapi lgi-lagi karena janji atau mungkin ancamannya.


"Mommy? apa dia mengancammu?" kulihat manik matanya menuntut penjelasan.


"sejak kapan kau mengetahuinya apa yang dia katakan".


Aku rasa memang saatnya aku membuka semuanya. biarlah aku menjadi egois. tapi rain, sudah cukup menderita.


"sejak tiga tahun yang lalu."


"Apa?" aku yakin kai sangat marah saat ini. wajahnya memerah. Ya tuhan kuatkan aku.


"Sejak pertemuan kita terakhir, aku sudah berfikir tentang hubungan kita. aku memutuskan untuk memulai semuanya.


Jika memang kita memiliki hubungan darah, aku akan menerimanya. aku anggap itu takdir yang harus di jalani. aku fikir kita tetap bisa membesarkan rain bersama. meski tanpa ikatan perkawinan. setidaknya dia memiliki kasih sayang lengkap."


"Tapi..." Lagi-lagi aku ragu untuk meneruskan.


"Apa?" isyarat matanya mengatakan untukku meneruskan ceritaku.


Cerita awal dimana aku harus egois dan bersikap tidak adil untukku dan anakku. setidaknya itu adil untuk satu orang. "Lalu ibumu datang."


"Apa dia memintamu pergi?"


Aku mengiyakan pertanyaannya. karena itu memang permintaannya. memintaku pergi.


"Dia menceritakan semua tentangmu. tentang hubungan kita."


"Ibumu memohon padaku untuk meninggalkanmu. ia bilang sangat menyayangimu dan tak ingin jauh darimu. awalnya aku menolak demi rain. tapi dia nengancamku akan membunuh dirinya dan membuat ayahku yang menanggung semuanya." air mataku meleleh namun aku merasa sedikit terbebas dari beban yang selama ini menyesakkan.


"Maaf kai, aku tidak ingin ada yang tersakiti dengan hubungan kita." ucapku parau.


Kai memelukku erat membuatku nyaman. bolehkah aku menginginkannya sekarang dan mengingkari janjiku. tapi ada satu hati yang tersakiti. ibunya.


"Itulah sebabnya aku selalu menolak mendengar penjelasan semua orang. biarlah aku di anggap keras kepala dan egois. aku hanya membentengi diri agar tetap kuat. aku mengagahkan diri berperang melawan hatiku yang semakin lama semakin merindukanmu."


"Dan sekarang Rain lah yang menjadi alasan untuk membuka semuanya. setidaknya ada kau yang akan melindungi kami. itu benarkan?" pintaku akhirnya.


Kulihat kai tersenyum getir seperti yang kurasakan.


"Kenapa kau menanggung semuanya sendiri zahra. aku merasa sangat tidak berguna. maaf."


Kebersamaan kami yang sebentar mengajarkan kami bahwa hubungan yang sesungguhnya adalah berbicara dari hati kehati. bukan saling diam lalu pergi dan meninggalkan. dan menganggap itu adalah yang terbaik yang justru membuat kita menjadi tersakiti.


***


Ufft... maaf telat up ya gengs, karena dunia nyata lagi sibuk-sibuknya.


Mungkin agak garing karena di buat tanpa konsep dan terburu-buru. dan akan di revisi nanti jika sempat.


Ritualnya gengs...


like comment biar makin cemungut.


vote.. vote..


Lots of luv chanda 💕💕💕