
Hamil!! batin Aldi dam Dea kompak
Dea yang juga berada di tempat itu juga di buat terkejut mendengar penjelasan dari dokter. dan reflek menoleh ke arah aldi dengan tatapan membunuh dan wajah memerah karena amarah.
Aldi yang merasa terintimidasi dengan tatapan Dea hanya dapat menelan saliva.
"Ehem ." Dea mberdehem untuk membuka percakapan. " Bisa bapak jelasin apa yang di maksud dokter tadi?"tanya Dea frontal.
"jelasin apa Dea?" aldi bingung. "tentang apa yang di jelaskan oleh dokter. Zahra Hamil! apa itu perbuatan anda?" Dea di liputi amarah.
Ada rasa marah dan kecewa dalam hati dea yang menuduh aldi menghamili Zahra
Jadi hubungan mereka sudah sampai sejauh itu, pantas saja dia begitu khawatir.Batin Dea menangis
Mata Aldi membulat kala mendapat pertanyaan yang begitu menohok hatinya.
"Jangan kurang ajar kamu Dea, mana mungkin aku lakuin itu." Protes Aldi gak terima.
"Lalu siapa lagi kalau bukan bapak, karna yang saya tahu laki- laki yang ada di dekat Zahra itu cuma Bapak." Dea mencerca Aldi membabi buta.
"Bisa saja dia di hamili oleh pacarnya, dan yang pasti itu bukan saya." protes Aldi tidak terima.
"Tapi yang saya tahu Zahra belum punya pacar, dia tidak pernah bercerita pada saya kalau dia punya pacar." Dea kekeuh.
"Apa dia harus bercerita semua tentang hal pribadinya sama kamu? tidak kan?" ucap Aldi datar.
"Tapi waktu itu bapak mengajaknya keluar, dan bapak juga kasih hadiah kalung, itu apa maksudnya." Dea makin ngotot.
"Itu, itu bukan seperti yang kamu fikirkan," ucapan Aldi melemah.
"Lalu Apa? Dea makin berang.
"Saya memang mengajaknya keluar dan memberinya hadiah. tapi aku tidak melakukan apapun padanya." Aldi frustasi karena Dea terus mencercanya dengan tuduhan.
"Kalau begitu, bisa anda jelaskan maksud dari hadiah itu? apa bapak menyukai Zahra, karena yang saya lihat bapak begitu perhatian." Dea menatap Aldi mencari pembuktian ucapannya.
"Aku memberinya hadiah karena aku mengajaknya untuk memilihkan hadiah untuk orang yang aku suka." Aldi menjelaskan.
Kedua alis Dea mengerut, "Wanita yang bapak suka? siapa?"
"Sudah jangan bahas masalah ini, lebih baik kita bahas Zahra." Aldi berlalu meninggalkan Dea.
"Ini kita lagi bahas Zahra pak!" seru dea mengejar Aldi yang terus melangkah menuju ruang dimana Zahra di rawat.
"Bapak hutang penjelasan sama saya." Dea masih nelum puas dengan cercaannya.
Aldi menghela nafas "Saya akan membayar hutang betikut bunganya, puas kamu." ucap aldi setelah sampai di depan ruang Zahra dan mendapatkan lirikan Dea sinis.
Aldi memutar gagang pintu, dan melanglahkan kakinya mendekati ranjang Zahra di ikuti Dea di belakang.
Zahra sudah sadar, wajahnya pucat ada selang infus di tangannya. Gadis itu menangis matanya sembab dan merah.
Dea mendekati Zahra, ia tahu gadis itu pasti hancur sangat terlihat dari tatapannya. Lau Dea memeluk Zahra. tangis Zahra pecah dalam pelukan Dea sampai tubuhnya terguncang.
"Ssst... tenanglah, nanti saja kamu jelasin." Dea mengusap punggung Zahra untuk menenangkannya.
Aldi menatap Zahra dengan tatapan penuh pertanyaan, Zahra juga menatap Aldi dengan isyarat ingin menjelaskan. dan Dea yang melihat tatapan Zahra yang mengarah pada Aldi, sontak menoleh ke arah aldi dan menatapnya tajam.
