
Happy Reading...
Hari itu Aldi sama sekali tidak dapat mempusatkan pikirannya pada pekerjaan. entah kenapa bayangan zahra melintas di benaknya.
Pun dengan Dea, meski beberapa hari ini hubungannya sedikit tidak baik, namun gadis itu tidak dapat membenci Zahra. tidak ada satu pun orang yang mau berada di posisi zahra.
Dea hanya ingin sendiri, menata ulang hatinya. mempersiapkan diri bahwa dia harus merelakan aldi untuk di miliki zahra.
Siapapun tidak akan rela menyerahkan cinta nya untuk orang lain. namun demi calon bayi yang di kandung zahra, dea merelakannya.
Aldi yang tengah di sibukkan dengan laporan bulanan tidak menyadari jika dea sudah masuk ke dalam ruangannya.
"Al! eh maaf, pak!" panggilan formal saat bekerja meskipun mereka adalah sepasang kekasih.
Merasa namanya di panggil, Aldi mendongak dan tersenyum. "Ya de ada apa? timpal aldi namun matanya kembali pada tumpukan kertas di mejanya.
"Ah, itu" dea menjeda ucapannya. "Apa hari ini anda sudah melihat Zahra?" sambungnya. "Tadi sewaktu saya meninggalkan apartemen, zahra belum bangun." ucapnya hati-hati.
"Apa kau masih marah padanya?" aldi menyandarkan tubuhnya dan menatap dea. gadis itu tertunduk.
"Dea aku tau kau marah, tapi mengertilah. aku tidak punya pilihan. kita turut andil dengan apa yang di alami Zahra." Aldi berdiri dan menghampiri Dea.
Aldi duduk pada ujung meja kerjanya berhadapan dengan Dea. pria itu menggenggam tangan Dea "Coba kau ingat, malam itu aku memintamu yang pergi, dan kau meminta Zahra menggantikanmu." Aldi menghentikan kalimatnya. "Kai mabuk saat itu, dia tidak akan memilih. jika saat itu kau yang berada disana, kau yang akan menjadi korbannya." lanjutnya.
"Kau tau artinya? zahra menyelamatkanmu. Kau tidak ingin mengalami inikan, begitupun Zahra. dia tidak punya pilihan. tapi kita bisa memilih. memilih dia tenggelam dalam penderitaannya sendiri, dan kita bisa bahagia di atas tangisnya. atau kita bisa menunggu saat kita bisa bahagia meski kita harus berpisah."
"Ya anda benar, saya tidak boleh egois. tapi bukan itu masalahnya." dea tampak berpikir. "Entahlah, perasaan saya tidak enak. saya kepikiran Zahra terus. tadi saya mencoba menelpinnya tapi tidak di angkat. saya takut terjadi apa-apa dengannya." Dea tampak khawatir.
"Aku juga sedang memilirkannya. Aku akan menelponnya untuk memastikannya. jangan khawatir. kembalilah bekerja atau.akan ku ptong gajimu." Aldi kembali ke kursinya.
"Ishh... menyebalkan! baiklah, tapi segera telpon Zahra." Dea berbalik dan di depan pintu tubuhnya hampir menubruk seseorang.
Dea mendongak untuk memperjelas pandangannya. bersamaan dengan itu albert juga tengah menatapnya sambil tersenyum. Dea membalas senyuman itu lalu beranjak dari kantor Aldi.
Dea berjalan menuruni tangga ke lantai satu, gadis itu berjalan perlahan seperti tampak berfikir.
"Bukankah itu pria di foto yang ada di ponsel Aldi, tapi kenapa senyumnya mengingatkanku pada Zahra. tunggu, sepertinya aku juga pernah melihat wajah itu selain di ponsel pak Aldi, tapi dimana?"
Dea bermonolog.
Di ruangan Aldi.
"Dad, kau datang." Aldi berdiri untuk memeluk papanya.
"Siapa dia Aldi, karyawanmu atau kekasihmu?" goda Albert dan aldi menimpalinya dengan senyuman.
"Bagaimana kondisi kai." tanya Aldi.
"Seperti sebelumya, tidak ada perubahan. sepertinya Kai butuh waktu lebih lama untuk beristirahat. mommy mu sedang menjaganya. karena kayla juga sudah waktunya melahirkan."
"Bagaimana dengan anak nakal itu, kapan dia kembali. sampai kapan anak itu akan main-main terus. mungkin jika harta anda habis dia akan berhenti bermain-main." Aldi menanyakan tentang si bungsu.
