
Happy Reading..
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Kinan dengan gugup. bola matanya bergerak-gerak gelisah menerima tatapan tajam dari sebagian orang yang ada di kamar itu.
"Mom?" sepatah kata Aldi membuat Kinan semakin meradang karena malu dan takut.
"Sayang." Tahu dari raut wajah yang di tampilkan okeh istrinya, Albert beringsut memeluk tubuh yang sudah mulai menua itu.
"Wow.. it's amazing." ucap Kai tersenyum. tapi berubah menjadi ringisan karena Zahra mencubit perutnya dengan sangat keras.
"Jangan meledek ibuku!" ucapnya sengit membuat Kai tersenyum lebar sambil meringis.
Kinan tak dapat lagi menyembunyikan rona malu dan bahagia di saat bersamaan. dan akhirnya wanita yang masih cantik di usia setengah abad itu mengangkat kepala perlahan.
"Maafkan ibu, tapi Daddy kalian menginginkannya." ucapnya sambil kembali tertunduk malu.
"Bhahaha.." Krisna tertawa sangat kencang.
"Lihatlah sayang, ternyata mereka tak terpisahkan. bahkan kau yang bertahun-tahun bersamanya tak mampu memberinya keturunan." ucap Krisna tanpa sadar telah menyentil perasaan Sofia.
"Jangan mengingatkanku akan kesalahanku. aku lebih malu dari pada Kinan saat ini." Ucap Sofia menunduk.
"Oh maafkan aku, aku tak akan mengingatkanmu lagi. mulai saat ini hanya akulah yang akan kau ingat." Krisna memeluk Sofia dan mendaratkan ciuman di kening wanita yang selalu membuat nya jatuh cinta.
"Selamat ya Kinan. aku senang mendengarnya. akhirnya kau memiliki kesempatan untuk merawat bayi lagi." Melati yang pertama memberi ucapan selamat.
"Ah kakak, kau membuatku iri." ucap Kania penuh kebahagiaan.
"Kalau begitu kau harus segera menyusul." balas Kinan.
"Tentu saja."
Tak ada hening seperti yang seharusnya terjadi di sebuah kamar rumah sakit, karena riuh kebahagiaan tak dapat mereka sembunyikan lagi.
Dan di sudut ruang yang lain, seseorang tengah tenggelam dalam tangisan dengan mendekap tubuh mungil seorang bayi merah.
Netranya menatap penuh luka pada bayi di pangkuannya. hanya kata maaf dsn sayang yang mampu ia ucapkan. "Maafkan ibu jika ini harus terjadi, tapi percayalah jika semua ini untuk kebaikanmu. dan suatu saat semoga kau juga bahagia karenanya." ia mengakhiri ucapannya dengan ciuman singkat yang akan menyakiti dirinya seumur hidup.
Di sebuah lorong yang tak jauh dari kamar itu, dua orang yang tampak saling berhadapan.
Sorot mata tajam yang sangat terpancar dari salah satu dari mereka. berbeda dengan wanita yang lain yang tampak memasang sorot mata sendu menghina.
"Kania, aku ingin bicara." ucap Sofia sedikit gugup.
"Kau tak perlu mengatakan apapun, karena aku sudah mengetahui semuanya."
"Semua?"
Sofia menunduk menyembunyikan ketakutan di wajahnya. tak mampu ia melihat wajah penuh penghakiman itu.
"Maafkan aku Kania" Pinta Sofia menghiba. "Maaf..." pintanya lagi.
Andaikan waktu bisa di putar, mungkin ia akan memilih untuk tak pernah terpisah dengan saudaranya. dan jikalau pun itu terjadi, mungkin ia akan lebih memaksimalkan pencarian nya.
Namun sayangnya sudah sangat terlambat. nasi telah menjadi bubur tak akan bisa lagi di kembalikan, namun bila bubur hambar itu di tambahkan bumbu mungkin masih bisa di nikmati.
Seperti halnya kesalahan yang tak mungkin termaafkan, jika masih bisa melakukan kebaikan dan usaha untuk memperbaiki diri, mungkin masih bisa untuk memperbaiki keadaan.
"Sudahlah kak, aku memaafkan mu. karena aku tahu kau tak bersalah dalam hal ini. kau pun sudah berusaha untuk menemukanku. aku hanya ingin agar kau menjadi kakakku. kakakku yang baik tang selalu menyayangi dan melindungi ku"
"Terima kasih Kania, maafkan aku."
***
Kesalahan terbesar adalah tak mampu mencintai dengan tulus. luka yang terdalam adalah tak pantas untuk di cintai. Kebahagiaan tak seharusnya menimbulkan kesedihan. Kebahagiaan seharusnya mencintai bukan memaksa untuk di cintai. Ku gores kan luka pada hati para pecinta. namun akulah yang paling menderita. akulah si bodoh itu dan terima kasih atas cinta kalian. aku Sofia dan aku bahagia
***
Terbuang dan sendiri hingga seseorang telah merengkuhku dalam dekapannya. namun goresan luka kembali memisahkan, menumbuhkan kesakitan yang membenci. aku terjebak oleh sikap dingin dan kejam yang membahagiakan. hingga waktu mengembalikan semuanya. Je t'aime mr Edward. Aku Kania Aizahwa dan aku bahagia.
***
Ku gadaikan cinta dalam sebuah ketidak percayaan. ku buat sebuah luka namun aku lah yang tersakiti. hingga hanya pecinta sejati yang mampu mengobati. Aku Albert Almeida dan aku bahagia.
***
Aku telah terluka dari sebuah rasa. ragu mu telah memusnahkan aku dari bahagiaku. tiada ku pisahkan aku dari jiwaku. hanya sang waktu penentu dari langkahku. kembalikan aku dalam duniamu. persatu kan kembali duniaku dan duniamu hingga menjadi dunia kita. Aku Kinanti Aizshwa Almeida. dan aku bahagia.
***
Terpisah dan kehilangan. luka. dan kebencian. tertawan keadaan hingga akhirnya ia datang menawarkan Cinta memberikan warna dalam hidupku. dan menyempurnakan hidupku.
Aku mencintaimu Kai... sangat mencintaimu. sekarang esok dan selamanya.
aku Khanifah Zahra. dan aku bahagia.
***
Terluka dan kecewa. hingga aku menjadi pecundang dan menyakitimu. namun ketakutan mu justru menyakitiku. cintamu telah menarik ku begitu dalam hingga menenggelamkan ku. dalam lautan cintamu aku bernafas tanpamu aku tiada. layaknya ikan yang terlempar dari kubangan.
Khanza, Kau penyempurna hidupku. Setiap hari tanpamu laksana buku tanpa halaman. Aku mencintaimu lebih banyak dari kemarin dan lebih sedikit dari pada esok. Aku Rakai Langit Abiyasa dan aku bahagia.
.