Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 78



Happy Reading...


Brakkk....


Pintu kamar terbuka, sontak dua orang paruh baya yang ada di dalam kamar tersebut menoleh bersamaan.


Sesosok tubuh mungil menghambur ke dalam pelukan pria tua itu.


"Grandpa" teriak rain berlari menubruktubuh tua yang masih tegap di usia menginjak kepala lima.


"Oho.. ho.. my kid, opa senang kau datang nak, apa kabar?" albert langsung menggendong rain dan memberikan ciuman bertubi-tubi di pipi gembul rain.


Namun albert tak menyadari siapa yang sedang berdiri di belakang rain saat itu.


"Zahra..." lirihnya namun masih dapat di dengar oleh gadis yang sudah tak gadis lagi itu.


Zahra hanya terdiam di tempatnya melihat bagaimana rain berinteraksi dengan kakeknya. sehingga tak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya dengan tajam.


"Mau apa kau datang kesini gadis sialan" bentak sofia dengan mata memerah.


Amarah yang tadinya berkobar dalam hatinya kembali memanas melihat orang yang sangat di bencinya berada tepat di depannya.


"Sofia cukup!" ucap albert dingin. ia tidak mengeluarkan nada tinggi pada ucapannya karena ada rain disana.


"Mommy..." Rain yang cerdas menyadari gelagat tak mengenakkan di ruang itu.


Zahra mengulurkan tangannya untuk meraih rain dalam gendongan albert. namun albert menggelengkan kepala memberi isyarat tidak akan terjadi apa-apa.


"Kita ketaman, opa ingin berbincang dengan rain." albert membawa rain pergi dari tempat itu. meninggalkan zahra yang masih berdiri berhadapan dengan sofia yang memandangnya penuh kebencian.


Flashback on.


Setelah Rain dan kai pergi dari ruang kerjanya zahra berniat kembali melanjutkan pekerjaannya. namun ia urungkan karena mendengar pintunya kembali di buka.


"Kai, kenapa kau kwmbali? apa ada yang tertinggal?"


"Hatiku yang tertinggal sayang." jawab kai ambigu.


"Ishhh..." zahra mendesis mencibir.


"ikutlah denganku." kata kai singkat.


"Kemana?" kai menarik tangan zahra pelan tanpa menjawab pertanyaannya.


Kai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah panasnya jalanan kota yang padat kendaraan siang itu.


"Ini bukan jalan menuju rumahku kai. kau mau mengajakku kemana?" zahra yang memang belum pernah mengetahui rumah albert pun bingung karena kai sejak tadi cuma diam saja.


"Rain, bisa kau jelaskan pada mommy.? Rain hanya mengangkat bahu cuek.


Zahra menghela nafas pendek. menyerah untuk bertanya karena dua pria di sampingnya sungguh menyebalkan hari ini.


Akhirnya mobil mereka sampai pada bangunan tinggi menjulang berwarna putih dengan dua pasang pilar kokoh di depan.


Bangunan dengan 2 lantai yang di kelilingi tanah lapang di sekitarnya dengan rumput hijau yang menyegarkan mata. akan tampak seperti karpet jika di lihat dari lantai atas.


Sebuah kolam renang yang di desain menyerupai pantai berada di belakang bangunan itu menambah kesan elegan. dan taman bunga yang berada di samping bangunan utama serta sebuah pavilium kecil yang terdapat di pojokan halaman melengkapi kemegahan mansion keluarga Almeida.


Rai segera berlari keluar dari mobil sebelum kai memarkirkan ya dengan benar. membuat zahra terpekik karena tingkah rain yang selalu saja menantang bahaya.


Pria kecil itu terus berlari tak menghiraukan teriakan zahra yang memintanya berhenti.


Zahra pun terpaksa mengejar rain yang berlari kedalam rumah tanpa permisi, setelah kai mengisyaratkan dengan matanya untuk mengejar di anak kecil yang cukup membuat zahra selalu kelelahan.


Zahra yang kehilangan jejak rain terhenti tatkala mendengar suara perseteruan dua orang di dalam kamar.


Zahra hendak pergi namun ia mendengar namanya di sebut-sebut ia pun urung melangkahkan kakinya. sehingga ia mendengar semua perdebatan dari dalam rumah tanpa terkecuali.


Dada zahra bergemuruh berdetak kencang. oksigen dalam ruangan itu seakan menipis, nafasnya sesak mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh albert.


