
Happy Reading...
Satu bulan kemudian.
Hari-hari berlalu seperti biasa tak ada hal menegangkan dan mengkhawatirkan sejak Sofia mengadopsi Krisna kecil.
Sepertinya ia telah memiliki kehidupan baru. tak ada lagi kesedihan. dan sepertinya ia juga telah melupakan tentang adiknya. atau mungkin ia dengan sengaja menghapus impian untuk bertemu adiknya.
Begitu juga dengan Kinan. wanita baik itu kini telah mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya. anak-anaknya dan juga suaminya.
Apakah ia melupakan sesuatu? jawabannya adalah tidak. ia sama sekali tak melupakan kewajiban terakhirnya. yaitu mempertemukan Sofia dengan adiknya.
***
Awan bergelung membentuk suatu keindahan di atas cakarawala. suasana mendung mencipta sendu hati yang sedang gerimis.
Semilir angin sore menemani perjalanan Kinan menuju kediaman Sofia. laju lalu lalang kendaraan seolah menjadi pengiring debaran jantungnya yang semakin menguat.
Di sinilah Kinan sekarang. di depan pintu gerbang rumah megah bergaya klasik nan elegan.
Kinan tak lantas masuk kedalam. hatinya bimbang. adakah momen ini yang mereka nantikan, sedang mereka dalam sebuah kisah permusuhan tak berujung.
Tidakkah ini akan menjadikan luka di hati salah satunya? atau bahkan keduanya. tentu saja karena darah yang mengalir dalam tubuh keduanya tak mampu mereda kebencian dan permusuhan yang mereka kobarkan.
Kinan memberikan isyarat kepada supir untuk masuk ke dalam kediaman Sofia. lantas ia turun saat mobil berhenti tepat di depan pintu besar yang selalu tertutup rapat.
tok...tok..tok...
Kinan berdiri di depan pintu besar dan mengetuknya. bahkan di zaman yang serba moderen ini pun Sofia tak mengganti benda berbentuk lingkaran yang terbuat dari besi itu dengan sebuah benda yang hanya di pencet dapat menimbulkan suara. mungkin ia sudah bosan mendengar bunyi bel.
tok... tok... tok...
Kembali Kinan mengetuk pintu. dan terdengar bunyi ceklek pertanda bahwa seseorang memutar kunci. dan pintu terbuka menampakkan seorang gadis muda dengan rambut di sanggul rapi berpakaian hitam putih. dan sepertinya ia maid baru Sofia.
"Apa Sofia ada?"
"Ada nyonya." sambut Pelayan dengan senyumnya.
Ah dia cantik. mungkin kecantikannya bisa membawanya pada keberuntungan suatu saat nanti. Hati Kinan terkekeh dengan pemikiran konyolnya.
Sepertinya ini bukan saatnya untuk mengagumi kecantikan seorang pelayan. anggaplah ini hanya pengalihan untuk membuang sedikit rasa gugup yang melandanya.
"Silahkan masuk nyonya, beliau di halaman belakang sedang menunggu anda." ucapnya membuat Kinan sedikit terbengong. bagaimana bisa Sofia mengetahui kedatangannya. sedangkan dia tak mengatakan apapun.
"Terima kasih." ucap Kinan dan berlalu meninggalkan pelayan yang sedang menutup pintu.
Langkah Kinan semakin berat mendekati tempat dimana Sofia sedang duduk bersama putra kecilnya. melihat pemandangan seperti itu, hati Kinan semakin bergerimis.
Ya Tuhan, dia terlihat sangat bahagia. apakah ini saat yang tepat untuk membuatnya kembali terpuruk.
Melihat Sofia yang sedang tertawa lepas bersama Krisna kecil membuat Kinan juga menyunggingkan senyum tanpa sadar.
Kinan berhenti dengan jarak beberapa langkah di belakang Sofia. ia dapat melihat punggung Sofia bergetar karena tawa. dan suara gelak tawa mereka seolah mengatakan bahwa kami bahagia. kami tak membutuhkan apapun atau siapapun.
"Mommy, apa kau akan membuat Krisna hebat seperti Kak Kai dan juga Kak Aldi?" Tanya si kecil itu.
"Tentu saja Krisna sayang, kalian adalah anak-anak mommy. kalian sama di hati mommy. mommy menyayangi kalian semua " Jawab Sofia tanpa kepura-puraan.
Memang dia akan berpura- pura di depan siapa jika Kinan adalah manusia paling tahu tentang dirinya.
"Benarkah!" mata pria kecil itu berbinar. "Apakah mommy juga akan membelikan mainan sebanyak yang Rain punya?" tanya anak itu lagi.
"Sebanyak yang kau mau. sayang." Sofia menurunkan Krisna dari pangkuannya. sepertinya dia sudah menyadari kehadiran Kinan di belakangnya.
