
Happy Reading...
Akhirnya pesta kebun yang di gelar pada siang hari di akhiri dengan makan malam.
Sebagian tamu undangan ada yang sudah meninggalkan pesta. dan sebagian yang masih hadir yang merupakan kerabat dekat, sahabat dan para kolega masih berkumpul untuk makan malam bersama.
Zahra masih tak mempercayai ia berada di titik ini. sebagai ratu dalam keluarga besarnya.
Kehidupannya sudah sangat sempurna. keluarga yang tak di milikinya tiba-tiba Tuhan kirimkan secara bersamaan. meskipun itu ia tebus dengan rasa sakit terlebih dahulu.
Tak ada yang lebih membahagiakan dengan berada di antara orang-orang terkasih. seperti saat ini, ia bahagia melihat putranya berpangku ria dengan kakeknya. melihat kakaknya sedang beradu mulut dengan dea, seorang sahabat yang kini menjadi kakak iparnya. Dua orang wanita yang tak lain adalah kania dan renita yang menggantikan peran kinanti sebagai ibunya. dan ia sendiri yang saat ini tengah berada dalam pelukan possesiv suaminya. kai tak melepaskan pelukannya pada pinggang zahra selama pesta di gelar. seolah ia takut zahra akan terjatuh. sungguh tak masuk akal.
"Kai, sampai kapan kau akan memelukku seperti ini, aku malu. aku tidak nyaman." protes zahra karena kai tak ingin ia jauh-jauh.
"Aku takut ini hanya mimpi yang akan sirna saat aku terbangun nanti. aku memelukmu hanya ingin meyakinkan diri bahwa kau adalah nyata. ini semua benar. aku sedang tidak bermimpi atau berhalusinasi." ucap kai mengunci pandangan mata zahra yang sangat menghipnotis. sehingga ia seperti orang tidak waras di buatnya.
"Aku nyata sayang, kau sedang memeluk zahra saat ini. tapi jika kau masih tak mempercayainya, aku akan benar-benar meninggalkanmu." ketus zahra yang capek sendiri karena ulah kai.
"Baiklah." kai melepaskan pelukannya seperti anak kecil yang terpaksa terpaksa menaruh mainannya. membuat zahra hanya geleng kepala.
"Ayolah dea jangan keras kepala, pergilah beristirahat." terdengar ocehan aldi yang tiba-tiba berada di belakang mereka.
"Ada apa ini?" tanya zahra dan kai bersamaan.
"Aku masih mau di sini tapi kakakmu memaksaku untuk ke kamar." dea mendengus kesal.
Kai terkekeh samar mentertawakan aldi yang ternyata juga tak berkutik menghadapi istrinya.
"Kau juga harus istirahat sepertinya, besok kita semua harus melakukan perjalanan jauh." paksanya pada zahra dengan penuh cinta. tak dapat di pungkiri bahwa kai sudah menjatuhkan dirinya bertekuk lutut tanpa ampun di bawah kaki zahra.
***
Bali.
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 11 jam dari london, mereka hanya memiliki waktu kurang dari 8 jam untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
Pesta akan di mulai pukul 7 malam waktu bali. zahra yang saat itu mengenakan baju pengantin dengan model mermaid yang sangat pas di tubuhnya dan semakin menonjolkan aura kecantikannya. sangat cocok dengan tema pesta yang di ambil karena pesta sendiri di adakan di villa dekat pantai.
Pesta itu bukan sekedar untuk merayakan pernikahan mereka saja, selain itu pesta juga di gelar untuk pembukaan Resort yang baru saja di resmikan oleh Albert.
Resort tersebut berhadapan langsung dengan pantai, sehingga mereka dapat menikmati sunset dari balkon.
Dan villa yang sedang di tempati untuk pesta saat ini merupakan hadiah pernikahan dari albert untuk zahra.
Selain itu villa tersebut juga tak jauh dari kawasan pariwisata sehingga mereka dapat menikmati sore dengan berjalan-jalan di sekitar pantai. banyak kafe-kafe dan toko pernak-pernik di sepanjang jalan yang dapat memanjakan para menikmat santai.
Beberapa meter dari villa yang saat ini tengah mempersiapkan pesta yang kurang dari beberapa jam akan di adakan, tampak dua orang paruh baya sedang berada di depan toko pernak-pernik sedang terlibat sebuah pembicaraan.
Kedua orang tersebut merupakan pengelola dari sebuah toko yang menawarkan barang-barang antik maupun buah tangan khas bali.
Dua orang pria dan wanita menatap bingung pada banyaknya lalu lalang kendaraan yang masuk kedalam rumah yang biasanya sepi tanpa ada tamu yang datang.
Rumah yang biasanya tampak tak berpenghunipun seketika ramai dengan adanya mobil-mobil mewah yang membawa tamu-tamu dengan berpenampilah serba wah!!!
"Ada apa di rumah itu, kenapa ramai sekali?" seorang wanita bertanya kepada teman prianya. sesekali ia menengok ke arah tempat yang sejak tadi ia perhatikan.
Seolah ada magnet yang menariknya untuk mengawasi rumah itu.
