Daddy'S Love

Daddy'S Love
Nitip



Happy Reading...


Adalah normal jika pria dewasa apalagi telah mengenal banyak wanita bahkan menaklukannya memutuskan untuk tidak buru-buru menikah dan terikat pada komitmen yang ia rasa hanya menyusahkan dirinya.


Namun Zack berbeda. setelah kutukan main-main yang di lontarkan kedua sahabatnya itu tenyata menjadi kutukan tak main-main bagi dirinya


Sungguh dunia Zack terancam musnah saat tiba-tiba anak kecil berusia dua belas tahun muncul dalam kehidupannya. seperti membawa pesan kematian dari penghuni neraka. secara tiba-tiba bahkan ajaib menjadikan ia sebagai seorang ayah.


"Kenalkan namaku Salman Alfarok, anakmu."


Seorang anak mengulurkan tangan, terlihat sekali jika ia telah terdidik dengan sangat baik.


Apakah Zack beruntung? ataukah apes?


Tentu saja Zack menyebutnya sebagai keberuntungan yang membawa apes karena anak itu ternyata tidak datang sendirian. ia membawa pesan jika harus menikahi seorang gadis yang kemunculannya belum dapat di pastikan. tapi Zack bisa memastikan jika dirinya tak akan mampu untuk melewati itu semua.


"Apa ini?"


Zack tidak sedang mabuk, ia hanya kurang menyimak ucapan anak kecil tersebut yang mengakui secara gamblang bahwa ia adalah anaknya. tapi justru Zack lebih tertarik untuk menerima sepucuk surat yang di bawa anak itu bahkan membukanya.


Mata Zack terbuka lebar tak percaya setelah ia membaca sebagian surat tersebut.


"Menikahlah dengan gadis pilihanku sebagai ganti kesalahan yang telah kau perbuat padaku" isi surat tersebut cukup mengejutkan dan membuat Shock.


"Apa-apaan ini!"


Zack memprotes entah pada siapa, tentu saja pada yang menulis surat tersebut. Almira, gadis cantik dengan bola mata besar. yang ia kenal hanya sebentar lalu berada di pusara ranjang hotel karena dirinya mabuk.


Menikah atas wasiat tapi bukan dari orang tuanya melainkan gadis yang ia ambil kehormatannya? itu bukan sekedar Kutukan melainkan mengubur hidup-hidup. Zack ngeri hanya dengan membayangkannya saja.


"Apa kau sedang bermain-main denganku anak kecil?"


Zack bersuara lantang yang seharusnya membuat anak kecil itu takut dan menangis. tapi Salman berbeda, ia seolah sudah di cetak sangat kuat untuk mengahadapi sang ayah yang baru pertama kali di temuinya.


"Ini tengah malam, dan aku sedang tidak ingin bercanda denganmu, Ayah!" Salman menjeda kalimatnya sebelum ia memanggil kata 'ayah' untuk pertama kalinya.


Sejujurnya ada getar di hati keduanya, dan alam tak akan berbohong jika mereka adalah ayah dan anak yang memiliki sifat dominan sama. tapi mereka pun kompak menyembunyikan keadaan hati mereka.


"Katakan padaku, siapa pemilik rumah ini sebenarnya."


Zack mengikuti langkah bocah dua belas tahun itu dengan tergesa, padahal yang ia kejar berjalan penuh wibawa dan tenang. memasuki rumah megah yang jarang ia tempati.


"Tentu saja ini rumahmu." ujar Salman menanggapi pertanyaan bodoh dari pria yang baru saja ia panggil ayah.


"Lalu kenapa kau bersikap seperti seorang bos di sini?"


Apakah jawaban Zack cukup konyol pada anak kecil itu? tapi sungguh, ia seperti berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin. dari ujung rambut hingga kaki anak itu mewarisi sembilan puluh persen dirinya. hanya mata bulat Amira yang ia bawa bersamanya. serta senyum indah menawan yang pernah membuat Zack takluk pada pandangan pertama. tapi ia yakin itu bukan cinta. hanya ketertarikan semata dan sementara. ya, tentu saja. ia sangat yakin hal itu.


