
Happy Reading...
Di siang hari menjelang sore, semilir angin berhembus pelan. menghantarkan kesejukan yang mendamaikan hati.
Zahra duduk di sebelah albert di kursi yang sama. mereka duduk sambil melihat rain berlarian mengitari taman. tertawa riang tanpa beban.
Hening untuk beberapa saat. Albert yang sedang merangkai kata-kata dan zahra yang sedang menata hatinya. bersiap untuk menerima apapun yang akan di ceritakan oleh albert.
"Sejak kapan kau berdiri di sana?" Albert membuka percakapan.
"Hah.." zahra kikuk tak bisa menjawab. lebih tepatnya takut di anggap lancang.
"Apa kau mendengar semuanya?" tanya albert to the point.
"I' iya, eh, tidak!" jawab zahhra semakin kikuk.
"Semua yang kamu dengar itu benar zahra." albert memandang jauh kedepan seperti ragu untuk melanjutkan ceritanya.
"Semua ini milikmu, ayah hanya menjalankannya. dan jika kau mau kau bisa mengambilnya sekarang."
albert memberi tahu masalah yang sebenarnya tak ingin di ketahui zahra.
"apa?" tanya zahra tak mengerti.
"Aset ibumu. semua aset kepemilikan almeida adalah atas nama ibumu yang nantinya akan menjadi milikmu dan kakakmu. ayah sama sekali tak berhak. ayah hanya pegawai di sini." albert tersenyum getir. pria tua itu seperti baru menyadari titik keberadaannya saat ini.
"Bukan itu. a-aku tak mempermasalahkan soal itu. tapi ini tentang kai. benarkah yang ayah ucapkan?" tanya zahra berhati-hati.
"Yang mana?" albert menoleh ke arah zahra dan kebelakang memasang mode waspada takut ada yang mencuri dengar obrolannya.
"Tentang kai yang bukan anak kandung nyonya sofia" sontak albert menoleh ke arah zahra dengan cepat.
"ah.. itu. ya itu benar." ucap albert terbata.
"Lalu siapa orang tua kandungnya ayah?" namun suara deheman dari orang di belakang mereka membuat albert dan zahra menoleh bersamaan.
"Kai.." zahra terperanjat. ia menoleh ke arah albert yang juga tak kalah terkejutnya.
"Kalian membicarakan apa sampai seserius ini." kai mendekati zahra dan duduk di sampingnya. tanpa ragu dan rasa malu kai menyelipkan anak rambut zahra yang sedang menunduk. ia tak mau kalau kai sampai melihat raut keterkejutan di wajahnya.
"Aku harus pergi. ada yang harus aku urus sebentar. kau masih mau di sini atau pulang." tanya kai dengan penuh kelembutan.
Melihat pemandangan romantis di depan matanya membuat hati albert teriris sekaligus bangga di waktu bersamaan.
Hatinya terasa nyeri tatkala mengingat bahwa ia ikut berkontribusi memisahkan dua orang yang saling mengasihi.
Namun ia juga bahagia dan bangga karena kai begitu mendamba dan memuja putrinya.
Albert berkaca-kaca. dalam benaknya terbesit tekad bahwa mereka harus berbahagia setelah sekian lama menanggung kepedihan karena sebuah ego.
"Aku masih mau disini." sambil melirik albert dengan ekor matanya. "dan sepertinya rain juga masih betah." zahra beralasan. "jadi kau pergi lah dulu nanti kau bisa kembali." zahra mengusir kai dengan lembut agar tak mencurigainya.
"Baiklah, aku akan kembali sebelum makan malam. bye." kai mencium pipi zahrz lalu beranjak pergi meninggalkan albert dan zahra.
"Bye dad." pamit kai pada albert yang di balas anggukan oleh albert.
Suasana kembali tenang setelah kepergian kai.
Kini zahra akan mendengar semua yang akan di ceritakan oleh albert tentang kebenaran siapa orang tua kai sebenarnya.
suasana tiba-tiba hening. tak ada suara lain kecuali suara rain yang tertawa riang sedang berlarian. degup jantung zahra mengiringi cerita masa lalu. bagai alunan musik syahdu penghantar kerinduan.