Belum juga ia menetralkan degup jantungnya, rain tiba-tiba berada di belakangnya dan menerobos masuk tanpa permisi.


Flashback off.


Sofia memandang zahra dengan tatapan membunuh. ia seakan tak terima albert membelanya terang-terangan di depan matanya.


"Kau sama seperti ibumu. selalu berusaha mengambil semua kebahagiaanku. dulu ibumu mengaambil albert, satu-satunya pria yang ku sukai dan sekarang kau mencoba mengambil putraku. aku tak akan pernah membiarkannya." sofia berapai-api. menumpahkan kemarahan yang tidak pada tempatnya.


Zahra masih berdiri mematung bukan karena kata-kata sofia yang menghinanya namun ia sedang mencerna apa yang beberapa saat lalu ia dengar.


"Kau sama murahannya dengan i.." sofia tak meneruskan ucapannya setelah melihat siapa yang berdiri di belakangnya. menatapnya dengan tajam seperti harimau yang siap menerkam.


"Cukup mom!" bentak kai tak kalah sengitnya.


"K- kai.." ucap sofia terbata.


"Sudah cukup aku bilang." kai menekankan kata-katanya.


Kai mendekati zahra yang masih mematung. sebelah tangan ya meraih pinggang zahra dan membawanya dalam pelukannya.


Pandangan mata kai melembut menatap zahra dengan pandangan sayang. mencium pucuk hidungnya sekilas.


Zahra membiarkan apaun yang yang di lakukan kai terhadapnya. karena fikirannya masih melanglang buana.


Dia seperti tersadar setelah bibir basah kai mendarat di keningnya.


"Pergilah ke belakang. aku ingin bicara dengan mommy sebentar. aku akan menyusulmu." zahra tersenyum. tanpa berkata apapun ia melangkah pergi meninggalkan dua orang yang sebentar akan melakukan perdebatan.


Baru dua langkah zahra meninghalkan tempatnya berdiri, Kai mencekal pergelangan tangannya kembali memeluk dan mendaratkan kecupan singkat di bibir kekasihnya.


Sofia mendengus kesal. ia membuang pandangannya kearah lain. tak tahan melihat adegan live di depan matanya yang di lakukan dua orang yang sedang kasmaran. dan pemandangan itu cukup membuat sofia kesal setengah mati. nafasnya memburu menahan sesak karena kekesalannya bertambah dua kali lipat.


Kai mendekat ke arah sofia dan menatapnya tajam. pandangan yang tak pernah lihat dari diri kai sebelumnya. ada sedikit ketakutan melihat kemarahan kai.


"mommy sudah sangat keterlaluan. dan aku tidak suka mommy memperlakukan zahra seperti itu." kai menahan amarah saat mengucapkannya.


Ia berusaha mati-matian agar kata-katanya tak menyakiti wanita yang telah melahirkannya.


"Mommy tidak ingin kau memiliki hubungan apapun dengan wanita itu. dia buka perempuan baik yang pantas mendampingimu." sofia berusaha mencuci otak kai.


"Dan wanita yang mommy bilang tidak baik itu adalah gadis yang telah aku rusak masa depannya. wanita yang mommy bilang murahan itu adalah wanita yang telah bersedia mengandung anakku meski aku tak berada di sampingnya. dan wanita yang mommy bilang sialan itu adalah wanita yang akan menjadi masa depanku. ibu dari anak-anakku. jadi aku minta mommy untuk tidak menganggunya lagi." sofia seperti tercekik mendengar ucapan datar kai namun sangat menohok hatinya.


Sofia bungkam tak dapat berkata apa-apa lagi. dunianya seolah runtuh di atas kepalanya mendengar pembelaan putranya membela mati-matian wanita yang di bencinya.


Suasana memanas karena luapan emosi dari pandangan dua orang yang saling melemparkan dengan aura kemarahan.


***


lanjut malam ya kakak...


maaf banget upnya telat karena si emak ini harus jagain si kecil. kalau boleh mak author minta do'anya biar anak othor cepat membaik. jujur ini berat karena pneumonia yang di deritanya tak kunjung membaik.


Tinggalkan jejak gengs...


episode selanjutnya kita bicara tentang sebuah kisah masa lalu. siapkan tisu karena aroma bawang bombay bakal menyeruak tajam.


Bakul tisu boleh mampir nih bawa bunga sekebon minimal satu deh. author juga butuh kopi karena semaleman gak tidur. 😃😃😃 ngelunjak lu thor!!!


lots of luv chanda 💕💕💕