"Keisya, entahlah semakin hari anak itu semakin tidak bisa di atur. entah bagaimana pria yang akan menjadi suaminya nanti." dua orang beda generasi itu pun terkekeh bersama.
"Tadi ayah ke Apartemen kai." Albert menjeda ucapannya." Ayah juga sudah bertemu gadis itu."
"Bagaimana menurut ayah." tanya Aldi datar.
Albert menggedikkan bahu " Sepertinya dia baik." jawab albert.
"Zahra memang gadis yang baik, Kai sangat keterlaluan. kini gadis itu harus menanggung semuanya sendiri." ucap aldi kesal.
"Sudahlah jangan salahkan adikmu terus, dia juga menderita." Bela albert tak terima.
"Kau terlalu memanjakannya dad." Aldi bersungut.
"Itu karena dia tidak bisa sepertimu. kau putra terbaikku kebanggaan ayah." ucapnya Bangga.dan aldi tau itu dengan benar.
"Ya baiklah, manjamu membuatnya selalu dalam masalah, dia juga sangat cengeng dan kekanakan. kau di kelilingi orang-orang meyebalkan dad. tapi itu bukan aku. karena aku putra ibuku, KINAN AIZAHWA."
"Tapi mommy juga menyayangimu, jangan lupakan itu." timpal Albert. "Baiklah ayah pergi dulu, kalau sempat lihat keadaan kai. mungkin kau juga harus menjewer telinga anak nakal itu." Albert mengingat kelakuan si bungsu dan Aldi hanya menggeleng samar mengingat betapa bar-barnya keisya.
***
"Bagaimana, apa ada kabar." tanya Kania pada orang berjas hitam di hadapannya.
"Sepertinya kita terlambat bos, gadis itu sudah pergi dari kampung kurang dari setahun yang lalu." jawab pria tersebut.
"Apalagi info yang kau dapat. kira-kira siapa orang terdekat dengan mereka?"
"Sepertinya tidak ada. sewaktu nyonya kinan pergi, beliau hanya membawa seorang wanita tua yang sepertinya beliau adalah tuna wisma. dan setelah nyonya kinan meninggal, wanita tua itu yang merawat nona muda."
"Lalu dimana wanita tua tersebut sekarang. mungkin dia tau di mana anak kakakku"
"Wanita tua itu juga sudah meninggal setahun yang lalu. itu sebabnya no a muda pergi meninggalkan kampung."
"Bagaimana dengan tingkat tinggal mereka, apa yang di lakukan kakakku sisana."
"Nyonya kinan menempati rumah inventaris desa. karena di kampung itu nyonya kinan memberikan pelatihan untuk warga dan membuka usaha kecil. jadi semuanya di serahkan kepada kampung untuk di olah. dan jika suatu saat nona muda kembali ke kampung, mereka akan memberikan haknya sebagai pemilik usaha." jelas orang itu kepada kania.
" Apa kau tau nama dari anak kakakku?" bukankah kau seharusnya juga mendapatkan informasi tentangnya.
"Khanza, namanya khanza. tapi itu hanya nama panggilannya saja. untuk nama panjangnya tidak banyak yang tau. dan ini adlah foto terbru nona muda." pria itu menyerahkan amplop berwarna coklat dan kania menerimanya dengan senang.
"Kalu begitu, kita harus menemukan gadis di foto ini, secepatnya. aku tidak mau Albert mendahului kita untuk menemukannya." titah Kania dan pembwri info itu pun beranjak meninggalkan kania yang sedang memegang amplop berisi foto kanza.
Kania membuka amplop tersebut dan melihat foto-foto di dalamnya. foto-foto seorang gadis dari usia satu tahun hingga foto terbaru gadis itu.
Matanya membulat sempurna saat melihat foto di tangannya. sontak dia berdiri dari duduknya dan memanggil kemali pengawal yang baru beberapa langkah dari ruangannya.
Bukankah ini gadis yang bersama Aldi, anak kak kinan. apa sebenarnya hubungan mereka.apa mereka sudah lama kenal. atau albert hanya pura-pura? atau dia benar-benar tidak mengetahui apapun tentang gadis ini. Kinan bermonolog.
Di benaknya terlalu banyak pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban.
***
Jreng... jreng... jreng...
konflik udah terbuaka ya para readers, siapkan kopi buat othor nanti malem biar makin melek.
ehh, othor kagak tau malu ye 😄😄😄
ini udah double ya kakak, harusnya ini dua bab tapi othor lagi hilap ini, jadi ya udah di jadikan satu akhirnya.
HAPPY READING,,,,
lot of luv Chanda.