Semilir angin sore, menerbangkan surai-surai lembut zahra. menyapu wajah cantik yang sedang cemas menanti sebuah ungkapan.
"23 tahun yang lalu." albert mengawali cerita.
"setelah ibumu pergi, ayah begitu frustasi. dan mulai menenggelamkan diri dalam minum-minuman keras. keluar masuk club malam hanya untuk mencari pelampiasan." albert menelan salivanya dengan susah.
"di sinilah awal mula ayah terjebak dengan wanita iblis itu." albert mengepalkan tangan menahan gejolak hatinya.
"sofia datang dengan membawa cerita perpisahannya dengan ayah kai. ia bilang krisna menghianatinya dan menceraikannya. kami berbicara sesama orang yang sedang patah hati." albert tersenyum getir mengingat masa lalunya.
"tapi ayah sama sekali tak menduga bahwa itu adalah drama yang sengaja ia buat. dengan scenario yang tertata indah sofia datang memasuki kehidupan ayah membawa pesona yang tak mungkin di tolak oleh kaum adam manapun."
"Tapi ayah bersikukuh untuk menjadikan ibumulah satu-satunya cinta dalam hidup ayah." ucapnya di sertai senyum penuh cinta.
"Sofia tak menyerah begitu saja dengan penolakan keras dari ayah. hingga malam itu ia membuat ayah mabuk dan saat pagi ayah menemukannya di ranjang ayah tanpa busana. tapi ayah bersumpah ayah tidak mengingat apapun yang terjadi malam itu. kami bertengkar hebatbpagi itu."
"lalu ia menghilang dan 1 bulan kemudian ia datang dengan membawa hasil pemeriksaan dari dokter yang menyatakan bahwa ia telah hamil."
"Saat itu ayah sedang dalam masalah besar. usaha ayah hancur ayah bangkrut. mungkin itu karma yang harus ayah terima karena mengusir kalian."
Air mata zahra meleleh mendengar betapa hancurnya Albert kala itu.
"Di tengah kepelikan masalah, ayah tak dapat berfikir jernih. sofia menuntut ayah untuk segera menikahinya. dan dengan terpaksa ayah menghianati ibumu karena kebodohan ayah dengan menikahinya. itu ayah lakukan demi anak yang di kandung sofia."
"Ayah berfikir keras. bagaimanapun ada kakakmu yang harus ayah rawat dengan baik. dan mengingat ada janin di dalam rahim sofia yang mungkin saja itu adalah anak ayah."
"Dan dengan menggunakan semua yang menjadi hak milik ibumu ayah kembali membangun bisnis. memulai semuanya dari nol. jadi ayah akan memberikan semuanya kepadamu saat ini." albert mengenggam lembut tangan zahra.
"Aku tak menginginkannya yah, cukup aku memiliki kalian. kau kakak, rain dan kai. aku bahagia yah." zahra menyandarkan kepalanya di dada albert dan memeluk pria tua itu.
"tapi masalah lain datang seiring berjalannya waktu."
"Tiba-tiba krisna datang dan mengatakan bahwa anak dalam kandungan sofia adalah anaknya. dia bilang, dia bertemu dengan dokter yang memeriksa kehamilan sofia. tapi kenapa sofia tak mengatakan apapun padanya. justru menjadikan kehamilannya sebagai alat untuk memuluskan rencananya."
" Tapi kau terlihat begitu memujanya. lalu apa aku bisa mempercayai ceritamu?" pertanyaan yang memojokkan albert.
"Dan saat itu kami memutuskan memperbaiki semuanya. ayah bertekad untuk menceraikan sofia. namun ada hal yang terjadi yang membuat ayah tak bisa lepas dari jerat sofia."
***
teng ... teng... teng...
yaelah thooor dikit lagi napa. gantuung!!!
Hal apakah itu sodara-sodara..
Author ucapkan terima kasih atas do'a kalian. maaf harusnya up malam tapi apalah daya si emak ini harus drama di kehidupan nyata. 😂😂😂
Makasih atas dukungan teman-teman readers. tanpa kalian author ini bukanlah apa-apa. tetaplah di sini menemani author berhalu ria menghalau galau agar tetap kuat menghadapi kenyataan. wkkkk
Ritualnya gengs...
lots of luv chanda 💕💕💕