"Kau tanya padaku, lalu aku bertanya pada siapa? sudahlah jangan di pikirkan. lanjutkan pekerjaanmu." timpal sang pria kesal. karena si wanita terus saja menggoyangkan bahunya.
"Aku kan hanya bertanya, kenapa kamu marah?" sang wanita tak terima karena si pria tak menjawab sesuai keinginannya. namun pandangan matanya tak beralih dari sekelompok orang-orang disana. seakan ada suara yang terus memanggilnya.
"Karena aku juga tidak tau. itu juga bukan urusan kita." sang pria makin gusar. katena si wanita seperti terhipnotis oleh suatu pandangan.
"ya sudahlah!" sang wanita menggerutu sebal. hanya mulutnya yang berkata namun ia masih saja memperhatikan satu titik yang membuatnya tak ingin beranjak.
Lama ia memperhatikan tempat berlangsungnya pesta. sekelebat bayangan masa lalu tiba-tiba melintas dalam ingatannya.
Sebuah moment dimana ia juga terlibat di dalamnya. ia hadir di sana namun ia menangis. siapa? dimana?
"Arrgt..." tiba-tiba saja ia mengeluh kesakitan dengan memegang kepalanya menekannya berusaha agar rasa sakit itu sedikit berkurang.
Bayang-bayang itu seperti pecahan kaca yang menancap namun tetap memantulkan gambar-gambar dari pecahan yang lain.
Memorinya seperti Puzle-puzle yang berantakan namun tak satupun yang dapat ia hubungkan. semuanya tak berlanjut. serpihan demi serpihan semuanya tak bersambung sangat sulit untuk menyatukannnya.
"Arrrght.." jetitan kedua semakin kencang sehingga membuatnya terjatuh tersungkur.
"Aisyah... Aisyah..." panggil teman prianya.
Namun wanita yang ia panggil dengan nama aisyah itu tak mendengarnya sama sekali. ia pingsan.
Dengan tergopoh-gopoh ia memanggil satu teman yang lainnya umtuk membantunya.
"kenapa dia Paijo" tanya si wanita yang ia mintai tolong untuk membantunya.
Namun si paijo atau pria yang beberapa saat lalu berbincang dengannya hanya mengangkat bahu, pertanda ia tak tau sebab wanita itu pingsan.
"Kau pasti membuatnya berfikir keras sampai dia pingsan begini. kalau bu ranti sampai tau bisa mati kamu di omeli." cerocos wanita itu kepada teman prianya. dan Ranti adalah pemilik dari toko yang sedang mereka kelola.
"Bu Ranti tak akan tau jika tak ada yang memberi tau, dan jika beliau sampai tau pasti kamu yang memberi tau." mereka berdua lebih tertarik untuk bertengkar daripada menolong temannya yang sedang pingsan.
"Sudahlah! cepat bantu q mengangkatnya kedalam. ngomong aja kamu." akhirnya si paijo dan teman wanitanya dengan susah payah mengangkat tubuh aisyah masuk kedalam ruang istirahat di dalam toko.
"Aisyah... aisyah..." wanita itu menepuk-nepuk pipi aisyah berusaha untuk membangunkannya.
Dengan sesekali ia mendekatkan ujung botol minyak esensial ke hidungnya agar membuatnya terbangun.
Lama ia menunggu Aisyah untuk membuka matanya. namun wanita itu masih betah tertidur.
Terdengar suara ketibutan di luar, seorang ibu-ibu yang meneriakkan nama anaknya.
"Rain... wait Rain, stop it"
Kania berlarian mengejar Rain yang tiba-tiba saja keluar dari gedung tempatnya berpesta.
"Rain.. Stop! please! mommy tired son." pendengaran Rain menuli ia tak mendengarkan kania yang berteriak-teriak memanggilnya.
Rain terus saja berlari masuk kedalam toko dimana ia seperti mendengar seseorang mengajaknya masuk.
"Mommy Aunty, i heard grandma's voice." teriaknya pada kania.
"No, you lie, that's imposdible!" sergah kania.
"No mommy aunty, i'm note lie, i'm sure." ucap rain meyakinkan.
Mata kania melotot tajam karena rain tak mengindahkan ucapannya.
"Kau bahkan belum melihat wajahnya, lalu bagaimana kau bisa mengenali suaranya." cicit kania sambil memaksa untuk menggendong rain.
Rain terus meronta dan meronta minta untuk di turunkan namun kania terus saja memaksanya untuk pergi bersamanya.
"Kania!"
Terdengar suara yang sangat ia kenal menyapa gendang telinganya, kania langsung berhenti dan menoleh. namun tak ia temukan siapapun disana.
Kania menepis dugaannya ia menganggap bahwa ia terpengaruh dengan ucapan rain. meski ia ragu dengan pemikirannya, namun hati kecilnya meyakinkannya bahwa suara yang ia dengar adalah suara kakaknya. kinanti.
Dan dengan sedikit memaksa akhirnya ia berhasil membawa rain bersamanya.
***
Misteri udah terbuka, author tunggu bunga kalian.
lanjut malem ya buat unboxing dan pengenalan produk 😆😆 😆 dan semoga gak ketiduran kayak semalem. sediain kopi napa 😁😁😁