
Happy Reading...
Di depan sebuah Gedung pencakar langit, tampak seorang wanita dewasa turun dari sebuah mobil mewah. wanita cantik dengan tubuh bak model dengan tinggi badan 175 cm tersebut melangkah menuju lobi kantor Almeida corp dengan begitu anggunnya.
Wanita cantik dengan rambut di sanggul rapi dan memakai gaun dengan model sederhana, namun terkesan elegan. longdress berwarna khaki berlengan panjang berbahan shifon lembut menjuntai hingga mata kaki yang sangat pas di tubuhnya. dengan hells setinggi 12 cm dengan warna senada yan menopang kaki jenjangnya tak menghalangi langkahnya yang pasti memasuki area perusahaan .
Tak ada senyum ramah tamah atau pun di buat-buat tersungging di bibir cantiknya. langkahnya pasti dengan satu tujuan yaitu menemui sang pemilik perusahaan.
"Selamat siang nyonya". sapa seorang recepsionist. "ada yang bisa dibantu?" sambungnya lagi.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini." ucapnya pongah.
"Apa sudah ada janji?"
"Saya belum memiliki janji dan juga tidak ingin membuat janji, katakan saja teman lamanya ingin bertemu." sambungnya dengan kepongahan yang sama.
"Maaf nyonya, tuan Almeida sedang tidak ingin di ganggu." tegas resepsionis yang mempertahankan tanggung jawabnya.
"Bersedia atau tidak saya akan tetap menemuinya. tunjukkan dimana ruangannya." ucapnya kekeuh. dan melanjutkan langkahnya setelah resepsionis memberi tahu dimana tepatnya ruang Direktur.
Dan dengan langkah tegasnya wanita cantik itu berjalan kearah yang ruang yang telah di tunjukkan oleh sang resepsionus.
Saat sampai di depan ruangan yang di tuju, wanita itu di sambut oleh seorang wanita muda yang berumur sekitar dua puluh tujuh tahunan sambil tersenyum. mungkin resepsionis yang beberapa menit yang lalu ia temui sudah memberi tahu perihal tamu yang memaksa masuk.
"Selamat siang nyonya, silahkan masuk. anda sudah di tunnggu oleh pak Direktur." sapa wanita muda itu.
Dan tanpa ucapan terima kasih, sang tamu tak di undang pun memasuki ruangan tersebut.
"Good afternoon Mr. Almeida." ucapnya setelah ia berada di dalam ruang direktur yang membuat si pemilik ruang mendongak dan menoleh ke arah sumber suara.
"Are you remember me Mr. Almeida?
"LONG TIME NOT SEE Kania, of course I remember you. how are you honey?" sambut laki-laki yang tengah duduk di kursi kebesarannya. tampak keterkejutan di wajahnya namun dengan segera ia enyahkan.
"I'm fine brother in law. nice to meet you." ucapnya dengan senyum nya. dan tanpa di persilahkan oleh si tuan rumah, wanita cantik nan anggun itu langsung mengambil duduk di depan sang empunya gedung.
"Well, apa yang membuatmu datang kemari, aku kira kau sudah tidak ingat dengan negaramu, kania?"
"Tentu aku tidak akan lupa dimana aku di besarkan. aku tidak akan menjadi kacang lupa kulitnya." sindiran halus yang sebenarnya ia lontarkan untuk orang yang sedang duduk di hadapannya.
"Bukankah kau sudah mendulang keduksesan di negeri orang, lalu untuk apa kau kembali." sebuah pertanyaan bodoh yang akan memdapatkan jawaban luar biasa.
"Aku kesini hanya untuk menyapamu, dan tentu ada alasan lain. aku rindu dengan kakakku dan aku juga ingin memeluk keponakan kecilku."
"Ups!! aku lupa jika sudah bertahun-tahun yang lalu aku menemuinya dan tentu sekarang ia sudah dewasa. di mana mereka sekarang. kakak dan keponakanku." tanyanya berbelit-belit yang membuat seorang Albert almeida memandangnya dengan serius.
"Jangan bertele-tele, katakan apa maumu?" ucap albert tajam.