"Tapi ada syaratnya." Sofia menangkup pipi gembul anak itu dan mendaratkan kecupan di hidung mungilnya.
"Apa itu mom!" tanya si polos itu.
"Kau tak akan pernah meninggalkan mommy. dan mommy mau Krisna berjanji untuk itu."
"Baiklah mommy, Krisna berjanji." lantas ibu dan anak itu berpelukan. menyalurkan kasih sayang di antara mereka.
Ah dia sangat manis. batin Kinan terharu.
"Dia sangat pintar Sofia. pujinya pada Krisna setelah Kinan duduk di samping Sofia di kursi yang sama.
"Ada apa kau menemui ku Kinan." tanya_nya langsung.
"Aku hanya ingin memberikan ini."
Kinan menyerahkan kotak perhiasan bludru berbentuk kotak berwarna merah.
Degh...
Seperti ada bongkahan es yang menghantam jantungnya.
Kalung ini.
Kinaan dapat melihat keterkejutan di mata Sofia. dan ia mengangguk .
Sofia terperangah, ini seperti mimpi di atas mimpi. ia bahkan mulai mencoba untuk melupakan keberadaan Sonia.
"Kau mengenalinya?" Sofia mengangguk. setitik air jatuh dari manik Sofia.
Sofia menggenggam erat dalam telapak tangannya dan menempelkan di dadanya dalam kepalan tangannya.
"Siapa dia Kinan." tangisnya semakin terdengar. "Jangan bilang dia adalah?" tanya Sofia lagi sambil menggelengkan kepala. ia sudah dapat menduga siapa dia. namun dia berusaha menolak.
"Ya kau benar. tepat seperti dugaanmu." Gelengan kepala Sofia semakin menguat.
"Tapi itu kebenarannya Sofia. kalian harus bisa menerima ini."
"Aku hanya takut jika dia tidak bisa menerimaku. aku takut jika dia semakin membenciku. selama ini aku selalu jahat padamu." ucap Sofia dengan lelehan air matanya.
"Tapi kalian tak bisa memutuskan ikatan darah dalam diri kalian."
"Aku tahu itu. tapi biarkan saja seperti ini." Sofia menghapus lelehan air matanya meski masih meninggalkan jejak.
"Apa maksudmu Sofia." Kinan memegang kedua lengan Sofia dan mengguncang tubuhnya.
"Biarkan rahasia ini hanya kita berdua yang menyimpannya." mata Sofia menutup rapat saat mengatakannya. kembali air mata mengalir di kedua pipinya.
"Tapi Sofia!" suara Kinan naik satu oktaf.
"Aku mohon Kinan. aku tak sanggup jika dia semakin membenciku. jadi biarlah Kami seperti ini. cukup aku mengetahui dia baik-baik saja. dan terima kasih kau telah merawatnya dengan baik." Kinan memeluk Sofia. memberikan kekuatan pada jiwa yang rapuh itu.
"Bisakah kau menceritakan tentang masa kecil Kania?" Pinta Sofia setelah mereka mengurai pelukan mereka.
"Tentu saja."
Dan Sore itu mereka habiskan untuk berbincang. mengingat kembali masa-masa dimana mereka pernah berbahagia bersama sebagai saudara. hingga sebuah konflik kecil harus memisahkan keduanya.
***
Hidup adalah pilihan. pilihan menjalani hidup dengan menjadi pribadi yang jahat dan menjadi yang terkuat, dengan konsekuensi di benci. atau menjalani hidup dengan menjadi pribadi yang baik, namun semua itu tak akan mudah karena pasti akan ada yang membenci. namun percayalah setiap perbuatan baik akan selalu melahirkan hal baik lainnya.
Sofia memilih memasrahkan hidupnya pada sisa-sisa cinta dari anak-anaknya. wanita itu menyadari bahwa cinta bukan untuk menyakiti, namun membiarkan orang yang kita cinta untuk memilih kebahagiaannya sendiri adalah sebentuk cinta yang sebenarnya. berdamai dengan hati akan memberikan ketenangan tersendiri baginya. meski ia telah merasakan berjuang dengan seluruh hidupnya namun ia menyadari semua hanya kesia-siaan.
Tak perlu memaksakan diri agar menjadi lebih baik jika hal itu menjadikan orang lain tersakiti. karena rasa sakit yang di rasakan orang lain karena perbuatan kita akan kita rasakan lebih sakit. karena karma selalu berada di dekat kita.
End.
Kok udah end aja sih thoor???
Mau di panjangin kayak apa pasti akhirnya juga bertemu kata END. dan juga cerita ini sudah klimaks. tapi pasti ada ekspart yang bikin kalian surprise. jadi jangan unfav dulu ya gengs...
mohon maaf juga karena akhir-akhir ini Author jarang up, itu karena memang lagi repot di dunia nyata. tp percayalah author juga sedih buat kalian menunggu.
lots of luv Chanda.💕💕💕**