Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 67



Happy Reading...


Seorang berpenampilan casual dengan warna serba hitam, dan topi yang menutup sebagian atas wajahnya sedang berada di depan sebuah ruang kerja.


Lalu ia mengetuk pintu dan terdengar suara dari dalam ruang yang mempersilahkan ia untuk masuk kedalam ruang tersebut.


Pria dengan setelah serba hitam itu mengangguk hormat kepada pria yang tengah duduk pada kursi kebesaramnya.


Pria yang tak lain adalah seorang pengusaha asal india yang sedang menjalankan bisnis impor bahan baku tekstil.


"Selamat siang tuan Ravi." pria bertubuh tegap itu memberi salam pria di depannya yang bernama Raveendra.


"Apa yang kau dapat." tanya ravi tanpa membalas ucapan salam pria berjambang lebat itu.


"Ini tuan" sambil menyerahkan amplop berwarna cokat itu ke tangan Ravi .


Rafi mengambil amplop berwarna coklat itu dari pria berwajah sangar itu.


"Baik, pergilah." titahnya meminta pengawsl itu untuk meninggalkan ruang kerjanya.


Tak menunggu lama, ravi sudah membuka amplop berwarna coklat muda dari tangan pengawalnya lagi.


Dalam amplop tersebut berisi semua data-data orang yang di carinya yang bernama RAKA.


" Secepatnya kita harus berjumpa, my son." ucapnya dengan senyum mengembang di sudut bibirnya.


***


Flashback on.


Sebuah mobil mewah terlihat memasuki halaman rumah yang sangat sederhana.


Di sana di sebuat tempat duduk yang terbuat dari batang bambu, tengah terduduk wanita yang masih kelihatan cantik meski berbalut pakaian yang sangat sederhana.


Wanita yang di perkirakan berumur sekitar 45 tahun itu sedang terduduk sendirian. menatap kosong hampara warna hijau yang menyejukkan mata.


Tampak seorang pria keluar dari dalam mobil mewah tersebut. pria yang terbilang tampan meski di usianya yang sudah setengah baya.


"Mela..." panggilnya.


Mendengar namanya di panggil oleh suara yang sangat di kenalnya, wanita yang bernama melati itupun terkesiap.


Namun ia masih bergeming. tak mempercayai pendengarannya.


"Mel..." panggilnya lagi.


Kini wanita yang duduk termanggu sendirian itu perlahan menoleh ke arah sumber suara.


Sedikit mengangkat wajah, menelisik bahwa wajah orang yang sedang memanggilnya adalah seseorang yang di kenalnya dari masa lalu.


"Ravi!" gumanya lirih nyaris tak terdengar.


Jantung wanita itu yang bernama melati itu berdegup kencang tatkala ia melihat orang di hadapannya adalah benar.


"Ravi, apa benar itu kau?" wanita itu bertanya sambil berjalan ke arah pria yang ia panggil dengan nama rafi.


Pria itu mengangguk sambil merentangkan tangan untuh menyambut istrinya yang puluhan tahun terpisah darinya.


"Kenapa lama sekali, aku menunggumu." protesnya. tangisnya pecah saat ia jatuh dalam pelukan laki-laki yang menikahinya dan meninggalkannya saat ia mengandung dulu.


"Maaf membuatmu menunggu, tapi sekarang aku sudah datang untuk menjemputmu." mengusap punggung istrinya yang tergincang karena menangis.


Saat keharuan masih menyelimuti keduanya karena perpisahan yang begitu lama.


"Ibu..." Panggil seorang gadis dari dalam rumah.


Kebingungan terpancar dari wajah pria yang bernama raveendra abiyasa tersebut. pria itu melepaskan pelukannya untuk dapat melihat wajah istrinya.


"Siapa dia?" menatap manik mata istrinya dengan tatapan penuh pertanyaan.


Melati menoleh ke arah gadis manis berambut panjang dan berkulit kuning kecoklatan khas india dengan tatapan sayang.


Melati nenghampiri putrinya dan membawanya pada pria yang ternyata adalah ayah kandung dari dua orang anaknya.


"Pu..tri.. ku.." ucapnya terbata. ia tak percaya karena yang ia tau anak yang di kandung istrinya waktu ia tinggalkan dulu adalah berjenis kelamin laki-laki.


