
Happy Reading...
Sidang perceraian Albert dan Sofia telah selesai beberapa saat lalu. ketokan palu hàkim menandakan putusnya ikatan tali pernikahan Albert dan Sofia telah putus.
Proses perceraian berjalan lancar karena tak ada hal yang membuat proses sidang menjadi alot.
Sofia yang menjadi pihak tergugat juga tak pernah hadir dalam persidangan sehingga prosesnya berjalan lebih cepat selesai.
***
Albert berjalan dengan begitu gagahnya menghampiri Kinan yang sedang berdiri menatap langit senja dari balkon kamar pribadinya.
Rona jingga di atas cakarawala yang sangat cantik dan romantis melengkapi suasana hati Albert yang sedang bahagia saat ini.
"Kenapa kau sendirian. apa yang kau fikirkan." Albert memeluk pinggang kinan dari belakang dan menenggelamkan wajahnya tengkuk kinan dan menghirup aroma rambutnya.
"Kita bukan anak muda lagi Albert. lagi pula aku juga belum memaafkanmu sepenuhnya." ucap kinan saat merasa tangan albert bergerak lembut di perutnya.
"Kau akan memaafkan ku, aku yakin itu." ucap albert yakin dan semakin mengeratkan pelukannya.
Merasakan kehangatan yang menjalar dari pertemuan dua tubuh yang masih terbungkus helaian benang, tak dapat di pungkiri bahwa keduanya merasakam desiran-desiran yang telah lama tak mereka rasakan.
Desiran-desiran yang telah lama mati seperti sekuntum bunga yang bergerak perlahan membuka kelopaknya.
Rasa yang telah lama terkubur, kini mulai terbangkitkan. rasa rindu yang membuncah telah menyatakan bahwa cinta mereka tak pernah mati. seperti kobaran api yang siap membakar keduanya.
"Jangan seperti ini Albert. kau membuatku tak nyaman." Kinan berusaha melepaskan kedua tangan Albert yang berpaut di atas perutnya.
"Biarkan seperti ini sebentar saja. aku sangat merindukmu." Albert masih betah dengan posisinya dan degan terpaksa kinan membiarkan apapun yang dilakukan albert terhadapnya.
"Aku mencintaimu Kinan. sangat mencintaimu. cintaku masih sama seperti saat pertama aku melihatmu dengan keangkuhan dan kearogananmu."
"Aku masih mencintaimu seperti saat kau menolakku saat aku menyatakan perasaanku waktu itu. kau menolakku karena orang lain yang mencintaiku. dan itu membuat rasa cintaku berkali-kali lebih besar padamu."
"Dan aku masih memiliki cinta yang sama. cinta yang bodoh karena cintaku yang terlalu besar mengalahkan logikaku. aku menutup mata dan tak mampu melihat bahwa kau juga harus hidup dengan caramu. dan aku memaksa hidup dengan caraku. maafkan aku. jangan pergi lagi. aku akan mati tanpamu." Albert berlaku seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta untuk pertama kali.
Tanpa Albert tau Kinan yang mendengar sang don juan menyatakam kembali cintnya, membentuk sebuah lengkungan di sudut bibirnya. ada rasa menggelitik di dalam perutnya. sebuah sensasi rasa yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. sebuah rasa yang aneh.
"Cintaku sudah menguap sejak kau tak mempercayaiku malam itu. Tembok yang kau bangun dalam hatiku telah kau robohkan dengan tanganmu sendiri. kau meruntuhkan semuanya Albert. kau menyakitiku dengan sangat parah. aku tak yakin kau bisa menyembuhkanku lagi." ucap Kinan namun ia tak melepaskan pegangan tangannya pada punggung tangan Albert.
"Aku pasti bisa membangun tembok itu lagi dan menyembuhkan luka yang ku gores hingga tak berbekas lagi." Albert yakin karena respon kinan pada tubuhnya yang tak menolak pelukannya.
"Kau tak mungkin melakukannya. aku bukan kinan yang dulu."
"Kau menolakku. tapi aku bisa merasakan debaran jantungmu seirama dengan degub jantungku. ketegangan tubuhmu bukti kau menginginkanku sebesar aku menginginkanmu. kau masih bisa mengatakan kau tak mencintaiku. tapi usapan tanganmu mengatakan lain, sayang."
Dengan cepat Kinan menjatuhkan tangannya yang sedang mengusap lembut punggung tangan Albert.
Kinan sangat malu karena terpegok oleh Albert. Albert tersenyum penuh kemenangan di sela-sela ciumannya pada perpotongan leher dan pundak kinan.
Wajah Kinan memerah seperti remaja yang sedang jatuh cinta. memang cinta tak cukup dengan kata I LOVE YOU. karena harus ada perjuangan di dalamnya.
Bibir mampu menolak mengatakan cinta namun tidak dengan respon tubuh.
Karena cinta bukan sekedar ungkapan rasa melainkan adalah pengungkapan dari dalam diri.
Sangat sulit untuk mengatakan bahwa kau mencinti seseorang hingga ia memilih pergi.
***
Cie... cie...
Roman Romannya ada yang bakalan bucin nih...
⚘⚘⚘