Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 111



Happy Reading...


Semua mata tertuju pada tangga dimana Sofia berjalan dengan anggunnya.


Tidak seperti biasanya, yang selalu berjalan dengan mengangkat dagu dengan aura kesombongan tercetak di setiap inci wajahnya. tapi tidak dengan kali ini. kini wanita itu berjalan dengan menunduk dan tersenyum penuh keramahan. entah drama apa lagi yang di mainkannya, hanya wanita itu yang tau.


"Selamat malam, maaf membuat kalian menunggu." ucapnya ramah.


"Tidak apa-apa mom." dari semua yang hadir hanya Kai yang menjawab.


Sofia berjalan hingga ujung tangga terakhir dan ia terhenti tepat saat tangan Kai menyambutnya. Lalu Kai membawanya bergabung di meja makan bersama yang lain.


"Selamat malam Ravi, apa kabar?" sofia mengulurkan tangan menjabat tangan Ravi.


"Selamat malam Kakak ipar." Balas Ravi dengan tersenyum dan membalas jabatan tangan Sofia.


Senyum Ravi sempat menghipnotis Sofia untuk seperkian detik. tiba-tiba rasa rindu terhadap mendiang mantan suaminya menyeruak dalam hatinya. dan itu menimbulkan penyesalan yang dalam atas perbuatannya dulu.


Kini Sofia sadar siapa orang yang benar-benar ia butuhkan saat ini. Albert yang selalu bersikap dingin dan selalu menolaknya, ataukah ravi yang selalu sabar menghadapai segala keegoisannya. setirik air mata hampir jatuh dari pelupuk matanya lalu ia segera tersadar. ini bukan waktunya untuk menangis atau menyesali diri. inilah waktu yang tepat dimana ia harus memulai memperbaiki diri.


"Hai, apa kabar Melati." Sofia memeluk tubuh wanita yang selama ini ia buat menderita secara tak sengaja.


"Aku baik sofia. terima kasih." sambut melati dan membalas pelukan sofia.


"Maafkan aku melati, aku telah mengambil paksa putramu. tak seharusnya Krisna melakukan ini. aku bisa merasakan penderitaanmu. tak ada yang lebih buruk dari sebuah perpisahan dengan darah dagingnya." Sofia menggenggam tangan melati. air mata Sofia sudah tak dapat di bendung lagi. wanita itu menangis.


Sofia dengan penyesalannya dan Melati dengan perasaan yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. antara sedih dan bahagia.


"Tidak apa-apa, kau sudah merawat Raka dengan sangat baik. terima kasih kau sudah membuatnya menjadi pria yang sangat hebat." ucap melati tulus.


Kai berjalan mendekati dua wanita yang berharga dalam hidupnya. meski Sofia bukan ibu kandungnya dan mencoba menghalangi kebahagiaannya, namun wanita itulah yang selalu ada untuknya. tak dapat di pungkiri bahwa Kai sangat menyayangi Sofia. dan Melati, wanita yang telah mengandungnya dan melahirkannya kendati bukan dirinya yang merawat dan membesarkannya, tapi darahnyalah yang membuatnya bernafas. dengan tangan panjangnya kai merangkul kedua wanita itu. "Aku adalah putra kalian berdua. aku hidup berkat kalian dan aku sangat menyayangi kalian berdua."


Suasana haru sekaligus bahagia melingkupi kedua keluarga. tak ada lagi kesedihan dan tak ada lagi kedengkian. semuanya memiliki definisi bahagia masing-masing. dan memiliki porsi kebahagiaan masing-masing.


Dan malam itu menjadi moment yang tak terlupakan bagi keluarga Almeida dan Abiyasa. tak ada yang lebih berharga dari sebuah kebersamaan dan berkumpulnya keluarga. inilah kebahagiaan sejati.


***


Hari-hari berikutnya terkewati dengan hal-hal yang sungguh indah. Kebahagian Kai dan Zahra tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.


Hari-hari di warnai dengan segala tingkah pola Rain yang selalu membuat semua orang bahagia dan lelah secara bersamaan.