"Sebentar lagi akan menjadi milikku, apalagi jika anda sudah meninggal. rumah ini akan sepenuhnya menjadi milikku."


Zack menganga tak percaya atas ucapan pria kecil di hadapannya. apakah Amira sudah merencanakan ini sejak ia berada dalam kandungan, ataukah dendamnya sudah mendarah daging hingga di pertemuan pertama mereka, anak kecil yang notabene adalah darah dagingnya itu berani bicara seperti itu. tentang kepemilikan harta warisan bahkan di saat ia masih hidup dan sehat wal Afiat.


"Kenapa kau kurang ajar sekali!"


"Aku bahkan bisa mengusir mu saat ini juga dari rumahmu, Ayah."


Baiklah, tujuh puluh persen ternyata masih kotor. Zack harus memangkasnya lagi menjadi lima puluh persen.


"Ku rasa kau sedang bermimpi, jadi ku minta bangun secepatnya dan pastikan kamu ingat jika saat ini kamu sedang berada di tempatku."


Zack sudah sangat kesal, beberapa saat lalu ia sedang menghadapi kesulitan dalam pekerjaan dan sekarang ia justru di hadapkan pada kekonyolan seperti ini. bertengkar tengah malam dengan anak kecil.


"Aku datang untuk membangunkan mu dari mimpi buruk mu, Ayah. tapi aku juga tak akan membiarkanmu bermimpi indah mulai malam ini."


Apa anak di bagian dunia lain ada yang seperti ini, Zack rasa tidak. anak kecil seharusnya lucu dan menggemaskan. dan di jam seperti ini seharusnya mereka berada di bawah selimut, tertidur dan bermimpi.


Tapi kenapa anak kecil yang mengenalkan diri dengan nama Salman Alfarok ini justru sedang sangat senang mengganggunya? apakah ini mimpi.


Zack menggelengkan kepala beberapa kali. meyakinkan dirinya jika saat ini ia tidak sedang bermimpi. dan nyatanya ia memang tidak sedang bermimpi.


Buktinya lawan bicaranya saat ini meninggalkannya sedang terbengong sendiri.


"Mau kemana kau!" Zack sedikit mengeraskan suara karena obyek yang ia maksud sedah berada di tengah tangga.


"Sudah ku bilang aku lelah dan ingin secepatnya tidur, kau bisa menungguku sampai bangun besok pagi jika yang ingin kau bicarakan sangat penting."


Kesabaran yang tadi tinggal lima puluh persen ternyata saat ini hanya bersisa dua puluh lima persen.


Bagus sekali dan sangat hebat, hanya dalam waktu kurang dari sepuluh persen, anak sekecil itu mampu memporak porandakan kesabaran seratus persen menjadi dua puluh persen. dan itu pun jika ia tak menambahkan lagi kalimat menyebalkan dan membuat gula darah cepat naik.


Zack merasa ajalnya sudah dekat, ini semacam pembunuhan berencana dan pelan-pelan. ia tak yakin jika mampu melewati ini untuk sepuluh tahun ke depan.


Sepuluh tahun ia rasa terlalu lama, anak kecil bernama Salman yang kebetulan sangat mirip dengannya itu memiliki kemapuan untuk membuatnya bunuh diri hanya dalam hitungan hari. Zack yakin ini.


Ya Tuhan, ini sangat buruk.


Zack berharap ada lorong waktu yang bisa ia temukan secepatnya, agar ia mampu mengubah takdir buruknya. Dan lagi-lagi ia menjadi bodoh dengan berpikir seperti itu.


"Baiklah, kita lihat siapa yang lebih pintar anak kecil!"


Zack mondar mandir mirip setrikaan di ujung tangga. tanpa ia ketahui jika ulahnya itu sedang di perhatikan di tertawakan penuh kesinisan oleh Salman.


***


Karya baru di awal Desember, semoga menjadi hiburan buat kalian.


Mohon dukungan untuk kisah anggota Sablenger ke tiga. semoga kisah ini mampu memberikan hiburan tersendiri buat kalian.


Emak berharap kalian memberikan dukungan buat karya ini.


di tunggu like vote dan komen kalian agar tetap semangat dalam berkarya.


Happy Reading ...