Aldi di buat keki oleh tatapan kedua gadis itu. ingin rasanya dia menghilang saat itu juga karena bingung harus melakulan apa.
"Ehm... Aku urus administrasi dulu, dea tolong kamu jaga Zahra." sebenarnya Aldi hanya ingin kabur. dan berlalu dari kamar itu.
Zahra yang sudah agak tenang melepaskan pelukannya pada Dea.
"Dea, aku tidak tau bagaimana menceritakannya padamu.aku..". ucapannya terhenti, zahra tak mampu mengatakan lagi. gadis itu kembali terisak.
Dea kembali memeluk tubuh rentan Zahra, ia tidak tau harus mengatakan apa meskipun terlalu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
***
Aldi, tidak tau bagaimana ia harus bersikap. ia bingung harus menanyakan apa pada zahra.pria itu sangat ingin banyak bertanya namun ia sadar bahwa itu masalah yang sangat sensitif. itu menyangkut masalah pribadi.
Zahra hamil? aku tidak percaya itu. kenapa aku merasa sakit mendengarnya.
Aldi berperang dengan hatinya, sedang menerka-nerka. entah apa yang ada di fikiran pemuda itu.
Aldi telah menyelesaikan administrasi dan ia segera kembali ke kamar Zahra.
"Permisi pak, ini resep untuk ibu Zahra yang harus di tebus." Dokter menyerahkan secarik kertas.
"Tolong di jaga pola makan ya bu." titah dokter pada zahra, dan zahra hanya menanggapi dengan anggukan.
"Vitaminnya jangan lupa di minum, dan bapak tolong perhatikan makanan dan asupan gizi pada ibu Zahra. istri anda sangat lemah, di usahakan jangan terlalu capek. karena masih trimester awal kehamilan ibu Zahra masih sangat rentan." penjelasan dokter membuat Aldi syok karena di kira bahwa dia adalah suami Zahra.
Aldi hanya tersenyum masam mendengar ucapan dokter dan Dea yang melihat itu pun hanya meringis. entah apa yang ada di fikiran gadis itu.
***
Di belahan bumi yang lain, Kai yang juga tengah bingung mendengar penjelasan dari dokter tentang apa yang di alaminya pun juga tidak dapat berkata apapun.
Ia masih belum dapat mencerna tentang apa yang di jelaskan oleh dokter. otak cerdasnya tidak dapat menjangkau apapun yang dokter sampaikan.
Syndrome kehamilan simpatik? apa lagi ini.
tanyanya pada diri sendiri.
Kai membuka laptopnya dan berselancar di sana, mencari tau tentang apa yang di katakan oleh dokter.
Ia hanya tidak percaya bahwa dia mengalami itu sedangkan dirinya tidak mempunyai istri.
Kai ingat bahwa ia tidak memiliki istri. tapi ia lupa pernah melakukan hubungan suami istri. Ralat, bukan hubungan suami istri melainkan memperkosa seorang gadis. sungguh Kai pria brengsek.
Kai masih tidak dapat menerima bahwa ia mengalami apa yang di katakan oleh dokter dan ia mencocokkan penjelasan dokter dengan hasil pencariannya di internet.
Lama ia hanyak duduk di kursi kebesarannya. hanya memandang dan berfikir.
Memikirkan masalah itu membuat kai frustasi, bingung? tentu saja karna otak cerdasnya telah melupakan kelakuan buruknya.
Kai yang sedang melamun di kejutkan oleh dering gawainya.
Ia tersenyum saat melihat nomor yang menghubunginya.
"Apa kau merindukanku?" guraunya
"....."
"Mungkin aku akan lebih lama disini, atau mungkin menetap."
"....."
"Kenapa? apa kau negitu kesepian sampai kau memintaku kembali?"
"....."
"Ah itu, ya aku hampir melupakannya."
"...."
"Apa gadis itu menanyakannya?"
"...."
"Ya, kalung itu terbawa ke sini."
"...."
"kemarin aku lupa menaruhnya."
"....."
"Hey, ada apa sebenarnya kenapa kau tiba-tiba menanyakan kalung itu."
"Apa????"
****
jreng... jreng...jreng....
KAI SEDANG BICARA SAMA SIAPA SIH???
sepertinya serius.🤔🤔🤔