
Happy Reading...
Sudah beberapa sejak kejadian itu, Zahra sudah menerima kehamilannya. ia juga sudah terbiasa berbicara dengan Kai melalui gawai Aldi.
Namun anehnya mereka seolah melupakan teknologi yang dinamakan Video call sehingga sampai saat ini Zahra belum melihat wajah kai seperti apa.
Sedangkan hubungan Aldi dan Zahra semakin dekat, sepertinya mereka berdua sudah nyaman dengan kedekatan mereka.
Berbeda dengan Zahra, dalam lubuk hatinya masih ada ketakutan tentang hubungannya dengan ayah biologis calon bayinya.
Namun pagi itu, Zahra belum berbicara dengan Kai. seolah ada yang kurang saat ia tak mendengar suara kai.
Sampai saat jam kerja usai, aldi belum juga memanggilnya untu menerima panggilan telpon. tiba-tiba dadanya merasa sesak, hatinya merasa sedih.
Malam telah larut, namun kantuk belum juga menghampiri Zahra. mendadak ia begitu merindukan suara itu, suara yang beberapa bulan lalu sangat ia takuti. tapi kini menjadi penenang dalam dirinya.
Hatinya menghangat saat ia mengingat ucapan kai yang memintanya untuk menunggunya dan untuk menjaga bayinya.
Tiba-tiba tanpa di minta air matanya jatuh, Zahra menangis karena merindukan kai, ia merindukan suaranya. dan entah kenapa tiba-tiba ingin memeluk wangi maskulin dari tubuh kai yang dulu sangat ia benci.
Kakinya melangkah untuk mengambil jaket kai yang ia simpan. padahal sebelumnys ia sangat ingin membakarnya tapi ia urungkan karena takut si empunya jaket mencarinya. bukankah itu sangat konyol.
Zahra memeluk dan mendekap erat jaket kai, menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang menenangkannya. lalu tiba-tiba dering gawainya menginterupsinya. unknown mumber yang tertera pada layar ponselnya.
Tanpa berfikir panjang gadis itu menerima panggilan telponnya, dan dia terkejut saat mendengar suara pria yang sedang menyapa kendang telinganya. suara yang seharian sangat ia nantikan.
"Hallo Zahra."
"Siapa?"
"Aku Kai." Zahra terdiam karena tidak percaya kai yang menelponnya.
Dari mana ia mengetahui nomorku. batin Zahra.
'"Iya, ada apa? tanya zahra gugup.
"Apa kau keberatan aku menelponmu?"
"Ti-tidak. tentu saja tidak." ucapnya terbata. tapi ia senang kai menelponnya.
"Apa kau menungguku? emm.. menunggu telponku maksudku."
"Ehm.. iya, ah.. tidak." zahra bingung harus menjawab apa, tapi di sana Kai sedang tersenyum. ia tau Zahra sedang menunggu telpon darinya.
"Apa Kau merindukanku?" jleb! ucapan kai menohok hatinya, seolah tau yang ada di hati zahra.
"Aku bisa melihat wajahmu dari tempatku duduk, setiap hari aku melihatmu asal kau tau."
"Dari mana kau tau?" zahra memberanikan diri untuk bertanya.
"Jangan kau fikirkan. itu rahasia." sepertinya kai sedang menggoda Zahra.
"Tapi itu tidak adil, aku belum pernah melihat wajahmu." suara Zahra terdengar manja. hormon kehamilan sepertinya membuat ia menjadi lebih melow.
Kai terkekeh "Kau benar, tapi aku tidak mau kau melihat wajahku saat ini."
"Tapi kenapa, mungkin ia juga ingin melihat wajahmu," zahra meraba perutnya yang masih rata.
"Benarkah?" kai antusias. "aku hanya tidak ingin kau takut, aku akan muncul di hadapanmu saat kau sudah bisa menerimaku, atau saat kau mencintaiku." kai terdiam sejenak.
"Aldi bilang kau sempat trauma, apa itu benar?" zahra tidak menjawab.
"Maaf telah membuatmu takut, maaf telahmenyakitimu. aku janji aku akan menebusnya." ucapan kai membuat Zahra meneteskan air mata. siapa sangka pria yang dulu sangat ia benci justru sekarang menjadi orang yang paling ia rindukan. meski tanpa ia tau bagaimana wajahnya.
Bukankah cinta itu aneh, hanya dengan mendengar suara telah mampu menenangkan hati yang sedang gundah. tanpa memandang wajahnya mampu membuat orang merindukannya. tapi cinta juga jahat karena telah menorehkan luka yang sebelum ia mengenalnya.
"Apa yang kau lakukan jika kau merindukanku?
"Aku memeluk jaketmu, maaf aku mengambilnya waktu itu." ucapnya terdengar malu.
"Tidak apa-apa, kau boleh menyimpannya. Apa hari ini dia menyusahkanmu? Aldi bilang kau sering merasa tidak sehat. kau bisa berhenti bekerja kalau kau tidak sanggup, aku akan membiayaimu jangan khawatir. aku tidak ingin kau sakit. jangan sampai terjadi apa-apa dengannya. tolong jaga dia untukku." sambung kai panjang.
Hening...
"Sampai jumpa, dan tunggu aku. aku akan datang mungkin agak terlamb.."
Ciiiit.... Dhuuum... Dhuarr!!!
Kai tidak melanjutkan ucapannya, terdengar suara decitan dan dentuman di susul suara ledakan dan, tut... tut... tut... panggilan terputus.
****
**Kai kenapa????
yuuk.. siapkan do'a terbaik buat kai, semoga mas kai gak kenapa-kenapa ya readers**
Like, coment please...
Gift and vote seikhlasnya 😗😗😗