Kenakalan Rain yang selalu ingin mendapatkan perhatian dan kemanjaan Zahra akibat kehamilannya yang sering sekali membuat Kai ingin berteriak frustasi menjadi tontonan gratis bagi semua orang.


"Dad, bisakah kita pergi ke taman hiburan week end ini? aku sudah berjanji pada temanku untuk menemuinya disana."


"Ah itu, entahlah, sepertinya daddy sibuk di hari itu." ucap Kai hati-hati karena takut membuat Rain kecewa dan sedih.


"Bukankah week end ini kita akan pergi ke villa sayang." Zahra mengingatkan karena sudah ada jadwal di hari itu.


"Tapi mom, aku sudah berjanji dengan teman-temanku. aku akan malu jika tak bisa hadir disana." ucap Rain tak mau kalah.


"Biar mommy tebak, apa temanmu itu perempuan Rain, apa kalian berkencan? kalian masih kecil. tidak perlu melakukan semua itu." Zahra memicing seperti mencurigai Rain karena tidak biasanya ngotot saat ingin pergi ke suatu tempat.


"Kalau iya memangnya kenapa mom, lagi pula kita hanya berteman. tidak seperti yang mommy fikirkan." Ucap Rain membela diri.


Kai bingung harus berada di kubu siapa, jika ia memihak Rain pasti ketentraman malam harinya akan di pertaruhkan dan jika ia berada di pihak Zahra, pasti sebentar lagi Rain akan menemukan kata-kata yang membuat Kai tak berkutik. Kai hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi setelah ini.


"Daddy harus pergi sama mommy. lebih baik kau batalkan janjimu itu Rain dan kau ikut saja bersama kami." Putus zahra akhirnya tanpa ingin mendengarkan penolakan dari Rain.


"Grandpa lihatlah putrimu itu menyusahkan!" ungkap Rain membuat Albert yang sedang makan harus menoleh ke arah Zahra dan Rain bergantian.


"Lihatlah Kai putramu itu menyebalkan." Zahra tak terima dengan tuduhan Rain akhirnya membalas perkataan Rain. terdengar kekanakan memang, apakah ini juga efek dari hormon kehamilan Zahra? entahlah saat ini yang paling menderita hidupnya adalah Kai. anggaplah itu hukuman untuknya karena kesalahannya di masa lalu.


"Sudah.. sudah... lanjutkan sarapan kalian. tidak baik bertengkar di saat makan." Kinan menengahi perdebatan ibu dan anak itu.


"Jangan khawatir Rain, kakek dan nenek yang akan mengantarmu. benarkan sayang." Kinan meminta persetujuan Albert dan Albert pun mengangguk pasti. anggaplah ini kencan untuk mereka berdua karena masa-masa itu telah terbuang di masa lalu.


"Baiklah kalau begitu." ucap Rain Riang.


Akhirnya Kai bisa bernafas lega karena terbebas dari permasalahan pagi ini.


"Kau kenapa Sofia?" tanya Albert karena sejak tadi sofia hanya diam saja.


"Aku tidak apa-apa. jangan khawatir." ucap sofia dengan senyum di paksakan.


"Apa kau sakit sofia, kau sedikit pucat." Kinan memperhatikan wajah Sofia yang memang sedikit pucat pagi itu.


"Tidak Kinan. aku baik-baik saja. semalam tidurku kurang nyenyak. aku hanya mengantuk saja." ucap Sofia terdengar datar tapi kinan mencurigai ada hal yang tengah di sembunyikan sofia saat ini.


Kinan menelisik wajah Sofia yang tak seperti biasanya. dan akhir-akhir ini tingkahnya juga sangat aneh. bukankah selama ini Sofia adalah wanita yang banyak menyimpan rahasia? jadi wajar jika ia di curigai. tak jarang pula Sofia pergi untuk beberapa hari tanpa memberitahu dimana keberadaannya. tak ada yang mempermasalahkan hal itu mengingat sofia adalah wanita bebas yang tak pernah menginginkan orang lain mengekangnya.


***


Ada yang bisa menebak apa Rahasia Sofia???