Ravi memandang melati dengan raut muka bertanya. melati yang mengerti akan pertanyaan yang tanpa kata itu pun tersenyum. ia mengerti pasti suaminya terkejut dan tidak mempercayai kenyataan yang ada.


"Kau pasti bertanya kenapa anak kita perempuan, bukan laki-laki seperti yang yang kau ketahui." Dan ravi pun mengangguk pelan.


"Anak kita kembar, namun waktu itu aku sengaja menyembunyikannya agar adikmu tak membawa mereka." air mata meleleh karena mengingat kejadian 25 tahun yang lalu.


"Krisna mendatangiku setelah aku keluar dari rumah sakit. dia membawa Raka untuk pergi bersamanya. aku bersikeras menolaknya. namun dia memohon karena waktu itu istrinya depresi karena anak yang ia lahirkan meninggal dunia." melati menyeka air matanya.


"Dia bilang ia akan merawat putra kita dengan baik karena ia juga mengatakan bahwa kau terjebak dalam kasus yang sangat sulit. dan mungkin akan lama di penjara atau mungkin tak pernah kembali." Melati menatap ravi yang juga berkaca-kaca.


"Maaf, aku bukan sengaja meninggalkanmu. temanku menjebakku sehingga aku harus mendekam di penjara karena kesalahan yang tak aku lakukan." ravi mengingat masa lalu yang begitu kelam yang memisahkannya dengan keluarganya.


"Krisna juga sudah menceritakan hal itu. atas pertimbangan itu dengan terpaksa aku menyerahkan rakai untuk mereka rawat. meski berat tetap aku lakukan agar anak laki-lakiku menjadi orang besar. sepertimu." ucapnya sendu.


"Tapi aku juga bangga memilikinya, dia putriku yang hebat. putri kita." melati memegang dan membelai lembut pipi gadis yang ia beri nama KHAIRANI itu.


Ravi yang belum sekalipun melihat anak-anaknya beringsut memeluk putrinya.


"Maafkan ayah baru mengetahui tentangmu" ravi membelai lembut gadis yang dalam pelukannya.


" Ayah, Aku merindukanmu." ucapnya sambil menangis antara haru dan bahagia.


Ravi melepaskan pelukannya dan beralih menatap melati. "kapan terakhir krisna menghubungimu." tanya ravi. mendadak wajah melati menjadi sendu, menerbitkan pertanyaan dalam hati ravi.


"lebih dari 20 tahun yang lalu saat kai berusia 3 tahun. dia kesini untuk menceritakan tentang kai yang sangat tampan dan pintar. dia juga sangat di sayang oleh sofia. dia bilang sofia sangat memanjakannya. karena itu dia meminta aku untuk tak memberitahu perihal siapa aku sebenarnya. tapi setelah itu krisna tak pernah datang lagi."


Flashback off.


***


"Zahra bisa kita bicara." pinta kania saat mereka sedang bersantai menemani rain yang sedang belajar.


"Bicara apa aunty." balas zahra malas karena ia tau kania pasti akan membicarakan kai.


"Ayah dari anakmu." menatap tajam zahra karena tau reaksi zahra yang selalu malas saat membicarakan kai.


"Tidak ada yang perlu di perjelas aunty. aku sudah tau semuanya." ucap zahra lemah.


"Tapi zahra, ada hal penting yang harus kau tau. dan ini menyangkut masa depan putramu." kania dengan nada meninggi.


"Tolong aunty, kau tau sendiri apa alasanku menolak kehadirannya." zahra bersikeras.


"sayang, kau tak tau apa-apa. bukan itu yang hendak aunty katakan."


"Cukup aunty." potong zahra cepat. ia beranjak dari tempat duduknya. berlalu meninggalkan kania yang belum menyelsaikan kalimatnya.


"Ya Tuhan, dia benar-benar duplikat ibunya." kania bermonolog.


"Itulah ibumu rain, keras kepala dan tak mau mendengar. padahal mommy aunty ingin mengatakan hal yang penting tentang ayahmu." kania menghembuskan nafas kasar sampai kedua bahunya tampak menurun.


"Pasti sekarang dia menangis di kamar." ucap kania dan rain kompak.


Pria kecil itu sangat tau tentang kebiasaan zahra yang sedang menangis di dalam kamar.


"Ibumu itu menyebalkan." kania mendumel.


"Yes, you right mom." rain menimpali.


***


nah looo... siapa yang harus di hujat ini???


ritualnya gengs...


👍👍👍👍 jangan lupa.