"Katakan di mana kakakku, Albert!" ucap kania tak kalah tajam dengan sorot mata yang tajam pula.
Albert menghela nafas sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu, di mana kinan sekarang." Albert berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan ke arah kaca besar yang memperlihatkan pemandangan di bawah sana.
"Sudah ku duga, jawabanmu tepat seperti yang aku fikirkan. kau benar-benar brengsek!" kania menekankan kata-katanya.
"Jaga ucapanmu kania, kau lupa sedang berbicara dengan siapa?" sambil menoleh ke arah kania yang ada di belakangnya.
"KANIA!!!" bentaknya.
"Kenapa? apa kau tersinggung kakak ipar? kau sakit hati jika ada orang berkata tajam terhadapmu. lalu, bagaimana dengan ucapanmu yang menghakimi kinan dengan tuduhanmu yang tidak beralasan itu. kau menuduhmya hanya berdasarkan beberapa foto yang kau sendiri tidak tau siapa pengirimnya." cerca kania.
Albert tidak dapat membalas ucapan Kania karena apa yang di lontarkan oleh kania adalah benar. ada penyesalan di raut wajah albert saat kania mencercanya dengan fakta masa lalunya.
"Dan sekarang aku tanya sekali lagi, dimana kinan." albert tidak dapat menjawab pertanyaan kania karena kenyataannya Albert pun tidak tau tentang keberadaan kinan.
"Sekarang biar aku ceritakan tentang kebenarannya. dan ku harap setelah ini kau menyesali apa yang telah kau perbuat pada keluargamu." ucapan kania benar-benar membuat Albert bungkam.
Flashback on.
"Kania!"
Kania yang tengah berkutat dengan buku-bukunya di kagetkan oleh kedatangan kinan yang tiba-tiba.
"Kak kinan!" gadis itu berlari dan memeluk kakaknya. orang yang telah memberikan segala yang ia miliki untuk gadis kecil yang ia pungut dari jalanan.
"Kakak ada apa malam-malam kesini?" tanyaku.
"Apa kau keberatan kakak mengunjungimu?"
"Tidak kak, tentu saja tidak. kakak boleh datang kapanpun karena ini rumah kakak." ucapku sambil memeluknya lagi. entah kenapa malam itu aku melihat kakak sangat sedih.
"Apa kakak boleh menginap di sini bersamamu?" tanyanya tanpa disadari bahwa itu kebersamaan kami yang terakhir.
"Benarkah kak? aku senang kakak menginap." ucapku senamg. "Kakak sendirian lalu kemana keponakanku kak? dan juga kakak membawa koper. kakak mau pergi?" tanyaku yang memang aku tidak tau apa-apa.
"Kakak akan melakukan perjalanan bisnis, jadi kakak harus pergi sendiri."
"Kania, apa kau menyayangi kakak dan akan menuruti segala kamauan kakak?" ucapnya.tapi aku masih tak menyadari apapun.
"Kania akan lakukan apapun yang kakak mau, tapi kenapa kak? ada apa ini?" aku makin tidak mengerti saat ia mengeluarkan berkas-berkas dan menyerahkan padaku.
"Besok kau harus berangkat ke Paris, bukanlah kau ingin menjadi seorang desainer? kakak sudah mengurus semuanya di sana kakak juga sudah menyiapkan tempat tinggalmu. dan berkas-berkas penting ini akan kakak simpan di bank. setelah kau lulus, kau akan mengambil alih semuanya." dan aku masih saja belum mengerti arah pembicaraannya.
"Sekarang tidurlah, besok kakak akan mengantarmu." kita tidur di ranjang yang sama. dia memelukku dengan sayang.
dan Siangnya kami benar-benar berpisah di bandara.
Flashback off.
"setelah beberapa bulan kak kinan baru menelponku, dia tidak mengunjungiku sama sekali. dia bilang bahwa dia tengah hamil. dokter mwlarangnya melakukan perjalanan jauh."
Jedarr....
Bagai di sambar petir, albert mendengar penuturan kania bahwa kinan sedang hamil.
***
scroll lagi...